
"Apakah kamu tidak menyukainya, Sayang?"
Melihat ke arah Vanessa yang bertanya dengan ekspresi polos dan mata berkaca-kaca, Reinhart merasa hatinya sakit.
"Bukannya aku tidak suka, Sayang. Ini terlalu berharga."
Reinhart berkata dengan lembut. Namun dalam hatinya sudah was-was.
'Ini juga terlalu berbahaya! Bagaimana kalau aku tidak sengaja membunuh anak bangsawan dalam turnamen? Perang besar melawan Kerajaan Rembulan Perak?
Omong kosong suci! Aku jelas tidak mau kekacauan semacam itu terjadi!'
Pada saat itu, suara Cindy yang tegas dan hormat terdengar.
"Tenang saja, Pangeran Reinhart. Saya akan membantu Tuan Putri untuk berbicara dengan Yang Mulia Raja."
Melihat ke arah Vanessa yang bisa menangis kapan saja, sebagai ksatria yang telah menjaga sejak putri itu masih sangat kecil, Cindy merasa tak tega. Meski senjata itu kuat (mengabaikan bahayanya), tetapi senjata itu bukan item sepenting warisan leluhur Kerajaan Lautan Zamrud. Jadi, anggap saja sebagai hadiah agar hubungan kedua kerajaan menjadi lebih akrab.
Kemungkinan besar Vanessa masih dimaafkan!
'Sebenarnya kamu ada di pihak mana, woy!'
Melihat Cindy yang mendukung Vanessa, Reinhart berteriak dalam hati.
Pemuda itu merasa katana di tangannya tidak lagi tampak indah. Bukan hanya tampak suram dan gelap, rasanya lebih berat daripada sebelumnya!
(Padahal perasannya saja karena beban psikologis)
Menyarungkan kembali katana, Reinhart menatap ke arah Vanessa dan berkata.
"Aku bisa menerima hadiah ini. Namun, aku tidak akan menggunakannya dalam turnamen."
"Eh? Kenapa???"
Vanessa memiringkan kepalanya, tampak bingung.
"Aku tidak ingin tanpa sengaja menebas dan membunuh peserta lain."
Melihat ke arah Vanessa yang setengah tidak percaya membuat Reinhart hanya bisa tersenyum pahit.
"Tampaknya anda memiliki kepercayaan diri untuk mengalahkan lawan-lawan anda, Pangeran Reinhart?"
Mendengar pertanyaan itu, Reinhart menatap Cindy. Ksatria wanita itu memberi isyarat dengan kedipan mata. Tampaknya memberinya sebuah dukungan untuk meyakinkan Vanessa.
Hal tersebut membuat Reinhart menjadi semakin bingung!
'Sebenarnya kamu ada di pihak mana?'
Memanfaatkan kesempatan itu, Reinhart berkata dengan ekspresi tenang.
"Tentu saja, aku memiliki keyakinan. Selain itu ..."
Reinhart mulai mengeluarkan sebuah set armor perak lengkap dengan pedang sihir perak bertatahkan berlian. Item-item tersebut adalah armor dan senjata yang seharusnya pangeran berambut perak itu gunakan dalam game aslinya.
"Jika aku mau, aku akan menggunakan set ini ketika bertarung."
Reinhart berkata dengan nada santai. Sebenarnya, alasan kenapa dia tidak menggunakan item-item tersebut karena merasa tidak perlu. Penampilannya juga terlalu mencolok. Selain itu, jika lecet atau rusak, biaya memperbaikinya pasti mahal.
Ya. Alasan terakhir adalah alasan paling kuat sehingga Reinhart enggan menggunakannya.
"Syukurlah ..."
Pada saat itu, Vanessa berkata dengan nada lega.
Reinhart merasa agak bingung ketika melihat ekspresi lega di wajah Vanessa. Saat itu, dia tiba-tiba melirik ke arah berbagai item yang dibawa oleh gadis kecil tersebut untuk dirinya.
'Jadi ... Dia mengkhawatirkan aku?'
Memikirkan hal tersebut, Reinhart merasa hatinya menjadi semakin hangat. Dia maju lalu mengelus kepala Vanessa dengan lembut sembari berkata.
"Terima kasih atas bantuanmu, dan maaf membuatmu khawatir, Vanessa."
"Ehehehe ..."
Merasakan sentuhan lembut dari Reinhart, Vanessa memejamkan matanya. Dia tertawa dengan nada bahagia.
"Jadi, ternyata Pangeran Reinhart adalah tipe yang suka merendahkan lawannya."
"..."
Mendengar ucapan Cindy yang seolah-olah memperburuk reputasinya membuat gerakan Reinhart terhenti. Melihat ke arah ksatria itu, dia tidak bisa tidak bertanya dengan nada dingin.
"Apa maksud ucapanmu, Ksatria Cindy?!"
Melihat ke arah Reinhart yang menatapnya dengan dingin, Cindy memejamkan mata. Sudut bibirnya terangkat sebelum akhirnya berkata.
"Bukan apa-apa."
Setelah beberapa percakapan singkat, Vanessa akhirnya mengajak Cindy kembali. Namun sebelum kembali, gadis itu terus mengoceh tentang penampilannya. Menyuruh Reinhart untuk tampil lebih baik, bukan hanya sekadar menunjukkan pesona, tetapi juga untuk keamanannya sendiri.
Mengatakan itu, Reinhart mengantar Vanessa pergi sampai pintu depan.
***
Keesokan harinya.
Dalam enam belas besar, pertandingan akan dilakukan di Colosseum raksasa. Hal tersebut tentu juga menambah semangat juang para peserta, ya ... kecuali Reinhart.
'Sungguh, rasanya seperti menjadi primata langka yang ada di kebun binatang.'
Merasakan tatapan banyak orang yang diarahkan kepada dirinya, Reinhart tersenyum kecut.
Armor hitam legam lengkap dengan jubah hitam yang lebih baik daripada armor sebelumnya. Penampilan Reinhart langsung menjadi sorotan. Meski tidak semewah armor peserta lain, armor tersebut jelas lebih baik daripada yang dia pakai sebelumnya.
Hanya saja, bukannya membawa kesan positif, penampilan Reinhart malah membawa kesan negatif.
Khususnya bagi para peserta yang gugur dan remaja seusianya yang menonton pertandingan!
"Itu Skull Crusher."
"Ya. Tampaknya dia dengan sengaja menggunakan armor biasa-biasa saja selama ini untuk menghina lawannya."
"Seperti yang diharapkan dari Skull Crusher, benar-benar kejam!"
"..."
Berbagai diskusi terdengar. Hanya saja, julukan Skull Crusher membuat sudut bibir Reinhart berkedut.
Alasan kenapa orang-orang memanggilnya dengan sebutan tersebut adalah caranya bertarung selama ini. Kecuali pada pertandingan pertama melawan Cornelius, pemuda itu tidak memiliki banyak gerakan menyerang.
Sebaliknya, selain menggunakan Lightning Lynx Step untuk menghindari serangan pedang atau sihir, pemuda itu menggunakan tangannya untuk langsung menutup wajah lawannya. Kemudian membantingnya ke lantai arena dengan kejam.
Melakukannya berkali-kali sampai tidak sadarkan diri!
Dengan demikian, Reinhart langsung mendapatkan julukan "Skull Crusher" yang membuat banyak peserta lain ketakutan.
Bukan takut kalah, tetapi takut kepalanya dihancurkan dan dipermainkan di depan banyak orang karena tidak bisa menggunakan kemampuan mereka sepenuhnya.
Lagipula, Reinhart tidak akan dengan mudah membiarkan mereka banyak bicara atau memberi mereka waktu untuk merapal mantra tingkat tinggi.
Benar-benar langsung dihancurkan di tempat!
Pada saat itu, suara pembawa acara yang keras dan bersemangat terdengar.
"Di sisi kiri, ada peserta dari Akademi Cahaya Bintang, Reinhart!"
"Di sisi kanan, ada peserta dari Akademi Badai Biru, Octavius!"
"Pertandingan akan dimulai dalam hitungan tiga, dua, satu ..."
"MULAI!!!"
Pada saat lonceng pertandingan dibunyikan, Reinhart langsung menarik pedang di pinggangnya. Ekspresinya menjadi semakin dingin.
Hal tersebut langsung membuat pembawa acara, wasit, dan para penonton terkejut!
Energi petir melapisi pedang di tangan kanan dan kedua kaki Reinhart. Pada saat pemuda itu hendak melangkah ke depan, suara keras terdengar.
"SAYA MENYERAH!!!"
"..."
Mendengar ucapan tersebut, Colosseum raksasa langsung menjadi sunyi.
Semua orang langsung menatap ke sosok pemuda yang mengangkat tangannya dengan wajah gugup. Pemuda tersebut adalah perwakilan dari Akademi Badai Biru, Octavius.
"..."
Bahkan Reinhart yang ingin tampil lebih baik untuk menunjukkan bahwa Vanessa tidak perlu khawatir malah terdiam di tempatnya. Sama sekali tidak tahu harus merespon bagaimana.
Mengabaikan ekspresi semua orang, Octavius menyeka keringat di dahinya. Memiliki ekspresi lega di wajahnya, pemuda itu berpikir.
'Skull Crusher bahkan sudah mengerikan tanpa senjata. Kenapa tiba-tiba menarik senjata? Apakah dia ingin mempermalukan aku karena telah memberi julukan itu?
Maaf, Bung! Aku tidak sebodoh itu.'
Pikir Octavius dengan bangga.
Jika Reinhart tahu apa yang sedang dipikirkan pemuda itu, dia pasti sudah muntah darah karena marah!
Hanya saja, pada akhirnya, Reinhart ...
Masuk ke delapan besar tanpa melakukan apa-apa.
>> Bersambung.