
"Apakah kamu anak kecil?"
Reinhart menghela napas panjang ketika mendengar tantangan Leander. Dia sama sekali tidak berniat menerimanya. Jadi pemuda itu kembali berkata, "Aku menolak!"
"Berhenti bertingkah seperti pengecut, Reinhart! Jika kamu benar-benar ksatria, ambil lalui bertarung denganku!" teriak Leander dengan ekspresi marah di wajahnya.
"Aku tidak ingin menjadi ksatria atau semacamnya. Daripada memperjuangkan kehormatan dan kehidupan, aku lebih suka menjadi pedagang yang menghasilkan banyak uang."
Reinhart mengangkat bahu dengan ekspresi tak acuh di wajahnya. Benar-benar tidak memperhatikan Leander yang akan meledak kapan saja.
"B-jingan ini ..."
Leander menggertakkan gigi. Mengingat wajah bahagia adiknya ketika membicarakan Reinhart, hatinya benar-benar terbakar amarah. Dia ingin adiknya yang selalu terkurung i ibukota kerajaan mendapatkan kehidupan yang lebih indah. Namun siapa sangka, ternyata tunangan adiknya ternyata adalah lelaki yang suka membawa gadis cantik pulang ke rumahnya!
Leander menarik pedangnya. Menatap ke arah Reinhart, pemuda itu berkata, "Aku akan menghajarmu lalu membuatmu berlutut di depan adikku!"
Melihat ke arah Leander yang menarik pedangnya, ekspresi Reinhart berangsur-angsur berubah menjadi lebih dingin.
"Kamu benar-benar menarik senjatamu di tempat ini? Kamu berniat melanggar peraturan, Leander?"
"Aturan sepele sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan adikku tersayang!"
Mana (energi sihir) Leander menggerakkan udara di sekitarnya. Dia menatap ke arah Reinhart dengan ekspresi dingin. Tampaknya menunggu pangeran berambut perak itu mencabut pedangnya.
Melihat ekspresi menjengkelkan di wajah Leander, Reinhart melonggarkan kerahnya. Pemuda itu melipat lengan bajunya ke atas sambil bergumam.
"Setelah dibiarkan, kalian para pangeran manja tampaknya membengkak ... merasa lebih besar."
Reinhart memasang kuda-kuda. Saat itu juga, lapisan energi petir menari-nari di sekitar tangan dan kakinya.
"Reinhart!"
Beberapa bilah angin langsung melesat ke arah Reinhart. Pemuda itu sebenarnya telah menunggu. Melihat Leander benar-benar mulai menyerang, ekspresinya menjadi lebih dingin.
"Kamu yang memintanya, Leander!"
Reinhart menghindari bilah angin. Dia kemudian berlari ke depan dengan cepat. Leander terus menebas, tetapi sosok Reinhart bergerak cepat ke kiri dan kanan seperti leopard di tanah bersalju yang mengejar mangsanya.
Sampai di depan Leander, Reinhart langsung mengubah kuda-kudanya. Kedua tinjunya langsung dilapisi dengan energi petir. Layaknya kera raksasa di hutan bersalju yang memukul pohon untuk memperkeras tinjunya, dia membombardir Leander dengan pukulan kuat.
Sebuah perisai angin yang berbentuk bola besar menutup area sekitar Leander. Membuat Reinhart sama sekali tidak bisa memukulnya.
BANG! BANG! BANG!
Pukulan Reinhart begitu keras, membuat perisai angin bergetar seolah akan hancur kapan saja. Keduanya saling memandang. Tatapan mereka menjadi semakin tajam.
Reinhart mengubah gerakannya. Tangan kanan yang awalnya mengepal berubah menjadi bentuk kipas (tangan terbuka dengan jari menyatu/palm). Energi kuat berfokus di telapak tangannya sebelum pemuda itu membuat meluncurkan serangan telapak tangan seperti beruang besar yang memukul dengan keras.
BLARRR!!!
Perisai angin langsung pecah. Namun saat itu, Leander yang sebelumnya bertahan tiba-tiba maju dengan pedang yang diselimuti dengan sihir angin. Dia langsung menusuk Reinhart.
Sebagai tanggapan, tangan kiri Reinhart langsung berubah menjadi bentuk cakar. Sihir petir di tangannya juga merubah bentuk menjadi cakar petir besar. Langsung maju ke depan seperti rajawali yang menangkap mangsanya.
Crash!!!
Sihir angin dan petir bertabrakan. Reinhart mencengkeram erat bilah pedang Leander. Darah mengalir dari tangannya. Namun bukannya merasa kesakitan, dia masih memasang ekspresi dingin di wajahnya.
"CUKUP!!!"
Saat itu, sebuah suara menyela pertarungan mereka.