
Dua hari kemudian.
Sosok Aiden berdiri dengan tenang sambil memegang pedang dengan kedua tangannya. Dia memakai armor lengkap sambil terus fokus pada pepohonan dan semak-semak di sekitarnya.
Swoosh!
Bayangan hitam melesat di antara semak dan pepohonan.
Slash!
Aiden langsung memotong ke arah bayangan yang melesat ke arahnya. Darah merah terciprat ke wajah dan armor miliknya.
Bayangan hitam tersebut kembali mundur. Beberapa saat kemudian, makhluk itu menampakkan diri. Sosok ular dengan kepala sebesar ember dengan diameter tubuh sekitar setengah meter melilit dahan pohon raksasa. Dia menatap Aiden dengan tatapan dingin. Luka lebar tampak di area sekitar lehernya.
Melihat sosok ular tersebut, Aiden menyeringai.
"Kebetulan sekali ... Aku agak benci dengan ular."
***
Sementara itu, di padang rumput daerah timur lingkaran luar hutan.
ROARRR!!!
Auman keras terdengar. Tampak sosok harimau dengan bulu merah menyala dengan tinggi sekitar dua meter memamerkan taringnya di depan sosok pemuda berambut biru yang tampan, tetapi juga terlihat ganas.
Makhluk itu melesat ke arah pemuda berambut biru dengan kecepatan luar biasa. Namun ketika hendak menerkamnya, sebuah perisai biru yang terbentuk oleh air yang dipadatkan langsung menghalanginya.
Bang!
Sosok pemuda itu mundur beberapa langkah. Sementara itu, harimau merah melompat mundur beberapa meter, menatap ke arah pemuda tersebut dengan ekspresi ganas.
"Menjengkelkan ... benar-benar menjengkelkan ..."
Zale yang melihat sosok harimau ganas itu berkata dengan ekspresi kesal. Mencengkeram erat gagang pedangnya, dia mendengus dingin.
"Memang ... dimana saja, kucing liar itu menjengkelkan!"
***
Sementara itu, di area barat lapisan luar hutan.
"Ugh ... benar-benar menyakitkan."
Tampak sosok pemuda berambut cokelat yang tampak tampan. Jika ditempatkan di antara murid-murid biasa, dia pasti tampak menonjol. Namun, berbeda cerita jika dia ditempatkan di antara para pangeran tampan dan menawan.
Pemuda itu bernama Renald, dia adalah putra seorang Viscount dari Kerajaan Rembulan Perak. Meski tidak bisa dibandingkan dengan para bangsawan tinggi, dia masih memiliki kelebihan yang seperti tampan, memiliki nilai baik dalam teori ataupun praktik.
Renald juga merupakan penyihir circle 2 elemen udara, masih cukup unggul dibandingkan dengan rekan-rekan seusia dengannya!
Pemuda itu memegangi perutnya. Tampak noda merah membasahi pakaiannya. Jelas, dia telah mendapatkan luka yang cukup berat.
"Apakah ... aku benar-benar harus mati di sini?" gumam pemuda itu dengan enggan.
Pada saat Renald hampir jatuh pingsan, dia tiba-tiba mencium aroma nikmat. Pemuda itu merasa sedang mengalami ilusi sebelum kematian. Karena dia tidak makan dengan baik selama dua hari, Renald tampaknya ingin makan makanan enak sebelum mati.
Hanya saja, setelah berlama-lama, Renald masih mencium aroma tersebut. Pemuda itu tidak bisa tidak terkejut. Mengerahkan seluruh tenaga terakhirnya, dia berjalan tertatih menuju ke sumber aroma.
Beberapa saat kemudian, Renald akhirnya melewati sebuah semak rimbun lalu melihat tempat yang cukup luas dan datar. Pada saat itu juga, dia terkejut melihat pemandangan di depannya.
Di area yang cukup luas dan terbuka, tampak sosok pemuda tampan berambut perak sedang duduk santai di depan tenda. Di depan pemuda itu, tampak sebuah panggangan yang di atasnya terdapat banyak tusuk daging sedang dipanggang. Selain daging yang ditusuk, ada juga sebuah daging besar berbentuk bulat ... tampaknya telapak tangan makhluk tertentu.
Selain itu, ada juga beberapa sayur yang dipanggang. Ada juga buah yang tampaknya telah di cuci di sebuah keranjang kecil di dekat pemuda tampan tersebut.
Pemuda berambut perak itu tampak begitu santai, memanggang BBQ sambil bersiul. Tampaknya sedang menikmati suasana santai yang langka.
Melihat sosok itu, Renald tidak bisa tidak bertanya dalam hatinya.
Pandangan Renald tampak buram, tetapi dia masih bisa melihat ... atau setidaknya mengingat ciri-ciri pemuda yang ada di depannya.
'Dia kan ...'
BRUK!
Renald jatuh ke tanah karena kehilangan tenaganya. Napasnya mulai menjadi lebih berat. Tampaknya, selain terluka, dia juga keracunan.
Pandangannya menjadi gelap. Namun sebelum kesadarannya berangsur-angsur menghilang, Renald mendengar suara langkah kaki yang berjalan mendekat ke arahnya.
Tidak tahu berapa lama waktu berlalu, Renald tiba-tiba membuka matanya.
Apa yang pemuda lihat adalah pemandangan hutan rimbun. Tampaknya dia telah diselamatkan. Melihat pakaiannya masih kotor, tetapi lukanya sudah tidak sakit, Renald merasa bingung.
"Sudah bangun?"
Mendengar ucapan tersebut, Renald menoleh. Dia kemudian melihat sosok pemuda tampan berambut perak yang tidak asing. Ya ...
Pemuda itu adalah Reinhart, Pangeran dari Kerajaan Rembulan Perak!
Menahan rasa sakit yang tersisa, Renald memaksakan diri untuk segera bangun, kemudian berlutut.
"Terima kasih atas bantuan anda, Yang Mulia Pangeran."
Mendengar nada bicara Renald yang begitu hormat, Reinhart memiringkan kepalanya.
"Kamu?"
"Saya adalah putra Viscount Blackwoods. Nama saya Renald Blackwoods, Yang Mulia Pangeran."
"Blackwoods ..."
Reinhart mengelus dagunya. Setelah beberapa saat mencoba mengingat, pemuda itu masih sadar bahwa pemuda di depannya adalah orangnya sendiri. Ya ... setidaknya orang dari kerajaannya sendiri.
'Untung saja aku tidak begitu ceroboh untuk langsung membunuhnya karena curiga.'
Reinhart merasa lega setelah menyadari hal itu.
Tidak mengetahui apa yang dipikirkan oleh Reinhart, Renald tiba-tiba mengingat sesuatu dan langsung berkata.
"Tempat ini tidak aman, Yang Mulia Pangeran. Seharusnya ada monster laba-laba level 3 yang mengejar saya, lebih baik kita—"
"Maksudmu laba-laba itu?"
Renald menoleh ke tempat Reinhart menunjuk. Di sana, tampak sosok laba-laba hitam sebesar mobil Mini Cooper berwarna hitam. Di bagian perutnya, tampak sebuah pola tengkorak berwarna hijau. Ada juga garis-garis hijau di setiap ruas tubuhnya.
Melihat makhluk itu, Renald tertegun di tempatnya. Mulutnya ternganga, sama sekali tidak bisa mengatakan apa-apa.
"Duduklah, kita akan mengurus laba-laba itu nanti. Lagipula, makan siang telah tertunda cukup lama."
Mengatakan itu, Reinhart akhirnya menyajikan BBQ yang telah selesai dia panggang. Dia kemudian berjalan ke arah Renald dengan sebuah piring kayu sederhana. Di atas piring, tampak tiga tusuk daging dan beberapa sayuran panggang.
"Aku tidak memanggang banyak karena hanya ingin memakannya sendiri. Tidak banyak, tapi makanlah."
Renald yang dalam posisi berlutut mengambil piring kayu seperti seorang ksatria yang menerima pedang dari Raja. Rasanya agak aneh, tetapi pemuda itu merasa cukup terharu.
Masih dalam keadaan linglung, Renald menatap Reinhart yang kembali ke tempat duduknya dan makan dengan tenang. Sama sekali tidak membicarakan monster dan pertempuran seolah tidak terjadi apa-apa!
Mengamati Pangeran dari Kerajaan dimana dia tinggal, Renald tidak bisa tidak menghela napas dalam hatinya.
'Ini ... Inikah alasan Yang Mulia Pangeran disebut The Sleeping Lightning Dragon? Benar-benar luar biasa!'
Renald menatap ke arah Reinhart dengan tatapan penuh kekaguman. Sementara pangeran berambut perak itu tidak tahu, ternyata hal sepele yang dia lakukan membuat dirinya mendapatkan satu pengikut lagi.
>> Bersambung.