
"Kamu menakut-nakuti mereka, Garvin."
Suara wanita tua terdengar. Para murid dari Akademi Cahaya Bintang mengalihkan pandangan mereka.
Di sana, tampak sosok wanita tua memakai jubah penyihir ungu. Kulitnya keriput seperti kayu kering. Rambutnya putih dan tampak acak-acakan, tampak agak menyeramkan. Dia memegang tongkat (staff) hitam besar. Penampilannya benar-benar lusuh, mirip dengan Pak Garvin.
"Diam saja, Olive. Jangan bertingkah terlalu lembut pada anak-anak atau mereka akan bertindak sembrono karena terlalu percaya diri dan berakhir di perut binatang buas dengan bodohnya."
"..."
Wanita tua bernama Olive itu terdiam sejenak ketika mendengar ucapan Pak Garvin. Dia menggeleng ringan sebelum akhirnya berkata.
"Kalian bisa memanggilku Nenek Olive, dan lelaki tua ini Kakek Garvin. Kami berdua adalah orang yang akan mengantar kalian ke lokasi perburuan. Tentu saja, setelah masuk hutan, kalian bebas untuk berburu di sekitar atau bergerak lebih jauh.
Selain itu, kami juga telah mempersiapkan tas berisi tenda dan beberapa peralatan sederhana yang dibagikan secara gratis bagi murid yang membutuhkan. Sedangkan para murid yang membawa kantong dimensi, kami akan melakukan pemeriksaan terlebih dahulu.
Memastikan kalau kalian tidak membawa item bukti seperti tanduk binatang buas tertentu untuk menipu poin di akhir. Jika terbukti bersalah, tentu saja ... kalian akan didiskualifikasi."
Mendengar ucapan Nenek Olive, banyak orang mengangguk. Sebagai siswa-siswi 'elit', tentu mereka tahu betapa ketatnya penilaian dalam ujian tersebut.
"Batas waktu adalah satu minggu. Tentu, kalian bisa segera kembali setelah berburu. Namun, kalian juga harus ingat ...
Dibandingkan hanya berburu, ujian ini sebenarnya lebih mengarah ke pelajaran untuk bertahan hidup di alam liar. Jadi, aku harap kalian memikirkannya terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk keluar dari hutan."
"Lalu ... bagaimana dengan keselamatan kami, Nenek Olive?" tanya salah satu siswa.
"Bukankah kalian telah menandatangani perjanjian sebelumnya? Tentu saja, kami tidak bertanggung jawab atas apa yang terjadi kepada kalian.
Jika kalian mati, itu berarti kalian ceroboh dalam mengambil keputusan. Bahkan, kalian mungkin sombong dan terlalu percaya diri. Selain itu, kemungkinan kecil ... kalian terlalu tidak beruntung."
"..."
Mendengar ucapan Nenek Olive, semua orang terdiam, khususnya Reinhart. Entah bagaimana, pemuda itu merasa kalau dirinya memiliki beberapa keberuntungan yang cukup buruk. Lebih tepatnya ... baik dan buruk berdampingan.
Dia pasti melalui momen berbahaya, tetapi jika lolos ... pasti ada hasil bagus yang menantinya.
Ya ... jika pemuda itu lolos tanpa kecelakaan.
"Tampaknya aku masih menganggap remeh kekejaman akademi," gumam Reinhart.
"Apakah kamu mengatakan sesuatu, Rein?"
Aiden yang berdiri di dekat Reinhart bertanya dengan wajah penasaran. Namun pangeran berambut perak itu menggeleng sebagai jawaban.
"Kalau begitu, kita mulai pemeriksaannya."
Nenek Olive kembali bicara. Sesuai dengan ucapannya, para siswa-siswi pun akhirnya melakukan pemeriksaan satu per satu. Entah sengaja atau tidak, para pangeran mendapatkan giliran paling akhir dibandingkan dengan murid-murid lainnya.
Seolah, mereka ingin menunjukkan dan membandingkan apa yang dibawa oleh para pangeran tersebut.
Pada saat giliran Aiden dan Flint diperiksa, para murid, bahkan dua orang itu terkejut karena ...
Apa yang mereka bawa sangat mirip!
Tenda dan perlengkapannya, dua armor, dua senjata, dan beberapa item yang digunakan untuk bertarung. Jumlahnya benar-benar mirip! Hal itu membuat para gadis mulai memiliki fantasi aneh di kepala mereka.
Setelah itu, giliran Reinhart dan Xylon untuk diperiksa.
"Murid Reinhart ... apakah kamu membawa tas dimensi yang salah?" tanya Kakek Garvin dengan ekspresi aneh.
"Tidak."
"Lalu ..." Garvin merasa ragu.
Berbeda dengan Pangeran dan bangsawan lain, Reinhart membawa dua tas dimensi. Satu berukuran cukup luas, digunakan untuk menyimpan beberapa senjata, armor ringan, jubah, dan pakaian. Juga akan digunakan untuk menampung buruannya. Sedangkan tas dimensi lainnya, selain berisi tenda dan perlengkapan terkait ...
Garvin mengeluarkan pisau, papan kayu ... itu cukup normal. Namun setelah itu, dia mengeluarkan banyak toples kaca kecil berisi bubuk cabai, bubuk merica, garam, gula, dan berbagai bubuk rempah. Bahkan ada dua puluh tusuk BBQ dengan gagang kayu!
'Apakah bocah ini menganggap perjalanan ke Hutan Kabut Ungu sebagai piknik?!'
Pertanyaan tersebut muncul di benak Kakek Garvin dan Nenek Olive. Mereka belum pernah melihat siswa yang benar-benar membawa satu set bumbu dapur lengkap untuk dibawa ke Hutan Kabut Ungu!
Beberapa pangeran lain juga menatap ke arah Reinhart dengan ekspresi penuh keheranan. Belum lagi para gadis yang menganggap hal tersebut cukup aneh dan menyimpang. Lagipula, daripada membawa banyak potion seperti Xylon ... membawa banyak bumbu tampak lebih aneh.
Merasakan tatapan yang diarahkan kepada dirinya, Reinhart tampak tenang dan sudah kebal.
"Aku dengar, banyak jenis binatang buas di Hutan Kabut Ungu yang sulit ditemukan di luar. Bahkan tidak boleh diperdagangkan ke luar. Namun ...
Bukankah tidak apa-apa memburu satu atau dua untuk dimakan di tempat? Lagipula, kami harus bertahan hidup, kan?"
"..."
'Bocah ini. Daripada khawatir akan keselamatannya, dia benar-benar berpikir untuk menggunakannya alasan bertahan hidup untuk makan binatang langka yang ada di lingkaran luar Hutan Kabut Ungu?
Bukankah itu keterlaluan? Apakah kepala anak ini baik-baik saja?'
Kakek Garvin menatap ke arah Reinhart dengan penuh keraguan. Namun, tanggung jawabnya hanyalah untuk memeriksakan dan mengantar pada murid. Jadi dia tidak berhak untuk melarang Reinhart untuk membawa benda-benda itu, karena ...
Tidak ada larangan untuk membawa bumbu pada saat ujian!
"Selanjutnya!" ucap Kakek Garvin dengan tidak sabar setelah mengembalikan tas dimensi milik Reinhart.
Pemeriksaan kembali dilanjutkan. Reinhart yang kembali ke tempatnya lalu ditanyai oleh Aiden.
"Kenapa kamu membawa alat-alat tidak berguna itu, Rein?"
Mendengar ucapan Aiden, para murid lain juga menajamkan telinga mereka. Tampaknya juga penasaran kenapa Reinhart membawa benda-benda yang bisa dibilang, daripada berguna ... malah menjadi faktor tambahan bahaya.
Lagipula, di dalam hutan, jika memanggang daging dan menyebarkan aroma, hal itu bisa menarik pemangsa dan para binatang buas. Membuat tugas mereka untuk bertahan menjadi semakin sulit dilakukan!
Reinhart menatap ke arah Aiden sejenak sebelum menjawab dengan nada monoton.
"Untuk mengalami kehidupan."
"..."
Jawaban tidak logis Reinhart langsung membuat para murid semakin penasaran. Namun melihat pemuda itu menutup mulutnya rapat-rapat, mereka hanya bisa menghela napas dalam hati.
Sementara itu, Kakek Garvin yang sebelumnya tampak bingung menatap ke arah Reinhart dengan ekspresi heran. Seolah menyadari sesuatu, tetapi juga tidak yakin ...
Apakah Reinhart benar-benar akan melakukan apa yang ada dalam pikirannya atau tidak.
>> Bersambung.