Not Your Perfect Prince

Not Your Perfect Prince
Keluarga Runegarde



Karena Reinhart dianggap kelelahan akibat perjalanan panjang, setelah sambutan ringan, pemuda itu benar-benar langsung pergi ke kamarnya lalu tidur.


Tidak ada sambutan hangat, tidak ada pesta, benar-benar hanya penerimaan formalitas belaka.


Keesokan paginya, meski enggan, Reinhart benar-benar masih ikut pergi sarapan bersama karena itu sebuah kewajiban.


Selain Raja Aaron dan kedua istrinya, masih ada tujuh saudara-saudari Reinhart. Ya. Tidak seperti keluarga kecil hangat, keluarganya tetap dingin seperti suhu di luar istana padahal memiliki banyak anggota.


Belum lagi, Reinhart benar-benar merasa paling dijauhi dan paling dibenci oleh saudara-saudarinya. Dari kedelapan anak Raja Aaron, termasuk Reinhart, ada empat perempuan dan empat laki-laki.


Anak pertama, ke dua, dan ke tiga adalah perempuan. Reinhart, anak ke empat. Lalu anak ke lima, laki-laki. Anak ke enam perempuan. Terakhir, dua anak kembar laki-laki.


Anak nomor 1, 3, dan 5 adalah anak Charlotte. Sedangkan anak nomor 2, 4, 6, 7, dan 8 adalah anak Evelyn.


Walau Charlotte, istri pertama Raja Aaron memiliki senyum tipis di wajahnya. Wanita itu sebenarnya licik. Selain itu, dia juga membenci Reinhart karena dia adalah anak laki-laki yang lahir pertama. Sosok yang memiliki peluang besar untuk menjadi putra mahkota.


Belum lagi, dibandingkan ketiga anaknya, lima anak Evelyn ternyata memiliki bakat yang lebih baik dalam sihir. Kecuali anak ke-2 yang memiliki sihir atribut es dan anak ke-6 yang memiliki sihir atribut angin seperti Evelyn. Ketiga pangeran, Reinhart dan si kembar mewarisi sihir petir milik Keluarga Runegarde.


Ya. Evelyn adalah penyihir dua atribut yang langka. Jenis wanita cantik yang sangat berbakat dan langka. Hanya saja, ekspresi dingin di wajahnya membuat banyak orang tidak berani menatapnya. Bahkan Charlotte, istri pertama Raja Aaron juga agak takut dengan wanita itu.


Di sisi Charlotte sendiri, malah anak pertama yang mewarisi sihir petir. Sedangkan putranya sendiri tidak mewarisi sihir tersebut. Jadi, keberadaan Reinhart serta dua adik lelakinya benar-benar menjadi batu yang mengganjal di hatinya.


Selesai sarapan, mereka masih duduk di kursi masing-masing.


Setelah menyesap anggur dar gelas kristal, Raja Aaron berkata.


"Aku dengar kamu mendapatkan nomor dua dalam pertandingan antar akademi, Reinhart."


"Ya, Yang Mulia."


Reinhart menjawab dengan ekspresi datar. Benar-benar merasa tidak sedang berbicara dengan ayahnya sendiri.


"Aku dengar, kamu didiskualifikasi karena nyaris membunuh lawanmu di arena. Gagal merebut juara karena hal tersebut."


"Ya, Yang Mulia."


"Lalu, aku dengar ... kamu menggunakan sihir terlarang dalam pertandingan tersebut?"


Pada saat pertanyaan itu disebutkan, suasana di meja makan langsung menjadi dingin. Banyak pasang mata yang diarahkan kepada Reinhart.


Sudah terbiasa merasakan tatapan semacam itu, pemuda tersebut menjawab dengan nada monoton.


"Itu hanya sihir yang saya buat, Yang Mulia. Sama sekali tidak pantas dianggap sebagai sihir terlarang."


Mendengar ucapan putranya, mata Raja Aaron menyempit. Dia merasa, putranya menjadi lebih dewasa dan berbeda dibandingkan sebelumnya.


Meski mengetahui bahwa Reinhart adalah tipe anak jenius, tetapi sebelumnya dia lebih pendiam. Bukan hanya pendiam, tetapi juga lebih mengisolasi dirinya sendiri seolah menyembunyikan sesuatu.


Sedangkan sekarang, pemuda itu masih menyendiri. Namun dibandingkan dengan sikap menyembunyikan sesuatu seperti dulu, saat ini, dia lebih mirip sosok yang tidak peduli dengan apa yang ada di sekelilingnya.


"Meski sangat disayangkan karena tidak mendapatkan nomor 1, tetapi kamu melakukan hal yang baik dalam studimu. Peringkat pertama dalam setiap pelajaran, nomor satu di kelas yang sama.


Kamu tidak mempermalukan nama Runegarde."


"Terima kasih banyak atas pujiannya, Yang Mulia. Namun, jika diperbolehkan, saya ingin meminta sesuatu dari anda."


"Hm?"


Mendengar ucapan Reinhart, suasana di meja makan langsung menjadi lebih dingin. Langsung turun ke titik beku!


Putra-putri Raja Aaron lain menatap ke arah Reinhart seperti sedang melihat orang mati! Benar-benar merasa terlalu berani.


"Runegarde adalah keluarga yang adil. Selalu memberikan apa yang pantas diberikan. Jadi, katakan apa yang kamu inginkan."


Mengabaikan tatapan rumit saudara-saudarinya, Reinhart masih menjawab dengan nada monoton.


Mendengar ucapan Reinhart, tidak hanya anak-anak lain, bahkan kedua istri Raja Aaron terkejut.


Tidak langsung menjawab, Raja Aaron diam cukup lama sebelum akhirnya membuka mulutnya.


"Apa yang ingin kamu cari dari tempat itu? Di sana dipenuhi dengan buku tentang teknik sihir circle 5, bahkan beberapa sihir terlarang. Kamu belum mencapai tingkatan itu, tidak ada artinya kamu memasuki area terlarang."


"Bagaimana jika saya menembus circle 5?"


Reinhart berkata dengan nada monoton.


"Maka selain inti perpustakaan dan ruang penyimpanan harta kerajaan, sebagai pangeran yang memenuhi syarat, kamu bebas mengakses tempat lain di seluruh istana."


"Saya mengerti, Yang Mulia."


Setelah itu, suasana kembali menjadi sunyi dan canggung. Raja Aaron bangkit dari kursinya sembari berkata.


"Kalau begitu, lakukan apa yang kalian inginkan asalkan tidak melanggar peraturan."


Usai mengatakan itu, Raja Aaron pergi diikuti kedua istrinya.


Ketika orang tuanya pergi, tanpa menunggu senioritas, Reinhart langsung bangkit dari kursinya lalu pergi.


Benar-benar membuat anak-anak lainnya terpana.


***


Siang harinya, di ruang latihan.


"Anda telah melakukannya dengan baik, Tuan."


Sosok Isana yang memakai armor ksatria berkata dengan nada kagum. Menatap ke arah Reinhart dengan ekspresi penuh penghargaan.


"Ini masih belum apa-apa. Terlalu jauh dari yang aku harapkan."


Memakai armor serta pedang berat yang mengurangi mobilitasnya, Reinhart berkata dengan nada tidak puas.


Jelas, karena perbedaan level mereka, Isana menahan diri ketika melawan Reinhart. Tentu saja, di sisi lain, pangeran berambut perak itu tidak menggunakan mantra sihir seperti biasanya. Bertarung dengan kemampuan high knight miliknya.


Pada saat itu, pintu ruangan latihan pribadi diketuk.


Tok! Tok! Tok!


"Masuk," ucap Reinhart dengan nada datar.


Pintu terbuka, sosok pelayan istana memasuki ruangan.


Melihat dua pelayan yang seharusnya tidak ada di bawahnya dan cukup asing tersebut membuat Reinhart mengangkat alisnya.


"Kamu?" tanya Reinhart.


"Yang satu ini bernama Lulu, sedangkan dia saudari saya Lala, Pangeran Reinhart. Kami berdua adalah pelayan sekaligus pengasuh Pangeran Edsel dan Pangeran Edward."


Mendengar itu, Reinhart merasa lebih aneh. Anak ke tujuh dan ke delapan adalah yang paling muda. Belum lagi, jarak mereka jauh dari saudara dan saudari lainnya. Lagipula, mereka masih berusia enam tahun!


Sedangkan anak ke enam, dia sudah berusia hampir sebelas tahun.


Melihat ke arah Edsel dan Edward, bocah berambut hitam dan perak dengan mata biru yang bersembunyi di belakang kedua pelayan dengan ekspresi agak takut, Reinhart tidak bisa tidak bertanya.


"Apakah kalian memerlukan sesuatu dariku, Edsel, Edward?"


>> Bersambung.