
Jangan lupa gabung di grup 'L Wanderers' agar tidak ketinggalan update. (Cek profil Author)
Kalian juga bisa bincang-bincang bersama dengan Author dan teman-teman lainnya di sana!
---
Pukul delapan pagi, dalam sebuah Colosseum raksasa.
"Membosankan ..."
Reinhart yang mendengarkan upacara pembukaan turnamen menguap dengan ekspresi malas. Sedangkan di sisi lain, 127 peserta lain tampak gugup sekaligus bersemangat. Bagi mereka ...
Ini adalah ajang untuk menunjukkan diri!
Semua peserta disuruh berbaris rapi dan mendengarkan semua pidato. Meski ada beberapa penjelasan tentang sejarah kenapa turnamen dilakukan, pemuda itu masih tidak tertarik dengan hal-hal sepele semacam itu.
Setelah upacara penyambutan yang terselesaikan pukul sembilan kurang, semua peserta disuruh untuk mengambil nomor mereka satu per satu.
Pada saat Reinhart maju untuk mengambil nomor, entah kenapa, dia merasakan tatapan yang diarahkan kepadanya. Hanya saja, ketika dia menoleh, pemuda itu tidak bisa melihat orang tersebut.
'Antek dari Wings of Chaos? Benar-benar ingin membuat masalah sekarang?'
Memikirkan itu, mata Reinhart berkilat dingin.
Setelah mengambil nomor, Reinhart kembali ke tempatnya.
Usai para siswa kembali ke tempat mereka masing-masing, petugas mengantarkan mereka menuju ke lokasi pertarungan akan dilakukan!
Setelah beberapa waktu berjalan, mereka semua akhirnya tiba di lokasi!
Kali ini, Reinhart benar-benar terpana.
Dia tidak menyangka kalau dirinya benar-benar akan bertarung di tempat semacam itu. Daripada bangunan utama yang mirip dengan Colosseum raksasa, mereka benar-benar harus bertanding di arena kecil.
Itu dilakukan karena para peserta akan melakukan pertandingan bersama-sama!
Ya. Lebih tepatnya, 16 pertandingan dalam sekali jalan untuk meringkas waktu. Jika dibagi, 128 dibagi 16 adalah 8. Jika setiap pertandingan memakan waktu maksimal satu jam, pertarungan akan memakan waktu delapan jam.
Menghela napas panjang, Reinhart melihat nomornya yang begitu mencolok.
"Serius ... apakah mereka ingin aku tertimpa kemalangan atau apa?"
Reinhart menatap ke arah nomor peserta 013 yang dia pegang. Pemuda itu tidak bisa tidak bertanya-tanya tentang hal tersebut. Belum lagi, entah bagaimana, nomornya benar-benar memiliki warna merah darah!
'Ketika panahan, aku coba dihitamkan. Sekarang, mereka mencoba mengutuk? Ini sudah keterlaluan!'
"Nomor 013, silahkan masuk ke arena nomor 13."
Mendengar bahwa dirinya akan maju di sesi pertama, Reinhart sudah menduganya. Setelah menghela napas panjang, pemuda itu berjalan ke arena nomor 13. Memiliki ekspresi hambar di wajahnya, pemuda itu berdiri di sana dengan tenang.
Ketika melihat ke arah lawan di sisi lain, sudut bibirnya berkedut. Dari keseluruhan pemain, 116 orang adalah orang luar. Namun, Reinhart masih tidak menyangka kalau orang di sisi lain adalah siswa dari sekolahnya sendiri!
'Sabotase?'
Pemikiran itu langsung dalam benak Reinhart. Namun, suara pemuda di sisi lain langsung membangunkan Reinhart yang sedang melamun.
"Ternyata aku harus menghadapi kamu, Pangeran Reinhart!"
"..."
Melihat sosok pemuda tidak asing tetapi dirinya tidak mengetahui nama pemuda tersebut, Reinhart merasa agak canggung.
"Uhuk! Kamu ... siapa ya?"
Mendengar itu, pemuda di sisi lain tiba-tiba terdiam. Dia menunjuk ke arah Reinhart dengan ekspresi tercengang. Dia sendiri tidak tahu harus mengatakan apa.
"Namaku Cornelius! Salah satu perwakilan dari kelas dua!"
Melihat ke arah Reinhart yang menatapnya dengan tatapan tidak bersalah, Cornelius merasa bahwa pangeran berambut perak itu sengaja melakukannya. Sengaja mempermainkannya di depan banyak orang!
Hal itu langsung menyulut api kebencian dalam hati Cornelius.
Memakai armor perak berkilauan, rambut cokelat bergelombang Cornelius diembuskan oleh angin. Dengan wajah bermartabat, pemuda itu berkata.
"Masih ada waktu. Jika tidak ingin kalah secara memalukan, sebaiknya kamu mengganti armor dan senjata milikmu, Pangeran Reinhart."
"..."
Mendengar ucapan Cornelius yang tidak ramah karena sekali lagi membawa-bawa pilihannya soal peralatan yang lebih sederhana, sudut bibir Reinhart berkedut. Pemuda itu membuat gerakan untuk melemaskan otot-otot lehernya sebelum akhirnya berkata.
"Lebih baik kamu tutup helm tersebut dengan rapat, Senior Cornelius. Karena ..."
Reinhart mengangkat sudut bibirnya, menunjukkan senyum dingin.
"Kita akan segera mulai pertarungannya."
>> Bersambung.