
"Kamu ... Seorang penyihir???"
Emerald Spider menatap sosok yang dikelilingi dengan percikan kilat biru dengan ekspresi terkejut di wajahnya.
"Tidak ada yang bilang seorang penyihir tidak boleh berlatih sebagai ksatria, kan?"
Reinhart tertawa. Ekspresinya mulai berubah. Meski wajahnya tertutup oleh topeng, Emerald Spider bisa melihat sepasang mata biru yang menatapnya. Dibandingkan dengan tatapan tak acuh sebelumnya, dia melihat sedikit kegilaan dalam tatapan lelaki itu.
"Lightning magic ... Lightning aura."
Reinhart bergumam pelan. Seluruh tubuhnya langsung dilapisi dengan energi sihir berwarna biru. Kilat biru sesekali tampak di sekitar tubuhnya. Mencengkeram erat gagang pedangnya, pemuda itu tersenyum.
"Memang apa yang dikatakan Guru benar. Meski tidak begitu signifikan, tetapi sihir sederhana seperti ini masih memiliki efek baik untuk petarung jarak dekat."
Lightning aura sendiri sebenarnya sihir kelas rendah. Namun, sihir itu membuat penggunanya mendapatkan tambahan kekuatan dan kecepatan. Benar-benar cocok untuk digunakan oleh petarung jarak dekat.
Hanya saja, sihir tersebut bukan tanpa kekurangan. Selain tidak menambah pertahanan, mana (energi sihir) akan terkuras dengan cepat karena sihir tersebut akan terus menghabiskan mana selama digunakan.
"Yah ... kalau begitu tidak ada waktu untuk main-main lagi."
Tap! Tap! Tap!
Sosok Reinhart langsung bergegas menuju ke arah Emerald Spider dengan cepat.
Swoosh! KLANG!
Dua pedang berbenturan dengan keras. Membuat percikan api karena dampaknya.
"Berhenti melamun, Pak Tua!"
Klang! Klang! Klang!
Ekspresi Emerald Spider berubah ketika melihat kekuatan dan kecepatan Reinhart langsung meningkat pesat, benar-benar langsung ke puncak level High Knight! Bahkan fisiknya tampak menyentuh ranah Master Knight!
Meski Emerald Spider sendiri juga di puncak Master Knight, tetapi karena racun, kekuatannya menurun satu tingkat, yaitu ke tingkat menengah. Selain itu, dia juga merasa kalau lawannya perlahan tapi pasti mulai menekannya.
Merasa direndahkan, Emerald Spider meraung marah.
"Jangan bercanda denganku, Bocah K-parat!"
KLANG!!!
Sosok Reinhart dan Emerald Spider langsung terseret mundur beberapa meter karena tabrakan keras.
Beberapa saat kemudian, suara langkah kaki terdengar. Dari belakang Emerald Spider, tampak banyak orang yang mulai berkumpul. Meski sebagian dari mereka hanya berada di level knight, tetapi mereka semua tampak sehat. Memegang senjata dengan ekspresi ganas, penuh niat membunuh ketika menatap Reinhart!
"Ini adalah kekalahanmu, Bocah K-parat."
Emerald Spider mencibir. Ekspresinya berangsur-angsur menjadi semakin dingin. Melihat banyak bangunan rusak dan anak buah yang terbunuh, dia jelas marah karena kerugian besar! Namun ...
"HAHAHAHA!!!"
Bukannya takut, Reinhart malah menutup wajahnya dengan tangan kirinya sambil tertawa terbahak-bahak. Pemuda yang biasa pendiam itu benar-benar tertawa seolah melihat lelucon sangat lucu.
"Apakah kamu sudah gila, Bocah?"
"Pfft ..." Reinhart menahan tawa. "Maaf, aku merasa ada yang salah dengan kepalamu, Emerald Spider."
"Maksudmu—"
"Kamu tahu siapa aku, kan?"
"Hah?! Siapa yang mengenalmu! Tunggu ..."
Ekspresi Emerald Spider langsung berubah. Dia menatap ke arah Reinhart dengan ekspresi tidak percaya.
"Selamat! Kamu menjawab dengan tepat, tapi sayangnya ... tidak ada hadiah."
Reinhart menyarungkan pedangnya kembali. Menatap ke arah Emerald Spider dan anak buahnya, dia kembali berkata.
"Kamu tahu aku penyihir, tetapi apakah kamu berpikir ... Kenapa sejak awal hanya menggunakan mantra kecil untuk menambah buff?
Kenapa aku menahan diri?
Kenapa aku menunggu kalian berkumpul?"
Ekspresi Emerald Spider langsung menjadi buruk. Menoleh ke arah anak buahnya, dia langsung berteriak.
"Segera lari dari tempat ini!!!"
Para anak buah Emerald Spider tampak terkejut. Mereka sama sekali tidak dapat memroses apa yang sebenarnya telah terjadi. Saat itu juga, suara pemuda yang dingin dan tak acuh terdengar.
"Maaf, kalian terlambat."
Setelah mengatakan itu, sebuah lingkaran sihir raksasa muncul di belakang Reinhart. Tawa dan ejekan pemuda itu berhenti. Dia hanya menatap ke arah orang-orang di depannya seperti sedang melihat tumpukan mayat dan puing-puing.
"Lightning magic ..."
Reinhart membuat gerakan menunjuk dengan dua jari.
"Thousand lightning sparrow!"
Ketika kata-kata itu terucap, seribu burung pipit berukuran kepalan tangan yang seluruh tubuhnya terbuat dari energi sihir petir langsung ditembakkan. Daripada gerombolan burung terbang, itu lebih mirip dengan seribu panah yang ditembakkan secara bersamaan.
BLARRR!!!
Di bagian barat Kota Roscars, cahaya terang yang disusul dengan ledakan langsung membuat orang-orang terkejut. Ketika ada getaran yang menyusul, mereka semua langsung menjadi waspada.
Sementara itu, di lokasi kejadian.
Asap membumbung tinggi ke angkasa. Bukan hanya satu atau dua, nyaris seluruh markas utama Emerald Spider diledakkan oleh sihir skala besar tersebut.
Reinhart melakukan hal tersebut karena tahu kalau para budak berada di tempat yang berbeda. Lebih jauh beberapa rumah dibandingkan dengan markas utama.
Kepulan asap mulai menyebar. Sosok Reinhart berdiri dengan tenang sambil memegang pedang yang menancap di dada Emerald Spider.
Ya ... dalam serangan sebelumnya, meski terluka parah, pria itu tidak mati. Jadi Reinhart langsung mengambil kesempatan untuk menikamnya. Mengirim pria itu pergi ke jalan untuk mengikuti anak buahnya.
Melihat ekspresi enggan di wajah Emerald Spider lalu ke arah mayat dan puing-puing berserakan, Reinhart menghela napas panjang. Dia menarik pedangnya, mengibaskan pedang untuk membuang noda darah pada bilahnya, sebelum akhirnya menyarungkan pedang kembali ke sarungnya.
Pemuda itu kemudian membuka topengnya, lalu meludahkan beberapa suap darah. Menyeka noda darah di wajahnya, dia bergumam pelan.
"Benar-benar tindakan merugi. Guru pasti akan marah ketika tahu aku mengacaukan semuanya."
Reinhart tersenyum pahit. Apa yang dia susun dengan Professor Elin benar-benar harus banyak diubah setelah dirinya kembali dari misi. Membuat kehidupannya menjadi semakin sulit dibandingkan sebelumnya.
"Apakah kamu baik-baik saja, Rein?! Hey! Apakah kamu mendengarku?!"
Suara panik dan khawatir Aiden terdengar. Menoleh ke arah suara pangeran pirang itu terdengar, Reinhart tersenyum sebentar sebelum balas berteriak.
"Untuk apa kamu berteriak! Misi selesai, segera kembali!"
Mengatakan itu, Reinhart berbalik pergi. Berjalan menuju kejauhan, menghilang dalam gelap malam sembari berpikir.
'Sudah saatnya masuk ke tahap berikutnya.'
>> Bersambung.