Not Your Perfect Prince

Not Your Perfect Prince
Mempersiapkan Perbekalan



Membuka matanya, Reinhart melihat langit-langit berwarna putih.


Masih merasa agak pusing, pemuda itu mengamati sekitar dan sadar bahwa dirinya sudah dikeluarkan dari kantor Professor Elin. Dari penampilan luas dan beberapa peralatan dalam ruang tersebut, Reinhart yakin bahwa dirinya sekarang berada di ruang UKS.


"Kamu sudah bangun, Rein?"


Mendengar pertanyaan itu, Reinhart menoleh. Pemuda itu mendapati sosok Professor Elin yang duduk di kursi dekat ranjang tempat dia berbaring.


Melihat sosok gurunya, entah kenapa ... dia merasa telah melupakan sesuatu.


"Selamat, kamu berhasil melakukannya. Mulai sekarang, tugasmu hanya terus berlatih ... mengembang sekaligus mengendalikan kekutanmu sendiri.


Tidak perlu lagi terlalu khawatir karena sudah cukup terkendali."


Reinhart tertegun sejenak. Dia kemudian segera menggeleng ringan. Sadar bahwa dirinya telah sedikit menjauhi ancaman kematian karena darah iblis dan elemen kegelapan dalam tubuhnya, pemuda tersebut merasa cukup senang. Sudah melupakan apa yang coba dia ingat sebelumnya.


"Elemen tersebut memang kuat, jadi pantas jika kamu tumbang setelah menahan diri cukup lama. Kamu berhasil, dan itu adalah hal yang membahagiakan. Namun ...


Kamu tidak boleh lupa, sebentar lagi kamu akan melakukan ujian semester. Meski sudah membicarakan hal ini sebelumnya, aku harap kamu mempersiapkan diri secara baik.


Jangan terlalu meremehkan ujian ini, karena ... alam liar itu berbahaya."


Reinhart mengangguk ringan. Ekspresinya tampak lebih serius ketika dia membalas.


"Aku mengerti, Guru."


Mendengar jawaban Reinhart, Professor Elin mengangguk puas. Wanita cantik itu kemudian bangkit dari tempat duduknya lalu berkata.


"Kalau begitu aku akan kembali ke kantor. Setelah membaik, habiskan waktu dengan teman-temanmu untuk membeli perbekalan.


Sekali-kali bersantai bukanlah hal buruk."


Melihat sosok Professor Elin pergi dari ruang UKS, Reinhart merasa bersyukur. Akan tetapi ... dia masih merasa telah melupakan sesuatu yang penting.


'Lupakan, tidak ada gunanya untuk memaksakan diri untuk mengingat sesuatu yang tidak pasti. Hanya membuat sakit kepala.'


Reinhart akhirnya menggelengkan kepalanya, merasa tak perlu lagi memikirkannya. Pemuda itu mengangkat sudut bibirnya ketika sadar, sekarang dia telah menjadi Penyihir Kegelapan circle 1.


...***...


Sore di hari berikutnya.


"Sangat jarang kamu mengajakku untuk keluar, Rein? Kamu terlihat sangat bahagia. Katakan padaku, apakah ada sesuatu yang terjadi belakangan ini? Atau ...


Sebenarnya kamu telah menemukan pacar?"


Aiden berjalan bersama Reinhart keluar menuju ke gerbang depan Akademi Cahaya Bintang. Karena suaranya yang lantang, banyak orang langsung mengalihkan pandangan mereka ke arah keduanya. Khususnya para gadis yang seusia dengan mereka berdua.


Para gadis itu benar-benar tampak penasaran, apakah pangeran dingin itu memang sudah menemukan pacar.


"Jangan bicara omong kosong, Aiden." Reinhart menggelengkan kepalanya. "Tidak ada hal spesial semacam itu. Aku hanya ingin mempersiapkan diri dengan baik. Kemungkinan besar, ujian praktik akhir semester tidak akan sesederhana ujian tengah semester."


"Cih! Membosankan. Omong-omong, aku dengar ... kamu sama sekali belum bertunangan, Rein?"


"..."


Mendengar Aiden membicarakan hal itu, sudut bibir Reinhart berkedut. Dia langsung menatap pemuda itu dengan ekspresi dingin. Mereka kemudian menuju kota, tetapi tidak langsung pergi berbelanja. Mereka malah mampir ke sebuah cafe untuk beristirahat sejenak.


Melihat ke arah Reinhart, Aiden yang menopang dagu tidak bisa tidak berkata.


"Beruntungnya ... bisa mengejar cinta sejati dengan bebas."


"Apakah kamu mengejekku?" ucap Reinhart dingin.


"Hah? Bukankah kamu terlalu sensitif, Rein? Aku benar-benar iri, kamu tahu?"


"..."


"Tidak bisakah kita membicarakan hal lain? Kenapa kamu terus membicarakan gadis, bukankah kamu sudah memiliki Helena?"


"Helena ... jangan membahasnya. Kami tidak akan menikah. Setidaknya, aku tidak akan pernah setuju untuk menikahinya."


"Bukankah dia gadis yang baik? Penampilannya juga terlihat menarik, kan?"


"Kamu tidak mengerti, Rein. Apa yang aku cari bukan hal itu, tetapi cinta ...


Aku menginginkan cinta sejati."


"..."


Mendengar ucapan Aiden yang seolah berkata 'kamu jomblo, dan kamu tidak akan mengerti' membuat Reinhart ingin memukul wajah pemuda berambut pirang di depannya. Benar-benar sangat menjengkelkan!


"Lupakan soal Helena. Bagaimana menurutmu dua gadis yang mengikuti Helena? Bukankah mereka cantik? Mereka juga tampak tertarik padamu, Rein."


"Maksudmu Sophia dan Caterina?"


"En." Aiden mengangguk.


"Kamu tahu, keluargaku agak sombong." Reinhart menghela napas panjang. "Tampaknya tidak ingin pangeran dari Kerajaan Rembulan Perak memiliki hubungan dengan gadis di luar kerajaan. Bahkan jika mereka setuju, kemungkinan besar ... mereka ingin menjodohkan aku dengan seorang putri."


"Putri kerajaan, kah?" ucap Aiden.


"Hmmm ... mungkin itu saudari perempuanmu, Aiden?" ucap Reinhart setengah bercanda.


Mungkin karena jarang bercanda, Aiden langsung menganggapnya serius.


"Lalu kamu akan memanggilku kakak ipar," ucap Aiden dengan nada bangga. Namun ekspresinya langsung berubah. "Hey! adikku masih berusia sepuluh ... hampir sebelas tahun, Rein! Kamu tidak akan memiliki hobi aneh, kan?"


"..."


"Kenapa kamu diam, Rein? Kamu tidak serius, kan?" tanya Aiden curiga.


"Apakah kamu tidak tahu aku sedang bercanda?"


"En? Kamu ... bercanda???" ucap Aiden sambil menatap Reinhart dengan penuh keraguan.


Pemuda itu menatap sosok berambut perak di depannya dengan curiga. Memastikan bahwa itu memang Reinhart si pangeran dingin, lalu memastikan kalau pemuda di depannya sehat dan baik-baik saja.


"Kepalamu tidak terbentur sesuatu kan, Rein?"


"..."


Sudut bibir Reinhart kembali berkedut. Menahan diri untuk tidak marah, pemuda itu akhirnya mengalihkan topik pembicaraan.


"Lupakan. Segera selesaikan minumanmu, lebih baik kita segera pergi sebelum malam."


Mendengar ucapan Reinhart, Aiden mengangguk.


"Baik."


Mereka berdua kemudian mulai berbelanja. Namun tidak seperti para gadis, ketika berbelanja, mereka tidak menghabiskan begitu banyak waktu. Pilih sesuatu yang memang perlu digunakan dan praktis. Tidak mudah teralihkan dengan hal-hal lain. Dengan demikian ... mereka telah kembali sebelum matahari terbenam.


Tanpa terasa, beberapa hari berlalu begitu saja.


Hari yang Reinhart dan para siswa-siswi kelas satu tunggu telah tiba. Mereka akan menjalankan tugas akhir semester ini, yaitu ...


Pergi ke Hutan Kabut Ungu untuk berburu monster!


>> Bersambung.