Not Your Perfect Prince

Not Your Perfect Prince
Home, Not Sweet Home



Suatu malam, barisan ksatria berkuda berbaris mengawal sebuah kereta kuda.


Dalam kereta kuda, tampak sosok Reinhart yang menopang dagu sambil melihat luar jendela.


Dia di dalam kereta itu bersama dengan Isana, Lyn, dan saudarinya. Selain itu, Hachiko si Naberius juga ada di sini. Dikarenakan formalitas, tentu saja sekarang Reinhart dikawal oleh banyak ksatria.


Pertama-tama, Reinhart naik kapal terbang bersama dengan para pelayannya. Setelah perjalanan cukup panjang, mereka tiba di ibukota Kerajaan Rembulan Perak. Sampai di sana, mereka langsung disambut oleh para ksatria dan sebuah kereta kuda.


Pada awalnya, ketiga pelayan tidak ingin ikut naik kereta kuda. Namun karena hanya ada satu kereta kuda, Reinhart memaksa mereka untuk naik bersama dengannya. Tentu saja, para ksatria hanya diam dan tidak berkomentar.


Walau sebenarnya tidak begitu suka penampilan mencolok seperti ini, tetapi demi keamanan dia tetap melakukannya.


Dibandingkan dengan sambutan hangat Kerajaan Lautan Zamrud dimana Raja dan Ratu datang untuk menjemput putra mereka, sambutan di kerajaan ini benar-benar lebih dingin.


Menatap ke luar jendela, pemandangan kota yang indah dan lebih makmur tampak jelas di mata Reinhart.


Kepingan salju menari di udara, turun ke bawah untuk menutupi dunia dengan warna putih. Uap panas keluar dari cerobong asap rumah. Lampu sihir menerangi rumah, menghangatkan orang-orang yang ada di dalamnya. Di jalanan sepi, suara tapal kuda menjadi musik yang mengiringi kepulangan Reinhart.


Melihat istana megah berwarna putih di kejauhan, ekspresi rumit tampak di wajah pemuda itu.


'Sungguh, sebenarnya aku tidak ingin pulang.'


Pikir Reinhart ketika merasa suasana menjadi semakin berat.


Setelah beberapa waktu, kereta kuda akhirnya melewati gerbang. Taman luas yang tertutup salju dan tampak kosong terlihat. Jika di musim semi sampai gugur, pemandangan indah jelas bisa dilihat di sini. Namun di musim dingin, apa yang bisa Reinhart lihat hanyalah hamparan warna putih.


Kereta berhenti di depan istana. Setelah menghela napas beberapa saat, Reinhart turun dari kereta. Tiga pelayan mengikuti di belakangnya.


Pintu depan terbuka, beberapa orang muncul untuk menyambut kedatangan Reinhart.


"Kamu pulang, Reinhart."


Di sisi kanannya, ada sosok wanita cantik berambut pirang panjang bergelombang. Memiliki mata biru gelap, seperti dasar lautan. Tidak seperti Raja Aaron, dia memiliki senyum tipis di wajahnya. Tetap saja, wanita itu juga tampak dingin. Dia adalah istri pertama Raja Aaron, Charlotte.


Di sisi kirinya, ada sosok wanita cantik berambut hitam lurus sampai punggung bawah. Dia memiliki paras cantik dengan iris biru bak safir. Dibandingkan dengan ekspresi datar Raja Aaron, ekspresinya tampak lebih dingin. Dia adalah istri ke dua Raja Aaron sekaligus ibu Reinhart, Evelyn.


Di belakang mereka, ada juga beberapa sosok dari yang dewasa sampai masih muda. Mereka adalah anak-anak Raja Aaron sekaligus saudara-saudari Reinhart. Sama dengan orang tua mereka, ekspresi para putri dan pangeran itu tampak dingin.


Ini baru dua istri resmi Raja Aaron dan anak-anak garis keturunan utama. Sebenarnya, ayah Reinhart masih memiliki empat selir. Keempat selir itu adalah keturunan dari cabang keluarga empat Duke yang berada langsung di bawah Raja.


Menurut tradisi, setiap Raja yang diangkat harus menerima empat gadis dari setiap Duchy. Menikahi anggota keluarga Duke (yang bukan pewaris) untuk mengikat mereka. Jadi jika keempat selir dan anak-anak yang bukan keturunan utama dihitung, itu terlalu banyak.


Melihat ekspresi dingin dan disiplin di wajah setiap anggota keluarga, sudut bibir Reinhart berkedut.


'Rasanya seperti satu keluarga mengidap penyakit apatis.'


Pikir Reinhart sambil menahan diri untuk tidak menghela napas panjang. Dia kemudian memberi hormat sesuai dengan etiket bangsawan sembari berkata.


"Saya kembali, Yang Mulia."


Ya. Bahkan, di rumah, biasanya anak-anak masih memanggil kedua orang tua mereka dengan gelar. Itu juga alasan kenapa suasana di keluarga ini tampak begitu dingin.


Merasakan tatapan yang diarahkan kepadanya, Reinhart berpikir.


'Mungkin kata "home not sweet home" lebih pantas untukku. Sungguh ...


Kenapa keluarga ini rasanya tampak begitu ganjil!'


>> Bersambung.