Not Your Perfect Prince

Not Your Perfect Prince
Kekuatan 100 Binatang Buas



Berjalan menuju ke kamarnya, Reinhart merasa sangat lelah. Dia benar-benar tidak percaya kalau ternyata ibunya adalah jenis perempuan dengan gangguan komunikasi.


'Mungkinkah Ayah menipu Ibu yang baik dan polos? Maksudku, Ibu bilang kalau ayah itu adalah playboy. Seperti binatang pada musimnya.'


Reinhart menghela napas panjang. Tampaknya ayahnya ketika muda adalah lelaki seperti Aiden. Pemuda itu merasa beruntung karena dirinya lebih mewarisi sifat-sifat ibunya. Bukan jenis lelaki yang suka mempermainkan perasaan para gadis.


Ya, setidaknya itulah yang Reinhart pikirkan.


Padahal, dia sudah mengacaukan hati banyak gadis. Bahkan, alasan kenapa Aiden menjadi seperti sekarang adalah tanggung jawabnya. Namun pemuda tersebut malah sudah melupakannya.


Berbicara seolah sejak awal semua itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan dirinya!


Ketika hampir sampai di kamarnya, Reinhart tiba-tiba berhenti karena merasakan tatapan yang diarahkan kepadanya.


Pemuda itu langsung menoleh ke sumbernya sambil bertanya.


"Apakah kamu memiliki sesuatu yang ingin dibicarakannya, Karen?"


Di tempat Reinhart melihat, tampak sosok gadis berdiri tenang dengan ekspresi dingin. Kulit putih pucat, rambut perak agak bergelombang, mata ungu seperti amethys ... ditambah pakaian khas putri kerajaan, gadis tersebut benar-benar mirip boneka.


Boneka yang tampak nyaris sempurna.


"Tolong jangan memengaruhi saudara ke tujuh dan delapan. Seharusnya kamu tidak mencemari pikiran mereka, Saudara ke empat.


Selain itu, tolong jangan panggil aku dengan cara tidak sopan, Saudara ke empat. Tolong buang kebiasaannya buruk yang seharusnya tidak kamu bawa kembali ke istana."


Karen berbicara dengan ekspresi datar. Tampaknya sama sekali tidak peduli apakah Reinhart akan marah atau tidak. Dia kemudian melakukan gerakan dalam sesuai dengan etiket bangsawan. Gadis tersebut kemudian pergi, membuat Reinhart bingung harus merespon bagaimana.


Melihat ke arah Karen yang telah pergi, Reinhart hanya berharap semuanya bisa berjalan lancar.


Menghela napas panjang, pemuda itu pun kembali ke kamarnya.


***


Keesokan harinya.


Setelah menyelesaikan latihan pagi, Reinhart menuju ke dapur untuk mengambil buah-buahan segar. Namun sesampainya di sana, dia sekali lagi merasakan tatapan yang diarahkan kepadanya.


"Ada apa lagi, Karen?"


Ya. Reinhart sosok Karen yang juga muncul di dapur. Gadis itu mengangkat kepala tinggi. Masih memiliki ekspresi sombong di wajahnya, dia berkata.


"Hmph! Siapa yang datang untuk menemuimu, Saudara ke empat? Memangnya dapur ini kamar pribadi anda dan saya tidak boleh memasukinya?"


Reinhart mengabaikan adiknya yang angkuh. Pemuda itu memasukkan apel hijau, anggur hijau, dan melon kecil berkulit hijau muda.


"Hari ini makan sesuatu yang hijau. Mereka bilang hijau itu baik," gumam Reinhart yang menaruh cukup banyak buah ke keranjang kecil.


Karen yang melihat penampilan kakaknya benar-benar tercengang. Pemuda itu benar-benar mengabaikannya. Bukan hanya mengabaikan, tetapi juga segera pergi setelah mengambil buah-buahan.


Sementara itu, Reinhart yang baru saja keluar dari dapur melihat dua adiknya yang muncul entah dari mana.


"Kakak Reinhart, sudah waktunya belajar sihir!" Edsel berkata dengan senyum di wajahnya.


"Ya! Sudah waktunya belajar sihir!" tambah Edward yang juga memiliki senyum di wajahnya.


Meski masih begitu datar dan agak mati rasa, setidaknya kedua sudut bibir mereka berdua bisa terangkat. Tidak lagi terlihat seperti boneka tanpa nyawa.


"Ssttt! Sudah aku bilang, setelah makan siang. Aku bahkan belum beristirahat, Okay?"


Keduanya menutup mulut mereka secara bersamaan. Melirik ke kiri dan kanan sambil mengamati. Melihat tidak ada orang, kedua bocah itu menghela napas lega.


Melihat Edsel dan Edward yang berpura-pura dewasa, Reinhart menggelengkan kepalanya.


Merasa kalau kedua adiknya memang masih begitu polos. Tingkahnya sangat mudah ditebak!


"Kalau begitu sampai jumpa nanti siang, Kakak Reinhart!"


"Sampai jumpa, Kakak Reinhart!"


Keduanya segera berjalan menjauh. Berpura-pura berjalan tenang padahal sedang menahan semangat. Agak kikuk, tetapi begitulah anak kecil.


***


Sementara Reinhart tidak mengetahuinya, seorang tamu tidak diundang muncul.


Di depan gerbang Istana Kerajaan Rembulan Perak, sebuah kereta kuda indah berhenti. Pintu terbuka, lalu sosok wanita cantik turun dari sana.


Jika Reinhart berada di sini, dia pasti terkejut karena ... itu adalah gurunya sendiri, Professor Elin!


Tidak! Lebih tepatnya, Selena Novafrost!


Kali ini, Selena tidak menggunakan pakaian guru akademi. Sebaliknya, dia menggunakan jubah penyihir indah berwarna biru navy, tampak ornamen platinum dan beberapa safir bertatahkan di atasnya.


Kata "cantik" belum cukup untuk menggambarkan penampilannya saat ini.


Melihat ke arah gerbang raksasa di depannya, wanita itu menghela napas panjang.


"Aku benar-benar lupa kapan terakhir aku datang ke tempat ini."


Menggelengkan kepalanya, Selena mengingat sosok Reinhart yang tampak dewasa untuk remaja seusianya.


'Aku ingin tahu bagaimana reaksi Rein ketika melihat gurunya tiba-tiba datang menemuinya.'


Memikirkan hal tersebut, senyum muncul di wajah wanita itu.


>> Bersambung.