
Gak nyadar salah up berkali-kali. Author benar-benar gak fokus karena biasanya pake notebook, tapi sekarang pakai hp karena notebook rusak. Yah ... intinya maaf, dan silahkan baca ulang karena beberapa chapter sebelumnya telah direvisi!
Keesokan harinya.
"Aku lelah ... Aku hanya ingin pulang menemui istri dan anakku."
"Apakah kamu bodoh? Kamu jelas jomblo! Kamu terlalu lelah sampai berhalusinasi!"
"Kalau begitu aku akan pergi ke rumah bordil!"
"Apakah kamu gila? Memangnya kamu masih memiliki tenaga? Pulang lalu tidur!"
"..."
Beberapa ksatria mengoceh ketika berjalan kembali. Mereka benar-benar terlalu lelah untuk banyak berpikir.
Tadi malam, kesepuluh ksatria benar-benar diseret oleh Reinhart untuk pergi ke sarang tarantula raksasa. Mereka bertarung dengan banyak sekali anak-anak tarantula raksasa level 1.
Meski dibilang 'anak-anak', para tarantula itu masih lebih besar dari baskom! Belum lagi mereka gesit, mampu menyemprotkan jaring dan cukup beracun!
Benar-benar pertarungan yang sangat melelahkan!
"Apa yang kalian katakan? Kita akan pergi ke tempat sebelumnya sebelum kembali, kan?"
"..."
Mendengar perkataan Reinhart, semua orang tercengang. Mereka benar-benar tidak menyangka kalau pemuda itu masih tidak melepaskan mereka, padahal sudah melakukan tugas yang sangat berat!
'IBLIS INI!!!'
Kesepuluh ksatria meraung dalam hati. Benar-benar merasa tertekan dan ingin menangis!
Mengabaikan mereka semua, Reinhart yang memakan sarapannya tampak sangat senang karena mendapatkan banyak panen.
Selesai memakan sarapan mereka, Reinhart dan kesepuluh ksatria berjalan menuju ke hutan tempat ketiga penyihir dan para assassin dikepung para beast.
Sampai di sana, Reinhart dan kesepuluh ksatria terkejut melihat banyak mayat baik itu para assassin, serigala abu-abu, bahkan seekor tarantula raksasa.
Reinhart melihat dua sosok yang paling mencolok di antara mereka semua.
Ya, satu Penyihir tua level 4 dan seekor tarantula raksasa level 4 yang sekarat!
Melihat keduanya sudah tidak bergerak dan berada di ujung tanduk, Reinhart tidak bisa tidak berdecak kagum.
"Ck! Seperti yang diharapkan dari penyihir tua dengan banyak pengalaman. Bahkan setelah pengepungan dari banyak beast, benar-benar masih bertahan!
Sungguh luar biasa!"
Reinhart berjalan ke arah Penyihir tua dan tarantula raksasa lalu menarik pedang dari pinggangnya.
Belum sempat tarantula raksasa bergerak, pemuda itu menghampiri lalu menusuk bagian lembut di bagian belakang kepalanya. Langsung mengakhiri hidup makhluk tersebut!
Reinhart kemudian menarik keluar pedangnya lalu menghunus ke depan sosok Penyihir tua itu.
"Sekarang ... bisakah kita bicara baik-baik?"
Reinhart tersenyum ramah. Namun di mata penyihir tua itu, senyuman pemuda tersebut lebih buruk daripada senyum iblis.
***
Sore harinya.
"Yah ... dengan ini, kesepakatan kita telah selesai kan, Viscount Vinn?"
Duduk di ruang tamu Kastil Vinn, Reinhart menikmati secangkir teh sore sambil menatap Viscount Vinn.
Viscount Vinn sendiri menatap sosok Reinhart dengan ekspresi penuh dengan kejutan. Dia benar-benar tidak menyangka, rencana menipu yang tampak sederhana bisa begitu efektif. Belum lagi, Reinhart sendiri telah melenyapkan separuh kekuatan dari Jalan Perdagangan!
Membuat mereka menderita luka berat dan sulit untuk bangkit!
"Tentu saja sesuai dengan kesepakatan, Murid Reinhart. Bahkan, kesepakatan ini juga menguntungkan untuk rumah bangsawan Vinn. Jadi, saya benar-benar berterima kasih atas kebaikan anda.
Anda benar-benar luar biasa bahkan di usia yang begitu muda."
Viscount Vinn tidak bisa tidak mengingat kejadian sebelumnya.
Reinhart berbicara kepadanya soal herbal berusia ratusan tahun yang sebenarnya adalah tipuan yang telah direncanakan. Mereka memancing orang-orang dari Jalan Perdagangan untuk mengejar.
Semua itu telah direncanakan oleh Reinhart untuknya!
"Jadi, kapan anda berencana untuk kembali ke Akademi Cahaya Bintang, Murid Reinhart?"
"Besok."
"Hah? Bukankah itu terlalu terburu-buru?"
"Tentu saja tidak." Reinhart menggelengkan kepalanya. "Aku telah banyak menunda, jadi aku harus segera kembali."
Jika bukan karen Reinhart memerlukan jalur khusus untuk mengumpulkan uang dengan cara lebih cepat, dia tidak akan tinggal di tempat itu lebih lama. Selain itu, pemuda itu tidak akan repot-repot untuk membuat dirinya dalam bahaya.
Dalam misi ini, dia telah menggunakan terlalu banyak energinya sihir. Pemuda itu benar-benar telah dalam masalah!
Memikirkan sosok Professor cantik, Reinhart tidak bisa tidak mengeluh dalam hatinya.
'Aku melakukan ini untuk misi dan masa depan. Seharusnya .... iblis betina itu tidak akan memukuliku habis-habisan, kan?'
Entah kenapa, memikirkan Professor Elin membuat pemuda itu merinding. Merasa agak tak tertahankan!
Setelah berbicara soal bisnis dengan Viscount Vinn, Reinhart akhirnya pergi menuju penginapan.
Pemuda itu segera menemui rekan-rekannya lalu menyuruh mereka mempersiapkan diri untuk kembali. Pada saat itu, Aiden, Helena, Sophia, dan Caterina merasa sangat senang.
Sebaliknya, Devy merasa agak rumit. Sedangkan Lyn tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, jadi dia masih tampak tenang seperti biasa.
Devy menatap mereka semua. Sadar kalau dia dan adiknya memiliki kehidupan berbeda, gadis itu hanya bisa tersenyum masam.
'Sudah waktunya untuk berpisah, kah?'
***
"Terima kasih atas bantuan kalian, dan terima kasih telah merawat kami selama ini."
Selesai makan malam, Devy membungkuk sopan kepada Reinhart dan rekan-rekannya. Meski masih kecil, Lyn juga ikut berterima kasih seperti kakaknya. Agak bingung, tetapi samar-samar sadar apa yang akan terjadi selanjutnya.
Reinhart berjalan menuju ke arah Devy dan Lyn. Dia menyuruh mereka bangkit. Pemuda itu kemudian mengelus kepala Lyn sambil bertanya.
"Tidak ada sesuatu yang baik di jalan kumuh, Lyn. Kamu tahu itu, kan?"
"En." Gadis kecil itu mengangguk.
"Setelah kami pergi, kamu dan kakakmu mungkin akan hidup sulit seperti sebelumnya. Kamu tahu itu?"
"..." Meski agak ragu, Lyn mengangguk.
Gadis kecil itu ingin hidup baik, tetapi dia juga sadar kalau semuanya terlalu tidak realistis. Jadi, Lyn paham kalau mungkin dia akan mengalami kehidupan berat. Namun setelah hidup agak nyaman, gadis kecil itu memiliki tujuan.
Menjadi kuat, kumpulkan uang, dan hidup nyaman dengan kakaknya! Namun, apa yang Reinhart ucapkan benar-benar membuatnya terpana.
"Aku tidak bisa merawatmu terus-menerus. Namun, jika kamu mau, aku bisa mempekerjakan kamu dan kakakmu sebagai maid di tempatku.
Meski masih harus bekerja seperti bersih-bersih atau memasak, aku akan menjamin kalian bisa tidur di ranjang empuk. Kalian akan berada di rumah hangat dan tidak akan kelaparan. Jadi ...
Apakah kamu ingin pergi bersamaku?"
Reinhart lalu melirik ke arah Devy.
"Apakah kamu mau melakukannya, Devy?"
Menahan tangisnya, Devy berlutut di lantai lalu berkata.
"Devy bertemu dengan Tuannya."
Lyn agak linglung, tetapi segera mengikuti kakaknya.
"Lyn bertemu dengan Tuannya."
Melihat keduanya, Reinhart mengangguk puas. Apa yang dia lakukan benar-benar tidak sia-sia. Pemuda itu segera berkata.
"Bangkit. Kalian segera pergi bersiap lalu istirahat ..."
Reinhart tersenyum lembut.
"Kita akan kembali ke Akademi Cahaya Bintang besok."
>> Bersambung.