
Tiga hari kemudian.
"Apakah kamu yakin akan melakukan ini, Rein?"
Mendengar itu, Reinhart melirik ke arah Aiden. Pemuda itu menghela napas panjang sebelum menjawab.
"Aku tahu kalian tidak akan setuju. Oleh karena itu, aku sudah berencana melakukan ini sendiri. Sama sekali tidak melibatkan kelompok kita."
"Hah?! Apakah kamu bercanda, Rein? Kamu ingin melakukan hal itu sendiri? Terlalu berbahaya! Lebih baik—"
"Keputusanku sudah bulat, Aiden. Lebih baik kalian tidak menghalangiku ..."
Reinhart melirik dengan tatapan dingin. Melihat rekan-rekannya dipenuhi keraguan, dia menambahkan.
"Jangan salahkan aku jika bersikap kejam."
Setelah mengatakan itu, Reinhart berbalik pergi meninggalkan penginapan. Aiden dan ketiga gadis di team hanya bisa menghela napas. Sebaliknya, Devy dan adiknya menatap ke arah Reinhart dengan ekspresi penasaran.
"Apakah kalian akan membiarkan Tuan Muda Reinhart pergi sendirian?" tanya Devy penasaran.
"Ya ... Itulah yang dia minta. Jadi kami tidak akan ikut campur. Kami hanya akan menunggunya kembali."
"Namun, bukankah Tuan Muda Reinhart tidak hafal hutan di sekitar Kota Roscars? Selain itu, bukankah dia akan dalam bahaya?"
"Memang, Rein pasti akan ada dalam bahaya."
Aiden mengangguk dengan ekspresi serius.
"Lalu kenapa kalian tidak mencoba membantu?"
"Bukankah kamu melihat ekspresi Rein, Devy? Dia sangat serius."
"Tapi—"
"Menyebalkan, tetapi aku tahu, Rein berpikir kita akan menjadi beban jika ikut bersamanya. Oleh karena itu, dia pergi sendiri karena Rein pasti juga mengkhawatirkan keselamatan kita. Jadi ...
Apa yang bisa kita lakukan sekarang adalah menunggu. Mengerti?"
"..."
Devy akhirnya mengangguk dengan ekspresi berat di wajahnya. Sedangkan Lyn masih menatap ke arah Reinhart menghilang. Tidak ada yang tahu gadis itu sedang memikirkan apa.
Aiden menghela napas panjang sebelum bergumam pelan dengan ekspresi rumit di wajahnya.
"Bukankah kamu juga pangeran? Kenapa kamu melakukan hal sembrono seperti ini, Rein? Aku tidak percaya kamu kekurangan uang, jadi ...
Apa yang sebenarnya coba kamu lakukan?"
***
Petang di hari yang sama.
"Kita berhenti di sini."
Reinhart memberi perintah untuk berhenti. Di belakangnya, tampak sepuluh ksatria kuat di bawah Viscount Vinn. Meski tidak banyak, jelas sudah cukup untuk mengawal Reinhart jika sesuatu terjadi. Paling tidak, pemuda itu bisa melarikan diri hidup-hidup.
"Baik!"
Kesepuluh ksatria menjawab serempak. Meski agak enggan, mereka masih menuruti perintah Viscount Vinn untuk mengawal sosok pemuda misterius yang tampaknya berasal dari Akademi Cahaya Bintang itu.
"Bolehkah saya bertanya, Pak?"
Salah satu ksatria mengangkat tangannya. Bertanya dengan ekspresi agak ragu di wajahnya.
"Ada apa? Tidak perlu sungkan jika ingin bertanya."
"Sebenarnya apa yang kita cari dalam misi ini, Pak?"
"Apakah Viscount Vinn tidak memberitahu kalian?"
Mendengar pertanyaan Reinhart, ksatria itu menggelengkan kepalanya. Bukan hanya dia, tapi kesembilan rekannya juga menggeleng ringan. Mereka sama sekali tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Aku sedang mencari herbal khusus. Tugas kalian adalah mengawalku. Tentu saja, jika aku membuat perintah sembrono, kalian boleh menentangnya. Namun jika perintah itu tepat tetapi kalian masih menolak ...
Viscount Vinn sendiri yang akan membereskan kalian."
Reinhart tersenyum.
"Apakah kalian mengerti?"
"Kami mengerti, Pak!" jawab mereka serempak.
"Tenang. Setelah ini selesai, aku yakin Viscount Vinn akan lebih menghargai kalian."
"Sungguh?!"
"Aku berani menjanjikan itu!"
"Kalau begitu, mari beristirahat terlebih dahulu. Jangan lupa menyalakan api unggun!
Setelah itu, makan secukupnya, tapi jangan berlebihan."
"Apakah kita tidak mendirikan tenda, Pak?"
"Tidak."
"..."
Ksatria itu tampak bingung.
"Kita akan melakukannya malam ini."
"Eh??? Bukankah itu berbahaya? Menurut para senior dan pelatih, di malam hari—"
"Bisakah kamu diam sebentar?"
"..."
Melihat ksatria muda itu akhirnya diam, Reinhart menghela napas lega.
"Lakukan saja apa yang aku katakan. Kalian akan mengerti nanti."
"..."
Para ksatria saling memandang. Setelah beberapa saat ragu, mereka akhirnya mengangguk. Sama sekali tidak berani membantah pemuda itu.
Reinhart sendiri tampak puas melihat mereka tidak melawan dan bertindak patuh.
Malam akhirnya tiba.
Reinhart memandang langit, dimana tidak ada bintang sama sekali. Sebaliknya, malah ditutupi oleh awan kelabu.
'Hujan di musim panas akhirnya tiba.'
Pemuda itu menghela napas panjang. Dia merasa agak lega, karena semua masih sama dengan apa yang dia prediksi.
Pada saat mulai larut malam dan para ksatria akhirnya agak mengantuk, Reinhart tiba-tiba mengangkat sudut bibirnya.
"Bangun, Semuanya! Kita kedatangan tamu!"
Mendengar ucapan Reinhart, para ksatria yang sebelumnya mengantuk tiba-tiba berdiri. Mereka langsung menarik pedang dan mengamati sekitar dengan wajah serius. Tampaknya sangat mempercayai ucapan pemuda itu.
"Karena kalian sudah datang, kenapa tidak keluar saja, Teman-teman dari Jalan Perdagangan?"
Hutan masih begitu tenang. Namun setelah beberapa saat, suara gemerisik terdengar. Banyak sosok yang mengenakan pakaian assassin berwarna hitam muncul. Tidak hanya itu, bahkan ada tiga orang yang mengenakan jubah penyihir muncul.
'Lebih dari dua puluh assassin, dua penyihir tingkat dua, dan satu penyihir tingkat empat.'
Reinhart berpikir dengan hati-hati. Melirik ke arah lawan-lawannya, pemuda itu tampak lebih serius.
"Seperti yang diharapkan dari orang yang membunuh Emerald Spider. Penyihir level 4 di usia semuda itu. Benar-benar luar biasa!"
Satu dari tiga penyihir yang tampaknya adalah pemimpin kelompok berkata dengan ekspresi heran di wajahnya. Tidak seperti Reinhart, ketiga penyihir tersebut adalah orang-orang yang sudah mencapai batas usia mereka.
Jangan pikir hal semacam itu buruk. Karena, mereka sudah dianggap sangat baik daripada orang-orang biasa. Berbeda dengan bangsawan yang sebagian besar keturunannya memiliki garis darah penyihir, penyihir di antara orang-orang biasa itu sangat jarang.
"Kalian sudah terkepung. Jadi, katakan dimana harta itu berada! Jika kalian langsung menyebutkannya, kami akan membunuh kalian tanpa harus mengalami banyak rasa sakit!"
Salah satu penyihir level dua berkata dengan ekspresi kejam di wajahnya.
"Hmmm ..." Reinhart mengelus dagu. "Apakah kalian pikir ini adalah akhir kami?"
"Jangan menanyakan hal bodoh, Nak! Kalian sudah dikepung! Tidak mungkin lolos dari kejaran kami! Meski kamu penyihir level 4, kamu masih kalah jumlah jika harus melawan kami bertiga!"
"Pfft ..."
"Apa yang lucu?!"
Penyihir level dua itu kembali berkata dengan nada marah. Tampaknya sangat tidak senang melihat Reinhart yang masih muda, tetapi begitu berbakat.
"Kalian bilang, kalian mengepung kami ... kan?"
"Apa yang salah dengan itu?!"
AAAOOOOO!!!
Lolongan serigala yang saling bersahutan mulai memenuhi hutan. Mendengar itu, ekspresi orang-orang langsung berubah. Namun, bukannya panik, Reinhart malah membuka kedua tangannya lebar-lebar.
Tersenyum ke arah lawan-lawannya, pemuda itu kemudian berkata.
"Selamat datang di pengepungan yang sebenarnya!"
>> Bersambung.