Not Your Perfect Prince

Not Your Perfect Prince
Memastikan Sesuatu Sebelum Berangkat



Sekitar satu jam kemudian, Reinhart kembali ke penginapan.


Pemuda itu telah menyelesaikan urusannya dengan dua kelompok gangster paling terkenal di kota. Menggunakan taktik tongkat dan wortel, yaitu ancaman dan uang untuk menyelesaikan semuanya. Biarkan mereka mengurus para penjahat kecil di sekitar ...


Tidak lagi main-main dan membuat masalah dengan orang-orang yang harus Reinhart awasi!


"Apakah kalian sudah siap?" tanya Reinhart ketika melihat empat gadis yang menunggu.


"Kami sudah siap, Senior!" balas mereka berempat secara bersamaan.


Melihat kalau Delia sekarang mau membawakan tas dan koper Maria, Reinhart mengangguk. Dia merasa cukup puas karena keempat gadis tampaknya sudah menjadi lebih akrab. Sedikit lebih bisa diandalkan daripada sebelumnya.


Ya. Meski sedikit ... itu masih patut disyukuri!


Kelima orang itu mengenakan jubah yang menutupi pakaian mereka. Setelah pergi dari penginapan, mereka langsung menuju ke tempat ahli ramuan ... satu-satunya apoteker yang ada di kota kecil tersebut.


Setelah berjalan beberapa waktu, mereka berlima akhirnya tiba di lokasi.


Di depan mereka, tampak sebuah rumah bergaya kuno dengan halaman luas. Tampak beberapa bunga, tetapi jelas tidak terawat.


"Apakah kita tidak tiba di tempat yang salah, Senior?" tanya Delia sambil mengerutkan kening.


"Sama sekali tidak salah."


Reinhart menggelengkan kepalanya. Selain mencari informasi orang-orang paling kuat di kota, dia juga mencari informasi tokoh penting di kota. Salah satunya adalah ahli ramuan tua, Nenek Agatha.


Reinhart dan keempat gadis berjalan ke rumah lalu mengetuk pintu.


Tok! Tok! Tok!


Setelah beberapa waktu, suara langkah terdengar dari dalam bersama dengan suara pemuda yang tidak puas.


"Bukankah aku sudah bilang kalau toko potion tutup hari ini? Jika ingin membeli potion, tunggu besok! Kami tidak menerima pelanggan di rumah.


Selain itu, Nenek Agatha juga—"


Pintu terbuka. Sosok pemuda berusia 19 atau 20 tahun jangkung berambut pirang dengan wajah yang tidak bisa dibilang 'tampan' muncul. Pria itu benar-benar tercengang.


Melihat empat gadis cantik yang muncul di rumahnya, pemuda itu merasa kalau dirinya sedang bermimpi.


Ya. Dia benar-benar fokus ke empat gadis dan mengabaikan keberadaan Reinhart!


"Apakah kalian datang untuk membeli potion? Aku akan mengambil kunci toko. Kalian bisa menunggu sebentar."


Setelah mengatakan itu, pemuda tersebut berbalik. Namun saat itu, perkataan Delia membuatnya terhenti.


"Kami datang untuk menemui Nenek Agatha. Membahas misi yang telah beliau ajukan kepada Akademi Cahaya Bintang."


Pemuda itu berbalik. Menatap ke arah empat gadis itu, dia bertanya dengan ekspresi tidak percaya.


"Kalian? Datang untuk melakukan misi? Pergi ke pegunungan berbahaya?


Tolong jangan bercanda. Bahkan jika ini bukan area terlarang yang berbahaya, masih ada beberapa monster tingkat 3 dan mungkin tingkat 4. Terlebih lagi, lingkungan keras tersebut sama sekali tidak cocok untuk para gadis cantik seperti kalian jelajahi."


Mendengar ucapan pemuda tersebut, para gadis tampak tidak puas. Walau mereka tidak bisa dianggap kuat, tetapi mereka juga memiliki harga diri. Sama sekali tidak suka dipandang rendah, khususnya tiga gadis bangsawan yang memiliki kebanggaan tinggi tersebut.


"Kami hanya ingin menemui Nenek Agatha. Semua ini tidak ada urusannya denganmu," ucap May tidak puas.


"Tentu saja ada hubungannya denganku. Aku adalah cucu Nenek Agatha!" ucap pemuda itu tegas.


"Apakah ada tamu, Tommy?! Kenapa begitu berisik?"


Suara nenek tua terdengar. Beberapa saat kemudian, sosok wanita tua dengan pakaian ungu muncul. Rambutnya telah memutih karena waktu, tubuhnya sedikit membungkuk. Dia berjalan dengan tongkatnya, sekilas tampak seperti nenek ramah biasa.


"Bukankah kamu sedang tidak enak badan? Sudah aku bilang, lebih baik kamu istirahat di dalam," kata pemuda bernama Tommy tersebut.


Tanpa mengucapkan sepatah kata, Nenek Agatha langsung mengetuk kepala Tommy dengan tongkat di tangannya.


"Jangan mencoba mengaturku, Bocah. Jika aku tidak datang, kamu pasti akan mengacaukan segalanya."


"Anda?" tanya Nenek Agatha ragu.


Reinhart yang sedari tadi diam sedikit membungkuk dan menyapa.


"Perkenalkan, nama saya Reinhart. Siswa tingkat dua Akademi Cahaya Bintang sekaligus pengawas kelompok empat gadis yang sedang menjalankan tugas tengah semester ini."


"Murid menjadi pengawas? Apakah Akademi Cahaya Bintang sudah turun?" gumam Nenek Agatha.


"Tentu saja tidak. Sebaliknya, akademi telah membuat sistem organisasi baru yang terdiri dari para siswa-siswi berprestasi. Membuatkan wadah bagi mereka untuk mengasah kemampuan lebih jauh."


Reinhart tersenyum, tetapi agak kosong. Sama sekali tidak ada ejekan, penghinaan, keraguan, atau kebimbangan. Hanya senyum formalitas tanpa perubahan suasana hati.


Nenek Agatha menatapnya dengan ekspresi penasaran sekaligus waspada. Namun wanita tua itu juga tahu kalau tidak sopan menanyakan tingkat kekuatan yang sengaja disembunyikan. Pada akhirnya dia hanya berkata, "Masuk."


Duduk di sofa ruang tamu, Reinhart melirik ke arah keempat gadis.


"Perkenalkan diri kalian," ucap Reinhart.


"Perkenalkan, nama saya Delia."


"Saya May."


"Senang bertemu dengan anda, nama saya Maria."


"Saya Hilda."


Melihat keempat gadis itu, Nenek Agatha sama sekali tidak begitu memusingkan mereka. Hanya mengangguk sebagai formalitas.


"Seperti yang kalian ketahui, nama wanita tua ini Agatha.


Karena kalian sudah berada di sini, apakah kalian ingin menyerahkan tugas?"


"Tidak." Kali ini Reinhart yang menjawabnya.


"Lalu kenapa?" tanya Nenek Agatha sambil mengangkat alisnya.


"Kami datang ke sini untuk memastikan beberapa hal.


Anda jelas telah mengirim rute aman untuk mengambil herbal. Namun, menurut informasi yang saya temukan, kawasan hutan beberapa waktu ini tidak begitu aman.


Jadi di sini saya datang untuk bertanya. Apakah misi ini benar-benar bisa dilakukan para pemula seperti mereka?"


Mendengar ucapan Reinhart, Nenek Agatha memandangnya dengan ekspresi serius.


"Jika mengikuti rute yang diberikan. Semuanya pasti berjalan dengan aman. Sama sekali bukan masalah bagi penyihir circle satu atau dua melakukannya," tegas Nenek Agatha.


"Tampaknya anda begitu yakin.


Akan tetapi, anda harus ingat, Nenek Agatha. Akademi Cahaya Bintang menerima misi dengan harga murah bukan untuk mengirim muridnya menuju kematian.


Meski ada perjanjian dimana kematian pada murid itu kesalahan mereka sendiri dan tidak ada sangkut pautnya dengan pihak sekolah atau pemberi misi, tetapi ada syarat yang harus dipenuhi.


Yaitu murid memiliki kemampuan sesuai dengan tingkat kesulitan tersebut."


"Katakan saja apa yang kamu inginkan, Nak? Berhenti melakukan permainan kata-kata yang tidak perlu."


"Kalau begitu bagus." Ark langsung mengeluarkan selembar kertas dan pena lalu meletakkannya di atas meja. "Jika anda yakin. Anda harus menandatangani ini. Jadi ketika ada yang salah dan tidak sesuai dengan keterangan misi ... anda tidak bisa lari dari tanggung jawab."


Membaca isi perjanjian tersebut, ekspresi Nenek Agatha menjadi serius. Dia kemudian menatap Ark dengan senyum penuh pujian sekaligus ejekan.


"Tampaknya kamu lebih lihai daripada para rubah tua yang telah lama menjadi pengawas, Nak."


Reinhart mengangguk sedikit sambil membalas dengan nada monoton.


"Saya anggap itu sebagai pujian."


>> Bersambung.