
"Ayah, Wanita ini Ibu dari Vino!" bisik Sania di telinga Ayah nya.
Antonius pun menyambut hangat kedatangan wanita paru baya nan cantik itu.
"Maafkan kondisi rumah kami Bu, tidak ada sofa!"
"Duduk di bawah juga menyenangkan! Saya juga minta maaf harus datang malam-malam begini, sudah mengganggu jam istirahat kalian!"
"Tidak apa-apa Bu, kebetulan kami lagi santai?" jawab Antonius.
"Bagaimana kondisi kamu, Sania. Vino bilang kamu sempat sakit!" senyum Melani.
"Sudah baikan Mami, hanya kelelahan saja!"
"Syukurlah!"
"Oh yah, Mami ingin minum apa, teh atau kopi?" Sania menawarkan dua minuman yang menjadi favorit Melani.
"Tidak perlu, duduklah, waktu saya hanya sebentar saja, saya tidak ingin terlalu banyak basa-basi. Akhir-akhir ini, Vino anak saya selalu perhatian dan mulai dekat dengan kamu, sedikit banyaknya dia juga suka cerita tentang kamu?"
Sania mulai tegang menanggapi ucapan Melani yang bicara cukup serius.
"Apakah ia juga menceritakan kepada ibunya, tentang kejadian malam itu (MP)" gumam Sania mulai takut.
"Saya tau seperti apa karakter anak saya, dia itu anak yang manja dan jahil sekali, sangking jahilnya, saya ibunya sendiri merasa bingung, kapan ia bicara serius, kapan juga ia bicara hanya sekedar bercanda, karena semua ucapan Vino itu semua terlihat sama. Mungkin orang yang baru mengenal dirinya akan lebih banyak kesal dan kecewa, termasuk saya ibunya.
Vino juga menceritakan kenapa ia memperlakukan kamu sama seperti pelayan pribadinya. Tapi belakangan ini, Vino mengatakan, jika ia menyesal melakukan hal yang selalu membuat kamu kesulitan dan sedih.
Oleh sebab itu, saya mengucapkan permintaan maaf yang sebesar-besarnya kepada kamu Sania, karena tidak sewajarnya, anak saya melakukan itu.
Vino itu sebenarnya pria yang memiliki hati yang sangat-sangat lembut, cengeng dan lemah, meskipun begitu ia sangat penyayang, perhatian terutama untuk orang yang dia benar-benar sayangi, Vino juga sosok yang cukup keras ketika seseorang mengganggu ketentramannya dan orang yang ia sayangi.
Saya melihat Vino itu sangat sulit untuk jatuh cinta, meskipun lidahnya mudah sekali mengatakan cinta kepada semua wanita. Wanita yang berhasil merebut hatinya adalah Miranda Agustina, adik kandung dari Tasya. Kisah mereka awalnya juga berasal dari teman, hingga akhirnya Vino mengatakan cinta di akhir kematian Miranda, dan itu adalah hal yang terburuk yang pernah ia rasakan.
Patah hati itu telah membuat Vino bertingkah konyol hingga mencintai semua wanita pilhannya, sampai saya kesulitan untuk mencari seorang menantu!"
Antonius terlihat serius mendengarkan cerita dari sosok ibu tentang anaknya.
"Tidak ingin berlama-lama, maksud kedatangan saya ini...ingin bertanya kepada Sania, seperti apakah hubungan kamu dengan Vino? Apakah kalian saling mencintai sehingga langkah saya ini di perintahkan oleh Vino harus datang ke rumah kamu untuk...(terdiam sejenak) melamar dirimu menjadi istrinya!" kata Melani membuat Sania terkejut hebat. Begitu juga dengan Antonius.
"Me...melamar!" dr muda itu merasa shock dengan cepat menatap sang Ayah.
"Iyah!" sambut cepat Melani dengan anggukannya.
Sania terbayang dengan ucapan terakhir Vino saat terakhir bertemu dengannya.
"Karena aku mencintai kamu!"
Vino juga pernah berkata kepada Sania, saat dr Muda itu iseng menggoda centil Vino sebagai penghilang rasa stresnya.
"Jika gua sampai jatuh cinta dengan lu dan sampai menikahi lu, mungkin itu kesalahan ter konyol yang pernah gua lakukan di dunia ini."
"Mami salah, mungkin Mas Vino itu hanya bercanda saja!" ucap Sania terbata-bata.
"Saya sudah katakan dari awal, ucapan canda ataupun serius dari Vino itu sulit dibedakan. Tapi saya sebagai ibunya bisa menilai jika untuk melamar kamu menjadi istrinya bukanlah hal yang main-main, seperti yang sering ia janjikan kepada wanita lain! Vino juga tidak pernah melibatkan saya jika ia tidak serius." jawab Melani membuat Sania terdiam.
"Apa yang terjadi dengan pria itu, apa ia sedang dalam pengaruh obat, sehingga berniat ingin menikahi ku!" gumam Sania.
Sania hanya menunduk, ia bingung harus berkata apa?
"Gadis ini ini benar-benar tidak mengutamakan harta dan paras tampan Vino, biasanya setiap wanita yang ingin saya jodohkan dengan Vino langsung mengangguk cepat. Entah kenapa aku tidak terima jika ia sampai menolak lamaran ini!" gumam Melani.
"Bagaimana Sania!" tanya Melani kembali.
"Sebenarnya Sania cukup bingung Mami, mengapa tiba-tiba Mas Vino ingin menikahi saya! Apakah tujuannya untuk menjadikan saya pelayan abadi?"
"Soal itu, mungkin kau bisa bertanya langsung dengannya! Tapi Vino sangat serius dengan hal ini," jawan Melani.
"Maafkan Sania Mami, Sania harus menolak lamaran ini. Alasannya Pertama, Sania tidak mencintai Mas Vino dan juga merasa tidak siap untuk menjadi istrinya. Kedua, Sania sudah terlanjur teken kontrak untuk bekerja di Kalimantan selama dua tahun!"
"Jadi kamu benar-benar tidak tertarik dengan anak saya dan harus menolak lamaran Vino?" Melani merasa tidak percaya.
"Maafkan Sania Mami, tolong hargai pilihan saya!" Perempuan itu hanya menunduk.
Antonius juga mulai khawatir.
"Ibu Melani, saya benar-benar sangat tersanjung dengan niat Ibu datang untuk melamar putri saya. Soal ini, saya tidak bisa memberikan keputusan selain apa yang terbaik untuk putri saya, apapun langkah serta pilihannya, jika menurut itu yang terbaik baginya, saya hanya bisa mendukung dan terus memberinya semangat.
"Benar Pak, sebagai orang tua, kita tentu hanya bisa mendukung apa yang terbaik untuk anak! Tapi anak Bapak cukup hebat, sudah menolak niat baik anak saya!"
Suasana mendadak hening.
"Ok Baiklah, saya terima keputusan kamu!" Melani langsung berdiri menahan emosi. Ada perasaan gengsi untuk membujuk Sania agar merubah keputusannya.
"Apa Mami marah?" tanya polos Sania.
"Marah untuk apa?" kata tegas Melani dengan nada kesal bercampur gengsi.
"Terima kasih atas waktunya, saya permisi!" Melani melangkah cepat keluar memasuki mobilnya.
Sania dan Antonius hanya bisa menatap dengan raut wajah yang masih tidak mengerti. Keduanya memandangi mobil Nyonya besar itu keluar dari pintu pagar rumah mereka.
"Ternyata dugaan ayah memang benar, pemuda itu memiliki rasa lebih kepada kamu, namun ia menyembunyikannya!" ucap Antonius
"Sania hanya ingin hidup sedikit lebih tenang Ayah, aku lelah sekali" ucapnya bersandar di bahu Sang Ayah.
"Yah sudahlah, Ayah mengerti!, semua tergantung kamu, Ayah tidak akan memaksa!"
"Terima kasih Ayah!" Memeluk Antonius.
**
Melani terlihat memegangi dahinya sambil berkata dalam hati, ia cukup lelah dengan kisah percintaan anak semata wayangnya itu.
"Untung saja aku tidak buru-buru mengadakan lamaran terbuka, jika tidak! Dimana harga diriku dan keluarga jika lamaran Vino sampai di tolak oleh perempuan seperti Sania!"
"Atau jangan-jangan Sania benar, Vino menjadikannya istri hanya ingin kembali menjadi pelayannya yang lebih bebas!"
"Tapi... sorotan mata anak itu (Vino) menunjukkan ketulusan dan kesungguhan yang belum pernah aku lihat!"
**
Sania memasuki kamarnya, bergegas mengambil ponselnya.
Mencoba menelpon Vino.
"Tlililit... Tlililit... Tlililit!"
Dengan cepat Vino menerima panggilan Sania. Ia tersenyum manis.
"Halo!" ucap lembut Pria itu yang bahagia menerima panggilan dari Sania.
"Apa lagi maksud dan tujuanmu melamar aku, apa aku akan terus hidup menjadi pelayanmu!"
kata Sania yang tidak percaya jika Vino benar-benar sudah jatuh hati kepadanya.
"Apa kau yang sudah gila!" ucap Sania lagi.
"Iyah, aku memang sudah gila, gila karena tidak ingin berpisah darimu!" jawab santai Vino.
"Aku menolak lamaran itu, karena aku tidak akan pernah kembali lagi dengan orang-orang yang ada di masa lalu ku, orang-orang yang selalu membuat aku menangis, menderita. Aku ingin sekali bahagia.
Vino dengar aku baik-baik, aku ini tidak secantik para kekasihmu, aku juga tidak kaya, hari ini kamu salah memilih, tampilan ku hanya akan membuat kau kecewa dan akan menyesal nantinya.
Aku tidak bisa menikah dengan pria yang memiliki banyak kekasih, aku hanya ingin menunggu cinta sejati ku, cinta dari pria yang benar-benar tulus mencintaiku dan hanya setia untukku!" ucap Sania membuat Vino terdiam.