
Berjalan cukup jauh, Miranda melangkahkan kakinya menuju warung sembako.
"Lima puluh ribu cukup sampai lima hari mau beli apa?" gerutu Miranda, sejenak ia berdiri terpaku.
"Belum beli yang lain!" Pikirnya, Miranda melangkahkan kakinya memasuki warung sambil celingak-celinguk melihat bahan-bahan pokok.
Lama berpikir, akhirnya wanita itu membeli tepung, kacang, ikan teri dan bahan lainnya untuk membuat rempeyek.
Setelah keluar dari warung, tanpa sengaja, ia berpapasan dengan teman sekolahnya di masa SMA dulu, bernama Maimunah.
"Eh Miranda? Selama menikah sudah lama tidak kelihatan?"
"Munah! Apa kabar? Ia begitu lah!" sambut Miranda dengan senyum manisnya.
"Aku baik-baik saja! Kamu dari mana?"
"Baru dari warung!"
"Eh, sudah dulu yah! Aku mau kerja!"
"Mun, tunggu sebentar!" Saut Miranda mengejar selangkah.
"Ada apa!"
"Dengar-dengar kamu kerja sama Pak Hendra yang pengusaha Bumbu itu yah?"
"Iyah, tapi kerja kasar Mir! Ngupas bawang, juga bantuin yang lain. Lumayan lah buat bantu uang belanja emak ku di rumah, yang mengendalikan usaha Pak Hendra sekarang ini anaknya, Mas Ardi. Ia baru dua bulan lalu pulang merantau dari Malaysia. Kamu kenal enggak?"
"Lupa orangnya!"
"Semenjak dikelola Mas Ardi. Dagangan bumbu keluarga mereka lumayan laris, jadi butuh anggota!"
"Ouh begitu, sehari kamu di bayar berapa?"
"Hmm, biasa dibayar 30 ribu, tapi kadang Mas Ardi mau ngasih tips 10 ribu sampai 15 ribu tergantung cepat dan bagus kerja kita!"
"Mun, aku bisa ikut kerja enggak sama kamu? Tapi sabtu dan minggu saja, karena senin-jumat aku jaga anak balita tetanggaku, ibunya pergi kerja!"
"Yah sudah, kamu ikut aku, langsung saja bicara dengan Mas Ardi!"
"Ayuk!" Miranda langsung bersemangat.
"Apa nanti suami kamu tidak marah?"
"Enggak lah!"
Akhirnya Maimunah langsung membawa Miranda menjumpai Ardi, Jarak antara Rumah Ardi dan Mira lumayan jauh jika di tempuh dengan berjalan kaki.
***
Hari demi hari terus berlalu. Setiap Sabtu dan Minggu Miranda bekerja di rumah Ardi, wanita itu sangat bersemangat dan rajin bekerja. Ardi dan Miranda mulai sering bicara dan bercanda bersama. Ardi yang masih berusia 22 tahun merasa genit dengan Miranda, diam-diam dan tanpa ia sadari Ardi mengagumi kecantikan wanita itu.
"Miranda, nama kamu kok! Mirip seperti cat Rambut sih?" Canda Ardi.
Spontan Mira tertawa kecil, bibirnya merekah dengan manis, membuat hati lelaki itu bahagia dan terhibur.
"Iya Mas, mungkin dulu ibu senang dengan nama itu!" Jawab lembut Mira.
"Iyah juga yah!"
("Hem, Cantik juga ni cewe," batin Ardi tersenyum manis ke arah Mira, pria itu tidak begitu mengetahui jika status Mira sudah memiliki suami)
"Kamu sudah punya pacar!" Tanya Ardi malu-malu.
"Mira sudah menikah Mas!"
"Ah! Bercanda aja kamu!"
"Beneran Mas!"
"Kenapa? Takut aku godain yah! Tenang, aku juga sudah punya pacar!" Jawab gengsi Ardi dengan santai, ia tidak percaya jika Miranda sudah menikah dan menganggap wanita itu masih gadis ting-ting dengan paras wajah yang terlihat kekanak-kanakan.
***
Setiap Sabtu dan Minggu Rangga juga tetap bersemangat ngojek. Selama Mira bekerja, keduanya jarang berkomunikasi, mereka ada di dalam kehidupan masing-masing, hanya saja Mira tetap memasak dan beberes rumah. Kebersamaan dan keharmonisan Rangga dan Miranda juga berkurang. Dua kali Mira menolak diajak berhubungan badan oleh Rangga dengan alasan karena merasa lelah.
***
Waktu ke waktu terus berjalan, komunikasi Ardi dan Mira semakin seru, meski Mira bersikap biasa saja, ia selalu berpikir polos dan tidak berniat genit untuk menggoda Ardi. Sikap ini yang membuat kaum pria nyaman dan langsung terpesona dengan aura si Miranda, di tambah lagi dengan parasnya yang cantik dan sederhana.
Setiap hari Minggu, Ardi meminta bantuan kepada Miranda untuk menemaninya belanja dengan upah yang lebih besar, biasa Ardi membayar 30 ribu karyawannya. khusus buat Miranda yang menemaninya berbelanja, lelaki itu memberi upah dan tips sebesar 70 ribu. Tentu membuat hati Miranda sangat bahagia, Ardi juga merasa puas dengan sistem kerja Mira yang rajin dan detail.
***
"Enggak bisa Mas, hari Minggu upah kerjaku juga lumayan besar!" Jawab singkat Mira bergegas dan terlihat sangat buru-buru pergi meninggalkan Rangga menuju rumah Ardi.
"Ada apa dengannya? Selama bekerja, hampir tidak pernah ada waktu lagi untukku, di ajak berhubungan, capek lah. Bahkan untuk bicara sejenak saja, ia tidak punya waktu, hari ini di ajak jalan-jalan juga tidak ada waktu...Arrg! Punya istri seperti tidak punya istri," gerutu kesal Rangga menunjukkan tampilan wajah yang kusut. Ia beranjak pergi ke warung, hari Minggu itu ia tidak berniat ngojek dan sudah menyusun rencana mengajak sang istri pergi ke pantai.
***
Saat siang hari cerah, Rangga terlihat fokus mengerjakan disain nya sambil menyerup secangkir es cincau, tiba-tiba mobil pick up Ardi melewati warung tempat tongkrongan biasa Rangga.
Mobil itu berjalan lambat lantaran di depan warung ada sedikit lubang dan becek.
"Ga, itu kan si Mira istri lu!" Tegur salah satu teman Rangga di warung yang rumahnya tidak begitu jauh dari Ardi.
Sontak Rangga langsung melihat cepat ke arah mobil pick up. Terlihat pula olehnya, Mira sedang tersenyum manis bercanda dengan Ardi, sang Bos. Kaca mobil Ardi terbuka lebar.
Melihat hal itu Rangga langsung naik pitam, mengepal kuat tangannya penuh emosi.
"Kamu enggak tau yah! Belakangan ini, aku sering melihat si Mira dan si Ardi itu tertawa berduaan di rumahnya," Pernyataan temannya membuat hati Rangga semakin terbakar emosi.
"Pantas, sekarang dia suka dandan setiap hari minggu, ternyata ini alasannya sampai ia benar-benar tidak punya waktu lagi untuk ku!" gumam kesal Rangga bangkit dari duduknya dalam raut wajah yang siap menghajar Ardi.
"Kurang ajar, berani-beraninya dia merayu istri ku!" Rangga langsung bergegas melipat leptop nya.
"Cepat hajar sob!"
Tidak ingin membuang waktu lagi, Rangga menyandang leptop nya dan mengejar mereka dengan sepeda motor. Lelaki itu langsung tancap gas, ia tidak perduli jika ban motornya menabrak lubang dan bebatuan, saat melalui lubang yang cukup dalam, hampir saja ia terjatuh, motornya sempat terhenti.
"Kain lap-kain Lap, nih motor benar-benar enggak bisa mengerti banget kalau orang lagi panas!" Omelan Rangga terus berjuang melajukan sepeda motornya.
"Tin...tin....tin...tin!" Klekson Rangga mengejar mobil Ardi, lalu menjegat mobil itu agar segera berhenti.
Sejenak Mira terperangah.
"Mas Rangga!" Miranda bergegas turun.
"Woi, kecoa gosong, keluar ko!" Teriakan Rangga memukul bak pintu mobil Ardi dengan gaya premannya.
"Mas Rangga!!!" teriak Mira.
"Diam disitu, ini urusan lelaki!" Bentak Rangga dengan wajah emosi.
"Memangnya Kamu siapa?" Ardi turun dari mobil dengan gaya sok jagoan.
"Ouh, Nantangin kamu yah!" Kata Rangga penuh emosi.
"Brub!" Satu tinjuan keras dari Rangga mendarat di pipi Ardi.
(Rangga yang notabenenya pernah ikut tauran dan demonstrasi saat masih remaja hingga masa kuliah)
"Mas Ranggaaaaa!" Jerit histeris Miranda berusaha menarik tangan Rangga.
"Sudah Mas, sudah!" teriak Mira dengan tangisannya.
"Awas kamu!" Rangga menghentakkan tangan Mira dengan emosi.
Ardi yang tidak bisa berduel hanya bisa menggertakkan kaki maju mundur mirip angsa liar dan meludahi wajah Rangga.
"Anjai, ludahmu bau telor busuk!" Makian Rangga semakin memanas, Ardi yang terlihat takut dengan serangan Rangga yang brutal mulai bersembunyi di balik mobilnya lalu masuk ke kolong mobil.
Duel keduanya berubah seperti main petak umpet.
"Gara-gara kau, aku terancam di kasih jatah, keluar kau kecoa gosong!" teriak Rangga menendang keras ban mobil Ardi penuh emosi.
"Aduh sakit juga!" keluh Rangga.
Rangga menunduk dan menarik-narik celana Ardi dan memaksanya keluar.
"Kalau begini ****** ku bisa koyak😖!" Batin meringis Ardi terpaksa keluar.
"Emaaaaaak, toloooong!" jerit tangis Ardi dengan mulut lebarnya.
Rangga terus menarik pria itu sekuat tenaga dan bersiap kembali meninju Ardi, dengan sigap Mira mendorong tubuh Ardi hingga pukulan itu meleset dan sedikit mengenai hidung Mira.
"kurang ajar!" Rangga kembali mengejar Ardi.
Sontak Mira menghalanginya.
"Mas! Bunuh saja Mira, aku bahagia jika mati di tanganmu! Aku janji, arwah ku tidak akan menghantui mu!" ucapan lembut Mira dengan raut wajah memelas.
"Mira!" Rangga merasa terkejut saat melihat tetesan darah keluar dari hidung istrinya.