MIRANDA

MIRANDA
Part 91-MRD



Mendengar kabar kehamilan Miranda.


Rianti, Narwati sekeluarga, juga Intan terkejut hebat.


Semua tersenyum bahagia kecuali Intan.


"Buaaapaaaa keeeeee!" teriak Rianti kegirangan memanggil suaminya yang sedang berada di lahan pekarangan ternak lembunya.


Kasiman berdiri dalam pandangan masih terlihat bingung karena sang istri berjalan cepat dengan raut kegirangan lalu memeluk suaminya dengan kuat.


"Apa toh Bu! Enggak malu di lihat orang!"


"Pak, kita harus ke Jakarta lagi, anakmu lo Pak! Anak mu!"


"Iyah kenapa dengan Rangga, dia buat masalah lagi!"


"Rangga mau menikah dengan Miranda, karena Miranda ternyata sudah hamil!"


"Apah??? Jadi Anak itu memperkosa Miranda lagi, sudah aku bilang dia tidak bisa satu rum....!"


"Ssssst!" Rianti menutup cepat mulut suaminya yang bawel.


"Pak, dengar dulu istrimu bicara, kebiasaan nyerocos terus!"


Rianti pun menjelaskan jika kehamilan Miranda sudah terjadi sebelum mereka bercerai.


"Haduuuh, Bapak kok takut yah Bu, habis itu mereka cerai lagi, apa coba kata orang kampung!" Komentar Kasiman justru terlihat lesu.


"Jadi Bapak enggak setuju, terus bagaimana dengan anak yang ada di dalam kandungan Miranda!"


"Yah setuju lah Bu, Bapak senang. Lagian, keputusan Rangga itu tidak pernah bisa dilarang!


Bapak hanya khawatir, apakah Rangga bisa! Tidak lagi menceraikan Miranda, Bapak malu sama Rahmat, belum lagi kalau bertemu dengan Narwati!"


"Pak, mereka itu kan awalnya memang tidak saling mencintai. Rangga cuma tertarik dengan fisiknya Miranda, tapi selama beberapa bulan mereka menikah, tidak di duga Rangga itu beneran jatuh cinta kepada Miranda. Tapi Miranda belum begitu mencintai Rangga saat itu, di tambah lagi anak kita tidak bisa memberikan nafkah. Namun takdir mempertemukan mereka kembali. Ibu yakin, kali ini mereka akan menikah dengan perasaan saling menyukai, semoga tidak ada kata berpisah lagi, mungkin! Inilah jalan takdir cinta mereka Pak!"


"Huuuft!" Tarikan panjang nafas Kasiman pertanda ia sudah lelah dan khawatir dengan hubungan Rangga dan Miranda dalam status Nikah-cerai-nikah-cerai.


***


Suasana pagi yang begitu cerah di pekarangan rumah Rangga.


Terlihat Miranda sedang mengajak Olivia berjalan-jalan dengan stroller bayi yang empuk, sambil menghirup udara segar di sebuah taman yang di penuhi tanaman hias yang Indah serta tanaman bermanfaat lainnya. Hampir setiap pagi sehabis sarapan Ibu sambung itu membawa Olivia berjalan-jalan pagi guna menghirup udara dan menikmati sehatnya mentari pagi sekaligus terapi kecil buat seorang bayi dalam melatih pandangannya.


Tanpa sengaja mata wanita itu tertuju pada sesuatu sampai ia terlihat berdiri terbengong. Sebuah pohon Mangga yang rimbun, tertancap kokoh di pekarangan itu lengkap dengan buah-buahnya yang mulai matang.


"Sejak kapan disini ada pohon mangga!" Batin kecil Miranda.


"Pagi sayang-sayang ku!" Sapa manis Rangga dari belakang.


"Mas ke..kenapa tiba-tiba ada pohon Mangga!"


"Kenapa, kaget yah? Tapi ada yang lagi ngidam" Miranda reflek tersenyum manis.


"I...Iyah bagaimana caranya pohon mangga sebesar ini bisa dalam semalam tertancap di sini!"


"Buat kamu apa sih yang enggak!" Tatapan menggoda Rangga yang mematikan kaum hawa membuat Miranda tersipu malu.


"Mencari pohon Mangga sebesar ini di kota Jakarta sudah sulit, karena sekarang pohon mangga yang dulunya kekar dan tinggi berubah menjadi kurus dan kate. Aku terpaksa panggil alat berat untuk membawa dan mengorek tanah demi menanam pohon ini tadi malam!"


"Oouh Yah Ampun Mas, Mira pikir kita akan pergi ke lokasi tempat pohonnya! Aku terharu sekali, kalau memang tidak bisa, juga tidak masalah!" ucap lembut Miranda.


"Peluk dong!" Pinta manja Rangga membuka tangannya.


Miranda langsung memeluk Rangga, pria itu mencium puncak kepala Miranda.


"Buat kamu, aku akan selalu bisa!"


"Terima kasih yah Mas!" Balas bahagia Miranda.


***


Olivia sudah berada di tangan pelayan dan siap di mandikan, sementara Miranda sudah bersiap melihat aksi Rangga memanjat pohon. Dengan pakaian rumahan yang sederhana, Rangga mulai mengasah kembali kemampuan memanjatnya yang sudah lama ia tinggalkan.


Terlihat Rangga kesulitan dan mulai terjatuh kecil saat ingin melangkah naik.


"Mas, sudah deh, kalau tidak bisa, jangan di paksakan. Mira takut, Mas nanti jatuh dan terluka, soalnya tubuh Mas itu sudah lebih gemuk an tidak seperti dulu kurus dan langsing."


"Sayang, Aku sudah terbiasa jatuh dan terluka, tantangan memanjat ini tidak seberapa dengan perjuangan cintaku kepadamu!"


((ciyeeee😍😆 co cweet coy))


"Iyah, nanti kalau jatuh gimana!" kata Miranda.


"Ssst... Kamu cukup berdo'a yah"


"Iyah deh!"


Dengan perjuangan sekuat tenaga. Akhirnya Rangga berhasil memanjat pohon Mangga dan memetik langsung buahnya, Miranda pun mengabadikan momen itu di ponsel pintarnya sambil tertawa-tawa bahagia!"


"Ahahahahaha, Mas celana kamu sobek!" Seru Miranda dari bawah.


Rangga hanya memberikan ekspresi gaya masa bodohnya.


Setelah mengambil banyak buah Mangga, Rangga pun turun dengan hati-hati.


"Ye.... berhasil....Papa Olive hebaaaat👏👏👏!" Teriak Miranda dengan tepuk tangan bahagianya.


Keduanya makan buah Mangga bersama di bawah pohon itu dengan senyum tawa yang ceria, Berdua mesra sambil suap-suapan dan sayang-sayangan.


"Dek, besok-besok ngidamnya suruh panjat Mama yah, jangan sampai ngidamnya, Papa di suruh sunat lagi!" Canda Rangga membuat Miranda tertawa cekikikan.


*


"Mir, kamu tau enggak, aku dulu suku nongkrong di atas pohon sambil ngintip kamu sedang mandi di sungai!"


"iiiii!" Miranda menjewer manja telinga Rangga.


"kamu nakal banget sih Mas."


"Ahahahahaha! Habis Otong yang suruh!"


keduanya berjalan-jalan olahraga bersama kemudian Rangga Dewa mengangkat tubuh Miranda dan memutar kecil tubuhnya. keduanya saling adu jidat dalam tatapan penuh cinta.


"Bersamamu hidupku lebih indah" ucap Rangga.


"Aku juga Mas!"


"I Love u!"


"I love u too!" Balas cepat Miranda.


***


Persiapan Pernikahan Rangga pun sudah tinggal menghitung hari, pria itu harus merogoh kocek yang tidak sedikit demi menggelar pesta yang mewah dalam waktu yang singkat.


Rangga mengakui jika pesta pernikahannya yang pertama bersama Miranda sangat lah sederhana. Sesuai janji cintanya, Rangga mewujudkan mimpinya untuk membahagiakan Miranda jika sudah sukses, meskipun ada kesalahpahaman yang pernah memisahkan mereka.


***


Mendengar kabar Rangga akan menikahi kembali Miranda. Sontak, intan mendatangi ruangan utama Rangga.


"Apa kamu sudah buta karena cinta. Rangga, sebaiknya kamu jangan mudah percaya jika anak yang di kandung Miranda itu adalah benar-benar anakmu!"


"Lalu anak siapa?" tanya Rangga menantang Intan.


"Iyah bisa saja kan, dia melakukan dengan Vino, apa kamu lupa, Jika Miranda pernah meninggalkan kamu dengan Lelaki yang lebih kaya!" Raut judes Intan yang keberatan jika Rangga menikah dengan Miranda.


"Intan, sepertinya kesabaran ku telah habis menghadapi kamu, jika kau tidak merestui hubungan ku dengan Miranda, silahkan keluar dari Perusahaan ku. Siapapun karyawan yang berani menantang keputusan ku, harus angkat kaki dari Perusahaan ini!"


Sontak Intan terdiam mulai kehabisan kata-kata.


"Kau lah salah satu orang yang selalu mendukung perceraian ku dengan Miranda. Aku tau kau tidak menyukai dia, karena ibu lebih menyayangi Miranda. Ibulah yang sangat sedih ketika aku harus bercerai dari Miranda.


Bagaimana ibu tidak menyayangi Miranda, di saat ibu sakit parah hanya dia yang merawatnya siang dan malam, tanpa pernah mengenal lelah dan mengeluh sedikitpun. Ibu sampai menangis dan memohon agar kau datang, tinggal di rumah beberapa hari saja, namun kau sanggup berkata tidak bisa hanya karena repot dengan urusan anak. Apakah kau tau, ibu itu kelelahan saat merawat kau sedang melahirkan dan juga anakmu. Dimana suami dan ibu mertua mu yang kau selalu banggakan.


Memangnya apa peranmu dan suamimu yang tidak berguna itu dengan keluarga kita? Kalian hanya bisa menuntut, kau selaku kakak dan anak perempuan harusnya bisa memberikan contoh yang baik. Di saat aku kesusahan kau tidak pernah ada.


Meski aku anak yang jahat sekalipun, tapi


Aku tidak sanggup melihat mereka kesulitan."


"Karena kau tidak mengerti bagaimana reportnya mengurus anak..." (jawab Intan menantang)


"Diiiiam kau!!!


Sekarang juga kau angkat kaki dari perusahaan ini!" Bentak Rangga yang sudah dalam kondisi emosi berat.


Seketika itu Intan menangis keluar dari ruangan itu.