
Di dalam kamar, Miranda masih merenungi diri. Ia begitu bingung keputusan apa yang harus ia jalani. Pikirannya benar-benar kacau, harus dihadapkan dengan pilihan bertahan atau bercerai.
Tidak berapa lama, Karina mengirimkan sebuah pesan;
"Mira, jika hidup mu ingin bahagia, bersikeras lah untuk bercerai dari Rangga, kamu jangan ragu. Mas Damar yang kaya itu akan langsung melamar mu saat masa Iddah kamu selesai!" Rayuan maut Karina mirip sales marketing.
Damar memberi iming-iming manis kepada Karina jika ia berhasil mendapatkan Miranda, wanita itu akan diberikan jabatan bagus di kantor.
"Iyah Bude?" Balas singkat Miranda.
Terlihat wajah lesu Rangga pulang dengan sepeda motornya. Ia begitu sedih dan sangat kecewa, kemudian berhenti di pinggir jalan merenungi nasib sambil makan jagung bakar sendiri, wajahnya begitu kusut dan kesepian tanpa Miranda.
🎵 Ada uang, Abang sayang🎵
lagu si penjual jagung.
"Woi! Matikan musik mu itu, atau semua dagangan mu ini akan ku buang ke jalanan!" Bentak keras Rangga yang lagi kalut.
"Ba...baik Mas!" jawab gugup si penjual yang bingung dengan sikap pembelinya itu.
***
~Dua kali Rangga mengintip pertemuan Damar dan istrinya itu di rumah Karina~
Narwati yang risih tentang rumor kedekatan putrinya dengan pria lain, serta Miranda yang sudah tidak ingin lagi kembali kepada Rangga
Wanita itu pun berinisiatif mengajukan pertemuan dengan Besannya.
***
Keesokan harinya, dua keluarga bertemu secara intens. Rahmat kakak lelaki Mira ikut mendampingi ibu dan adiknya, selaku perwakilan Ayah mereka yang sudah meninggal.
Terlihat dua keluarga itu dalam perbincangan keharmonisan sedikit di balut dengan senyuman, canda serta makan cemilan bersama sekaligus bersilaturahmi, namun ketika membicarakan tentang masalah Rangga dan Miranda, suasana mulai hening dan tegang.
Rangga hanya tertunduk dengan wajah murung, tidak ada sepatah kata yang keluar dari mulutnya, begitu juga dengan Miranda yang hanya menebar senyum tipisnya.
Berkali-kali Narwati meminta maaf atas keinginan putrinya yang sesungguhnya ia tidak setuju, Namun Narwati tidak bisa memaksa jika putrinya sudah tidak ingin lagi kembali dengan Rangga. Ia mengajak Rianti dan Kasiman agar berusaha mencari jalan terbaik untuk rumah tangga anak mereka.
"Mira! Apa kau sungguh ingin mengajukan perceraian kepada Rangga, tolong di pikirkan lagi Nak! Kami sudah menganggap kamu itu sebagai putri kami dan sangat senang menerima kamu sebagai menantu kami. Masalah uang belanja kalian, biar Bapak sementara yang menanggungnya atau kalian tinggal lah di rumah ini saja. Biarkan Rangga tetap fokus mengerjakan ilmu bidang arsiteknya!" Jawab Kasiman lembut dan berharap agar Mira merubah niatnya.
Mira hanya membisu.
"Kami mengakui kelemahan putra kami yang belum bisa membahagiakan nak Mira, saya sebagai ayahnya meminta maaf dan tolong dimaklumi!"
"Maafkan Mira pak!" Jawabnya dalam bibir bergetar. Tetesan airmata itu hampir jatuh di kedua pipi Miranda.
"Tolong jangan bercerai dari Rangga Mira! Ibu mengerti apa yang kamu rasakan, tapi ibu mohon sekali! Mira. Bersabarlah! Budi baikmu yang sangat perduli kepada kami, membuat ibu sudah terlanjur sayang kepadamu," kata Rianti dengan wajah memelas.
Miranda selalu ada di saat Rianti dan Kasiman sedang sakit atau membutuhkan tenaga. Ia selalu ikhlas membantu dan merawat mertuanya tanpa tuntutan apapun. Ia juga sering memasakkan makanan kesukaan Rianti dan Kasiman. Miranda sudah menganggap mereka seperti orang tuanya sendiri, perbuatan tulus Miranda itu yang membuat Rangga jatuh cinta kepada sang istri.
"Baiklah, kalau cerai adalah yang kau mau selama ini dari ku, juga bisa membuat kau bahagia.
Hari ini, di saksikan semua keluarga kita, saya Rangga Dewa dengan kondisi sadar tanpa paksaan siapapun menyatakan cerai kepada Miranda Putri dengan menjatuhkan talak tiga kepadanya!"
Suara lantang Rangga dengan bibir bergetar, wajah penuh emosi menunjuk ke arah Miranda.
Sontak semua tercengang dan terkejut mendengar pernyataan langsung dari Rangga terutama Mira yang tidak percaya Rangga langsung menjatuhkan talak tiga kepadanya, meski diantara mereka sebenarnya masih ada cinta.
"Rangga! Tidak salah kamu menjatuhkan talak tiga kepada Mira!" Protes Rianti berdiri menghardik sang putra.
"Tidak Bu, itu sudah keputusan ku. Bercerai adalah keinginan Miranda sejak dulu.
Miranda! Dengarkan aku baik-baik, akan aku buktikan kepadamu, jika aku lelaki yang kau anggap tidak berguna ini, secepatnya menjadi kaya. kau akan menyesal telah meninggalkan ku. Di saat aku kaya nanti, jangan pernah kembali lagi kepadaku!" ucap Rangga penuh emosi menepis air matanya lalu pergi meninggalkan forum keluarga itu.
Airmata Miranda meleleh bak derasnya hujan membasahi bumi. Ia berharap Rangga hanya menjatuhkan talak satu kepadanya.
"Rangga!" panggil Rianti dan mencoba mengejar putranya, lelaki itu berjalan tidak menghiraukan sang ibu dan pergi dengan langkah yang cepat membawa sepeda motornya.
Setelah pertemuan dua keluar itu di tutup oleh Rangga dengan mengambil keputusan yang singkat, Narwati dan keluarganya pulang dalam keadaan wajah lesu. Sesampai di rumah, ibu dua anak itu langsung masuk ke dalam kamar dan tak ingin bicara kepada Miranda lagi. Begitu juga dengan Miranda, terselip di hati kecilnya rasa penyesalan setelah melihat raut wajah memohon Rianti, sang ibu mertua. Ia terduduk lemas di meja makan.
***
"Apa kau berpikir dengan bercerai semua masalah akan selesai dan bisa menjamin kau akan bahagia!" Kata Rahmat yang tidak setuju dengan perceraian adiknya.
"Kalian tidak mengerti apa yang kurasakan!" Jawab Mira dengan pandangan kosong, ia sendiri tidak tau harus mengambil keputusan apa?
"Huuuft!" Tarik nafas panjang Rahmat.
"Baiklah, Mas hanya berharap kehidupan kamu setelah ini menjadi lebih baik dan pandai-pandai lah kamu menjaga martabat mu sebagai seorang janda, perceraian karena masalah, akan di pandang rendah oleh orang lain, berbeda jika bercerai karena kematian."
Miranda hanya diam saja.
Rahmat pun pergi membiarkan adiknya sendiri.
***
Setelah semua urusan perceraian selesai secara hukum, Rangga Dewa masih merenungi diri dengan jiwa yang hancur.
Pesisir pantai yang indah, angin berhembus kencang menampar wajah kusut Rangga. Ia duduk termenung memandangi hamparan laut yang luas.
"Aku tidak pernah mencintai wanita sedalam ini, mengapa kau tidak bisa bertahan sebentar saja Mira. Tanpamu aku seperti kehilangan arah, ini sangat sakit, sakit sekali, tapi aku tidak ingin kalah, aku harus membuktikan diri, berjuang sendiri, agar kau menyesali keputusan mu yang sudah membuang ku demi mengejar laki-laki lain!"
***
Guys! Miranda akan update selalu di Noveltoon. tinggalkan jejak kalian seperti LIke, Vote, Hadiah, Komentar manis dan tekan tombol Favorit agar cerita ini bisa selesai dengan sempurna 🙏
Happy Reading 🤗