MIRANDA

MIRANDA
Part 57-MRD



"Uaaaaaaw😲!" Vino dan Sania sama-sama menjerit histeris.


Sania kembali menutup cepat pintu kamar Vino, layaknya sedang menyaksikan atraksi buaya buntung jadi-jadian sedang melenggang kangkung.


Vino yang sudah sampai di depan kasur, lari tunggang langgang sambil menutupi otong miliknya, mencari persembunyian berlindung di balik kasur.


"Booodoooooooh, mengapa kau tidak mengetuk pintu!" Jerit pria itu dari dalam kamar.


"Ma...Maf Tuaaaaan?" Teriak Sania langsung berlari pergi menjauhi kamar Vino.


"Haduh, kekar juga Otong nya si Tuan!


Pantas banyak perempuan yang doyan ingin mencicipinya. Hihihi, mirip apa yah, ih geli ah!"


Sania cekikikan sendiri.


***


"Saniaaaa😲, Apa kau masih disana!" teriak Vino berusaha bangkit, buru-buru mencari handuk dan memakai pakaian.


"Hadeeeeeh, Tuh anak harus dikasih pelajaran, masuk kamar orang sembarangan!"


***


"Sania?" panggil Melani.


"I...Iyah Mami?"


"Mana kameranya?"


"Ehm, belum saya ambil Mami?"


"kenapa?


"Ada Tuan Vino di kamarnya!"


"Loh, dari tadi dia belum siap mandi juga, ngapain aja tuh anak?"


"Justru Sania pikir Tuan sedang ada di Apartemen?"


"Yah sudah, biar Mami saja yang ambil!"


Melani berjalan cepat menuju kamar anaknya.


"Vino...." Menggedor pintu kamar.


Dengan cepat Vino membukanya.


"Hah, kamu baru selesai mandi?"


"Iyah Mi!"


"Mandi? Apa tidur?"


Vino hanya cengengesan.


"Cepetan dong Vin, ini sudah mau pukul 12.00 kamu hanya mengurus diri saja! Lamanya minta ampun!"


("Hem...Banyak lubang yang mau di korek, mana si Otong minta luluran, kayak enggak pernah muda aja nih si Mami!" gumam Vino dalam wajah cemberut!")


"Mami kenapa sih? Semenjak ada Sania cerewet banget, kalau dia yang buat Mami jadi begini, aku tinggal jitak tuh anak!"


"E-eh, ini enggak ada hubungannya dengan Sania. Vino! Kapan kamu bisa disiplin, Lihat Papi, Sepupu-sepupumu yang lain, kak Rangga juga. Mereka semua bisa menghargai waktu sehingga sukses dari jerih payah mereka sendiri. Rangga sangat mandiri tidak tergantung dengan orang lain."


"Hem, Rangga lagi!" jawab melas Vino.


"Seperti si Sania tau diri dan Mandiri!"


"Mi, mengapa sekarang jadi suka membanding-bandingkan Vino dengan orang lain! kalau begini terus, Vino enggak bakal pulang lagi cukup di Apartemen saja!"


"Eh dia malah ngancam!" gumam Melani kembali bersikap lembut. (Resiko punya anak Tunggal)


"Vino sayang, kamu itu kan sudah jadi Presiden Direktur Nak! Mama enggak ingin kamu masih saja bertingkah lalai seperti ini, Ayolah sayang! Belajar disiplin sedikit saja atau besok kamu nikah yah, biar memiliki tanggung jawab dan Mami bisa menimang cucu! Bagaimana, Hem?" senyum Melani menaikkan-naikkan alisnya.


"Disiplin waktu tidak hubungannya dengan menikah!" Vino hendak melangkah keluar Melani langsung menarik tangan putranya.


"Vin, kamu beneran cakep banget deh! Ini yang menandakan kalau Mami dan Papi itu pasangan tercakep!"


"Hais!"


"Ayo! Dimana kamera kamu yang canggih itu!"


"Loh, kan sudah ada fotografer Mah!"


"Ini khusus buat Mami!"


"Iyah deh!"


"Terima kasih!" Jawab centil Melani.


***


"Aduh gawat, es vino sudah muncul!" Batin Sania.


Berpapasan berjalan dengan Vino membuat Sania gugup lalu putar balik.


"Hoi!" Vino langsung menarik rambut ekor kuda Sania.


"Aaarh! Sakit!" Teriak kecilnya.


"Sakit yah!" Vino menolak tubuh Sania ke tembok.


"Apa yang kau lihat? Bisakah kau masuk ke kamar orang lain dengan mengetuk pintu terlebih dahulu!"


"Ma. Maaf Tuan!" Sania dengan centil memainkan matanya menyentuh lembut pipi Vino.


Reflek Vino melepas tangan wanita itu dengan cepat dan merusak tatanan rambut Sania.


"Jawab! Percuma kau menggodaku. Aku tidak luluh dan tertarik dengan mu, kau kira dengan dandanan mu yang norak seperti ini, membuat aku bisa bersikap lembut seperti para pacar ku!"


"Sania pikir, Tuan itu ada di Apartemen!" Jawabnya dengan mulut yang peot.


"Kau tadi lihat apa?"


"Lihat apa? Tidak lihat apa-apa!" Sania menyangkal dalam mata yang membesar.


("Hanya lihat ikan lele jumbo teegantung" batinnya)


"Bohong!"


"I...Iyah, tidak bohong✌️!"


"Aku merasa ternodai dengan matamu yang melihat tubuhku!"


"Aku tidak sempat melihat apa-apa Tuan!" Jawab Sania dengan kembali meyakinkan.


"Awas, jika kau berani masuk ke kamar ku tanpa mengetuk pintu lagi! Gua gantung loh di depan gerbang!" gertak Vino lalu pergi begitu saja.


"Hah😱 sadis amat!" kata Sania mengejar kembali lelaki itu.


"Tuan, aku boleh pinjam uang?" ucap Sania dengan mengedip-ngedipkan matanya dihadapan Vino.


"Baru saja kau melakukan kesalahan, sudah berani pinjam uang? Hutangmu yang kemarin belum di bayar?" Jawab Vino cuek melanjutkan langkahnya.


Sania menarik tangan Vino sampai tubuh pria itu oleng.


"Apaan sih kamu!"


"Nanti sore Sania ingin ikut praktek belajar bedah, satu orang harus bayar 5 juta! Pinjam dulu Tuan, Gajian bulan depan aku akan bayar semua!"


"Kau mau uang kan, ngemis di jalanan, lu kira, gua mesin ATM! Lu yang sekolah kenapa gua yang rugi" Jawab jutek Rangga.


"Ih parah, padahal aku sudah mengerjakan semua apa yang perintahkan nya sampai rela bolos kerja!" Sania merasa geram 😡


"Tuan, milikmu itu lemas, seperti ikan lele jumbo yang sedang tergantung!"


langkah Vino berhenti


"Heh, belum tau dia kalau sedang on" batinnya


"Bleeeek🤪!" ejek Sania sambil menggeol-geol kan bokongnya


"Nakal yah kamu!" Vino mengejar Sania.


Sania dan Vino berkejaran seperti kucing jantan minta jatah kepada kucing betina.


"Mami-Mami!" teriak Sania berlari dan bersembunyi di balik tubuh Melani.


"Sini kau?" kata Vino.


"Ada apa sih?" Melani kebingungan.


"Vino-Sania kalian itu seperti anak-anak!"


Vino terus mengejar Sania ke taman.


"Tapi semenjak ada Sania rumah ini jadi ramai!" gumam Melani tersenyum sambil geleng-geleng kepala.


Karena ada beberapa orang disana yang melihat tingkah mereka akhirnya, Vino berhenti mengejar Sania.


"Lincah juga larinya anak setan ini, gua jadi keringatan!" batin Vino.


"Awas Lo yah, enggak bakal gua bayar uang praktek loh!" ancam Rangga.


Sania terdiam sambil merapikan rambutnya lalu kembali masuk.


***


"Sania?"


"Iyah Mami?"


"Apa semua sudah selesai, sudah Mami!"


"Ayo kita ke depan!"


"Baik!"


***


Rangga dan keluarga sudah terlihat bersiap-siap berangkat menuju rumah orang tua Vino. Miranda dan Olivia tampak cantik memukau, ibu dan anak itu berpakaian warna yang kompak.


"Seperti janji tadi malam, aku masih punya kejutan buat kamu, sayang!"


"Oh Iyah!" Jawab bahagia Miranda.


"Em, dimana Kiandra?" tanya Rangga.


"Dia lagi sakit Mas, jadi Mira bawa Bi Iroh saja!"


"Sakit apa?"


"Biasalah, wanita datang bulan pertama akan mengalami sakit perut dan pinggang! (Senggugutan)"


"Yah sudah!"


Terlihat Iroh dan beberapa pengawal sedang menunggu di depan.


"Kejutan apa yah?" batin Miranda.


"Loh! Ada kak Intan juga!" Miranda makin merasa tegang.