MIRANDA

MIRANDA
Part 36-MR



"Haduh, benar kan, itu Rangga!" Miranda mengintip gelisah dari balik tirai jendela.


Wanita itu sibuk mencari akal mondar-mandir kesana kemari, terlihat ketakutan, berpikir bagaimana caranya bisa keluar dari kamar Rangga.


"kamar ini di lengkapi dengan alat sensor, beginilah rumah orang kaya terlalu canggih!" Dua bola mata Miranda terus menelusuri area kamar.


"Perasaan ku semakin tidak enak!"


Batinnya bicara tidak tentu arah.


***


Sementara Rangga mulai memarkirkan mobil sport canggih terbarunya.


"Istri baru, mobil baru! Wkwkwk" batinnya merasa lucu.


Langkah si Tuan rumah berjalan cepat memasuki rumahnya.


"Malam Tuan!" Sambut manis kepala pelayan bernama Iroh Kartini.


"Iroh?"


"Hadir Tuan!"


"Apa kau sudah mengerjakan apa yang aku perintahkan!"


"Pastinya siap Tuan, Nona Miranda sudah duduk manis menunggu suaminya di kamar!"


"Bagus!" Rangga terus melangkah menuju kamar pribadinya dengan hati yang berbunga-bunga.


Sementara Miranda mulai gugup tidak tau harus bersembunyi dimana. Terdengar aksi Rangga membuka pintu kamar dengan password rahasia.


Dengan cepat Miranda mematikan lampu dan berlari berdiri diam di balik pintu.


"Tlek!" Pintu terbuka secara otomatis.


"Meong kecil, apa kau sedang di dalam?" batin Rangga tersenyum tipis tetap dengan gaya dinginnya.


"Si kecoa gosong mulai bertindak!" Batin Mira dalam kaki dan tangan bergetar, ia semakin ketakutan sampai menutup wajahnya dengan dua telapak tangannya.


Rangga masuk begitu saja.


"Loh kok gelap yah?"


(Suasana remeng-remang)


ia pun bergegas menghidupkan lampu. Rangga mulai menyadari seperti ada sosok yang berdiri di dekat pintu.


"Ouh! Tenyata si meong kecil ada disana!" Rangga tersenyum melihat tingkah Miranda yang lucu dengan gaya kekanakan-kanakan menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Perlahan Rangga mendekati dan semakin mendekatkan wajahnya.


Merasa ada sosok yang berdiri di depan Miranda, ia pun menurunkan perlahan telapak tangan yang menutupi wajahnya.


"Wuaaaw!" Jerit Miranda semakin takut.


Saat Rangga menatap jelas wajah Miranda yang sudah berhiaskan make up serta kontak lensa indah yang menyempurnakan mata dan penampilannya, sejenak pria itu langsung kaku, terpesona, kagum dengan kecantikan istrinya.


Keduanya saling memandang dalam Jantung yang berdetak lebih cepat.


Rangga menyoroti penampilan Miranda dari ujung kaki sampai kepala.


"Buahahahahaha," tiba-tiba saja pria itu tertawa dengan tingkah menyebalkan.


Miranda semakin cemas.


"Jelek sekali, kau mirip seperti ondel-ondel!" Hina Rangga tak ingin memuji.


Sikap Rangga semakin membuat Miranda jengkel.


"Kalau begitu, aku mau pulang, banyak sekali tugas kuliah yang harus aku kerjakan!" ucap Miranda melangkah cepat ingin mengambil tasnya yang terletak di atas meja.


Sontak Rangga menarik kuat tangan Miranda hingga tubuh wanta itu terhempas di dada sang suami.


"Eh!" ucapnya terkejut.


"Ondel-ondel ku, malam ini temani aku makan malam karena ada acara spesial yang harus kau hadiri!" ucap Rangga dengan wajahnya yang sok imut.


"Acara?"


"Hem?"


"Tapi aku bukan istri yang akan di bawa ke depan umum!"


"Ini acara Pribadi!"


"Tidak salah lagi ia pasti ingin menjual ku" batin Mira.


"Kau bohong, kau pasti ingin menjual ku kan! Lepaskan aku!" Miranda berusaha melepaskan diri dari Cengkraman Rangga. Ia terlihat semakin takut.


Rangga hanya tersenyum geli.


"Iyah, aku akan menjual mu dengan harga tinggi, alih profesi ku dari arsitektur menjadi mucikari, lumayan juga! Uangnya bisa beli lembu satu rumah!" canda Rangga langsung mengangkat paksa tubuh Miranda.


"Rangga Gilaaaaaa, kecoa gosooong, lepasin aku! Teriak histeris Miranda dengan kaki yang meronta-ronta yang cukup kuat.


Menurunkan wanita itu dengan cepat.


"Aku mau ke kamar mandi?" Miranda berlari cepat ke kamar mandi, akibat merasa ketakutan yang luar biasa wanita itu kebelet pipis.


"Lama sekali dia!" Merasa tidak sabar Rangga mengetuk pintu kamar mandi.


Terlihat Miranda termenung di depan cermin.


"Tok...Tok..Tok...Apa kau baik-baik saja!" Teriak Rangga.


Dalam wajah murung Miranda membuka pintu.


"Apa yang terjadi dengan mu?" tanya Rangga.


"Tolong beri aku cel*na dal*m, sedikit basah!"


"Maksudmu kau ee di celana?" tebak Rangga sampai bengong merasa tidak percaya.


"Tidak...A...aku hanya kebelet pipis! Buru-buru celana ku basah!"


"Astaga!" Rangga menepuk jidatnya tidak habis pikir dengan tingkah Mira.


"Aku takut sekali!"


"Takut Apah?"


"Rangga...Maksud aku, Tuan Rangga, aku mohon, tolong jangan jual aku!" Miranda menangis tersedu-sedu sampai terjongkok memegangi kaki Rangga.


Sejenak Pria itu berpikir, perlahan mulai menyadari jika Miranda benar-benar bukan lah bertingkah main-main.


Seketika Rangga teringat dengan ucapan Tasya saat ingin meminta Rangga untuk menikahi Miranda.


***


"Aku sempat kecewa kepada Miranda Karena ternyata orang yang ingin kamu balas kan dendam itu adalah Dia. Aku tau kamu tidak suka Mas, Jika aku mengangkatnya sebagai adik, Tapi aku sudah terlanjur menyayanginya, jiwa adikku terasa benar-benar hidup dalam dirinya.


Aku justru menanggap ia itu terlalu polos, lemah, jujur dan sangat takut dengan ancaman, tingkahnya hampir sama dengan Miranda adikku dulu. kelemahan ini yang dimanfaatkan sejumlah orang untuk menindas dirinya. Sebenarnya Miranda juga tidak salah di dalam pernikahan kalian, berbeda dengan tingkah Ayah ku."


"Jadi kau membenarkannya!"


"Pria tidak akan bisa mengerti posisi kesulitan seorang wanita dalam rumah tangga dan kita tidak perlu berdebat soal ini. Tapi kamu harus tau Mas! Miranda itu sedang terserang trauma yang hampir merusak jiwanya dan ini tidak bisa di sepelekan.


Damar tidak hanya sering memukul dirinya, menyiksanya saat ingin berhubungan tetapi juga berniat ingin menjual Miranda kepada pria-pria hidung belang, termasuk kamu yang pernah memperkosanya di usianya yang masih belia.


Hal ini yang membuat ia sulit mencintai dan percaya lagi kepada pria, tolong bersikap sopan lah kepadanya! Aku sempat memberikan ia terapi kejiwaan yang tidak ia sadari, mungkin! Saat ini masih ada tersisa rasa ketakutan itu, tapi sudah jauh lebih baik?"


Rangga tertegun dengan ucapan Tasya.


***


Rangga menarik Miranda berdiri dengan lembut.


"Aku hanya ingin kau menemaniku makan malam, itu saja!" Kata Rangga dengan nada membujuk.


"Tolong, Jangan samakan aku dengan orang lain!"


Mendengar hal itu tangis sesenggukan Miranda mulai reda.


Rangga megambil beberapa tisu dan memberikannya kepada Mira.


Wanita itu perlahan me lap airmata nya lalu membuang ingus tepat di hadapan Rangga.


🤧🤧🤧


"Dasar bocah! Enggak ada eksklusif nya?" ucap Rangga.


Pria itu mengambil tisu basah.


"Sterilkan tanganmu!" Pinta Rangga.


"Enggak kotor kok tadi sudah aku cuci!" kata


wanita itu.


Tak ingin marah lagi, Rangga menarik tangan Mira dan membersihkan tangan wanita itu dengan tisu basah yang harum.


"Eh😳!" Lagi-lagi wanita itu terkejut.


"Aku mau pulang, tugas kuliah ku banyak sekali!" Rengek lugu si perempuan desa itu di hadapan Rangga.


"Dimana cel*na dal*m kamu?"


"Sudah aku cuci bersih!"


"Buang saja ke tong sampah!" perintah Rangga.


Si Tuan Rangga terpaksa memanggil kembali pelayan agar membawakan pakaian wanita lengkap dengan pakaian dalamnya.


***


.


.


.


.


Hayo ungkapkan perasaan kamu di kolom komentar yah, jangan lupa Like, Vote dan berikan Giftnya...