MIRANDA

MIRANDA
Part 74-MRD



"Waaah Paaaak e! Anak mu loh Pak! Anak mu yang bandel itu kok hebat benar sekarang!" teriak Rianti berdiri fokus menatap pesawat dan berkeliling, ibarat seorang teknisi yang memutuskan sebuah pesawat layak terbang atau tidak.


"Sudah Bu, jangan diperlihatkan sekali kampungannya, MALU toh!" tegur Kasiman membuat Miranda tersenyum lucu.


"Pak! Kamu enggak kagum apah!" hentak Rianti dengan wajah jeleknya.


"Iyah kagum, sudah cepat naik!" desak Kasiman.


Di dalam pesawat Rianti pun tidak henti-hentinya bertanya-tanya kepada para ajudan Rangga bahkan kepada pilotnya, Benarkah itu pesawat anaknya atau bukan?


"Ya Allah Bu, heboh benar sih kamu!" protes Kasiman melihat istrinya mondar-mandir dalam mata yang liar memperhatikan seisi badan pesawat.


"Kita perlu tau Pak, siapa tau kita di culik!" bisik Rianti.


"Halah, Nenek peot seperti kamu siapa juga yang mau menculiknya!" bantah Kasiman membuat Miranda dan para ajudan Rangga tersenyum-senyum geli melihat tingkah Kakek dan Nenek itu.


Tidak berapa lama jet pribadi itu terbang menuju ibu kota.


Di dalam pesawat tiba-tiba Rianti menangis tersedu-sedu sambil bicara;


"Hiks...hiks...hiks...Yah Allah... Anakku ibu, ndak nyangka Nak!"


Kasiman hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah istrinya.


"Mir, coba kamu tenangkan ibu dulu! Bapak mau rebahan sebentar saja. Anaknya sudah kaya salah, miskin pun salah!" Omel Kasiman.


"Baik Pak!" Miranda bangkit mendekati Rianti yang masih terlihat menangis.


"Bu, Ada apa?" Sapa lembut Miranda sambil mengelus-ngelus pundak Rianti.


"Hiks...hiks...hiks...Ibu itu ndak percaya Lo Mir, kalau ini tu beneran pesawat Rangga, wong nafkahi kamu saja dulu, dia enggak sanggup. Sekarang kok malah bisa beli pesawat. Ibu ini jadi khawatir jangan-jangan benar kata orang desa, kalau Rangga kerjanya enggak benar di kota...hiks...hiks...!" Kata Rianti yang masih meragukan putranya.


"Bu' Mas Rangga pernah bilang ke Mira, jika disain bangunannya banyak di beli orang, dia bisa kaya. Sekarang ini disain Mas Rangga itu sudah di beli dengan harga milyaran. Pelanggannya rata-rata dari luar negeri. Selain itu, Mas Rangga sudah memiliki Perusahaan besar, tentu dia mampu membeli pesawat seperti ini. Pesawat ini di beli karena Mas Rangga juga sering melakukan perjalanan kerja ke luar Negeri, jadi dia memang membutuhkannya, Bu!"


Rianti mengangguk-angguk.


"Syukurlah, kalau memang begitu, Ibu hanya takut, jika dia kerja yang tidak benar di Jakarta. Karena, dulu dia mau beli satu batang rokok saja harus merayu ibu dengan memijat kakiku ini, Hiks...hiks...!"


"Rezeki seseorang itu, tidak ada yang tau kan, Bu!"


"Tuh, Nyesel kan kamu sekarang sudah ninggalin Rangga. Kalau tidak, kamu bisa bahagia dengan naik pesawat pribadi kemana-mana," tepuk kecil Rianti pada paha Miranda.


"Mungkin belum rezeki Mira Bu!"


Jawabnya menunduk.


"Oh Iyah! Mira ada bawa tiwul kesukaan Ibu!"


"Ah yang benar kamu!"


"Iyah!" Miranda bergegas mengambilkan bekal tiwul nya yang masih hangat dan menghidangkan kepada Rianti.


Sontak Rianti tersenyum bahagia.


"Ibu suka kan?" tanya Miranda dengan senyumannya.


"Iyah-iyah-iyah, ini makanan favorit ibu Loh Mir😄! Kamu tau aja, kamu yang buat?"


"Iyah, di bantu ibu juga!"


"Iyah bu, Mas Rahmat panen ubi, jadi ada sisanya di rumah, Mira buatin tiwul saja karena ingat Ibu!" jawab lembut Mira dengan senyumannya.


"Hem, ini tiwul ternikmat, sayangnya si Mira sudah tidak jadi menantuku lagi! Padahal dia sudah paham betul dengan aku dan juga suami ku. Iyah kalau nanti Rangga bisa dapat istri yang baik dan mau menerima kami yang bersikap kampungan begini! Dulu, Tasya sangat jarang bicara dengan kami, terlalu sombong dan berkelas!" batin Rianti.


"Bapak tinggalin yah Mir!" ucap Rianti, si istri yang sayang suami.


"Iyah Bu!"


Keduanya makan tiwul bersama di jet pribadi yang mewah, sambil tersenyum bahagia menikmati awan putih. Setelah itu Rianti terlihat mengantuk, Miranda membantu Rianti mendapatkan posisi rebahan yang enak, sehingga mantan ibu mertuanya itu mulai tertidur.


*


Mira juga menghidangkan tiwul kepada Kasiman.


"Ibu sudah tidur, Mir!"


"Sudah Pak, Ibu hanya shock dan merasa tidak percaya jika ini adalah jet milik Mas Rangga, hehehe!" senyum Mira membawa tawa kecilnya.


Seketika itu Dua bola mata Kasiman terlihat berkaca-kaca, memandang jauh ke depan, mengingat kisah lalu dan tak lama kemudian ia juga menangis kecil.


"Bapak kenapa?" tanya Miranda.


"Tidak apa-apa, ini tangisan haru dan bangga Bapak kepada Rangga!" Jawab Kasiman membersihkan kacamatanya, ada sedikit lelehan air mata pria tua itu yang menempel.


"Sebenarnya, Bapak juga tidak percaya dengan kemampuan Rangga sejauh ini, mungkin pria lebih sanggup menyembunyikannya dari pada wanita.


Bapak tau apa yang di rasakan Ibu. Rangga adalah anak yang bandel sekali dari kecil. Sejak SD ia pernah melukai kepala temannya, di sekolah kerjanya hanya berantem, Bapak sudah bolak-balik ke sekolah menghadap guru, tiga kali pindah SD, sampai SMP dan SMA begitu juga. Mencuri tanaman orang bersama teman-temannya, berjudi, mabuk, suka main sabung Ayam. Sudah entah berapa uang yang kami keluarkan untuk menanggung jawab i masalah Rangga. Bapak berjuang keras mengumpulkan uang agar ia bisa kuliah di kota. Tapi tetap saja ia suka mencari masalah, ikut-ikutan demo dan tawuran. Tangan Bapak ini sudah lelah sekali memukulinya, tapi ia selalu menggunakan ibunya sebagai senjata pamungkas. Bapak pernah gantung Rangga di halaman belakang dan tidak memberi makan. Tapi Ibu Nangis-nangis dan memohon;


"Anak laki-laki kita cuma satu loh Pak, enggak ada lagi!"


Terpaksa Bapak lepaskan. Rangga itu sudah hampir Bapak bunuh waktu remaja sangking sudah pitam melihat tingkahnya, dia sudah minta ampun dan berjanji enggak buat masalah lagi. Sudah pernah kami kirim ke Jakarta dan ke kota lain tempat saudara, tapi ia pulang sendiri.


Terakhir masalah yang membuat Bapak kembali memukulnya, saat Bapak mendengar kabar dia memperkosa sampai menghamili kamu. Itu Bapak betul-betul ingin membunuh Rangga kembali jika tidak mau bertanggung jawab.


Jadi sebenarnya Bapak sudah biasa mendengar kabar Rangga jika ia selalu saja membuat masalah. Tetapi Anak yang nakal seperti Rangga juga ada kelebihannya, ia selalu masuk 10 besar meski sering bolos sekolah dan selama Bapak memukulnya ia juga tidak pernah memberikan perlawanan.


Hari ini Bapak berpikir ternyata tidak selamanya anak yang bandel itu menyusahkan. Mungkin semua kejahatan sudah ia lakukan kecuali membunuh orang. Walaupun begitu, Bapak bisa pastikan Jika Rangga itu tidak suka main perempuan, jadi kamu sebagai istri tidak perlu khawatir," Kasiman keceplosan.


"Tapi Mira sudah berceria lagi dari Mas Rangga Pak!"


"Astaghfirullah, Bapak lupa Mir! Maaf yah Nak!"


"Iyah Pak!"


"Jadi Bapak mohon, maafkanlah Rangga, Bapak dan Ibu sudah kenyang dengan tingkah lakunya!"


"Iyah Pak, pada umumnya anak bandel itu memang cerdas! IQ-nya tinggi jadi ia suka penasaran dan berekspresi."


"Tapi Bapak masih bersyukur ia tidak terjerumus kepada obat-obatan terlarang, itu yang dulu Bapak sangat jaga, tiada lelah terus memantau Rangga."


"Alhamdulillah yah Pak, jika tidak, Mas Rangga sudah kehilangan masa depan!"


"Iyah Benar!"


"Rasanya Bahagia sekali, Mas Rangga berhasil membuat orang tuanya bangga! Ini sisi baik dari dirinya yang membuat aku juga ikut terharu!" Batin Miranda.


Pesawat super jet terbaru itu terus melaju cepat hingga segera mendarat di tujuan.