MIRANDA

MIRANDA
Part 90-MRD



"Enggak ada yang marah!" ucap santai Vino bersandar.


"Ahahahahaha!" Tawa Rangga yang sudah mengerti Vino.


"Awas kualat lu Bro! Perkataan itu Doa!" ancam balik Vino.


"Enggak...enggak...itu hanya bercanda, istri aku cukup satu saja deh, cukup Miranda, aku enggak bisa adil soalnya."


"Ah yang benar, kemarin lu bilang, goyangan yang paling hot, dapet uang belanja yang paling banyak!"


"Wkwkw, itu hanya ilusi, Oh Iyah tadi malam kemana aja? Lagi berduaan yah sama Sania!" tebak Rangga.


"Bukan urusan lu," Vino pasang wajah menghindar๐Ÿ˜


"Sania itu anak cantik, bahkan lebih cantik dari semua kekasihmu, mata mu saja yang rabun. Tidak bisa melihat kecantikan alaminya!"


Vino pura-pura cuek dengan menyapu lembut rambut lebatnya.


"Menurut aku, kekasih mu yang lain itu hanya kebanyakan gaya dan ketebalan make up. Mungkin kita beda selera, aku yang berasal dari desa, lebih menyukai yang natural, mau penampilannya tidak menarik sekalipun tetap saja inner beauty terlihat!" Kata Rangga.


"Iya...iya...Iyah!"


"Tasya bilang, nenek Sania tiu berasal dari Argentina, Ayah Sania suku Tionghoa pasti cakep banget kan, hanya saja gadis itu tidak mengeksplor kecantikannya seperti wanita lain, yah mungkin bisa kurang dana atau ada alasan pribadi, jadi aku yakin kalau dia dandan abis, kelar lu๐Ÿ‘Ž?"


"Ouh Iyah, macak cih?" Vino hanya tersenyum pura-pura tidak menanggapi.


"Juno jauh lebih tampan dari aku, dia juga pria yang baik dan Tasya sempat tergoda dengan pria itu. Tasya cerita semua kepadaku tentang kisah cinta mereka dan ia menyesal berat karena sudah mempermainkan cinta Juno. Mungkin saat itu Tasya tidak punya pilihan lain. karena Juno ingin langsung menikahinya, Kamu tau sendiri kan jika Tasya banting tulang memperjuangkan perusahaan ibunya tanpa bantuan Rusdy. Selain mereka beda agama, Juno tidak ingin ditinggalkan oleh Tasya, ia selalu menangkis semua alasan Tasya dan tetap bersikeras ingin menikah dengannya. sebab itulah Tasya terpaksa menghilang dari Juno!"


"Ouh, Jadi begitu! Hubungan mereka yang sudah cukup lama."


"Sania tidak terima dengan perlakuan Tasya, kemudian berniat untuk membalas dendam kepadanya, Aku merasa cinta sejati Tasya itu adalah Juno! Aku sayang kepadanya tapi tidak cinta dan aku rasa Tasya bisa memahami itu!"


Vino terdiam memperhatikan fokus raut wajah Rangga yang sedang mengingat mendiang istrinya itu.


"Jadi sebaiknya, lepaskanlah Sania, kasihan dia, semua orang akan berbuat khilaf jika tidak menemukan jalan keluar!"


Vino hanya terdiam.


"Aku dan Tasya sudah memaafkan gadis itu, sebaiknya jangan terlalu suka menghinanya di depan umum, kita tidak tau nasib seseorang. Posisi Sania sudah pernah aku jalani. Mendapatkan hinaan, sikap sepele bahkan terkena air ludah orang lain juga pernah Ku dapatkan sampai takdir merubah ku. Berada di titik bawah itu sangat menyakitkan, mungkin karena kau belum pernah merasakannya!"


"Ok Brother, di sudah gua bebasin, gua Juga bantu dia membayar semua hutang-hutangnya!" kata Vino.


Rangga tersenyum lagi.


"Aku hanya menasehati kamu sebagai adik, aku percaya jika hatimu tidak sekasar ucapan mu, aku bisa begini juga karena bantuan mu!"


"Melo banget hari ini?"


"Aku akan memulai hidupku yang baru bersama Miranda dan anak-anakku dan akan lebih serius menjalani kehidupan rumah tangga, tentu hari-hari kebersamaan kita akan berkurang banyak. Aku berharap kau mulai fokus mengembangkan Perusahaan dan mencari pasangan hidup untuk mendapatkan keturunan, itu lah yang di cita-citakan oleh Mami dan Papi mu. Sebagai sahabat juga kakak, aku ingin kau juga bahagia. Jika di butuhkan aku siap membantu mu.


Maafkan aku, jika sempat salah paham dengan pertemanan kita ini. Mungkin karena, aku terlalu mencintai Miranda dan trauma dengan masa lalu kami, padahal aku sudah cukup lama mengenalmu."


"Sedih gua, dulu saat lu ingin menikah dengan Tasya, izinnya kagak begini-begini amat!" komentar Vino.


"Karena aku sangat menghargai kamu, semua orang ingin menuju ke arah yang lebih baik!"


"Iyah, gua juga minta maaf, karena sering buat lu marah, gua tau jika lu terlalu mencintai Miranda dan wanita itu cukup beruntung bisa kembali mendapatkan mu dan gua juga berharap, kedepannya kita selalu bahagia dan saling membantu!"


"Amiiin, terima kasih Vin, kau yang selalu ada di saat aku butuhkan!"


Mata kedua pria itu terlihat berkaca-kaca, mereka pun adu jotos satu tangan. Salam persahabatan selamanya.


"Ouh Iyah, apa Sania ganti nomor! Soalnya temanku ingin berkenalan banget dengannya!" Kata Rangga dengan tersenyum tertahan.


"Baru aja saling minta maaf, dia mulai lagi, gua curiga, Jangan-jangan Rangga tau jika gua mulai tertarik dengan Sania! Sial, nih anak memang kelewat cerdas!" batin Vino sambil tersenyum cengengesan.


"Tidak perlu membahas Sania, ayo kita mulai bekerja!" kata Vino dengan wajah masam.


Vino langsung salah tingkah terburu-buru bangkit ingin mengambil leptopnya di atas meja kerjanya, Tiba-tiba Otong milik Vino menubruk ujung pegangan sofa!


"An...j sakit banget!" Batin meringis Vino sampai menahan nafas.


"Wuahahaha!" Tawa Rangga terbahak-bahak.


Sampai di meja kerja Vino, ia melihat ponselnya.


"Kemana Sania, pesan dan panggilan ku tidak di jawab, apa dia baik-baik saja, khawatir banget gua!" Batin Vino masih memikirkan Sania. Biasanya selama ia masih menjadi tahanan Vino, Sania sudah melaporkan schedule setiap hari nya kepada lelaki itu dan hari itu seperti ada yang hilang dari Vino.


*


"Tlililit!" Ponsel Rangga berbunyi, panggilan dari Miranda.


"Mas, kayaknya Mira pingin makan mangga deh!"


"Sayaaaang di rumah kan banyak pelayan yang bisa belikan mangga ke supermarket!"


"Iyah tapi aku pengen Mas yang bawa iiin!" rengek Miranda.


"Yah sudah, mau berapa kilo?"


"Tapi...!"


"Tapi apa lagi!"


"Itu loh Mas, Mira kok pengennya Mas yang panjat langsung dari pohonnya!"


Rangga langsung terdiam.


๐Ÿ˜ณ๐Ÿ˜ณ๐Ÿ˜ณ


"Pa...panjat langsung?"


"Iyah, dulu kan Mas suka nyolong Mangga tetangga kita di desa!"


"Bukan nyolong ah!" Bantah Rangga.


"Iyah karena Mira langsung minta izin!"


"Astaga, mati aku (tepok jidat) ada-ada saja sih ngidam kamu, enggak elit banget!"


Mendengar permintaan aneh Miranda Rangga langsung menggaruk brewoknya yang tiba-tiba terasa gatal karena mulai bertunas lagi.


"Iyah gimana Mas, selain mau makan mangga nya, aku juga pingin banget lihat aksi hebat kamu lagi manjat pohon!"


Rangga tertawa Bangga.


Aku ini kan memang sudah hebat dari dulu sayang, kok kamu baru sadar sih!"


"Iyah tau loh Mas, kamu itu bukan kaleng-kaleng kan!"


๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„ Rangga bahagia Miranda dengan cepat mengakuinya.


"Kenapa ngidamnya harus manjat pohon? Kenapa enggak manjat kamu aja, sekarang juga aku akan pulang!" senyum๐Ÿ˜ Rangga yang sudah pengen beraksi lagi di atas ranjang.


"Hehehe!" Tawa merdu Miranda membuat telinga Rangga terasa kembang.


"Jadi gimana Mas, kalau enggak di turuti kata orang anaknya bisa ngences?"


"Yah udah deh, nanti aku usahkan, di kota besar begini pohon mangga siapa coba, yang mau di panjat?"


"Hem, yah sudahlah mas, kalau memang enggak bisa enggak apa-apa kok!"


"Kan tadi Mas bilang, di usahain!"


"Iyah deh!"


"Ok, Mas kerja dulu, boleh kan!" senyum Rangga.


"Iyah Bolehlah Mas!"


"Trup!" Panggilan berakhir.


"Hais, kali ini anak aku benar-benar Made in deso banget kayaknya, sampai permintaan juga yang aneh-aneh!"


Rangga pun menceritakan langsung kepada Vino, spontan pria itu langsung tertawa terbahak-bahak.


"Wkwkwkwk!"


"Gua berharap, besok Miranda ngidamnya, lu harus berubah jadi Tarzan, enggak masalah gua bakal sewakan Doubel fuso buat bawa pohon-pohon dari hutan!" Ledek Vino.


"Asem lu?" Rangga melempar kesal bantal sofa kearah Vino yang tertawa cekikikan.


"Gua yakin Brother, anak Lu yang kedua ini pasti cowok, enggak kalah brutalnya dari Papanya! Keren!" ucap Vino mengacungkan jempolnya.


***


"Ayah?" Panggil Sania dalam wajah yang sangat pucat.


"Sania!" sang Ayah pun berlari mendapati Sania yang sedang berdiri lesu di depan pintu.