
Pagi yang cukup cerah.
Rangga dan Vino kembali menjalani aktivitas kantor seperti biasa. Vino tetap datang menghadiri meeting internal mereka (Meet up para direksi/CEO) yang bergabung di perusahaan Rangga sebagaimana schedule yang sudah di atur setiap sekretaris mereka.
Setelah selesai, semua tampak sudah meninggalkan ruangan khusus itu kecuali Rangga dan Vino yang masih duduk kaku serta fokus dengan notebook mereka masing-masing.
"Aku minta maaf, sore itu aku terlalu lelah sehingga begitu emosi!" Kata-kata yang sebenernya cukup berat Rangga ucapkan, namun ia sadar, dirinya benar-benar salah.
"Heh (tawa sinis Vino) aku pikir, sosok manusia yang paling benar seperti kamu, enggak bakalan lihat video itu. Baru aku pahami mengapa Miranda pernah meninggalkan mu!"
"Syukurlah kini kau sudah sadar bahkan lebih cepat dari yang aku prediksikan. Tapi sayang, semuanya sudah terlambat, kita sudah sepakat tidak saling mendukung lagi. aku tau, kau selalu berprasangka buruk tentang aku dan Miranda, selalu berpikir jika aku akan merebut Miranda dari mu. Jangan khawatir, tuduhan itu benar-benar akan aku wujudkan, agar kau, berhenti menuduh kami berselingkuh di belakang mu," ucap tegas Vino membuat Rangga tidak bisa berkutik lagi.
"Oh Iyah, satu lagi. Semua berkas hak waris Olivia akan aku kirim kepada Lukas dan apapun yang terjadi kepada keluarga mu, jangan pernah memanggil diriku kecuali hanya untuk urusan bisnis, begitu juga dengan Miranda, kami tidak punya hubungan apa-apa lagi dengan Tuan Rangga Dewa, karena kau, juga sudah menceraikan Miranda!"
"Tapi Miranda masih memiliki kewajiban untuk mengasuh Olivia, dia sudah menerima harta dari Tasya?" bantah Rangga.
Mendengar perkataan Rangga, Vino hanya tersenyum merasa lucu.
"Bukankah kau mengatakan jika putri mu tidak ingin di asuh oleh seorang pelacur?"
Sontak Rangga terdiam, ia baru sadar dengan kata-kata kasar yang terucap begitu saja.
"Miranda sudah mengembalikan semua harta Tasya, jadi mulai sekarang carilah Babysitter untuk putri mu itu, jangan lagi memanggil seorang pelacur!" Jawab Vino dengan tegas, bangkit melangkah cepat meninggalkan ruang pertemuan itu.
Rangga hanya bisa bersandar lemas menunduk tidak berdaya. Ia bingung harus melangkah kemana lagi. Menjambak rambutnya yang sudah tersisir rapi. Kehidupan yang sudah terang kini, redup kembali. Rencana pernikahan indah itu tidak bisa terwujud.
***
"Aku ingin menyaksikan. Sebesar apa perjuangannya merebut kembali Miranda dari ku!" gumam Vino tersenyum tipis dalam langkah cepatnya bersama anak buahnya meninggalkan kantor Rangga.
***
Terlihat Kiandra tetapt tenang namun sedang bersiap-siap membawa Olivia.
Iroh masuk ke kamar Olivia dan memperhatikan Kiandra yang hampir selesai memandikan dan memakaikan pakaian Olivia serta menyiapkan peralatan bayi lainnya.
"Mau kemana?" tegur Iroh yang sama sekali tidak mencurigai gerak-gerik Kiandra.
"Hari ini jadwal imunisasi Olivia, sedih juga yah Bi! Padahal hari ini hari yang di tunggu oleh Nona Miranda dan Tuan Rangga, mereka sudah berencana akan pergi bersama-sama membawa Olivia untuk melakukan jadwal imunisasi ke rumah sakit!" kata Kiandra dalam wajah sedih penuh kepalsuan.
"Iyah benar?" Jawab Iroh.
"Apa saya perlu ikut?" Iroh menawarkan diri.
"Tidak usah Bi, Kiandra bisa sendiri kok! Tadi Tuan Rangga sudah menelpon dr Triana agar menunggu saya untuk melakukan imunisasi hari ini!"
"Pasti nanti dia rewel lagi?" kata Iroh.
"Yah memang seperti itu kan punya anak kecil!"
"Kiandra hati-hati yah!"
"Iyah Bi! Tolong lindungi Olivia, saya harap Nona Miranda bisa segera kembali lagi ke rumah ini!"
"Kita do'a kan saja! Kekeliruan ini cepat berkahir!" Jawab manis Kiandra.
Sang Baby sister itu mulai membawa Olivia turun melangkah dengan santai menuju mobil yang sudah di siapkan Atir.
Tiba-tiba seorang pria bertubuh kekar mengikuti Kiandra dari belakang.
"Maaf anda siapa?" tanya Kiandra merasa risih dengan langkah pria itu.
"Tuan Rangga memerintahkan saya untuk tetap mengawal putri Olivia kemana pun pergi!"
"Saya hanya ingin membawanya imunisasi!"
"Ini perintah Tuan, tidak bisa di bantah!" jawab tegas pria itu dalam nada yang berat.
"Haduh gimana yah, harus lapor si Nyonya dulu!" gumam Kiandra mulai kebingungan.
"Ok, Baiklah! Tapi sebentar, saya ingin ke toilet dulu?" Pintanya dengan memberikan Olivia kepada Iroh lalu buru-buru masuk ke dalam kamar mandi dan langsung menelpon Jane.
📱📱
"Tuan Rangga tetap memberikan pengawal kepada saya, Bagaimana ini Nyonya?"
"Tetap tenang dan ikuti kemauan Rangga, biar saya yang mengatur langkah berikutnya, tugas kamu share terus lokasi keberadaan kalian!"
"Baik Nyonya!"
📱📱
Setelah keluar dari kamar mandi, Kiandra kembali membawa Olivia dengan santai, masuk ke dalam mobil bersama satu orang pengawal pria dan seorang supir.
"Semoga semua berjalan sesuai rencana!" Batin Kiandra.
Mobil mulai melaju keluar dari area rumah Rangga, Olivia sedang tertidur pulas dalam pangkuan Kiandra.
***
Lokasi Apartemen Vino.
Seperti biasa pagi-pagi sekali Miranda sudah bangun dan sudah terlihat sibuk di dapur.
"Hem, yang ada hanya bahan-bahan siap saji! Namanya juga Apartemen pria, yah sudahlah, untuk sarapan saja tidak masalah!" ucap Miranda.
Sania tersentak saat Miranda sudah menghidangkan menu sarapan mereka.
"Uaaah, harumnya enak!" seru wanita itu datang menghampiri Miranda.
"Mba, kenapa tidak bangunkan Sania!"
"Enggak apa-apa, kamu juga sangat lelah!"
"Tapi Mba, tidak perlu repot-repot, Sania bisa pesankan menu sarapan kita hari ini!"
"Hanya sarapan saja, tidak perlu yang terlalu istimewa!"
"Hihi, Baiklah Mba!"
"Tling-tling!" Bunyi Bel Apartemen Vino mengejutkan keduanya.
Meraka saling berpandangan penuh kewaspadaan.
"Apa jangan-jangan Tuan pulang!" kata Sania melihat layar setiap tamu yang datang.
"Itukan pacar Vino, semoga aku tidak salah!" batin Sania terpaksa membuka pintu.
***
Pintu terbuka.
"kamu seorang pelayan kan, Vino nya ada?"
"Tuan sedang tidak di Apartemen, Miranda ikut menyusul melihat sosok yang datang.
"Itu siapa?" menunjukkan Miranda
"Sepupunya!" jawab cepat Sania.
"Ouh! Ponsel Vino tidak aktif, jika dia pulang tolong sampaikan jika Bella mencarinya!"
"Maaf, ada pesan yang ingin saya sampaikan Nona!"
"Vino janji ingin melamar saya hari ini, karena saya sedang mengandung anak Vino!"
"Ouh😲! Baiklah, nanti saya akan sampaikan!" jawab Sania.
Pintu di tutup kembali.
"Itu kekasihnya Vino?" tanya Miranda.
"Iyah Mba!"
"Sudah Hamil?"
"Tapi, ini wanita yang sudah kesekian kalinya mengaku kepalsuan hamil anak Tuan Vino, kali ini tidak tau benar atau tidak!"
"Ouh begitu!"
"Mungkin itu salah satu usaha untuk mendapatkan Tuan besar, padahal mereka cantik-cantik, kaya, dan tinggi, namun sayang terlalu sangat murahan kepada pria!" jawab Sania.
"kamu juga cantik, mereka hanya menang make up dan tinggi saja, mungkin waktu hamil ibunya ngidam kacang panjang kali yah, bisa tinggi sekali?" kata Miranda.
"Hahahaha!" tawa Sania.
Keduanya mulai sarapan namun Miranda tampak makan dengan kondisi tidak bernafsu, ia tetap gelisah masih memikirkan tentang kondisi Olivia.
"Kenapa Mba?"
"Hari ini imunisasi Olivia? Kiandra yang bawa atau Iroh yah!"
"Mba, ayo buruan telpon!" desak Sania yang tetap curiga dengan Kiandra.
"Mau telpon siapa, ponsel Kiandra selalu tulalit!"
"Siapa aja yang bisa di hubungi!"
"Aku lupa menyimpan nomor pelayan, tapi tunggu aku cek dulu nomor Iroh, semoga saja ada!"
Miranda berlari meraih ponselnya.
"Astaga😧 (tepok jidat/dahi) kenapa aku tidak kepikiran buat nelpon Iroh, ternyata nomornya tersimpan!" Miranda mulai berusaha menelpon Iroh sampai tangannya bergetar.
"Tuuuuuut!" Nada yang belum terjawab oleh sang kepala pelayan itu.
"Ayok dong Bi! Angkat telponnya?" Batin gelisah Miranda mondar mandir, tidak sabar ingin mengetahui lebih cepat kondisi Olivia.
***
Sebuah mobil dan sepeda motor besar terlihat mengikuti mobil yang membawa Olivia.
...