
Perlahan Miranda meletakkan wadah air hangat di atas bupet kecil.
"Ini Dok!"
"Iyah terima kasih yah!"
Rajes mulai memeriksa kondisi Rangga.
"Apakah Mas Rangga masih mengkonsumsi pil penambah stamina pria?"
"Hem!" Jawab Rangga santai.
"Jangan terlalu sering!"
"Tapi aku butuh stamina, aku pernah sakit tipes, aku takut takut drop lagi!"
"Saya mengerti!" jawab Rajes
"Em, Nona!"
"Iyah Dok!"
"Tolong lap kan air hangat di sekitar tubuhnya, ia hanya kelelahan hingga sakit kepala! Saya akan memberikan suntikan vitamin penambah tenaga!"
"Baiklah!" dengan sigap Miranda membuka kemeja Rangga, saat Miranda membuka satu persatu kancing itu, keduanya saling menatap, pandangan Rangga yang sudah penuh n*fsu, tetapi Miranda tidak mengerti, dengan cepat pula Miranda menepis pandangan itu, lalu membantu Rangga membuka kemejanya.
Sentuhan lap yang lembut bersama air hangat, mampu membersihkan dan menyegarkan tubuh Rangga kembali.
"Sekarang, tubuhnya semakin kekar dan lebih terawat, tampaknya ia sering berolahraga!" Batin Mira membandingkan tubuh Rangga dulu yang lebih kurus dan dekil.
Miranda juga membantu Rangga memakai kaosnya.
"Sudah selesai?" Tanya Rajes.
"Sudah Dok!"
"Terima kasih!"
Rajes pun memberikan suntikan vitamin penambah stamina. Sementara Miranda membawa kembali air hangat dan menyuruh pelayan membuangnya.
"Apa yang kau suntikan!" Bisik Rangga.
"Yang pasti vitamin agar kau tetap vit, sakit kepala yang sering terjadi ini tidak bisa dibiarkan! Mengkonsumsi kapsul stamina terlalu sering butuh pelampiasan n*fsu dari perempuan!"
"Cepat lah jangan banyak omong!"
"Brother, istri mu yang ini lebih Hot yah, polos-polos gemes, depan belakang aduhai!" Bisik Rajes.
"Diam kau (jitak Rangga) apa kau terlalu memperhatikan tubuhnya, itu milikku?"
"Hehehehe! Jadi kapan kita nongkrong lagi Bro! bareng cewe-cewe cakep!"
"Udah taubat!" jawab ketus Rangga.
"Begh...!"
"Aku bilang Jangan banyak omong!" hentak Rangga.
"Cek...cek...yang sudah tidak sabar!"
Miranda pun datang kembali.
"Ouh Nona! Kita bisa bicara sebentar!"
"Boleh Dok!"
Rajes merapikan kembali peralatan medisnya.
"Aku pulang dulu Bro, selamat belah duren, jangan terlalu di tekan kali, kasihan!" bisik Rajes.
"Awas kalau sampai gagal!" ancam Rangga dengan mata tajamnya.
"Aman!" Jawab Rajes menepuk kecil bahu Rangga lalu meninggalkan Rangga.
***
Rajes membawa Miranda ke depan pintu kamar agar mereka leluasa bicara.
"Kita duduk dulu Dok, saya akan perintahkan pelayan untuk membuatkan minuman!"
"Tidak perlu, saya buru-buru Nona!" alasan Rajes, ia tau temannya itu sudah tidak sabar untuk mengobrak-abrik 'Dompet' milik Miranda.
"Ouh Baiklah!"
"Sebelumnya hal ini sudah pernah di bahas oleh tim Dokter yang khusus menangani keluarga Mas Rangga dan Nona Tasya. Di hadapan Nona Tasya sendiri kami sudah mengatakannya, jika belakangan ini Mas Rangga sering mengidap sakit kepala dan kelelahan, akibat terlalu sering mengkonsumsi kapsul herbal penambah stamina. Namun di dalam kandungan kapsul itu, terdapat obat kuat untuk pria, kita sama-sama sudah tau, jika Nona Tasya tidak mungkin lagi sanggup untuk melayani n*fsu suaminya di atas ranjang. Hal ini tidak bisa dibiarkan. Dengar-dengar Nona Miranda ini adalah istri baru untuk Mas Rangga yah?"
Miranda sangat terkejut mendengar penjelasan Dokter Rajes.
"Ouh...ta...ta...Pi..." Miranda langsung terlihat sangat gugup.
"Tolong secepatnya kalian melakukan hubungan suami istri, jika boleh sesering mungkin!"
"Hah?"
"Rangga butuh pelampiasan n*fsu yang rutin!"
"Bukannya selama ini dia sering berkencan dengan pacarnya? Saya hanya istri untuk pengasuh anaknya saja?" jawab Miranda.
"Memangnya Ada berapa banyak istri yang harus ia nikahi?" Tanya Rajes kebingungan.
"Untuk urusan Ranjang dia punya banyak wanita kan!" kata Miranda dalam wajah kusutnya.
"Hahahaha!"
***
"Lama banget si kampret ini, pakai acara tertawa lagi!" Batin kesal Rangga mengutuk Rajes!"
***
"Tidak semua pria mau menancapkan pedang miliknya kepada sembarang wanita, meski ia sering berkencan sekalipun, hal itu hanya sebagai pelampiasan saja atau semi-semi bercinta, belum tentu tidur dan melakukan adegan berhubungan suami istri. Tipe pria seperti Rangga itu sangat cerdas dan memiliki prinsip kuat, ia pasti berpikir panjang untuk hal itu."
Miranda terdiam.
"Bagaimana jika tidak di salurkan?" tanya Miranda.
"Kemungkinan ia akan mati!"
"Hah? Ma...mati😳😳
Apa yang Dokter katakan?"
"Saya serius?"
"Apakah inilah alasan utama kak Tasya menyuruhku menikah dengan suaminya! Tapi bukankah ia mengatakan pernikahan ini semua hanya demi Olivia? Apa kak Tasya menjebak ku lagi! Bukankah ia sangat mencintai Rangga lalu mengapa ia merelakan suaminya untuk tidur dengan ku" Batin Mira.
"Halo!" Tegur Rajes membuyarkan lamunan Miranda.
"Itu saja yang bisa sampaikan, saya tidak bisa lama-lama disini? untuk urusan 'enak-enak' kalian saja yang memikirkannya yah!
Saya pergi dulu, selamat malam!"
"Dokter apa tidak ada obat lain?" Seru Miranda lagi.
Rajes menggelengkan kepalanya dengan imut, pertanda itu hanya jalan satu-satunya, lalu pergi begitu saja.
"Kok aku jadi gregetan seperti ini, rasanya benar-benar campur aduk, deg-degan juga takut. Apakah sopan kami melakukannya di tengah kak Tasya sedang koma? Aku merasa tidak tega, tapi aku juga sudah menjadi istri Rangga. Aku bingung sekali😑"
"Tapi jika Mas Rangga mati, bagaimana aku harus menghadapi semua ini dengan sendiri, Olivia butuh ayah!"
***
"Apa si Rajes sudah pergi?" Batin Rangga membuka sebelah matanya, mengintip ke arah Miranda!
"Aaarrkh!" Rangga meringis sambil meringkuk di atas kasur bertepatan Miranda masuk.
Keduanya saling menatap.
(Kondisi Rangga memang suka tiba-tiba lemas dan sakit kepala)
"Kira-kira apa yang di bicarakan Rajes kepada Miranda!" Batin Rangga.
"Bagaimana aku memulainya! Tampak gugup jika Rangga tidak ingin," gumam Miranda.
Miranda berjalan mendekati Rangga.
"Apa aku perlu menelpon kekasih mu, Tuan?" Tanya Miranda duduk di depan Rangga.
Pria itu pun bangkit.
"Untuk apa?" Tanya Rangga.
"em!" Wanita itu semakin gugup sambil mengepal kedua tangannya.
"U... untuk bersenang-senang!" jawab Miranda gugup.
"Miranda sangat polos, dalam situasi seperti ini pun, ia tidak tau apa yang harus ia lakukan," gumam Rangga.
Suasana sempat Hening. Rangga bangkit, lalu turun dari kasur.
"Mau kemana Tuan?" Sapa Miranda.
Langkah Rangga terus berjalan lambat ke arah pintu kamar, ia tidak menghiraukan pertanyaan Miranda. Wanita itu hanya menatap bingung dari belakang.
"Mau kemana dia!" batin Miranda.
Ternyata Rangga tidak keluar dari kamar, ia mengunci pintu, lalu membuka cepat kaosnya dan membuangnya begitu saja.
Jantung Miranda reflek berdetak kencang.
"Apa ia mendengar percakapan kami tadi?" Gumam Mira semakin gregetan.
Rangga berjalan ke arah Miranda dengan bertelanjang dada menampilkan raga sispack miliknya yang sangat maco. Kulit putih dan rambut hitamnya yang lebat menambah aura sensual pria.
Langkah itu semakin mendekati posisi duduk Miranda di atas kasur. Detak Jantung wanita itu pun semakin tidak tentu arah.
Saat sampai di hadapan Rangga, Miranda menyoroti tepat ke arah si Otong yang mulai tegak berdiri, Rangga membungkukkan sedikit tubuhnya lalu mendekatkan wajahnya ke wajah cantik Miranda.
"kalau di pikir-pikir, jika aku punya istri lagi, mengapa harus melakukannya dengan pacar?" ucap Rangga dengan tatapan penuh n*fsu ke arah dua bola mata Miranda yang besar dan indah.
Miranda hanya duduk mematung membalas tatapan Rangga dengan tubuh mulai bergetar sedikit sambil menelan paksa air liurnya.
Tangan halus pria itu perlahan menyentuh lembut rambut Miranda.