MIRANDA

MIRANDA
Part 84-MRD



"Halo!" Jawab Sania dalam suara beratnya.


"Hai, katanya ada yang mau traktiran kalau sudah gajian?" suara khas Vino yang menggoda.


Sania hanya terdiam bingung😟


"Tapi aku hanya bisa traktir jajanan pinggir jalan saja!" jawab suara mewek Sania.


"5 menit lagi aku sampai di rumah sakit!"


"Trup!" Vino langsung menutup Ponselnya.


Sesaat Sania menutup telpon sekelompok temannya melewati tempat duduknya.


"Eh, kalian mau pakai tas apa buat nikahan Raka dan Ayudia!"


"Tas mahal dong, minimal 10 jete!"


"Eh Sania, beli tas baru yuk!"


"Iyah, terima kasih!" Jawab sendu adik Juno itu.


"Ih, kagak salah kamu ngajakin Sania, hutang-hutangnya terlunasi saja sudah syukur!"


"Ups, Iyah juga sih!" ucapan sinis mereka menatap Sania lalu pergi meninggalkan Dokter Junior itu.


*


"Tlililit!"


"Aku sudah di parkiran!" Vino mengirimkan pesan.


Dalam langkah yang berat, Sania melangkah menuju parkiran menemui Vino.


Raut wajahnya yang sedih mengingat Raka akan menikah dengan wanita lain, perempuan malang itu berusaha menjadi seorang Dokter hanya karena ingin mampu bisa bersama satu lokasi kerja dengan Raka. Perasaan cinta yang sudah lama ia pendam namun tak mampu untuk mengatakannya.


Sania masuk ke dalam mobil Vino dalam wajah sedihnya.


"Gajian kok murung!" Tanya santai Vino.


"Enggak apa-apa!"


"Lagi datang bulan kali yah!"


"Bukan!"


Dalam perjalanan Sania hanya diam seribu bahasa, ada banyak pikiran yang terus membuat dahinya tertekuk dan bibirnya menebal. Salah satunya stok untuk membeli keperluan hari-hari dirinya dan sang Ayah sudah tidak cukup lagi.


Sesekali Vino menatap Sania sambil menikmati alunan musik Dj di mobil mewahnya.


"Bagaimana kondisi Bokap loh!" tanya Vino mulai mengecilkan volume musik.


"Sudah sehat, tapi tetap perlu ada vitamin."


"Uang dari Tasya sudah diterima kan?"


"Iyah sudah, sudah di pakai untuk operasi perawat ginjal kemarin!"


"Apa kau ingin minta lagi kepada Rangga?"


"Jangan Tuan, jika Ayah tau, dia pasti marah besar!"


"Hem, Ok lah!"


"Gajian harusnya ceria donk kenapa murung terus!" protes Vino.


Sania hanya diam saja.


"Mau makan di Resto mana?"


"Resto😲?" Mata Sania seketika membesar saat mendengar kata Resto sambil berkata kesal dalam hati.


"Mengapa hari ini semua orang ingin langsung menguras pendapatan ku"


"Sory, gua enggak terbiasa jajan di pinggiran! takut sakit tenggorokan!" Kata Vino.


Sania langsung menelan ludah dalam raut wajah apes abis hari itu.


"Kalau begitu, traktirnya kapan-kapan saja! Uang ku tinggal sedikit, tolonglah mengerti Tuan," Sania tidak malu-malu menunjukkan amplop gajinya.


"Aku sengaja ambil cash karena gaji ini akan segera di bagi-bagi."


"Di bagi-bagi kemana?" tanya Vino heran.


"Di bagi untuk membayar keperluan hari-hari!"


"Oouh, Enggak bisa, janji adalah hutang dan hutang harus di bayar! Kita makan di sini saja."


Vino membelokkan mobilnya dan parkir di salah satu tempat Resto mahal dan tongkrongan eksklusif.


"Penderitaan ini semakin dalam😣!" Batin Sania yang pasrah.


Keduanya duduk bersama, cafe yang lumayan romantis dan cukup asyik.


Sania duduk lesu dan tidak berdaya.


"Mau makan apa?"


"Aku minum teh saja!" Jawab cepat Sania dalam raut meringis.


Vino hanya tersenyum tipis. Lalu memanggil pelayan dan memesan banyak menu makanan, mulai dari makanan favorit, salad, jus, desert dan buah segar lainnya.


"Baik Tuan segera kami antar!" Kata pelayan dengan ramah.


"Pas banget, gua lapar abis siang ini!" Kata Vino mengulum bibirnya.


Sania hanya diam saja semakin tidak berdaya.


Vino hanya tersenyum tipis saat Sania membuang wajahnya melihat ke arah taman.


"Gua paling suka jika lihat ukuran yupi Sania, pas banget, enak kali yah kalau di*mut!" batin pikiran kotor Vino sambil senyum-senyum sendiri.


"Bagaimana caranya agar aku bisa bebas, tolong lepaskan aku, Tuan?" Sania memohon berat sambil meneteskan airmatanya seketika itu pula Vino tertegun.


"Kamu...ngapain pakai nangis, orang-orang akan berpikir jika kau sedang minta pertanggung jawaban kepadaku," kata Vino.


"Aku mohon Tuan, lepaskan lah aku, aku ini orang enggak punya, aku hanya sedang berjuang untuk hidup ku!"


"Hem, gimana yah, boleh sih, dengan satu syarat?"


"Apa itu?" wajah serius Sania.


"Gadai keperawanan mu dengan kebebasan mu!" jawab Vino menaikkan-naikkan alisnya.


"Baiklah, ayok kita lakukan sekarang!" Sania langsung berdiri menarik tangan Vino.


"Busyet! Terobsesi banget loh dengan gua!"


"Bukan, aku hanya ingin bebas!"


"Tubuhku tidak pernah di sentuh pria mana pun, aku juga belum pernah berciuman!" kata Sania


"Ciah, kagak yakin gua! Modus loh, bilang saja, lu pingin tidur dengan gua," hentak Vino membuat Sania terdiam.


"Tapi enggak jadi deh!" kata Vino malu-malu.


Pelayan pun datang menghidangkan makanan lezat.


"Saatnya makan!" kata Vino langsung melahap makanan pembuka.


"Apa hari ini jadwal ngedate Tuan tidak ada?" tanya Sania.


"Kosong!" jawab Vino


"kok Bisa kosong, bukannya tiap hari antri!" protes Sania.


"Bukan urusan loh!"


"Kamu enggak makan?"


"Minum Teh saja!"


"Hahahaha!" Vino memberikan menu siang kepada Sania.


"Itu biar gua yang bayar, makanlah!"


"I...Iyah!" Jawab Sania mulai makan dengan senang.


(Yah sudah lah, lagian Vino sudah banyak sekali membayar hutang dan keperluan ku, tidak apa-apa hari ini ia aku traktir makan enak!" Batin Sania) Keduanya makan dengan Asyik.


Secara kebetulan Raka dan calon istrinya sedang membeli minuman untuk di bungkus pulang.


"Sania, senang bertemu dengan kamu!" Ayudia mengejutkan Sania.


Wanita itu merasa kaget langsung salah tingkah.


"Oh Iyah, ini undangan pernikahan gua dan Raka!" ucap Ayudia calon istri Raka.


"Datang yah San!" ucap Raka dengan senyumannya.


"I...Iyah!" Jawab Gugup Sania tidak berani menatap Raka.


("Tidak ada yang lebih hancur selain melihat orang yang kita cintai menikah dengan wanita lain, setelah penantian ku yang cukup panjang dan lelah tapi berakhir dengan sad ending" batin perih Sania)


"Hai! Apa dia pacar kamu?" tanya Ayudia sangat suka melihat tampilan Vino yang tampan, namun Vino tidak menatap Ayudia.


"Bukan-bukan, kami hanya partner kerja!"


"Ouh!"


"Yah sudah, teruskan makan siang kalian? Daaah?" Kata Ayudia menggandeng Raka.


Seketika air mata Sania jatuh tak tak tertahankan.


"Jadi itu yang nama Raka?" Sania pernah bilang ke Vino jika ia menyukai pria bernama Raka


"Astaga...(tepok jidat) gua kira Raka itu mirip artis Hollywood, cowok jelek seperti dia! Kamu sukai, dasar katarak mata loh!"


"Apa coba kelebihannya, Dokter miskin, cungkring, gayanya norak banget, mobil butut, (butut untuk sekelas Vino) gua yakin, dia kagak punya uang itu."


"Penjaga anjing peliharaan gua di rumah lebih ganteng dari dia!"


"Dasar kamu selera rendah!" Vino terus mengomel-ngomel tidak jelas di depan Sania, wanita itu terlihat diam dan masih mewek dengan wajahnya.


"Hayo cabut, tiba-tiba selera makan gua hilang!" kata Vino bangkit menuju mobil mewahnya.


Sania dengan lesu menuju kasir.


"Bill nya Mas?" Tanya Sania.


"Bill apa yah Nona!" tanya balik seorang kasir.


"Bill saya dan pria tadi makan di di meja itu," Sania menunju lokasi duduk mereka.


Pelayan itu hanya tersenyum geli.


"Nona beneran tidak tau apa hanya bercanda!"


"Maksudnya?" Tanya Sania dalam wajah bingung.


"Pria yang menemani Nona makan tadi adalah owner dari Resto ini, satu Minggu yang lalu Resto ini baru di buka Nona!"


"Apah?"


(Tueng-tueng Sania kena Prank oleh Vino)


Sesampai di mobil.


"Udah di bayarin?" Tanya Vino dalam wajah tidak bersalahnya.


"Kenapa Tuan tidak bilang kalau ini adalah Resto milik Tuan?"


"Hahahahaha!" Tawa Vino puas di dalam mobilnya.


"Baru minta sekali traktir doang, sepanjang jalan lu terus mewek, dasar pelit."


"Enggak juga...aku hanya...!"


"Jangan bilang karena pria cungkring itu lu terus pasang raut wajah mewek di mobil gua!"


"Iyah, bukan!" Sania memaksakan diri untuk tersenyum manis di depan Vino.


"Terima kasih Tuan!"


Vino sempat terpaku.


"Busyet manis banget!" Batin Vino pura-pura bego


"Jadi tadi itu sebenarnya gua mau nge-prank loh. Lumayan berhasil juga sih! Tapi kurang seru gara-gara ada si cungkring (Raka)"


Kata Vino.


"Bagus banget disain Restonya, cocok untuk semua kalangan!" Komentar Sania.


"Yup, Jadi sekarang gua dan Rangga itu lagi coba buka bisnis kuliner sekaligus tempat tongkrongan asyik. Ada full musik termasuk bisa karaokean juga ada taman bermain anak. jika sukses kita bakal buka di semua cabang Indonesia dan manca negara, Doa in aja berhasil!"


"Iyah!" Angguk ceria Sania.


"Jadi kita sekarang mau kemana ni"


"Aku ingin ke pantai!" pinta Sania.


"Boouleh! Let's gouu!" Kata Vino melajukan mobilnya.


***