
Rangga kembali membuang wajahnya menutupi matanya yang berkaca-kaca.
"Aku percaya sama kamu Mas, tapi kita juga butuh uang sehari-hari untuk terus bisa melanjutkan hidup!" Jawab mewek Mira.
Melihat hal itu, Rangga menepis rambut halus Mira yang diterpa angin pantai menutupi wajahnya.
"Baiklah! Demi kamu, aku harus berjuang lebih keras lagi, besok aku akan datang menjumpai pak Karjo, kemarin dia menawarkan kerja harian bangunan! Malam hari aku akan ke warung sebentar untuk melanjutkan disain ku."
"Beneran Mas?"
"Hem!" Jawab singkat Rangga mengangguk kecil.
Reflek Mira langsung memeluk girang sang suami.
"Mira senang sekali Mas!"
"Kamu tidak usah keluar rumah lagi mencari pekerjaan, cukup jaga anak mba Siska saja di rumah kita!"
"Iyah!" Angguk Mira dalam pelukan Rangga.
"Aku mencintaimu!" Rangga langsung mengecup manis Bibir Miranda. Ciuman yang dipenuhi dengan hasrat nafsu dan cinta.
Hamparan luas pantai pasir putih, suara deru ombak kecil dan lautan seluas mata memandang serta angin sepoi-sepoi pantai menjadi saksi bisu keromantisan dua insan manusia yang sedang memadu kasih, meniti awal perjalanan rumah tangga mereka.
***
"Tumpe jale...tumpe jale...Hei...Hei...Dum...Dum..."
Serasa terdengar suara musik Bollywood merdu mengiringi keseruan dan keromantisan Rangga dan Miranda saat berlarian di bibir pantai, mandi hingga basah-basahan, canda-tawa sambil cubit-cubitan, siram-siraman manja serta pukul-pukulan kecil yang ceria menunjukkan aksi keromantisan keduanya.
Kemudian Rangga melukis lambang-lambang cinta untuk Miranda di atas pasir.
I ♥️ Miranda
Namun sesaat terlukis, seketika itu pula ombak kecil datang dengan cepat menghapus tulisan Rangga. Mereka kembali bermain hingga sore hari.
Setelah puas berjam-jam di pantai dan hari pun semakin gelap. Keduanya memutuskan untuk pulang.
***
Miranda sangat bahagia akhirnya Rangga memulai harinya dengan semangat, pria itu sudah bisa melawan gengsinya untuk menjadi buruh kasar agar bisa mendapatkan penghasilan untuk keperluan sehari-hari menunggu disain bangunannya laku di pasaran.
Karjo masih memiliki ikatan saudara dengan Rangga.
"Kemarin Bapakmu datang menemui ku, dia langsung marah-marah saat tau kau menolak tawaran bekerja!"
"Bukannya menolak Pak le' tapi Rangga lagi sedang proses men-disain berbagai interior bangunan, hanya saja belum laku!"
"Awal meniti rumah tangga itu memang tidak mudah Rangga! Sebagai lelaki kita akan banyak mengalami cobaan dan rintangan terutama masalah ekonomi. kuncinya harus sabar, berdoa dan selalu berusaha jangan putus asa, terus lah berjuang. Memang hal itu sangat berat dan melelahkan bahkan membuat guratan wajah kita semakin tua. Tapi yah begitulah, sebagai lelaki kita memiliki tanggung jawab untuk menafkahi keluarga, dan jika kau bisa melalui rintangan itu maka kau akan menjadi orang yang sukses di kemudian hari!" Nasihat Karjo kepada Rangga.
"Iyah Pak!" Jawab cepat lelaki itu.
"Tapi, Rangga bingung nih Pak! harus memulai darimana dulu, soalnya belum pernah ikut kerja bangunan seperti ini."
"Untuk tahap pemula, sebaiknya kamu menjadi anggota dulu!"
"Baik Pak!"
***
Sesuai janjinya kepada Miranda akhirnya Rangga bekerja keras mencari nafkah demi cinta dan rasa tanggung jawabnya kepada keluarga juga pandangan sinis orang-orang akan kondisi ekonomi mereka yang buruk.
Panas terik, hujan gerimis tidak lagi menjadi penghalang bagi Rangga. Pria yang sejak kecil tidak pernah diberikan beban pekerjaan berat oleh kedua orang tuanya, kini harus menguras tenang dan pikiran demi mencari uang. Pagi sampai petang Rangga bekerja di lapangan menjadi tukang bangunan, malam hari lanjut kembali menggambar di warung.
***
"Ranggaaa!" Panggil sang Bunda berlari membawa rantang kecil di siang hari.
Rangga yang memakai pakaian buruk juga lusuh dengan topi seadanya, kulitnya mulai gelap terpanggang sinar matahari.
"Ini ibu bawakan makanan kesukaan kamu, makan disini saja dengan Pak le' ibu sudah bilang ke Mira," ucap Rianti dengan senyum haru menatap anaknya dengan pakaian kotor.
Sontak Rangga merasa senang dan bahagia, ibunya masih memperhatikan dirinya.
Rianti mengusap-usap kecil kepala Rangga dengan mata berkaca-kaca, perasannya seorang ibu yang benar-benar campur aduk. Antara, haru, bangga juga kasihan.
"Kamu semangat kerjanya yah Nak! Jangan malu dan gengsi, setiap sujud ibu selalu mendoakan mu!" Kata Rianti dengan airmata yang hampir menetes.
"Sudah-sudah jangan terlalu sering di lihat nanti manja!" Tegur Karjo menghampiri mereka.
Rianti hanya tertawa cengengesan.
***
Malam harinya di kediaman Rianti.
Wanita paru baya itu masih mengingat tampilan lusuh putranya siang tadi. Tiba-tiba ia menangis tersedu-sedu tak mampu menahan rasa kesedihan, Jauh di dalam lubuk hati seorang ibu, ia sangat sedih melihat kondisi putra semata wayangnya. Rianti tidak pernah membayangkan jika anaknya yang bertitel sarjana akan menjadi kuli bangunan dengan penampilan yang sangat menyedihkan.
"Hiks...hiks...!"
"Lah Bu! Mengapa tiba-tiba menangis!" Tegur sang suami.
"Apa Bapak ada salah?" Kasiman bertanya-tanya.
"Rangga Pak!"
"Kenapa lagi dia?" Pria itu mulai emosi ketika istrinya menyebut nama Rangga.
"Akhirnya dia sudah ikut bekerja dengan Karjo!"
"Terus, harusnya kamu senang, kenapa malah menangis?"
"Ibu ini kasihan lo Pak! Melihat dia bekerja kasar, pasti ia sangat lelah dan panas-panas an. Sementara Bapaknya kerja di kantoran!"
"Loh! Kok ibu jadi malah nyalahin Bapak sih?"
"Bukan menyalahkan Pak! Ibu hanya membandingkan!"
"Haduh, Begini nih, kamu selalu saja memanjakan Rangga, bukan begitu caranya sayang kepada anak. Biarkan hari ini ia bekerja keras mumpung dia lagi masih muda, fisik dan semangatnya masih membara nanti di akhir tuanya, ia tinggal memetik hasilnya!"
"Ibu maunya Rangga jangan menjadi buruh kasar Pak! Ibu enggak tega!"
"Bu! Rangga itu sudah berkeluarga, dia sudah memiliki tanggung jawab, tidak bisa lagi santai seperti biasa ia lakukan.
Bagaimana sih kamu! Anak kerja salah, tidak kerja lebih salah lagi!" Kasiman pergi tidur mengakhiri perdebatan mereka.
***
Setiap gajian harian, Rangga langsung menyerahkannya kepada Miranda.
"Alhamdulillah Mas! Kalau seperti ini kita bisa menabung dan tidak perlu minta lagi kepada ibu (Rianti)!" ucap girang Miranda menyimpan sisa uang belanja ke dalam celengan.
"Mir kamu jangan boros-boros yah!" Pesan Rangga.
"Iyah Mas! Ini, sisanya Mira celengin kok!"
"Kalau kamu ingin beli baju, Beli lah, tidak apa-apa!"
"Iyah!" Sambut Mira kegirangan.
"Mas boleh minta jatah enggak?" Kata Rangga malu-malu menggoda istrinya.
"Setiap hari juga boleh Mas!" Jawab Mira dengan pipi yang memerah.
"Cihuy, Asyik!" Rangga terlihat kegirangan.
keduanya glitik-glitik manja di atas kasur lalu kembali bercumbu dan bercinta.