MIRANDA

MIRANDA
Expart-MRD



Ilustrasi sosok Miranda Bella



Sania terus memperhatikan Vino dan Miranda, mulai dari ngemil jajanan, sampai dengan main bersama. Keduanya terlihat sangat kompak dan jika di perhatikan, gaya mereka juga memiliki kemiripan yang tidak disadari. Miranda begitu takjub dengan mainan mahal yang mulai di buka satu persatu oleh Vino sampai bocah cilik itu lupa dengan keberadaan ibunya.


"Aku bisa apa untuk mencegah mereka, haruskah aku marah, haruskan aku jauhi keduanya? Sementara aku melihat sendiri ada ikatan kuat yang tidak akan terpisahkan lagi. Jujur aku bingung sekali, apakah aku katakan saja Jika aku hamil malam itu atau lebih memilih diam.


Keraguan ini semakin besar karena Vino bukanlah orang sembarangan. Belakangan kabar terakhir yang aku dengar dari Mba Miranda (Istri Rangga) adalah akibat dari kecelakaan itu, Dokter meragukan Vino bisa memiliki keturunan. Sejak itu mulai bermunculan mantan pacarnya yang mengaku-ngaku mengandung anak Vino membuat Mami Melani yang tadinya senang kini meradang setelah tidak terbukti dalam test DNA.


Mami Melani sudah sangat membenciku, jika aku yang mengatakan lebih dulu, tentu ini akan menjadi lelucon baginya yang tiba-tiba saja datang kembali kepada Putranya setelah sudah pernah menolak lamaran Vino setelah membuat semuanya menjadi kacau. Posisi ini serba salah, aku tau jika Miranda butuh figur seorang Ayah, tapi aku merasa tidak bisa mengatakannya, hal ini pasti akan terdengar seperti cerita settingan.


Ada baiknya seperti kata Ayah? Biarkan Vino yang mencari sendiri, jika Miranda ku adalah harapan dan kebahagiaan Vino, ia akan terus mencari tau.


Tidak terasa sudah dua tahun, suka duka mengandung, melahirkan dan membesarkan Miranda menjadi kebahagiaan tersendiri bagiku. Sejak ia lahir di sanalah kebangkitan ku yang sesungguhnya. Darah kebangsawanan Miranda sudah terlihat saat ia mulai menatap dunia, banyak sekali tawaran pekerjaan yang aku sendiri bingung, mengapa jalan rezekinya begitu mudah dan sangat cepat, mungkin karena semuanya aku lalui dengan ikhlas."


"Ehm!" suara Vino mengejutkan lamunan panjang Sania.


Vino membawakan teh hangat dan cemilan kecil untuknya, membuat wanita itu takjub.


"Kenapa di liatin? Apa ada yang salah?" kata Vino balas menatap Sania.


"Apa seorang Direktur utama, sudah tidak memiliki pelayan lagi!"


"Konsumen terbaik ku harus di layani langsung!" jawab santai Vino.


"Aku hanya membeli satu tidak sepuluh!"


Vino tersenyum manis lalu duduk dengan santai.


Sania justru semakin tegang.


"Apa ini semua rencana mu, Tuan Vino yang terhormat?" Sania menatap serius Pria itu dan tidak ingin banyak basa-basi.


"Rencana apa?" tanya balik Vino dengan gaya masa bodohnya.


"Memilih aku sebagai pembeli yang beruntung, agar bisa membawa kami kesini!"


Vino hanya senyum-senyum saja.


("Apa jangan-jangan Vino sudah tau jika Mira...., aku harus cari tau?")


"Tolong jawab serius dan mengapa kamu begitu perhatian dengan Miranda ku?"


"Memangnya ada yang salah jika gua perhatian dengan anak kecil, harusnya kamu berterima kasih dong!"


("Duh, kenapa jadi berantem begini, sebel😡" gumam Sania)


"Toh, Miranda senang dan gua tidak keberatan!"


Sania hanya terdiam tak ingin membahasnya lagi.


Suasana sempat diam sejenak.


("Argh, bertemu selalu bertengkar, berpisah kangen berat!" batin Vino)


"Di minum, selagi hangat!" kata Vino kembali membuka percakapan.


Keduanya terlihat gengsian.


"Enggak mau, pasti ada racikan perangsang di dalamnya!" kata Sania.


"Hahaha, Perasaan lu yang terlalu agresif ke gua, ngajakin sampai 3 ronde tanpa jeda!"


Hal itu membuat senyum Vino semakin lebar. Marah, Wajah kesal Sania, pertengkaran mereka, sepertinya komponen dari kebahagiaan Vino yang sudah lama menghilang.


Fenomenal pasangan yang cukup aneh, Vino yang suka bercanda sementara Sania lebih serius.


"Pembelian Ruko di ba..tal..kan!" kata tegas Sania bangkit dari duduknya, lalu melangkah berdiri menantang Vino.


("Kira-kira sudah berapa yah sekarang ukuran Yupi Sania setelah melahirkan, tampaknya semakin membesar,🤤" gumam kekonyolan Vino yang masih iseng, salah fokus dengan dada milik Sania)


"Jangan pernah rebut apa yang menjadi milikku, perseteruan kita sudah selesai!" ucap tegas Sania membuat hasrat Vino semakin tertantang.


Saat Sania berbalik ingin menghampiri putrinya yang tengah asyik bermain hingga lupa segalanya. Vino bangkit cepat menarik perut Sania dari belakang lalu mengintrogasi paksa dr cantik itu dengan gaya Mafianya.


Gaya yang di maksud oleh penulis



Sania tak mampu berkata-kata lagi, jantungnya berdetak kencang, ia begitu terkejut dengan tindakan Vino.


"Sehebat apapun wanita tetaplah posisinya di bawah pria!" kata Vino dengan gaya bengisnya yang cool, membuat Sania tidak berkutik.


"Iyah, harus aku akui, insting mu memang hebat, kau juga wanita cerdas. Aku sengaja mengundang kalian datang ke rumah ku untuk memancing kedatangan suami kamu atau ayah Miranda jika keberadaannya benar-benar ada?"


Sania semakin tidak bisa bicara.


"Apa yang terjadi malam itu? Hatiku berkata ada hal yang kau sembunyikan dariku?


Kenapa kau datang dan pergi sesuka hati, apakah kau tau malam itu aku ingin mati untuk mu, harusnya kau bunuh saja aku, Jika kau benar-benar sangat membenci ku!"


"Kenapa kau diam? Dimana Suami mu atau Ayah kandung Miranda?"


"Sebenarnya aku tidak ingin bertanya saat ini, tapi sikap mu yang memaksanya!"


Vino langsung mengecup manis bibir Sania meski wanita itu terus menghindar kemudian tangan sebelah Vino mulai liar menjalar ke organ intim Sania, membuat wanita itu semakin sesak nafas dan ingin menjerit.


"Vino jangan gila...lepasin aku, aku mohon ada Miranda disana!" bisik pelan Sania dalam nada penuh tekanan, takut bocah cilik itu melihat adegan yang belum pantas ia saksikan.


"Jujur kepadaku atau aku akan mengulangi tragedi malam itu lagi dalam kondisi kita yang sadar!"


"Kenapa kau diam!"


Vino terus mencumbui Sania.


Wanita itu menangis tidak bisa menahan perasaannya lagi.


"Karena Malam itu AKU HAMIL... hiks...hiks....AKU HAMIL Vino dan kau benar-benar puas sudah menyiksaku.


Penderitaan itu tidak sampai di Jakarta saja tapi terus berlanjut di Kalimantan.


Sampai detik ini, aku masih menanggung beban malu dari cacian mulut orang-orang. Mengandung tanpa pernikahan dan suami adalah beban keras yang aku pikul selama di Kalimantan. Orang-orang mengatakan jika aku telah menjual diriku di Jakarta bersama pengusaha kaya hanya demi sebuah karir, sampai hinaan itu sudah menjadi makanan ku sehari-hari!" jawab Sania penuh derai air mata


"Jadi Miranda Bella adalah benar Putri ku?" ucap Vino dalam bibir yang bergetar. Jantungnya berdetak kencang. Harapan itu tumbuh sempurna, bumi yang gelap kembali mendapat sinar mentari yang cerah.


"Iyah, itu pun jika kau percaya, karena aku tidak mengharapkan tanggung jawab mu?" jawab Sania.


****


"Mama???"😳😳


Suara Miranda Bella tidak hanya mengejutkan keduanya namun juga membuat mereka panik berusaha bangkit dan memperbaiki penampilan.


"Apa kalian sedang adu kekuatan?" tanya polos Miranda Bella yang kritis.