MIRANDA

MIRANDA
Part 63-MRD



"Baiklah kalau begitu, jika kau tidak memberikan sama sekali kesempatan kepada kami untuk menjelaskan semua ini. Mulai detik ini persahabatan kita berakhir. Apa yang sudah kita bangun bersama-sama selama ini, hancur seketika hanya karena sebuah kekeliruan atau mungkin kau sudah merasa hebat dan terlalu egois!" ucap Vino dengan lantang.


"Untuk apa terus ada di samping para pengkhianat!" jawab Rangga dengan raut sinis nya.


"Tolong jangan libatkan Miranda, ia wanita yang baik-baik!" kata Vino.


"Ambil saja jika kau suka, aku sudah bosan kepadanya dan sudah menceraikannya hari ini. Aku tidak ingin Olivia diasuh oleh perempuan pel*cur seperti dia?" Rangga pergi meninggalkan mereka dengan langkah yang cepat. Hatinya begitu sakit di tambah lagi dengan hasutan Intan yang selalu menuduh Miranda diam-diam menyukai Vino.


Ucapan sadis Rangga ibarat tombak besar yang menusuk dalam hati Miranda.


"Sakit, ini sakit sekali!" Rintihannya sambil mengepal dadanya.


"Aku akan membuat kau menyesal Rangga dan datang merangkak memohon kepadaku untuk balik kembali meminta Miranda! Perempuan yang sebenarnya, ikut berjuang untukmu," Vino ikut merasakan sakit hati dari ucapan kejam Rangga.


"Jane bersiaplah kau mati! Kesabaran ku sudah habis!" Vino mengepal kuat tangannya dengan wajah yang sangat marah, tidak terima atas jebakan yang membuat hubungan mereka hancur berantakan. Ia Akan segera melakukan pembalasan, tetapi tidak ingin terburu-buru, karena Rangga tidak lagi ada di pihaknya.


Rasa syok dan sisa cairan yang sempat masuk ke dalam tubuh Miranda membuat wanita itu pingsan.


"Miranda!" seketika itu Vino menangkapnya, membawa kembali ke atas kasur.


Lelaki itu bertahan meski tubuhnya lemah dan kepalanya juga terasa begitu pusing, Ia memanggil semua bodyguardnya termasuk Sania agar segera datang ke Apartemen dan memerintahkan detektif andalannya secepat mungkin menyelidiki kasus jebakan itu untuk membuktikannya kepada Rangga. Jika dalam kondisi darurat, Vino juga akan menurunkan geng hebat milik kakeknya dari Jepang untuk menghabisi Jane dan orang yang ada di belakangnya.


***


Begitu sampai di kediamannya, Rangga langsung memecat semua bodyguard yang ada di rumahnya, menganggap pekerjaan mereka tidak becus. Para pelayan ketakutan ketika Tuan mereka sedang mengamuk besar bak singa yang ingin menerkam siapa saja yang ada di hadapannya.


"Uaaaaaaaa!" suara histeris amukan Rangga di dalam kamar menghancurkan sebagian barang-barang kecil. Terduduk menangis penuh dengan rasa trauma dan kekecewaan yang dalam. Tergeletak lemah di atas lantai.


"Aku bisa gila hanya karena Miranda!" ucapnya.


Seisi rumah pun dibuat heboh dengan kabar perselingkuhan Vino dan Miranda, mereka sudah mendapat kabar dari Pak Atir, namun sebagian pelayan tidak mempercayai.


Mendengar kabar itu Intan tersenyum senang.


"Syukurlah, Rangga sudah mengetahui belang perempuan itu, adikku bisa selamat darinya!" Ia pun bergegas menuju rumah Rangga.


***


Seketika itu Apartemen Vino ramai oleh para bodyguard dan detektif andalannya. Ia tidak ingin melibatkan polisi demi menjaga nama baik mereka bersama.


Sania berlari cepat mendapati Vino dan Miranda.


"Hah, lama sekali kau datang!" Kata Vino tergeletak lemas di atas sofa.


Dengan sigap Sania memberikan suntikan kepada Vino dan Miranda agar cairan berbahaya itu tidak berfungsi lagi dan bisa keluar melalui urine.


Sania juga memberikan infus tenaga kepada Vino dan Miranda.


"Terlihat kau masih terlalu amatiran!" Ejek Vino.


Sania hanya diam saja.


"Suntikannya tidak salahkan?"


("Hem, bawel" gumam Sania dalam wajah cemberut)


("Dia lumayan menggemaskan jika sudah cemberut!" senyum tertahan Vino)


"Mengapa Tuan tidak memanggil Dokter khusus saja!"


"Agar loh bisa lebih cerdas!" Jawab cepat Vino.


Sania membersihkan darah yang keluar dari hidung, mulut serta pelipis Vino.


("Bagus juga nih bentuk hidung, apa di operasi yah?" batin Sania sempat terdiam sejenak memandangi hidung Vino)


"Apa lu sedang mengagumi ketampanan gua?" ucap Vino dengan kepercayaan tinggi.


"Hahahaha, Bukan, tapi aku berpikir mengapa jika di lihat dari dekat, hidung Tuan itu mirip si Bagong yah, sungguh jelek!"


"Heh, hanya mata-mata katarak yang mengatakan hidung gua ini jelek!" jawab Vino dengan senyum tipisnya.


"Sudah!" ucap Sania yang tidak ingin berlama-lama di depan Vino.


"Tolong jangan beritahu dulu kepada Mami dan Papi gua, tentang masalah ini!" pinta Vino.


"I...Iyah!"


***


Sania merawat Miranda dan Vino sampai kondisi mereka stabil kembali.


Atas perintah Vino, Sania merekam dari ponselnya Tuannya itu tentang kondisi lemah terbaring Vino dan Miranda dalam bantuan infus dan langsung mengirimkannya kepada Rangga dengan judul caption.


"Video syur bersama Miranda!"


Judulnya itu sengaja ditulis Vino sebagai bentuk kesalnya kepada Rangga yang terlalu egois dan cemburu.


***


"Ambilkan jaket ku!" perintah Vino. Dengan sigap, Sania mengambilkannya dan memakaikannya.


"Sebaiknya Tuan istirahat saja dulu!" Pesan Sania.


"Banyak yang ingin gua kerjakan, terutama memberantas nyamuk-nyamuk malaria!"


"Nyamuk Malaria?" gumam sania sedikit bingung sampai mengerutkan dahinya.


"Apa dia Jane!"


"Tumben lu cerdas!"


"Aku sudah katakan jika Kiandra itu kaki tangan Jane!" ucap Sania sambil memakaikan sepatu Vino.


"Biarkan saja Rangga yang menghadapinya sendiri! Gua enggak urus lagi!" Vino berdiri dan mulai melangkah.


"Tuan!" Panggil Sania.


"Ini?"


"Apa ini!"


"Bubur panas dan beberapa vitamin, jangan makan yang bebas dulu!"


"Okelah, terima kasih yah Bu Dokter!" senyum Vino.


Sania tersenyum manis.


"Tolong jaga Miranda, tinggallah beberapa hari disini bersamanya, gua akan berikan pengawalan ketat kepada kalian!"


"Siap Bos?" Hormat Sania yang memiliki karakter ceria.


"Oh, Iyah!"


Vino berbalik kembali.


"Absen dulu bekerja, List saja berapa hutang-hutang mu?"


"Siap, semangat💪 terus, aku mendukung mu, Tuan!" Sania semakin ceria.


Vino hanya mengacungkan jempolnya sambil berjalan mendapati para detektif dan bodyguardnya yang sudah berkumpul di lorong pintu masuk menunggu kedatangannya, setelah penyelidikan. Mereka ingin berkumpul di sebuah beskem rahasia.


***


Malam itu Miranda duduk termenung di sebuah sudut balkon Apartemen Vino, dengan tampilan diam seribu bahasa sambil memandangi langit hitam.


"Kangen banget dengan Olivia, Ya Allah, lindungi bayi itu!" Batin sedih Miranda yang sudah terlanjur sayang kepada putri Rangga dan Tasya.


"Mba Mira?" Sania mengejutkan Miranda dengan membawa semangkuk bubur hangat.


Miranda menjawab dengan senyuman lemah.


"Sania, panggil 'Mba' saja yah? Agar terdengar sopan?"


"Terserah kamu saja, Alhamdulillah aku dan kak Vino sudah baikan, terima kasih yah!"


"Iyah Mba! Mba, ayo di makan buburnya, mumpung masih hangat, setelah itu minum vitamin lagi! Atau mau Sania suapi?"


"Terima kasih, tidak perlu Sania, baiklah, aku akan memakannya!"


Saat Miranda mulai melahap dua sendok.


"Ehm, enak sekali!" Puji Miranda.


"Mba bisa saja!"


"Apa kau yang memasaknya?"


"Heheh, Iyah Mba!"


"Ehm, kak Vino beruntung juga yah? Bisa makan bubur enak setiap hari!"


"Haha, si Tuan muda itu tidak pernah mau mencicipi masakan ku, katanya masakan buatan ku itu kurang menarik. Tapi hari ini, ia bersedia membawa bubur ku, aku tidak tau apakah ia akan membuangnya atau memakannya nanti!"


"Pasti dimakan dong dan setelah ini, ia akan selalu ingin makan masakan kamu!"


Sania hanya tersenyum saja.


"Oh Iyah, kemana dia pergi? Apakah ia sudah baikan?"


"Sudah Mba, mungkin ingin mencari kebenaran dari kasus jebakan ini!"


"Aku sudah tidak mengkhawatirkan siapa-siapa lagi kecuali Olivia, sungguh aku sangat khawatir pada bayi itu! Rasanya aku ingin membawanya pergi," kata Miranda menunduk sedih.