MIRANDA

MIRANDA
Part 60-MRD



Pasangan yang tengah berbahagia itu pun turun bergandengan mesra dari tangga menuju meja makan. Momen kemesraan yang lagi hangat-hangatnya dirasakan oleh keduanya.


"Pagi Tuan dan Nona, semoga kalian selalu bahagia seperti ini yah! (hormat Iroh kepada sang majikan) sarapan sudah selesai!"


"Terima kasih yah Bi!" jawab cepat Miranda.


Keduanya sarapan bersama saling suap-suapan manja, tawa kecil penuh dengan kebahagiaan.


"Mas! Ada sesuatu. Kamu bisa diam enggak!" kata Miranda dalam raut tegangnya.


"Ada apa?" Rangga terkejut lalu diam terpaku.


Dalam gerakan lambat Miranda mendorong dadanya lalu menjilat sisa makanan yang menempel di tepi-tepi bibir Rangga.


(Ouuuhhhhhhh Noooooou, indahnya cinta)


🥰🥰🥰


Sejenak Rangga tersenyum dengan pipi merah jambunya.


"Astaga, aku kira apa!" Lelaki itu geleng-geleng kepala.


"Hihihi!" Miranda tersenyum lucu, bahagia bisa memberikan kejutan kemesraan di pagi hari kepada sang suami.


"Kamu memang kreatif banget membuat hatiku luluh lantah!" kata Rangga mencubit kecil pipi Miranda.


"Tuh kan...tuh...kan!"


"Eh, Kenapa Mas!" Miranda balik terkejut.


"Kamu sudah membangunkan si Otong! Bagaimana ini," Rangga menggetar-getarkan tubuhnya di atas kursi.


"Hahahaha, udah ah! Nanti Mas ketinggalan pesawat! Ayo," Miranda menarik tangan Rangga agar segera bangkit.


"Aku pergi dulu yah sayang!" mencium dahi Miranda.


"Iyah, Hati-hati yah Mas!"


"Apakah Mas! perginya sendiri?"


"Tidak, ada Lukas yang ikut bersamaku, Intan hanya ikut mengantar!"


"Ouh! Syukurlah! Salam buat kak Intan!"


"Iyah, aku harap kau tidak membenci Intan, kau tau sendirikan, sejak dulu ia memang sangat cerewet, anggap saja ucapannya itu adalah bentuk perhatiannya kepada kamu!"


"Iyah Mas!"


Mobil mulai melaju.


Miranda terus memandangi mobil sang suami sampai hilang dari pandangannya.


***


Suasana di dalam mobil Rangga.


"Apakah kau sudah memesan jet pribadi, karena setelah menikah, aku akan membawa Miranda dan Olivia berlibur ke luar Negeri!" kata Rangga membuat Intan semakin tidak suka.


"Masih indent!" jawabnya ketus.


"Ok!"


Suasana di dalam mobil kembali hening dengan wajah Intan yang masam, ia tidak tahan lagi, akhirnya ia bicara.


"Aku tidak pernah setuju jika kau sampai menikah resmi lagi dengan Miranda!" kata Intan.


Rangga hanya diam saja tidak menanggapi.


"Rangga, Miranda itu tidak seperti Tasya, kau harus memikirkan pasangan untuk masa depan perusahaan kamu dengan mencari istri yang lebih terpandang setidaknya untuk mendukung perusahaan, kamu sadar tidak, jika bukan kekayaan Tasya yang membantu kamu, kamu tidak akan bisa sehebat seperti ini!"


"Keberhasilan seseorang itu di tentukan karena kemauan diri kita sendiri. Miranda masih kuliah, semua ada prosesnya!"


"Aku yakin, saat nanti ia berhasil dan setelah mendapat pria yang jauh lebih baik dari kamu.


kau akan kembali di tinggal olehnya, tanpa kamu sadari, Vino juga diam-diam menyukai Miranda. Bukankah Miranda mirip dengan mantan kekasihnya Vino, apa kau merasa tidak khawatir jika suatu saat Miranda akan tertarik dengan Vino!" Intan menunjukkan foto-foto raut wajah bahagia Miranda saat bersama Vino yang sengaja ia ambil ketika dalam acara tertentu. Wanita itu menjadi kompor panas yang ingin membakar api kecemburuan adiknya.


"Aku percaya dia tidak akan seperti itu lagi!" jawab Rangga.


"Iyah tapi...!"


"Sudah berapa kali aku katakan, jangan pernah ikut campur dengan masalah pribadi ku, karena aku tidak pernah mencampuri urusan rumah tangga kamu!" jawab cepat Rangga dengan tegas.


"Heh, kau benar-benar pria tidak tau diri, jika hubungan kalian tertangkap oleh kompetitor kita, ini akan menjadi bumbu lezat untuk menghancurkan reputasi perusahaan kamu!" kata Intan dengan kesal.


Rangga hanya diam saja, tidak ingin lagi menjawab komentar kakaknya itu.


***


Kediaman Miranda.


"Trak!" Bunyi gelas pecah yang terjatuh dari tangan Miranda ketika ia ingin minum.


"Nona, apakah kau baik-baik saja!" Iroh berlari mendapati Miranda.


"Iyah, tidak apa-apa Bi!"


"Sudah, Biar Bibi saja yang membersihkannya!"


"Terima kasih yah Bi!"


***


"Ada apa?"


"Tidak tau Nona, tiba-tiba dia rewel sekali!" keluh Kiandra.


Sontak Miranda menggendong sang bayi dan tak lama kemudian ia mulai tenang dan tertidur mendengar nyanyian dan sentuhan lembut Miranda.


***


Satu hari berlalu, seperti biasa, Miranda sangat sibuk dengan tugas-tugas kuliahnya hingga mengasuh Olivia, meskipun ada Babysitter dan pelayan di rumah itu tetap saja Miranda tidak puas jika orang lain yang mengurusi semua keperluan Olivia.


keberadaan Rangga juga terlihat sibuk di Singapura dan tidak ingin di ganggu.


"Mengapa Mas Rangga tidak menghubungi ku bahkan ia tidak bisa di telpon!" gumam keluhan Miranda.


"Tapi mungkin dia sibuk kali yah?" ucapnya lagi menenangkan diri.


"Tlililit,"


Tidak lama kemudian Intan mengirimkan video kemarin tentang klarifikasi status Rangga bersama para aliansi bisnis juga awak media!


Seketika itu Miranda langsung membukanya.


****


****


"Kami mendengar Bapak Rangga akan segera menikah dan mencari pengganti Ibu Tasya?"


"Ouh Belum ada yang bisa menggeser kedudukan Tasya, jika pun ada, itu tidak benar!" jawab Rangga di depan para wartawan saat menghadiri perjamuan bisnis besar di Jakarta.


(Rangga masih belum siap mengumumkan masalah pribadinya ke depan umum, karena takut menjadi konsumsi kompetitor bisnis yang ingin menjatuhkan reputasinya dengan memberikan fitnah dalam kisah pernikahan masa lalunya bersama Miranda)


"Jadi jelas, tujuan Rangga ingin menikahi kamu hanya untuk kebutuhan pribadi semata, bukan untuk di bawa ke depan umum dan aku harap kau mengerti," isi pesan Intan.


Intan juga mengirimkan foto-foto calon perempuan yang bersedia menjadi istri Rangga lengkap dengan identitasnya. Semuanya cantik, pintar, kaya dan berkelas.


Miranda tidak membalas semua pesan Intan, terlihat wajahnya sedikit murung.


"kisah ku ini bukan seperti cerita Cinderella yang mudah mendapatkan seorang pangeran, percintaan ku dengan Rangga penuh dengan lika-liku. Entahlah! Sampai dimana hubungan ini dan seperti apa endingnya aku tidak tau dan pasrah menjalaninya."


"Memang sampai kapan pun aku tidak akan bisa menggeser kedudukan kak Tasya yaitu menjadi istri sah yang di akui di depan umum! tapi aku tetap percaya dengan Mas Rangga." batinnya membuang ponselnya di atas meja.


Tidak lama kemudian, ponsel Miranda kembali berbunyi, secepat mungkin wanita itu berlari meraih ponselnya berharap itu panggilan dari Rangga.


"Kak Vino?" batinnya melihat layar ponsel.


"Halo Mira!"


"Iyah Kak!"


"Hari ini kamu harus datang ke Apartemen ku, gua butuh tanda tangan kamu sekarang, karena jaksa hukum yang mengurus tentang pemberian harta Tasya untukmu akan menyelesaikannya hari ini, untuk Olivia cukup gua dan Rangga saja nanti yang menyelesaikannya!"


"Bagaimana yah? Padahal sore ini aku ingin sekali menyambut kepulangan Mas Rangga?" batin Miranda.


"Halo Mira!" Vino kembali memanggil.


"Kak, bagaimana jika besok saja tunggu Mas Rangga!"


"Jaksa hukumnya sudah datang ke Apartemen ku dan akan segera menyelesaikannya hari ini!"


"I...Iyah baiklah, aku akan datang!"


"Ok terima kasih!"


"Trup!"


"Mengapa harus di Apartemen kak Vino? kenapa tidak di kantornya saja? Tapi mungkin ini sangat-sangat rahasia."


"Aku pikir Mas Rangga akan memaklumi situasi ini, ia tidak akan cemburu!" Miranda mengirimkan pesan bahwa hari itu ia akan pergi ke Apartemen Vino untuk menyelesaikan masalah hak waris Tasya.


"Kiandra?" panggil Miranda.


"Saya Nona!"


"Saya akan pergi sebentar menemui Tuan Vino Febian di Apartemennya, kamu bisakan mengatasi Olivia?"


"Tentu bisa sekali Nona, pergilah, lama juga tidak apa-apa Nona, Nona itu butuh udara segar untuk merehatkan diri sejenak? Terlalu lelah" jawab Kiandra dengan senyumnya yang manis penuh kepalsuan, ia sangat patuh, sama sekali tidak menunjukkan kecurigaan, jika ia adalah salah satu mata-mata Jane.


"Terima kasih yah Kiandra!"


"Sama-sama Nona☺️"


Miranda bergegas mandi dan berganti pakaian.


Di saat itu pula Kiandra menelpon Jane.


"Nyonya, Miranda sedang bersiap-siap datang ke Apartemen Vino!"


"Ok Sip!"


"Nyonya! Setelah ini, aku ingin minta bayaran ku dan tidak ingin lagi bekerja?"


"Ehm, kenapa?"


"Karena aku sudah mencium kecurigaan Tuan Rangga dan Vino terhadap ku dari Dokter tolol bernama Sania itu!"


"Ehm Baiklah! kamu tenang saja, dalam waktu dekat ini, aku juga akan melenyapkan Sania!"


"Terima kasih banyak Nyonya! Kau memang baik hati!" puji Kiandra.