
Ponsel Vino terus berbunyi dari Melani yang terlihat begitu khawatir dengan kondisi anaknya. Seperti biasa Vino selalu bisa mengatasinya.
"Aduh...duh sakit...!" kata Vino menghalau tangan Sania saat membersihkan luka di wajahnya.
Sania mencoba ke area wajah lain.
"Jangan yang itu, sakit!"
Berpindah ke area lain lagi.
"No...No...sakit...sakit..." ucap bawel Vino yang selalu menghalau tangan Sania kemanapun.
"Ih, bersihkan saja sendiri!" kata Sania mulai kesal.
"Hei..! Ternyata sampai disini kah kesabaran kamu menghadapi seorang pasien," ucap Vino.
"Sebaiknya aku telpon teman perawat ku saja!" Sania mulai putus asa.
"Gadis atau janda?"
"Transgender!" Jawabnya dalam wajah cemberut.
"Hahahaha!"
Vino mengambil tangan Sania.
"Sekarang aku yang akan mengontrol tanganmu agar tidak terlalu kejam membersihkan wajahku."
"Ngakunya jagoan tapi tidak tahan sakit, dasar anak cengeng!" batin Vino.
"Kau bilang apa?"
"Tidak ada bilang apa-apa!"
Miranda hanya tersenyum-senyum melihat pertengkaran kecil antara Vino dan Sania.
"Sepertinya mereka cocok yah!" batinnya.
Dua bola mata Miranda yang tidak bisa di pungkiri bahwa ia begitu mengkhawatirkan keadaan Rangga.
"Semoga Mas Rangga dan Olivia baik-baik saja!" batinnya.
***
Sehabis menelpon ibunya (Rianti)
Terlihat Rangga bersandar lesu di atas kasur, dahi dan area tubuhnya dilapisi beberapa perban luka sambil memandangi cincin pernikahan yang sudah sempat ia tempah di Singapura,
"**Ini bukan seperti yang kamu bayangkan Mas, percayalah**!"
Ucapan serta raut wajah Miranda saat berada di Apartemen Vino yang masih terekam jelas di benak Rangga.
"Dulu aku juga berusaha percaya kepadamu, tapi nyatanya di belakang ku kau tetap saja diam-diam bertemu Damar!"
"Huuuft!"
***
"Tlililit!" ponsel Rangga berbunyi.
Rangga kembali menutup kotak cincin itu dan menyimpannya di sebuah laci lalu menerima panggilan dari Intan.
"Rangga, bagaimana kondisi kamu?"
"Sudah baikan!"
"Pesawat jetnya sudah tiba, jika nanti kau sudah baikan kita bisa langsung melihatnya?" ucap Intan begitu bahagia dengan kesuksesan adiknya itu.
"Tidak perlu!"
"Trup!" Rangga langsung menutup panggilan dari kakaknya lalu membuang ponselnya begitu saja, ia tampak enggan bicara dengan siapapun.
***
Waktu terus berlalu, Hari mulai berganti, konflik yang cukup panas telah usai, semua telah kembali kepada aktivitas masing-masing.
"Bagaimana rencana kamu?" tanya Vino kepada Miranda.
"Terima kasih banyak yah kak, kakak sudah berkenan memberi tumpangan kepada Miranda selama ini. Kebetulan sekali Miranda sedang berlibur semester, hanya tinggal memikirkan menyusun skripsi saja. Miranda berencana ingin pulang ke desa saja kak. Mira sangat Rindu pada ibu. Tapi... Selama Miranda belum mendapatkan rumah sewa, bolehkah aku tinggal sebentar di sini, selama mencari tempat tinggal!"
"Tinggallah di Apartemen ini bersama Sania sampai dirimu membutuhkannya!"
"Terima kasih kak, tapi Miranda ingin sekali mandiri, tidak perlu mewah asalkan kediaman sendiri!"
Vino mengangguk kagum.
"Baiklah jika begitu, apa kau serius tidak ingin menerima pemberian Tasya?"
"Iyah Kak, kembalikan saja kepada Mas Rangga!"
"Tapi kau kan sudah berjanji kepada Tasya agar tidak meninggalkan Olivia?"
"Benar, jika masih diperlukan, Miranda akan tetap bersedia menjadi Babysitter Olivia."
"Miranda, kau punya hak surat kuasa yang kuat untuk mengasuh Olivia?"
"Bagaiman pun Olivia adalah hak mereka, Mira ini bukan siapa-siapa kak, lebih baik mengalah saja. Dulu kak Tasya sengaja menikahkan kami dengan tujuan untuk memperkuat surat kuasa itu dan kini Mas Rangga sudah menceraikan ku. Mira tidak bisa berdebat dengan Mas Rangga dan Kak Intan lagi.
Aku yakin, Mas Rangga tau apa yang terbaik untuk putrinya."
"Ok lah! Kapan kau pulang?"
"Besok kak?"
"Besok? Mengapa buru-buru sekali?"
"Baiklah!"
***
Rangga terus menanyakan kabar tentang keadaan Miranda selama di Apartemen kepada Vino. Putra Rianti itu merasa malu jika langsung bertanya kepada Miranda tetapi Vino tidak pernah membalasnya kecuali untuk urusan bisnis. Rangga juga sering lewat dari Apartemen Vino dan tidak berani masuk.
"Dasar kelakuan si kecoa gosong!" Batin Vino yang memergoki mobil Rangga terparkir manis di area Apartemen Vino.
Rangga sering melamun di meja kerjanya baik itu di kantor ataupun di rumah, ia juga cenderung marah-marah, serba salah kepada siapa saja. Rangga juga tidak percaya dengan sistem kerja Babysitter. Ia ingin Miranda kembali mengasuh putrinya tetapi ia sangat malu mengatakannya.
Intan dan Iroh terpaksa turun tangan dalam mengurus Olivia. Dua wanita itu mulai kelelahan.
"Rangga, ada baiknya kau segera menikah untuk Olivia!" usul Intan.
"Diam kau (Bentak Rangga cukup keras kepada Intan) Mengapa sekarang kau baru mengeluh, bukan kah selama ini kau begitu keberatan jika Miranda mengasuh Olivia?"
"Ia aku juga tidak bisa berada terus-menerus di rumah kamu ini, aku punya keluarga."
"Aku tidak mau tau, apa kau pikir mencari ibu untuk putri Tasya ini mudah!
Jika kau merasa tidak sanggup, jangan pernah kau bekerja di perusahaan ku lagi!" ancam Rangga dengan wajah bengisnya.
Intan terdiam tidak berkutik.
***
Terlihat Miranda mulai berkemas-kemas ingin kembali pulang ke desa. Hatinya begitu sangat bahagia.
"Sudah rindu banget dengan suasana desa?" batin Miranda.
"Mba!" ini bekal selama di pesawat yah.
"Terima kasih banyak yah Sania!"
"Tapi Mba bakalan kembali lagi kan Ke Jakarta?"
"Iyah!"
"Apa Mas Rangga tau tentang kepulangan Mba ke kampung?"
"Aku rasa ini bukan hal penting untuknya!"
"Tapi kasihan juga baby Olivia yah Mba, sampai saat ini belum ada Babysitter yang dipercaya oleh Tuan Rangga!"
"Mungkin ia sedang mencari!" jawab Miranda.
Miranda juga sering berkomunikasi dengan Iroh tentang kondisi Olivia.
***
Keesokan harinya Vino mengantarkan Miranda ke Bandara.
"Ada baiknya juga kamu pulang, agar lebih menenangkan diri!" ucap Vino.
"Terima kasih banyak kak, jujur tanpa kalian kakak aku tidak tau harus bagaimana?"
Vino tersenyum manis.
"Apa kau punya uang? pakailah?" Vino menyodorkan sebuah kartu debit.
"Terima kasih kk, Mira ada!"
"Yah sudah, jika pulang telpon saja aku, aku akan menjemputmu!"
"Baiklah!"
Vino sempat memandang wajah sendu Miranda saat sedang melakukan boarding pass.
"keduanya sama-sama merasakan kesulitan cinta," batin Vino.
"Kak, Miranda akan memasuki ruang tunggu, Mira sudah bisa sendiri!"
"Okelah jika begitu! Hati-hati yah!"
"Iyah!" Keduanya pun berpisah.
***
Saat Vino mulai melajukan mobilnya. Ponselnya berdering.
"Tlililit!"
"Rangga?" batinnya menerima panggilan itu.
"Kau ada dimana, Meeting kita akan segera dimulai?"
"Gua baru saja keluar dari Bandara?"
"Bandara, apa sedang mengantar Mami?" tanya Rangga.
"Bukan, tapi Miranda??"
"Mi... Miranda?" sontak Rangga terkejut.
"Hem, Dia ingin pulang kampung karena rindu kepada keluarganya dan mungkin akan kembali ke Jakarta dalam jangka waktu yang lama, gua pasti kangen berat dengan Miranda, tapi tidak masalah asal dia bahagia (Rangga terdiam)
Baiklah aku akan segera ke kantor?" jawab Vino tersenyum tipis.
"Trup!"
Mendengar kabar dari Vino, Rangga risau tidak karuan, tanpa berpikir lagi ia bergegas menuju Bandara, meninggalkan ruang meeting yang 5 menit lagi akan segera di mulai demi bertemu dengan Miranda.