MIRANDA

MIRANDA
Part 89-MRD



Olivia kembali tertidur dalam gendongan Rangga. Pria itu meletakkan sang putri dengan hati-hati dan kembali bersiap ke kantor.


Miranda membantu Rangga memakai jas kantornya.


"Tapi bukankan Sania itu masih Dokter yang baru, sayang!" ucap Rangga.


"Iyah sih Mas, dari pada Rajes lebih baik Sania kan, pasti ia tau mana dokter kandungan yang cocok untuk Mira! Meskipun Sania masih tergolong dokter baru, aku rasa ia sangat berbakat bekerja di dunia medis, ia mampu menenangkan jiwa pasien dan bersikap ceria."


"Ouh! Apa kamu tidak perlu mendiskusikan ini kepada Triana, teman Tasya itu adalah dr. kandungan yang ternama?"


"Sepertinya tidak usah Mas, aku merasa tidak enak!"


"Kenapa?"


"dr Triana itu kan teman Almarhum, aku merasa...!" Mira terdiam.


"Baiklah, aku paham apa yang kau maksud, pagi ini aku akan ke kantor Vino, pasti ia tau kesibukan Sania, sekaligus mengurus berkas pernikahan kita!"


"Oh Iyah Mas, sebaiknya Vino itu tidak terlalu mengeksploitasi Sania, kasihan anak itu, tentu ia perlu waktu untuk harus banyak belajar di Rumah sakit! Bukan kah Almarhum kakak sudah memaafkan Sania, kenapa jadi Vino yang terlalu dendam."


"Hahahaha!" Rangga justru malah tertawa.


Membuat Miranda terus memandanginya.


"Anak itu terlalu banyak alibi, jelas-jelas dia sudah jatuh cinta dengan Sania, tapi ia terlalu gengsi, gengsi yang cukup kronis! Ahahahahaha!"


"Hihihi, Aku juga berpikir seperti itu Mas, tatapannya ke Sania itu tidak bisa di bohongi!"


"Jangan memikirkan hal yang tidak penting, biar itu menjadi urusan mereka, Aku pergi dulu yah, sayang!"


"Saranghae❤️!" ucap centil Miranda dengan senyum kebahagiaan ala-ala korea.


"Sarang Burung!" Jawab kocak Rangga membuat keduanya tertawa cekikikan. Sebuah momen de Javu yang pernah mereka rasakan di kehidupan yang masih sangat sederhana. ketika 3 bulan pernikahan pertama, Rangga mulai jatuh hati kepada Miranda, keduanya tertawa bersama saat berjalan di pematang sawah nan hijau.


"Cium dahi boleh enggak?" tanya Rangga dengan senyum menggoda.


Miranda menunduk tersenyum malu-malu. Dengan cepat pria itu mencium puncak kepala Miranda, lalu pergi melangkah keluar.


"Kamu sudah banyak berubah sekarang Mas, lebih punya nilai kesopanan, tidak brutal seperti dulu dan itu yang membuat aku mudah jatuh cinta kepadamu (Miranda mengigit bibirnya) Apakah ini yang dinamakan cinta, hatiku benar-benar berbunga-bunga, serasa ingin terbang mengitari awan putih. Cinta ini tidak aku rasakan di pernikahan pertama!"


***


Terlihat Sania begitu panik saat berada di dalam Taxi. Dahi dan tangannya berkeringat dalam raut wajah ketakutan. Berjuta perasaan bersalah serta penuh penyesalan terus menghantuinya. Terbayang dengan pesan sang Bunda dan kakak tercinta.


"Sania, jagalah Harga diri dan keperawanan mu nak! Karena jika itu sudah hilang, kau akan terlihat hina di mata pria!" Pesan ibu.


"Sania, kau harus tau, pria yang benar-benar mencintai kamu itu, lebih mementingkan cinta bukan nafsu!" Pesan sang kakak.


"Kenapa... kenapa... kenapa nasibku menyedihkan seperti ini, aku dan kakak bernasib sama, kami sama-sama tidak bisa memiliki orang yang kami cintai! Hiks...hiks...!"


"Jika Ayah sampai tau, mati lah aku?"


Setelah melakukan Absen di Rumah Sakit, Sania memilih kembali pulang ke rumah Ayahnya karena tubuh perempuan itu mulai menggigil.


***


Di kediaman Kantor Vino.


Lelaki itu mulai terserang penyakit jatuh cinta. Saat hadir di kantor ia tidak melakukan apa-apa selain hanya duduk bersandar di kursinya masih terbayang dengan adegan "mantab-mantab" nya tadi malam bersama sang pelayan pribadi atau yang ia sebut budak.


Tersenyum-senyum sendiri membayangkan kemolekan asli tubuh Sania yang selama ini ia tutupi, ternyata semua bagian tubuhnya menjadi ukuran favorit Vino, suara jeritan halus dan des*han berat perempuan itu masih terekam kuat di benak Vino serta aksi hebat Sania dalam menaklukkan 'rudal' milik Vino di atas ranjang.


"Apakah dia sudah menjadi tahanan cintaku!" ucap Vino kembali tersenyum.


"Meski hubungan itu terlarang tapi ini enggak bisa di lakukan hanya sekali saja, itu terlalu enak!"


"Semua miliknya asli tidak ada yang implan aku bisa merasakannya!"


"Gilaaaa, semalaman menyusu dengannya rasanya betul-betul puas, kalau tiap hari seperti itu aku bisa sehat dan kuat."


"Dia begitu agresif! Apa karena ingin uang dari ku untuk membayar hutang? Tapi itu tidak masalah, wanita memang butuh uang!"


"Aaaarrgh! Benar-benar ngangenin? Begitu rasanya malam pertama, terlalu sempit dan menjepit, sampai si Otong ku masih sakit sampai sekarang"


Ucapan dan pikiran kotor Vino membuat ia terus tersenyum-senyum sendiri sambil mengigit kuat bibirnya.


Virus cinta itu mulai merasuki akal sehat Vino sampai ia tidak sadar jika ajudan yang dia utus untuk menyerahkan mobil serta uang kepada Sania sudah berdiri tegak di depannya.


"Wuaaaaaah!" jerit histeris Vino bangkit terkejut dari kursi kerjanya sampai ia hampir jungkir balik.


"Gua pikir lu setan!" kata Vino dengan wajah tegang.


"Apa lu tidak mengetuk pintu!" bentak Vino.


"Maaf Bos! Saya sudah berkali-kali mengetuk pintu!"


"Apa gua tuli yah!" batin Vino reflek memegang telinganya.


"Bos, Nona Sania mengembalikan semua ini!" Si ajudan meletakkan kunci mobil serta amplop di hadapan Vino.


"Kok bisa? Bukannya ini yang terus ia tagih dari gua?" Batin Vino tidak habis pikir.


"Ouh yah Bos, di dalam amplop ada surat balasan dari Nona Sania!"


"Apa yang dia katakan kepadamu?"


"Selain penolakan ia hanya mengucapkan terima kasih?"


"Lalu kemana ia pergi? Apa ada yang menjemputnya!"


"Kemana ia pergi saya kurang tau Bos, tapi ia naik Taxi tidak ada yang menjemputnya!"


"Yah sudah kalau begitu, lu boleh pergi!"


Sang Ajudan meninggalkan kediaman Vino. Secepat mungkin Vino membuka balasan singkat dari Sania dan membacanya lalu. termenung sejenak.


"kenapa dia menolaknya? Ini mustahil, ia selalu kegirangan jika aku beri uang bahkan sampai berjoget bahagia di depan ku!" Batin Vino.


"Tlilit"


"Bos, sebentar lagi Bapak Rangga Dewa akan tiba di ruangan!" Suara sekretaris Vino berbicara dari telpon.


"Ok!"


Dengan sigap Vino menyimpan semua barang yang ia beri kepada Sania ke dalam laci.


"Hellou Brother!"


teriak Rangga dengan semangat memasuki ruang kantor Vino.


Vino reflek berdiri menyambut Rangga.


Rangga berjalan cepat memeluk erat Vino sampai kaki Rangga menyentuh sadis Otong Vino yang masih terasa keram.


"Uuuuh!" Seketika itu pula Vino meringkuk.


"Kau baik-baik saja!"


Merasa malu Vino langsung membelakangi Rangga.


Rangga terus mengintai raut wajah Vino sampai pandangannya turun melihat posisi kedua tangan Vino di area si Otong.


"Kenapa? kebanyakan di celup?" tanya Rangga dengan senyum ceria.


"Ahahahahaha... tidak...tidak!" tawa cengengesan Vino menuntut Rangga ke area Sofa.


"Kok bisa Miranda hamil, apa kau memperkosa kembali!" interogasi Vino dan merasa tidak habis pikir.


"Hahahaha, siapa dulu Rangga, itu hasil hubungan kami dua bulan lalu, aku ingin menikah resmi dengan Miranda secepat mungkin lengkap dengan resepsinya!"


"Huaaaaaaah!😮"


Spontan Vino langsung menguap mendengar Rangga dan Miranda akan kembali menikah, Vino terlihat masih mengantuk akibat lembur melalui lembah dan pegunungan Sania tadi malam.


"Setelah itu kalian cerai lagi!"


"Semoga saja tidak, kenapa do'a mu jelek sekali" ucap Rangga.


"Baiklah!"


"Jadi tolong kau rencanakan pernikahan kami dengan sangat meriah dalam hiasan bunga sakura!" pinta Rangga dengan bangga dan bahagia.


"lengkap dengan Ultraman dan Ranjer Merah!" ledek Vino.


"Boleh-boleh seru juga tuh!"


"Tapi kalau gua kasih saran mending kalian pesta di desa saja deh, sekalian ngundang Tarzan!" kata Vino sambil cekikikan.


Spontan Rangga melempar bantal ke arah Vino.


"Oh Iyah, dimana Sania?" tanya Rangga.


"Buat apa lu cari dia?"


"Memang kenapa, bisa jadi dia akan menjadi istri ketiga ku!"


Vino terdiam, senyuman hilang.


"Kenapa? ada yang marah, atau ada yang panas!" ledek Rangga menantang tatapan Vino.


***