MIRANDA

MIRANDA
Part 31-MRD



Jam di dinding kamar Rangga terus berdetak.


Miranda tampak gelisah dalam mata terpejam, keringat mulai membasahi dahinya. Ia sedang merasakan sebuah mimpi yang nyata dan begitu mencekam.


Miranda seolah-olah sedang melihat Tasya sedang mendobrak pintu kamar Rangga dan memergoki dirinya tidur dengan suaminya. Sebuah pemandangan yang sangat menyakitkan hati, sampai Tasya meneteskan airmata, namun ibu Olivia itu tidak bisa berbuat apa-apa.


"kak Tasya?" Miranda terhentak bangun dari tidurnya, nafasnya terengah-engah disertai keringat yang bercucuran, meskipun ruangan kamar Rangga terasa begitu sejuk.


Miranda melirik ke arah Rangga yang tidur sangat pulas lalu menyadari dirinya tidak memakai pakaian sehelai benang pun, kemudian melihat ke arah jam menunjukkan pukul 05.30 wib pagi hari. Ia juga melihat pakaiannya sudah robek berserakan di atas lantai.


"Dasar Rangga gila, bisa-bisanya pakaianku di sobek seperti itu!" upat Miranda kesal merangkak mengambil pakaian dalamnya. lalu berjalan tertatih-tatih ke kamar mandi, merasakan sesuatu yang kurang nyaman di area intimnya.


"Ouh! Aku benci seperti ini!" keluhnya.


***


Dalam cucuran air shower membasahi rambut dan sekujur tubuh Miranda, ia menangis tersedu-sedu memandangi bekas bercinta Rangga masih menempel di tubuhnya.


"Kak Tasya, harusnya kau yang ada di ranjang Rangga bukan aku...hiks...hiks...aku tau poligami ini pasti menyakitkan bagimu dan kau sangat berat mengizinkannya! Hatiku bisa merasakan itu."


"Hanya kau yang pantas dan boleh mencintai Rangga bukan aku!"


Meski Tasya sudah mengizinkan keduanya menikah. Miranda terus menyalahkan dirinya yang sudah tidur dengan Rangga, merasa telah mengkhianati Tasya sebagai kakak yang sudah banyak membantu dan mengeluarkan ia dari seribu masalah.


"Aku sayang kepadamu kakak!"


"Hiks...hiks... hiks!"


"Aku berharap kau tetap hidup dan bahagia bersama Rangga. Aku janji akan pergi dari kehidupan kalian."


"Hiks...hiks... hiks!"


Sambil menangis dan terlihat galau wanita itu terus mengusap bekas kecupan Rangga yang menempel di area tubuhnya.


***


Sehabis Mandi Miranda menuju ke lemari pakaian. Terlihat wanita itu sedang membuka beberapa lemari. Berusaha mencari pakaian wanita.


"Mengapa tidak ada satupun pakaian Kak Tasya di lemari pakaian ini!" Batinnya.


Miranda terpaksa memanggil pelayan dengan memakai kaos Rangga masih dalam balutan handuk.


"Bibi, dimana lemari pakaian Nona Tasya? Atau pakaian wanita yang bisa saya pakai!"


"Ini khusus rumah Tuan Rangga Nona, tidak ada pakaian wanita disini!"


"Bukankah Tuan Rangga sudah satu rumah dengan Nona Tasya?"


"Selama menikah, mereka belum sempat memasuki rumah barunya, Tuan Rangga lah yang selama ini tinggal di rumah Tasya!"


"Ouh begitu! Kalau begitu saya pinjam dulu pakaian Bibi saja!"


"Ta...ta... tapi Nona?"


"Sudah ayo berikan!"


"Pakaian saya tidak bagus, Nona!"


"Tidak apa-apa Bi!"


Miranda terpaksa memakai pakaian pribadi pelayan, terlihat kebesaran dan tidak bermerek, ia pun bergegas pergi.


"Nona apa tidak sarapan dulu?"


"Tidak usah Bi!"


Sangking buru-buru nya tanpa sengaja Miranda bertabrakan kecil dengan Intan kakak kandung Rangga yang kebetulan datang.


Intan langsung menyoroti sinis Miranda dari atas sampai bawah. Sambil melipat kedua tangannya.


"Hem, cukup sukses juga kamu merayu adik ku kembali!"


Miranda hanya diam mematung.


Intan memperhatikan rambut Miranda yang terlihat lembab.


"Rambut basah?? Juga sangat licik dengan buru-buru mengajak adikku tidur bareng, katanya kamu adik Tasya? kok tega sih bisa asyik-asyik kan secepat itu di ranjang suaminya, saat Tasya sedang koma? Apakah tujuannya agar kamu ingin buru-buru hamil dan punya anak juga? Lalu, Rangga akan segera menjadikan mu sebagai istri sah di rumah ini? Begitu kah?"


"Maaf Kak! Soal itu tanyakan saja langsung pada Mas Rangga?"


"Heh😏 Mira...Mira, wajah polos mu selalu menyimpan banyak makna yang tidak bisa di tebak, kamu tuh enggak ada pantes-pantes nya buat Rangga, jadi jangan pernah mimpi. Aku rasa jika Olivia sudah besar nanti! Kamu tidak perlu lagi mengurusnya! Biarkan ia di asuh oleh ibu yang benar-benar derajatnya terpandang seperti Tasya!"


"Iyah kak! Maaf kak, Mira buru-buru!"


Miranda pun pergi begitu saja, mengabaikan kata-kata Intan. Ia terus memacu cepat langkahnya keluar dari area pekarangan rumah Rangga.


"Dasar perempuan tidak tau malu!" upat Intan dengan wajah bengisnya.


"Aku harus bertahan demi kak Tasya dan Olivia! Meski semua orang menghinaku, aku tidak perduli!" Batinnya.


Miranda keluar dari rumah Rangga dengan menggunakan Taxi online menuju rumah Tasya.


***


"Tliit... tlilit..."


"Iyah Halo!"


"Maaf! Apa ini dengan Nona Miranda Putri?" Tanya salah satu perawat.


"Iyah benar saya sendiri."


"Tolong segera datang ke rumah sakit untuk tandatangan beberapa berkas mengenai bayi Olivia Putri."


"Baiklah! Saya akan segera kesana!"


"Trup!"


"Aku tidak ingin bertemu dengan Rangga dulu, harus fokus untuk Olivia dan kak Tasya!" Batinnya.


"Apa aku perlu memakai pakaian dalam besi atau ber-kunci? Agar Rangga idak bisa menggauli ku seenaknya! Semua orang akan menyalakan ku jika aku tidur dengan Rangga di saat kak Tasya sedang kritis!" batin kepolosan Miranda.


***


Pukul 07.00 jam baker di kamar Rangga berbunyi dengan merdu membangunkan pria itu.


"Aaargg!" Rangga merasa tubuhnya sangat segar, tangannya meraba-raba di sebelahnya, memastikan apakah Miranda masih tidur di sampingnya atau tidak.


Otong juga tampak sehat dan segar.


"Dia sudah bangun?" Batin Rangga masih mengingat jelas jika malam itu ia tidak tidur sendiri. Sejenak pria itu terbayang dengan adegan bercinta mereka yang tidak terlupakan. Lalu tersenyum-senyum sendiri layaknya orang yang sedang di mabuk cinta dalam hati yang berbunga-bunga, ia sangat bahagia telah berhasil melakukan malam pertama dengan Miranda meski dengan cara harus bersandiwara.


Rangga terduduk dari tidurnya dan mulai memperhatikan suasana kamar.


"Dia tidak ada? Apa dia sedang mandi?" Batin Rangga bangkit menuju kamar mandi, ia terlihat masih senyam-senyum sendiri mengingat adegan panasnya bercinta dengan Miranda. Jantung pria itu tiba-tiba berdetak kencang saat sampai di depan pintu, ia berpikir Miranda sedang mandi karena Rangga mendengar suara jatuhan shower yang lambat.


Saat pria itu membuka pintu kamar mandi, ternyata Miranda tidak ada. Padahal Rangga ingin melakukannya satu ronde bercinta lagi di kamar mandi.


"Tidak ada, apa dia sedang sarapan?" Rangga sempat terbengong lalu mandi membersihkan dirinya.


Sehabis mandi tanpa sengaja Rangga melihat pakaian Miranda yang sobek tertinggal di lantai, ia pun memungutnya lalu mencium pakaian itu, merasakan aroma tubuh Miranda yang tertinggal dengan senyumannya yang manja, lalu menyimpannya di dalam lemari.


***


Terlihat intan sedang duduk sarapan di ruang makan, dengan memakai seragam kantor yang rapi, ada hal yang ia ingin bicarakan kepada adiknya itu tentang prihal masalah pekerjaan.


Rangga turun dari kamarnya, masih berharap, Miranda sedang sarapan menunggunya.


Rangga berpikir Intan adalah Miranda, namun saat langkahnya semakin dekat ternyata kakaknya sendiri.


"Ternyata bukan dia?" gumam Rangga.


"Kamu sudah bangun?" sapa Intan sambil mengunyah sarapannya.


Rangga masih terlihat celingak-celinguk di depan meja makan.


"Cari siapa?" tanya Intan.


Pria itu hanya diam saja, menarik kursi sambil menghela nafas.


"Tidak cari siapa-siapa?" jawabnya tanpa ekspresi.


"Apa cari perempuan yang sudah pernah meninggalkan mu itu?"


Rangga hanya diam saja. Seorang pelayan dengan sigap menyiapkan sarapan untuk sang majikan.


***


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Hello Guys, Assalamualaikum. Terima kasih banyak yah! Buat kalian yang sudah mengikuti kisah Miranda sampai sejauh ini, terus berikan Vote, Gift, like serta Komentar kalian sebanyak-banyaknya karena untuk periode mulai tanggal 1-30 September ini, Author sedang mengadakan Giveaway khusus novel Miranda.



Follow IG Sarahmai_07


Terima kasih πŸ™