
Restoran mewah dalam hembusan
Angin di tepi danau buatan.
Semua terlihat kenyang setelah menyantap hidangan lezat sambil menikmati alunan musik syahdu, kecuali Miranda yang tidak banyak makan.
Rangga tidak membedakan mejanya dengan supir dan pelayannya karena ia yakin Miranda tidak menyukai hal itu.
"Emm, Iroh!" panggil Rangga.
"Iyah Tuan"
"Kamu dan Atir pulang saja dulu, kasihan Olivia sudah mengantuk! Lukas akan mengantar kalian."
"Saya dan Miranda pulang belakangan, masih ada teman bisnis yang ingin saya temui!"
"Baik Tuan!" Iroh dan Atir langsung beranjak meninggalkan tempat duduk mereka.
"Aduh, kepala ku sudah sangat pusing, aku ingin pulang dan tidur juga!" Batin Miranda.
"Em Mas!" Saat Miranda ingin mengatakan dirinya ingin ikut pulang bersama Iroh, seorang pria dan wanita datang mengajak Rangga meninggalkan tempat.
"Miranda, sebentar yah!" pesan Rangga.
"Tapi...Mas!" langkah Rangga sudah cepat meninggalkan Miranda sendiri.
"Ih bencinya kalau sudah seperti ini, malah di tinggal sendiri!" gerutu ibu angkat Olivia itu.
*
Lima menit kemudian, seorang pelayan wanita menyapa lembut Miranda.
"Permisi, Bapak Rangga menyuruh si Mba nya agar naik ke lantai atas!"
"Untuk apa?"
"Maaf Mba, masalah itu saya kurang tau, mari ikut saya, saya akan antarkan!" Jawab si pelayan.
Dalam raut pasrah, Miranda yang sudah tidak enak badan, mengikuti saja apa yang di perintahkan Rangga.
"Kenapa aku jadi takut seperti ini!" Batin Miranda yang terus melangkah mengikuti sang pelayan.
Di sebuah aula yang tidak begitu besar namun terletak di lantai atas dalam pemandangan black sky (Langit hitam) bertabur bintang dan lampu kota.
"Silahkan!" Kata sang pelayanan langsung menutup pintu.
"Hei!" Miranda terkejut.
Ruangan yang masih terlihat gelap, benda sekitar terlihat samar-samar. Miranda terlihat begitu takut. Seketika itu pula lampu dekorasi hias hidup secara perlahan.
"Awww!" Jerit kecil Miranda semakin pucat.
Namun ia sempat terpaku melihat keindahan dekorasi bunga-bunga dan lampu hias yang mengagumkan di tata sesempurna mungkin.
"Wow☺️ indah sekali, aku sangat suka!" Batinnya terus mengitari dekorasi Bunga-bunga indah.
Dalam drama keromantisan Rangga pun muncul dengan langkah kejantanannya disertai senyuman yang menggoda.
Spontan langkah Miranda terhenti lalu diam terpaku melihat kedatangan Rangga dengan membawa kotak cincin. langkah itu terus mendekati posisi berdiri Miranda.
Jantung Miranda kembali berdetak kencang.
Rangga mulai menyapa wanita itu dengan senyumannya.
"Kamu memang benar, hubungan percintaan tanpa adanya kepercayaan, ibarat mengarungi lautan dengan kapal kecil, begitu mudah terbalik dengan hantaman ombak."
Miranda terdiam dan Rangga terus menatap wanita pujaannya itu.
"Meskipun bumi yang luas ini aku kelilingi untuk mencari sosok perempuan di samping ku, tetap saja hatiku, cintaku, berlabuh kepadamu!"
"Di gedung yang sepi ini, hanya ada Bunga dan lampu hias nan indah yang akan menjadi saksi bisu bahwa aku sedang mengetuk pintu hatimu yang sedang membenciku.
Aku memang salah
Aku lah yang salah
Aku mencintaimu, Miranda
Aku sangat sayang kepadamu
Hatiku tidak bisa hidup tanpa kamu
Hapus semua kenangan masa lalu yang tidak akan pernah mampu mengakhiri perseteruan kita."
Miranda masih terdiam, mulutnya ibarat lemari yang terkunci rapat.
Rangga kembali membuka kotak cincin itu di hadapan Miranda.
"Menikahlah dengan ku, aku akan membahagiakan kamu, mari kita mulai lagi dari awal!" ucap Rangga berlutut di hadapan Miranda.
Wanita itu hanya terdiam, tapi dua bola matanya menjatuhkan airmata dalam hati kehancuran juga kebahagiaan.
Miranda membalikan badannya. Wajah ceria Rangga mulai lesu, ia kembali bangkit berdiri.
"Maafkan Mira Mas, Aku ini bukanlah perempuan yang baik-baik, Aku bukan wanita yang menemani kesuksesan mu, aku juga bukan keturunan bangsawan, jika Mas menikahi Aku, Nanti Mas malu sendiri dengan orang-orang! Aku sudah pernah menyakiti hati kamu, Mas! Aku pernah membuatmu hancur, menangis dan kecewa. Aku juga perempuan tukang selingkuh. Aku tidak pantas menjadi istri sah yang menggantikan posisi kak Tasya. Masalah Olivia, aku sudah berkali-kali katakan, dengan senang hati aku akan tetap mengasuhnya jika diizinkan."
Rangga hanya menunduk sedih mendengar penolakan lagi dari Miranda.
"Apa semua ini karena Vino?" tanya Rangga.
"Bukan! Bukan karena siapa-siapa!"
"Jika begitu tidak masalah jika kau menyakiti ku lagi!" Kata Rangga dengan tegas.
Batin Miranda, terjatuh tidak tertahankan lagi.
Dengan cepat, Rangga menangkap tubuh Miranda yang lemah.
"Miranda?"
"Mira...!"
Panggil histeris Rangga menepuk-nepuk kecil pipi Miranda lalu mengangkat wanita itu sekuat tenaga mencari pertolongan.
***
Suasana pantai yang indah, Sania tampak tiduran di kursi pantai, Vino menatap gadis cantik itu.
"Tuan! Ada telpon dari Mami!" sapa pengawal Vino.
" Terima kasih!"
"Halo Mah!"
"Vino, kamu ada dimana sih?"
"Ehm, lagi dengan teman mi!"
"Sama teman atau sama Sania?"
"Iyah sama Sania!"
"Kamu gimana sih, orang tua Rania sudah datang untuk membahas keseriusan kamu?"
"Vino tidak berminat Mi, tolak saja!"
"Trup!" Vino menutup cepat panggilan Ibundanya.
**
"Vinoooou nyebelin banget sih kamu, suka sekali buat orang tuanya repot!" Omel Melani kesal.
**
Setelah Vino kembali ke tempat duduk Sania. Ia sangat terkejut wanita itu sudah meneguk banyak minuman beralkohol.
"Wo...wo...woi...gila lu yah!" Vino langsung membuang minuman kaleng itu.
"Aaaa, kembalikan!" Rengek Sania mengejar-ngejar Vino dalam kondisi mabuk.
Vino pun membawa Sania ke sebuah hotel tepi pantai.
Sepanjang jalan menuju kamar hotel Vino memapah Sania.
"Vino, seganteng-ganteng kamu (Sania menampar-nampar pipi Vino) sekaya-kayanya kamu, tetap saja ee mu itu bau ******! Ahahahahaha!" Tawa Sania terbahak-bahak dalam mabuknya.
Vino hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Vino aku itu benciiiii banget sama kamu, kamu itu pria sombong yang sering menghinaku dan menjatuhkan harga diriku di depan orang banyak, rasanya aku itu ingin pukul kamu, tampar kamu."
"Biarpun banyak sekali wanita yang suka dengan mu, tapi untungnya aku tidak suka!"
Ucapan-ucapan Sania dalam kondisi mabuk.
Vino hanya tersenyum tipis.
Tidak sabar memapah langkah Sania yang lambat, Vino mengangkat wanita itu menuju kamar hotel.
"Aw!" Jerit Sania terkejut dengan aksi Vino yang mengangkat tubuhnya.
"Apa kau selera dengan tubuhku yang dekil ini?" ucap Sania kepada Vino.
"Sebaiknya kau diam saja, aku tidak suka aroma alkohol murahan yang kau minum!" kata Vino.
"Huuuuuuuuuh!" Sania malah menghembuskan nafasnya di hidung Vino.
"Hahahahaha!" Tawa Sania cekikikan dan Vino hanya melirik tawa wanita itu.
*
Sesampai di atas kasur, Vino menghempaskan tubuh Sania hingga keduanya jatuh bersama di atas kasur.
"Berat banget kamu!" Kata Vino.
Sontak Sania menarik baju Vino.
"Aku ingin menggadaikan keperawanan ku untuk kebebasan ku!" Bisik
genit Sania di telinga Vino.
😳😳
"Nih anak semakin menantang saja," gumam Vino🤤.
***
Rangga begitu panik membawa Miranda menuju rumah sakit terdekat.
"Bapak tunggu di luar dulu yah!" pinta sang suster.
"Baiklah?"
"Haduh, kenapa lagi dengan Miranda! Aku merasa sudah sangat lelah berada d rumah sakit begini!" Batin Rangga menunggu cemas di ruang tunggu.