MIRANDA

MIRANDA
Part 13-MRD



Hari-hari berjalan, Karina semakin menggebu-gebu menjodohkan Mira dan Damar. Setiap Damar ingin mengajak jalan ataupun bertemu Mira, Karina selalu menyuruh sang keponakan agar datang ke rumahnya dengan berbagai alasan.


"Bude, tapi apa kata orang? Jika Mira baru saja bercerai sudah jalan dengan lelaki lain, orang-orang berpikir Mira ini sudah selingkuh!"


"Mira, kamu jangan terlalu banyak mendengar kata orang. Semua warga desa sudah tau, kalau kalian bercerai karena Rangga tidak bisa menafkahi kamu! Jika kau jalan dengan pria yang mapan setelah bercerai, itu bukan salahmu! Kita perempuan harus memilih pasangan yang lebih baik, benar kan?"


"Tapi Bude!"


"Tin-tin!" Bunyi klekson Damar tepat di depan rumah Karina, siap membawa Mira jalan-jalan.


"Lihat, mobilnya bagus loh, mahal lagi, mau yah?" ucap Karina dengan melihat tatapan ragu Miranda, dengan sigap Karina mendorong mantan istri Rangga itu menuju Damar yang sudah siap menunggu di dalam mobil.


"Keponakan Bude yang cantik jelita ini pasti akan bahagia?" Bisik Karina dengan senyuman.


Meski berat hati, Miranda akhirnya memenuhi keinginan Karina untuk berjalan-jalan dengan Damar.


Tanpa sengaja mobil Damar melewati sepeda motor Rangga yang tengah membonceng Alfin.


Alfin menemani Rangga membeli tiket untuk berangkat ke Jakarta. Ia berencana untuk merantau ke Ibu kota sekaligus memperdalam ilmu arsitekturnya.


saat mobil Damar dan motor Rangga berselisih jalan. Rangga melihat jelas Mira dibawa oleh Damar. Seketika itu pula pria itu berhenti, tubuhnya serasa lemas, reflek ia langsung mematikan sepeda motor kemudian menundukkan kepalanya, dalam mata yang memerah.


"Bro, lu baik-baik saja kan?" Sapa Alfin teman Rangga.


"Anj*ng. Aku enggak pernah menangis begini Bro, tapi kali ini sakit banget Fin, jantungku serasa tertusuk tombak?" kata Rangga tak bisa menahan air matanya, ia baru menangis setelah peristiwa perceraian sudah berlalu.


"Sabar Bro? Jangan kau sampai gila apalagi sampai bunuh diri gara-gara Miranda. Masih banyak wanita lebih baik dari pada dia. Aku yakin, dia tidak akan bahagia bersama pria itu dan menyesal telah meninggalkanmu."


Alfin menepuk pundak Rangga, memberi semangat kuat pada sahabatnya itu.


"Sebagai pria, kau harus tetap kuat, maju terus pantang mundur. Jangan menoleh lagi ke belakang, terus gapai cita-citamu. Padahal selama kau menikah dengan Miranda, aku baru melihat keinginanmu untuk sukses sangat kuat, jadi meski kau sudah berpisah dengannya sekalipun, tetap kobarkan semangatmu lebih tinggi lagi. Tidak perlu kau pertahankan wanita seperti Miranda. Yang lalu biar berlalu," Nasihat Alfin.


"Terima kasih Bro, aku akan selalu ingat Budi baikmu!" Kata Rangga menghapus air matanya lalu melaju kembali.


Berita tentang Rangga kembali heboh setelah peristiwa pemerkosaan terhadap Miranda yang masih di bawah umur. Kini Rangga kembali membuat heboh warga desa atas ketidakmampuannya dalam memberi nafkah Miranda. Keduanya bak artis ibukota, kehidupan rumah tangga mereka menjadi tranding topik di desa itu. Para gadis-gadis bahkan ibu-ibu di desa memandang sinis dan sepele jika berpapasan dengan Rangga, di tambah lagi kabar burung Miranda akan di lamar oleh Damar, membuat pria itu semakin terpojok.


***


Keesokan harinya Rangga sedang mem-packing barang-barang yang akan di bawa ke Jakarta, satu hari lagi ia siap terbang menuju Ibu Kota. Sebelum berangkat, Rangga menjual sepeda motornya kepada Alfin untuk biaya tambahan selama dalam perantauan. Karena Alfin salah satu agen jual motor kecil-kecilan.


***


"Yakinlah Bu! Tiket sudah di beli. Motor juga sudah di jual!" Jawab Rangga sambil mengemasi barang-barangnya, ia pun menatap wajah galau sang ibu yang sebenarnya berat melepas kepergian putranya.


"Bu!" (Terjongkok di hadapan Rianti yang sedang melamun duduk di atas kasur)


"Jangan cemas Bu! Anak lelaki bisa tidur dimana saja. Rangga tidak ingin menumpang pada saudara yang ada di Jakarta, kehidupan mereka juga tidak begitu senang. Rangga sudah ikut komunitas Arsitektur, sudah ada teman juga disana, ada pelatihan dan rumah inap buat para perantau, jadi ibu tidak usah khawatir atau gelisah memikirkan kondisiku. Rangga hanya ingin minta Do'a restu ibu saja, agar semua urusan Rangga mudah dan bisa sukses. Aku janji Bu, akan merubah kehidupan kita setelah sukses! Jaga kesehatan ibu yah!"


"Jika kau merasa di Jakarta itu berat, pulang lah nak. Paling tidak di sini, masih ada lahan yang bisa di olah!"


"Pantang bagi Rangga kembali Bu, sebelum berhasil. Rangga tidak ingin tinggal di desa ini lagi, manusia-manusianya merasa paling benar padahal mereka juga buruk, paling pintar juga menyalahkan orang lain, jika nanti Rangga berhasil, kita pindah saja ke Jakarta yah Bu!"


"Di sini Ibu lahir, mana mungkin Ibu pindah ke Jakarta!"


Rangga terdiam.


"Ibu selalu mendoakan mu, semoga kau berhasil Nak!" Rianti mengusap lembut puncak kepala Rangga lalu Keduanya berpelukan.


***


"Bude! Sepertinya Mas Damar ini terlalu cepat melamar Mira, masa Iddah ku saja belum selesai!"


"Mira, ini kan masih hanya melamar saja, alias sekedar tunangan. Lagian masa Iddah kamu beberapa hari lagi juga akan selesai kan!"


"Tapi Bude, Mira belum siap untuk menikah lagi."


"Mira, kau tau sendiri kan jika Mas Damar itu berbeda jauh dari Rangga, ia sudah mapan dan siap menjadi suami, dia juga orangnya baik, sopan, tidak kasar. Sangat berbeda dari Rangga sudah brandalan, pengangguran pula. Percayalah sayang! Kehidupan rumah tangga kamu nantinya pasti jauh lebih bahagia dari pada waktu bersama Rangga dulu. Bude yakin sekali. Banyak yang bilang kalian pasangan yang sangat cocok," Karina begitu semangat, ia mengatur semua proses acara lamaran Mira sampai nanti ke pesta pernikahan.


"Apa kamu tidak kasihan melihat ibumu sudah tua, janda pula, kehidupan Rahmat juga pas-pasan sekali! Jika kau menikah dengan Damar, ekonomi keluarga kalian pasti akan berubah, percaya dengan Bude!"


Mira yang kehilangan arah begitu pasrah dalam menjalani kehidupan nya. Ia percaya dan mengikuti saja apa arahan dari Karina meski jauh di dalam lubuk hati wanita polos itu, ia belum ingin mencari pengganti Rangga. Cinta yang baru tumbuh untuk Rangga kini mudah tergoyahkan oleh rayuan Damar dan Karina.


***


"Bu! Mas Damar ingin melamar Mira, bagaimana yah menurut Ibu!"


"Jangan tanyak Ibu, kau yang akan menjalani hidupmu. Tapi kau harus ingat Mira, setiap keputusan yang kau ambil akan selalu ada resiko yang akan menghampiri. Di dalam berumah tangga, sifat kedewasaan kita yang harus kita bawa bukan sifat ke kanak-kenakan. Jangan sampai kau gagal lagi berumah tangga, cukup sekali saja. Ibu ini sangat malu Mira, tidak henti-hentinya warga desa membicarakan kita!" Pesan Narwati.


"Iyah Bu, Mira mengerti!" wanita itu hanya menunduk.


***