
Pukul 18.00 wib di kota Jakarta, Jet Pribadi Rangga mendarat dengan sempurna.
Terlihat Rangga sudah berpakaian rumahan yang rapi, bersih dan harum menunggu kedatangan orang tuanya dan sang mantan istri. Setelah beberapa hari, penampilan Rangga mirip kain lap emak di dapur, kini sudah bersinar kembali dalam suasana hati yang berbinar-binar karena cinta.
Rangga masih melihat penampilannya yang memukau di depan cermin sambil merapikan rambutnya dengan dua jemarinya yang panjang kemudian berjoget riang.
"🎶Janda...janda...janda di mabuk Janda...ah...ah...wadidau...🕺Dau...🕺 Dau 🔫🔫...jangan sebut Rangga si penakluk wanita jika tidak bisa merebut hati Miranda takluk dengan cepat...sungguh itu terlalu mudah," ucapan sombong Rangga.
"Tlililit" (ponselnya berbunyi dari si ajudan)
"Kami sudah mendarat Bos!"
"Oke, hubungi Atir yang sudah menunggu kalian."
"Trup!"
***
Rangga bersiap turun. Saat ia memegang gagang pintu kamar tiba-tiba jantungnya berdetak lebih semangat dari biasanya.
"Aduh!" Memegangi area jantung.
"Afa-afa an ini? Jantung ane kok malah berdendang!" Batin Rangga cengengesan sendiri.
"Ambil nafas panjang, Huuuuuuft! Semua akan berjalan lancar!" gumamnya lagi.
Rangga tampak gregetan ingin kembali bertemu Miranda. Seolah-olah ia seperti akan melakukan ijab Qabul. Meski Rangga sudah menjatuhkan talak cerai kembali kepada Miranda tetapi Lelaki itu tidak membatalkan data pernikahan mereka di kantor Agama.
***
Tidak berapa lama sedan hitam memasuki area halaman rumah Rangga.
"Alhamdulillah, akhirnya kita sampai! Enaknya naik jet pribadi!" ucapan lugu Rianti dalam logat bahasa daerahnya.
Rangga sudah menunggu di sofa, iapun bergegas keluar menyambut orang tuanya.
"Anak ku Ranggaaaaaa!" Teriak Rianti berlari keluar dari mobil.
"Ibuu!" Keduanya langsung berpelukan rindu, haru dan bahagia.
"Anakku! Ibu bangga sekali kepada kamu, nak! Ternyata kamu sudah sangat sukses sekarang!" ucap Rianti memegang kepala dan kedua pipi putranya.
"Semua itu karena berkat Do'a ibu, seorang anak tidak akan pernah sukses tanpa do'a ibunya!"
"Iyah Nak, ibu terus mendoakan kamu sampai saat ini, semoga kamu selalu sehat serta bisa memiliki istri sampai akhir hayat mu!"
"Amin...amin...amin!" jawab cepat Rangga.
"Pak!" Rangga juga memeluk Bapaknya.
Sementara Miranda masih sibuk dengan bawaannya.
"Ngomong-ngomong, kenapa jet pribadi kamu tidak di bawa pulang Nak!"
"Hahahaha, Rangga tidak punya lapangan yang luas disini, Bu!"
"Ouh, apa tidak di curi orang disana!" bisik Rianti.
"Ibu tenang saja, Rangga sudah ikat pakai tali kerbau, jadi enggak bakal hilang," jawab Rangga dengan tersenyum geli.
"Kamu ada-ada saja!" tampar kecil Rianti membuat Rangga terkekeh-kekeh.
"Ayo!" Rianti tampak sudah tidak sabar memasuki rumah anaknya.
"Em, Miranda ikut kan Bu?" Tanya Ragu Rangga.
"Iyah, ikut, Mira???" panggil Rianti, wanita desa itu tampak takut-takut menghadapi Rangga lalu keluar dari mobil.
Tak berapa lama Miranda keluar membawa kopernya berisi pakaiannya sendiri.
"Mengapa penampilannya lusuh sekali, tapi tetep cantik kok!" batin Rangga menyoroti wanita itu dari atas sampai bawah tetapi Miranda hanya melihat ke arah lain dalam wajah sendunya sama sekali tidak memperhatikan Rangga.
"Ayo! Rangga sudah siapkan makanan enak buat kalian!" ucap Pria itu menggandeng Ayah dan Ibunya.
Bukannya menuju meja makan, Miranda melangkah cepat mencari Iroh.
"Iroh, dimana Olivia?"
"Ada dia atas Nona?"
"Panggil saja saya Miranda, saya bukan Nona lagi di rumah ini!"
"Tapi saya sudah biasa memanggil dengan Nona!"
("Sejenak Iroh langsung terbayang dengan peringatan sang Bos sebelum itu; jika Miranda kembali lagi kerumah ini, kalian tetap memanggilnya Nona dan memperlakukannya seperti biasa")
Saat sampai di kamar si bayi, Miranda langsung ingin menggendong Olivia.
"Nona! Sebaiknya mandi dulu!"
"Ouh Iyah, saya lupa!"
Miranda bergegas mandi kemudian mengeluarkan Olivia dari keranjang bayi,
Mencium dan mengelus rambut Olivia yang halus.
"Olivia pun terbangun dengan menarik-narik tubuhnya, menambah rasa gemes Miranda hingga kembali menciumnya!"
"Bunda rindu sekali dengan kamu sayang!" ucap kecil Miranda dalam tatapan mata berkaca-kaca.
Iroh pun menceritakan kondisi Rangga dan Olivia saat di tinggal oleh Miranda serta pengasuhan Olivia yang kurang tepat di tangan Kiandra dan Intan.
"Kehadiran Nona kembali di rumah ini membuat kami semua sangat lega! Sangat sulit mencari pengasuh untuk Olivia"
"Saya kembali ke rumah ini, semua demi Olivia?"
"Apa Nona tidak ingin menikah lagi dengan Tuan Rangga, sepertinya ia masih...!"
"Maaf Iroh, saya hanya ingin fokus kuliah dan Olivia, bukan untuk yang lain," jawab Miranda dengan tegas.
"Ouh begitu, Baik lah Nona!"
Rianti dan kasiman mulai makan bersama, sementara Rangga masih diam saja seperti menunggu seseorang.
"Kamu tidak makan?" Tanya Kasiman.
"Rangga masih kenyang Pak!"
"Kenapa dia tidak turun, apa perutnya tidak lapar?" Batin Rangga melirik ke atas.
Setalah menjalankan aktifitas lainnya. Rianti masuk ke kamar Olivia. Terdengar suara tawa gemes Olivia yang riang sedang bermain kecil dengan Miranda.
Menatap mereka Rainti tersenyum bahagia, merasa tenang karena cucunya sudah ada di tangan Miranda.
Rianti mencium Olivia, tak berapa lama ia pun menangis.
"Ibu kenapa?" Tanya Miranda penasaran.
"Ibu kasihan melihat Olivia? Masih sangat kecil tapi sudah kehilangan Ibunya, kamu juga sudah berpisah dengan Rangga! Sedih, iyah kalau Olivia bisa mendapatkan ibu pengganti yang baik, ibu sangat khawatir!"
"Percaya dengan Mas Rangga Bu, Dia pasti bisa mencari ibu terbaik untuk buah hatinya?"
"Amin!" sambut Rianti, dalam hati kecilnya, ia ingin sekali menawarkan Miranda agar balikan lagi dengan putranya, namun Rianti merasa takut dengan tingkah laku sang anak yang kembali mencari masalah.
"Sudah gi, kamu makan sana, ibu ingin bersama Olivia dulu!"
"Iyah Bu!"
Miranda pun keluar dari kamar Olivia sambil melihat area ke lantai bawah, terlihat Rangga masih menunggu di meja makan bersama ponsel pintarnya. Kasiman sudah tertidur pulas di kamar.
"Aduh, kenapa dia masih di meja makan, benar-benar enggak nyaman banget jika harus bertatapan lagi?" gumam Miranda.
Miranda terlihat gelisah, mondar mandir mencari cara namun akhirnya ia turun juga.
Melihat Miranda turun, mata Rangga reflek melirik sang mantan, Jantungnya kembali berdetak kencang.
"Akhirnya, datang juga!" gumam Rangga.
Tapi Miranda tetap berjalan mengabaikan Rangga langkahnya menuju meja makan para pelayan.
"Kamu mau kemana?" tegur Rangga.
"Mau makan Tuan!" Jawab Mira.
"Bukan kah disini sudah tersedia makanan?" tanya Rangga, fokus menatap Miranda.
"Bersama pelayan saja!" Jawab Mira menunduk lalu kembali berbalik. Namun dengan capat Iroh membawa Miranda ke meja makan dan mendudukkan wanita muda itu tepat di hadapan Rangga.
"Nona makan bersama Tuan saja!" Iroh menghidangkan piring untuk Rangga dan Miranda.
"kalau kerja Iroh seperti ini, sepertinya dia layak mendapatkan bonus upah!" Batin Rangga tersenyum kecil.
Keduanya serentak mengambil gagang sendok nasi hingga tangan mereka bertubrukan kecil.
"Dari tadi? Apa dia belum makan?" batin Miranda sedikit kesal.
"Maaf, Tuan saja dulu!" ucapnya sambil menundukkan pandangannya.
"Ladies first!" jawab cepat Rangga mendekatkan wadah nasi ke hadapan Miranda.