
"MIRANDA"
Ucapan seseorang yang keluar dari bibir tipisnya dalam tatapan dua bola mata yang tajam.
"Orang desa yang harus menjadi penghalang ku lagi setelah Rangga, sungguh pasangan kampungan yang pantas untuk dimusnahkan!" ucap Jane Anita dalam wajah bengisnya.
Jane Anita wanita berusia 45 tahun dengan gaya sombongnya adalah istri kedua Rusdy Hamzah yang tak lain ibu tiri Tasya. Karakternya yang lembut dan terlihat manis ternyata menyimpan sifat yang sangat buruk. Dulunya Jane Anita adalah teman Ibunda Tasya bernama Arini Firda. Sosok teman tetapi ibarat parasit yang tidak hanya sebagai orang ketiga di kehidupan rumah tangga orang tua Tasya, melainkan musuh dalam selimut di dunia bisnis perusahaan Arini. Di saat Arini sedang sakit parah, keduanya asyik berselingkuh. Namun ibu Tasya merelakannya karena ia sadar, tidak bisa lagi memenuhi hasrat ***** sang suami. Hanya saja Arini sangat kecewa dengan suaminya karena salah memilih pasangan sebagai ibu sambung.
Arini melimpahkan semua hartanya atas nama dua putrinya, yaitu Tasya dan Miranda. Tidak sedikitpun membagi kepada suaminya. Semenjak menikah dengan Jane, Rusdy tidak pernah lagi perduli dan perhatian dengan kehidupan dua putrinya, hubungan mereka seperti orang lain.
"Bagaimana caranya menyingkirkan wanita kampung itu, saat ini Rangga dan Tasya termasuk orang yang sangat kuat!" Batin Jane.
***
Di tempat yang berbeda, terlihat Rangga berjalan tertatih-tatih dalam papahan Miranda.
"Perlu kami bantu Tuan!" seorang pelayan menawarkan jasa.
Lelaki itu hanya memberi kode dengan mengangkat tangannya pertanda "Tidak Perlu"
Miranda terus membawa Rangga hingga sampai ke kamar pribadinya.
Sebuah kamar yang luas, wangi dan sangat mewah. Wanita itu berhasil membuka jas Rangga lalu menjatuhkan perlahan suaminya di atas kasur.
"Arrgh!" Rangga kembali memegang area kepala, faktanya pria itu hanya mengeluh sedikit sakit kepala tetapi demi mendapatkan simpatik besar dari Miranda, ia berakting kesakitan yang terlalu berlebih-lebihan.
Miranda sempat terpana melihat isi kemegahan kamar Rangga sambil berkata-kata dalam hatinya;
"Jangan-jangan jiwa Rangga tertukar dengan jiwa seorang pengusaha kaya. Ia bisa sekaya ini dalam jangka waktu yang cepat? Rangga yang dulu sangat malas, suka bangun kesiangan dan tidak punya uang. Sangking miskinnya, setiap kami ingin membeli jajanan selalu dalam porsi satu dan makan dengan kongsi. Atau ia memang tidak menganggap aku begitu penting, bisa juga terlalu manja. Kak Tasya memang hebat dan sangat cerdas bisa mendidik Rangga sampai sukses seperti ini. Tentu banyak ilmu yang ia berikan. Kak Tasya benar-benar sangat mencintai Rangga. ia juga pernah bilang kepadaku;
Bahwa cinta itu adalah sebuah pengorbanan bukan tuntutan.
Aku sangat terpukul dengan kata-kata itu, tidak heran, jika saat ini banyak orang yang menyalahkan ku di saat hadir kembali setelah Rangga berhasil."
"Ada apa?" tanya Rangga menatap Miranda sedang terpaku.
"Ouh, tidak apa-apa?"
"Tuan, sebaiknya aku pulang dulu, aku akan panggilkan pelayan kesini!"
Saat tubuh Miranda berbalik pergi.
"Aduh!" Teriak Rangga lebih kuat kembali berakting .
"Kepalaku sakit sekali!" Rangga memegang kepalanya dan menggeliat-geliat di atas kasur, Ia sudah tau karakter istrinya itu yang mudah terhanyut dan tidak tega melihat seseorang yang kesakitan.
"Hah,😳 Apa yang terjadi!" Miranda mulai panik menghampiri Rangga.
"Tolong telpon kan Dokter pribadiku!" Perintah Rangga memberi ponselnya kepada Miranda.
"I...Iyah!" Miranda begitu gugup sampai tangannya bergetar.
Perempuan itu buru-buru menelpon Dokter pribadi Rangga yang ternyata keberadaan sang Dokter sudah duduk manis di dalam mobil. Mobilnya juga sudah terparkir tidak jauh dari rumah Rangga. Ia sudah bersiap-siap menunggu perintah dari Rangga.
"Tlilit!"
"Rangga?" Batin Rajes said, langsung cepat menerima panggilan itu. Rajes adalah Dokter pribadi Rangga sekaligus temannya. Keturunan Pakistan dengan poster tubuh tinggi dan kulit hitam manis.
"Halo H!" Sapa Rajes dengan semangat.
"Apakah ini dengan Dokter yang menangani Mas Rangga!" ucap Mira dengan suara nyaringnya.
"Benar sekali!" Jawab manis Rajes.
"Begini Dok, tiba-tiba saja Mas Rangga merasakan sakit kepala yang cukup hebat!"
"Ouh iyah? Kepala yang mana? Bawah atau atas?"
"Maksudnya?😳" Tanya Miranda dengan wajahnya yang lugu dan tidak paham.
"Hahaha, bingung yah? Ok! Tidak sampai 5 menit saya akan hadir disana."
"I...Iyah terima kasih Dok!"
"Trup?" Percakapan mereka pun berakhir.
"Tidak sampai lima menit? Memangnya dia ada dimana? Bisa datang secepat itu?" ucap Miranda merasa aneh. Tanpa sengaja ia melihat wallpaper ponsel Rangga bergambar sebuah pemandangan pantai yang tidak asing.
"Ini kan pantai tempat kami sering bersama!"
"Sudahlah!" Miranda meletakkan ponsel Rangga dan kembali berjalan mendekati suaminya itu yang sedang tergeletak masih dalam kondisi memegangi kepalanya.
***
***
"Aduh!" ucap Rangga lagi.
"Sabar yah Tuan, 5 menit lagi, Dokter akan datang!"
"Ehm...jangan pulang dulu!"
"I...iyah!"
Miranda membukakan sepatu dan kaos kaki Rangga.
"Biasanya pemijatan kaki adalah pertolongan pertama bagi penderita sakit kepala!" Batin Mira.
Bukan main senangnya hati Rangga sampai ia tersenyum tipis tetap berpura-pura meringis.
Saat tangan halus Miranda mulai menyentuh lembut kaki Rangga hingga betis, si Otong terbangun bagai tersengat aliran listrik.
Dari pijatan kaki berpindah memijat kepala Rangga. Tubuh Miranda semakin merapat dengan Rangga membuat si otong meringis minta ikut di pijat😭
Mata sipit Lelaki itu mengintai ke arah gunung kembar Mira yang lumayan besar, padat daripada milik Tasya.
"Yupi!" Ucap Rangga.
"Yupi?" Tanya Mira.
"Ouh, maksud aku permen yupi terasa kenyal kalau diemut"
"Apa maksudnya?" Gumam Mira yang tidak paham, tetapi ia mengabaikannya dan hanya memilih diam.
***
*Dalam ilustrasi percakapan antara si Otong🍌 dan otak Rangga🧠*
"Otak, lama banget si loh😡" Tegur marah si Otong dari bawah.
"Sabarlah Tong, ada prosesnya enggak bisa main terkam aja, gimana si loh!" Jawab si otak.
"Arrrrg, kelamaan Gerah nih, pengen mandi celuuuuup!"
"Jangan sampai kau hancurkan reputasi ku, ini masalah harga diri dan gengsi yang besar!" 🤔
"Makan tuh gengsi" hentak si Otong.
😆😆😆
***
"Dimana lu Jes, awas kalau lebih dari lima menit, aku potong komisi lu!" Gumam kesal Rangga.
5 menit kemudian.
"Halo Brother!" Teriak Rajes datang dengan semangat 45 menyapa Rangga dengan mulutnya yang lebar serta giginya yang putih.
"Ups! Apa saya mengganggu?" ucap Rajes melihat Miranda yang sedang memijat kepala Rangga.
"Dokter!" Sapa Miranda
"Tidak Dokter, silahkan di periksa!"
Miranda segera bangkit dengan cepat.
"Tolong ambilkan air hangat!" Perintah Rajes.
"Ba...baik!" Miranda bergegas keluar dari kamar.
Setelah Rangga memastikan istrinya telah pergi.
Pria itu langsung menarik kerah Rajes.
"Mamak mu copot!" Latah sang Dokter terkejut hebat.
"Hei Kecoa gosong, ini sudah terlalu lama?"
"Di depan iring-iringan pengantin!"
"Alasan lu!" Jitak Rangga.
Begitu Miranda muncul membawa air hangat dalam wadah.
Keduanya kembali serius.