MIRANDA

MIRANDA
Part 20-MRD



Dari balik tirai jendela, Tasya memperhatikan Miranda yang sudah terlihat kedinginan. Merasa tidak tega, ia menyuruh pelayan untuk membawa kembali adik angkatnya itu masuk ke dalam rumahnya.


***


Tatapan kebisuan Tasya menyoroti kondisi Miranda yang sudah tertidur kelelahan setelah mengganti semua pakaiannya di kamar tamu.


"Suhu tubuhnya cukup tinggi Nona, tapi saya sudah memberinya obat"


"Biarkan dia tidur dengan tenang dulu!"


"Baik Nona!" si pelayan mendorong kembali kursi roda sang majikan masuk ke dalam kamarnya.


"Haruskah aku membenci Miranda, entah mengapa aku juga sudah terlanjur menyayanginya sebagai adikku?"


Batin Tasya terus berpikir tentang hal itu.


Tiba-tiba, Tasya dikejutkan dengan kedatangan Rangga Dewa di kamarnya.


"Apa kau ada masalah dengan adik angkat mu itu?" Tanya Rangga berjalan mendekati Tasya.


"Hanya salah paham sedikit, dia sedang beristirahat di kamar tamu!"


"Ouh! Begitu!"


"Mas, aku minta maaf...karena sampai detik ini aku tidak bisa melayani kamu! Maaf jika aku juga sering marah-marah kepadamu?" tatapan Tasya dengan mata berkaca-kaca.


Rangga memeluk lembut istrinya dan mengangkatnya dari kursi roda ke atas kasur.


"Apakah tubuhku sudah semakin ringan?" tanya Tasya dengan wajah sendunya.


Rangga hanya diam saja menatap rasa penuh iba kepada istrinya itu dan memeluk Tasya dengan lembut.


"Kehamilan ini sudah memasuki 6 bulan. Aku ingin bertahan sampai 7 bulan! Dokter sudah menyuruhku agar menjalani kemoterapi" ucapnya masih dalam pelukan Rangga.


Pria itu lagi-lagi hanya terdiam saja, ia kehabisan kata-kata, merasa segala harta yang banyak tidak bisa menyelesaikan masalah Mereka dan terlihat pasrah.


"Mas, apa kau bercinta di luar sana?"


"Tidak!"


"Bisakah aku percaya!"


"Tolong jangan pikirkan hal yang aneh-aneh, Tasya! Aku masih setia untukmu dan ingin menemani mu yang sedang berjuang!"


Tasya merasa terharu dengan Rangga yang mampu bertahan dengan banyaknya wanita yang terus menggodanya.


"Terima kasih! Tapi aku tidak bisa egois Mas! kamu itu masih muda, kamu butuh hasrat bercinta dan memang harus menikah lagi?"


"Aku belum memikirkan hal itu!"


"Mas, Bisakah kau jujur kepada ku, apakah kau masih mencintai Miranda, mantan istri mu itu?"


"Tidak, itu sudah masa lalu!" Jawab Rangga dengan cepat dan tegas.


"Tlililit!"


Suara ponsel Rangga, berbunyi panggilan dari sekretarisnya. Sejenak obrolan mereka terhenti. setelah Rangga selesai menerima telpon, ia duduk kembali di depan Tasya.


"Tasya, Aku ada meeting lagi malam ini, tolong jangan pikirkan hal yang tidak-tidak, aku sedang bekerja, bukan sedang bersenang-senang dengan wanita lain! Jangan pernah membahas masa lalu, karena itu sudah tidak penting lagi!" Rangga mencium perut Tasya dengan lembut.


"Saat ini, kau dan anak kita yang lebih utama, aku pergi dulu sayang!"


Tasya hanya mengangguk


Rangga Mengecup kening Tasya lalu pergi meninggalkan kamar sang istri.


***


"Mas Rangga tetap tidak mengakuinya. Sebagai seorang psikolog, aku bisa merasakan jika itu bukan ucapan dari hatinya. Aku tidak boleh egois, dia butuh seorang istri, ini semua salahku, harusnya aku tidak menikahi Rangga, karena aku sudah tau penyakit ini akan datang menyerang ku. Tetapi aku tidak punya pilihan lain, karena aku sangat menginginkan keturunan dari sosok pria seperti Rangga"


Batin Tasya tanpa terasa air matanya menetes.


***


"Kepalaku sangat pusing," Miranda mencoba bangkit dari kasurnya.


Wanita itu berjalan tertatih-tatih menuju pintu keluar.


Terlihat Rangga melangkah sangat cepat dan tergesa-gesa mengejar waktu, ia melewati kamar Miranda, saat yang tidak terduga Rangga menabrak tubuh Miranda yang juga sedang terburu-buru keluar dari kamarnya.


"Aw!" Jerit Miranda yang tubuhnya hampir terhempas ke lantai.


Dengan sigap dan reflek pula Rangga menangkap Miranda sehingga tubuh wanita itu tertahan di dada kekar pria itu.


Deru nafas berlaga dalam tatapan penuh chemistry yang telah lama hilang muncul kembali, keduanya dalam raut membingungkan dan sama sekali tidak menduga bisa bertemu lagi.


"Miranda!" ucap keheranan Rangga yang tidak habis pikir.


"Mas Rangga!" sambut Miranda dalam bibir yang kaku.


Seketika itu pula jantung Rangga berdetak sangat cepat dan kencang, kakinya terasa lemas.


Rangga sempat terheran-heran dengan perubahan Miranda yang jauh lebih memukau dari pada sebelumnya, di tambah lagi wanita itu sedang memakai daster tidur. Kulitnya yang putih dan mulus memberi pancaran sinar kecantikan menggoda di mata pria.


Dengan sigap pula keduanya saling berdiri tegak.


Rangga masih tidak percaya dan serasa sedang bermimpi bertemu dengan Miranda yang sudah berjuang ia lupakan.


"Mengapa kamu ada disini?" Introgasi Rangga masih dalam jantung yang berdebar-debar dan dengan sorotan mata yang tajam.


"Aku hanya ingin bertemu dengan kak Tasya!" Jawab cepat Mira ingin melangkah pergi meninggalkan Rangga.


Sontak Rangga langsung menarik tangan Miranda dan mendorong wanita itu ke dinding, lalu merapatkan tubuh dan wajahnya, sehingga menatap jelas wajah Miranda.


"Tidak puas kah kau ingin menghancurkan hidupku? Apakah kau tau rasa sakitnya terkhianati," kata Rangga dalam bibir bergetar.


Mira hanya diam saja menantang tatapan Rangga dalam nafas yang berat.


"Aku sangat membenci mu Miranda, mengapa kau bisa-bisanya hadir disaat aku sudah bahagia dengan wanita lain!"


"Kehadiran ku disini bukan untuk mu, tapi demi kak Tasya, masa lalu kita sudah berlalu!" Jawab Miranda menantang tatapan Rangga.


"Heh, ternyata benar isu yang selama ini aku dapatkan, kau menjadi adik angkat istriku!


Apa kau tidak punya rasa malu hadir dikehidupan ku lagi!"


"Aku sudah katakan, masalah kita sudah selesai, anggap saja kita tidak pernah saling mengenal!"


"Siapa bilang sudah selesai!" Kata Rangga menarik tangan Miranda sangat kuat hingga tubuh wanita itu terhentak mengikuti langkah Rangga.


"Rangga lepasin, kau mau apah? Ih!"


Miranda meronta-ronta ingin melepaskan diri dari lelaki itu.


"Kau harus tau siapa aku sekarang!" Kata Rangga terus menyeret Miranda hingga memaksa wanita itu keluar menuju mobilnya.


"Aku tidak perlu tau siapa kamu, aku hanya ingin bertemu dengan kak Tasya!" hentak Miranda, namun Rangga tidak perduli ia terus memaksa Miranda masuk ke dalam mobilnya dan membawa Miranda pergi.


***


"Nona, Miranda pergi dengan Tuan!" Lapor sang pelayan kepada Tasya.


"Biarkan saja, siapkan supir untuk menjemput kembali Miranda ke rumah ini!" Jawab Tasya.


"Baik Nona!"


***


"Sebenarnya aku yang merebut Miranda dari Rangga atau Miranda yang merebut Rangga dari ku, entahlah, aku harus siap?" Batin Tasya menatap foto senyum keceriaan Miranda tersenyum bersamanya dan foto kemesraannya bersama Rangga juga foto adiknya yang juga bernama Miranda.


"Selama ini, Rangga sanggup melewati godaan banyak wanita? Bagaimana jika Miranda yang menggodanya! Apakah ia masih tetap bertahan??"


"Aku hanya ingin kejujuran kamu Mas? Aku sadar, saat ini Miranda jauh lebih sempurna dari pada aku!"


"Ah sudahlah, terlalu lelah aku memikirkan semua ini, aku hanya ingin fokus untuk anakku?"


Kata-kata Tasya menghapus air matanya.


***