
"Hemmmm! Mau makan di rumah aja deh!" Jawab Rangga sok imut.
"Baiklah, Mira siapin yah mas!"
Miranda berjalan menuruni tangga.
Rangga masih berdiri sambil berpikir.
"Tuh kan! Berubah lagi jadi baik, mirip cantik-cantik serigala!" batin Rangga tersenyum kecil menggaruk kepalanya yang tiba-tiba merasa gatal. Ibarat magnet langkah pria itu juga mengikuti sang istri dari belakang.
"Sore Tuan dan Nona!" Apa ada yang bisa Iroh bantu.
"Saya mau mempersiapkan makan malam untuk Tuan Rangga!"
Dengan sigap Iroh ingin memanggil pelayan khusus bagian masak di rumahnya itu.
"Ouh Bi! Biar saya saja yang masak!"
"Tapi Tuan Rangga ada pelayan di rumah ini, Nona tidak perlu repot!"
"Tidak apa-apa, sesekali saya ingin masak untuk dia, Bolehkan!"
"Tentu Boleh Nona!"
"Istri yang baik, meskipun Miranda tidak sehebat Nona Tasya, namun ia begitu pantas untuk si Tuan!" Iroh membukakan kulkas khusus untuk sang majikan.
Miranda melihat bahan-bahan dari atas sampai bawah.
"Hem, saya pikir kulkas ini berisi bahan-bahan makanannya terlalu istimewa!"
"Maaf Nona saya tidak mengerti!" kata Iroh.
"Apa ada kulkas yang lain!"
Sejenak Iroh berpikir.
"Ada Nona, tetapi kulkas khusus buat kami para pelayan!"
"Dimana, saya mau lihat!"
Saat Miranda membuka kulkas khusus para pelayan
"Nah ini dia?" Miranda dengan sigap mengeluarkan bahan-bahan yang ia pilih dari kulkas para pelayan.
"Tapi Nona!" protes Iroh.
Miranda mengeluarkan kangkung, ikan asin, cabai, terasi, dan tempe dll.
"Apakah Nona yakin, Tuan mau makan makanan seperti ini lagi?"
Miranda hanya mengangguk
"Rangga harus sering-sering makan ikan asin, biar tidak kesombongan (ketinggian)!" batin kecil Miranda.
Iroh tidak bisa mencegah apa yang di masak oleh Miranda.
Setelah selesai memasak.
"Harum sekali!" ucap Rangga yang tengah duduk di sofa dengan ponsel pintarnya.
Tidak tahan dengan aroma masakan, Rangga bergegas bangkit menuju meja makan.
"Mas masakan sudah selesai, ayo makan!" ajak Miranda.
lelaki itu memandangi menu yang terhidang di atas meja.
"Ikan asin goreng, tumis kangkung hijau bertaburan bawang goreng, sambel terasi dan tempe bacem," gumamnya
Di kejauhan Iroh hanya siap-siap menutup telinganya, merasa takut dengan masakan yang terhidang lalu pelayan itu berlari cepat menghampiri Rangga.
"Tuan, jika tidak suka, saya akan langsung pesankan menu Delivery yang lezat!"
"Tunggu!" Rangga bergerak duduk dengan terus menatap masakan makanan sederhana Miranda.
Bergegas mengambil piring dan langsung makan dengan lahap.
Mira hanya tersenyum manis lalu duduk di depan Rangga.
"Tidak disangka Tuan suka!" batin Iroh pergi meninggalkan mereka.
Rangga makan dengan lahap sampai 3 kali tambah.
"Mas, aku juga mau makan!" tegur Mira menarik sayur kangkung.
"kamu kan bisa masak lagi!" jawab Rangga merampas kangkung itu kembali dari tangan Miranda.
Miranda hanya tersenyum.
"Ini minumnya, air putih saja!"
Keduanya saling tersenyum.
"Ternyata kamu masih suka dengan masakan seperti ini yah Mas?"
Rangga hanya mengangguk!
"Kenapa?"
"Tidak apa-apa, hampir saja aku tidak mengenali kamu lagi, aku sangat rindu dengan Rangga yang dulu!" ucap Miranda dengan senyum manisnya.
Lelaki itu berhenti mengunyah dan menatap senyum Miranda tetapi hatinya mulai terasa sakit.
"Bukannya kamu tidak suka dengan Rangga yang dulu, pria pemalas yang tidak ada niat untuk membahagiakan kamu? Sampai kau lebih tergoda dengan pria lain dan yakin dengan masa depan mu?"
Mendengar ucapan pedas Rangga, Miranda hanya terdiam.
Rangga masih terlihat makan dengan lahap.
"Mengapa tidak makan?" tanya Rangga.
"Mau makan apa, semua sudah habis!" jawab Mira lesu.
"Katakan saja kamu mau makan apa?" ucap Rangga.
"Tidak usah Mas, Mira mau goreng ikan asin saja!" ucap Mira bangkit membereskan piring Rangga membawanya sendiri ke dapur.
"Iyah Tuan!"
"Panggil pelayan lainnya!"
Semua pelayan berkumpul menghadap Rangga.
"Jika Miranda makan ikan asin malam ini, mulai besok kalian angkat kaki dari rumah ku!" Jawab tegas Rangga bangkit meninggalkan mereka.
Miranda yang membuka kulkas pelayan terkejut hebat saat para pelayan berteriak menghampirinya.
"Nonaaaaa... Tolong jangan sentuh kulkas kamiiiii!" para pelayan itu beramai-ramai berlari menghampiri Miranda yang sudah bersiap-siap mengambil ikan asin di dalam kulkas.
Rangga tersenyum tipis kembali naik menuju ruang kerjanya.
"Nona Miranda! Jangan-jangan-jangan, tolong jangan sentuh ikan asin itu," Iroh menarik Miranda.
"Memangnya kenapa?" Wanita itu merasa kebingungan.
Para pelayan menggiring Miranda duduk di atas meja makan dan menundukkan ibu angkat Olivia itu dengan manis.
"Tolong Nona duduk saja di sini yah!"
"Kami para pelayan bagian koki akan masak spesial buat Nona," ucap mereka bergegas ke dapur.
"Loh, saya mau makan ikan asin, memangnya ada masalah apa, Iroh?"
"Kami mohon, makan ikan asinnya di tunda saja Nona!" Jawab Iroh memohon.
"Iyah tapi kenapa?"
"Tuan Rangga akan memecat kami jika membiarkan Nona makan ikan asin malam ini!"
"Dasar Rangga!" Batin Miranda yang hanya duduk diam di meja makan.
10 menit kemudian!
Para pelayan juru masak membawa hidangan spesial serta minuman yang lezat lalu menghidangkannya tepat di hadapan Miranda.
"Nyonya muda di rumah ini harus makan yang enak!" ucap mereka serentak.
"Wah! Kalian pintar sekali memasak!"👏👏👏 Seketika Miranda tepung tangan dan senyum sumringah dengan keluguannya.
"Silahkan Nona, jika tidak enak, katakan saja!"
"Ah, tentu ini sudah pasti enak!" Miranda bangkit dan mendudukkan satu per satu pelayan di rumah Rangga.
"Saya bukan Nyonya di rumah ini, tetapi juga pelayan sama seperti kalian!
Para pelayan saling melirik.
Ayo! Kita makan bareng-bareng saja!" Ajak Miranda kegirangan.
"Ta...ta... tapi Nona, jika Tuan mengetahuinya, kami bisa di pecat!"
"Tidak apa-apa, Ayo! Sesekali pasti kalian juga ingin merasakan seperti apa enaknya bersantap di meja makan majikan kan!" ucap senyum Miranda.
"Hehehe, terima kasih Nona, baru kali ini ada majikan yang menghargai profesi kami!" Hormat mereka.
"Kalian juga lelah, pasti butuh makan-makanan yang lezat!"
Mereka pun makan bersama dengan lahap.
Rangga hanya memandang manis keseruan mereka dengan senyumannya dari lantai dua.
***
Setelah pulang bertugas dari rumah sakit, hari itu Sania mengantarkan Ayahnya, Antonius pulang kerumah mereka. Kondisinya mulai membaik setelah menjalani operasi ginjal cangkok.
"Darimana kau punya banyak uang untuk operasi ini!" tanya sang Ayah.
Sania masih terlihat bungkam setelah membaringkan Ayahnya.
"Ayah tidak perlu memikirkan itu!"
"Sania, jangan pancing kemarahan Ayahmu ini, apa kau menjual tubuhmu!"
Sania terdiam menunduk.
"Jawab Sania!"
"Tidak Ayah!"
Wanita itu tersungkur menangis di tubuh Ayah nya dan menceritakan semua yang terjadi.
"Aku tidak punya pilihan, aku tidak ingin kehilangan Ayah setelah merasakan betapa sakitnya kehilangan seorang kakak dan Ibu?"
"Jadi Tasya sudah meninggal?"
Sania mengangguk dengan airmata yang berlinang.
"Jadi Kau harus menuruti apapun perintah pria bernama Vino itu!"
"Ayah jangan khawatir, Aku bisa jaga diri!"
"Ayah kecewa dengan tindakan kamu!"
"Maafkan aku Ayah! Kehidupan kita sangat terjepit! Besok Tuan Vino akan membayar semua biaya kuliah Sania, agar ijazah kedokteran itu bisa aku miliki secepatnya. Aku sangat butuh ijazah itu Ayah! Dan ingin sekolah lagi mengambil spesialis! Tanpa ijazah, status kedokteran ku tidak di akui!"
"Haaaah!" Antonius hanya menghela nafas panjang.
"Ayah jangan khawatir, aku akan membayar perawat pria untuk mengurus Ayah di rumah ini!"
Laki-laki paru baya itu mengelus rambut Sania dengan lembut.
"Sudah cukup Ayah bekerja keras untuk putri mu ini, biarkan aku yang bekerja dan sudah cukup juga orang-orang anggap remeh dengan keluarga kita!"
"Tiiiiiin"
Suara klekson Vino sudah menunggu di depan rumah Sania.
.