
Rangga yang begitu tanggap tidak lupa mengamankan tas leptop, serta barang-barang berharga milik Vino. Rangga tau jika Vino habis pulang dari kantor langsung menuju Bar, Leptop yang sangat penting bagi Rangga karena di dalamnya banyak data Perusahaan tersimpan. Tanpa sengaja ia menemukan sebuah pil penenang yang membuat Vino serasa sedang menaiki sebuah Helikopter, sehingga ketika berkendara ia seakan-akan flying sampai menubruk pembatas jalan.
"Sejak kapan ia mengkonsumsi obat seperti ini?" Rangga mulai bertanya-tanya.
"Apakah ia begitu depresi!" Lama Papa Olivia itu berpikir, mencari-cari apa penyebabnya.
"Aku paham dia sangat lelah!"
Rangga, buru-buru menghancurkan pil penenang itu, ia takut pihak yang berwajib akan memperluas kasus Vino.
"Aaaarrgh...Mengapa ia tidak menelpon ku!" ucapnya kesal.
***
Pagi yang sendu.
Se sendu jiwa yang dirundung kesedihan.
Vino masih belum sadarkan diri, Dokter menyatakan ia harus melewati masa koma, jika berhasil sadar, pemeriksaan lebih jelasnya bisa di lanjutkan kembali.
"Vinoooooo!"
Tangis Melani pecah saat tiba di Rumah Sakit. Wanita itu begitu shock mendengar kabar tentang anaknya. Fudo Gin sang Ayah terbang secepat mungkin dari Tokyo menuju Jakarta dan masih dalam perjalanan.
"Mami tenanglah!" ucap Rangga tak sanggup menahan airmata memeluk erat ibu angkatnya itu.
"Hiks...Hiks...Hiks....!"
"Vinooooo, Anakku!" Melani terus menangis dalam pelukan Rangga.
"Mami, tolong jangan panik?"
"Bagaimana, aku tidak panik, dia anakku Rangga, dia anak satu-satu yang aku miliki...Hiks...hiks..." Bentak Melani.
"Tapi Mami tenang, aku mohon Tenang, Vino masih hidup, tolong jangan berpikir yang aneh-aneh, kita masih menunggu hasil pemeriksaannya!" sambut Rangga.
"Hiks...hiks...Mami enggak kuat Rangga jika Vino sampai mati...Hiks..HiksðŸ˜!"
Melani pingsan.
"Mami...!"
"Ada baiknya dia pingsan dulu, agar aku tidak begitu pusing," batin Rangga membawa Melani untuk istirahat bersama perawat disana.
***
"Drrrrreeeet!"
Bunyi getaran Ponsel Sania di atas meja riasnya.
Wanita itu tampak sibuk menyusun pakaian serta berkas-berkas penting yang akan di bawa ke Kalimantan. Sedemikian apik menata segalanya, memulai dari nol lagi untuk masa depan yang lebih baik di tempat yang baru.
Wajahnya tampak ceria penuh semangat.
Meraih ponsel.
"Mba Mira, Ada apa yah, apa kehamilannya bermasalah?" gumam Sania dengan cepat menerima panggilan Miranda pagi itu.
"Halo, Mba!"
"Sania, apa kau sudah dapat kabar?" ucap Mira dalam nada terburu-buru.
"Kabar apa mba?" tanya balik Sania.
"Vino kecelakaan, sekarang ia koma di rumah sakit!"
"Aa...aa..pah...!" seketika itu pula Jantung Sania serasa berhenti berdetak membuat sekujur tubuhnya lemas tidak berdaya.
Sania begitu menyesal telah menelpon Vino malam itu, seharusnya ia bicara langsung.
"Sania, Halo...Sania, apa kau masih bisa mendengar ku!" panggilan Miranda masih terdengar jelas di ponsel Sania yang terletak di atas kasur.
Dalam tangan bergetar, wanita itu mengambil kembali ponselnya.
"I... Iyah Mba, terima kasih informasinya!" jawab Sania dalam nada bertanya, ia langsung menutup panggilan Miranda dan menangis penuh penyesalan, mulai terbayang kebaikan Vino di mata Sania.
*
Miranda tidak henti-hentinya memberi semangat kepada Rangga via telpon dan menyuruhnya untuk istirahat.
"Aku belum bisa pulang, Vino belum sadarkan diri, kamu tetap di rumah saja, jangan datang dulu ke rumah sakit!"
"Iyah Mas."
"Aku sangat cemas...aku takut sekali Vino tidak bisa melewati masa komanya!" nada berat Rangga yang hampir menangis, tidak bisa di bohongi, pria itu sangat menyayangi Vino.
"Kamu yang kuat yang Mas!"
"Mas, kamu harus semangat!"
"Iyah Sayang! Tidurlah sebentar saja, Mas!"
"Aku tidak bisa tidur!"
***
Rangga terus menunggu kondisi Vino serta keputusan dari Dokter.
Terlihat Fudo Gin datang terburu-buru.
"Rangga! Bagaimana kondisi Vino!"
"Masih Koma Om, Mami juga sangat shock, dia pingsan dan sedang istirahat di ruangan itu!"
Fudo yang baru saja tiba dari Tokyo, langsung terduduk lemas. Merasa semua seperti mimpi.
Terlihat Rangga dan Fudo duduk dalam raut penuh dengan kecemasan sampai akhirnya Rangga mengatakan soal pil penenang yang belakangan di konsumsi oleh Vino.
"Keinginannya menjadi Direktur ini sangat kuat dan sebagai hadiah yang akan ia beri kepada Om!" kata Rangga.
Mata Fudo terlihat berkaca-kaca.
"Iyah, dan aku sudah mempersiapkan sekolahnya menuju Presdir!"
"Tapi tidak secepat itu om! Aku tau kemampuan Vino, Vino belum bisa move on dari masa-masa rileks, mentalnya belum kokoh karena selama ini ia begitu berkecukupan dan di manjakan.
"Tapi itu atas permintaannya Rangga!"
"Karena ia ingin melihat kalian bahagia dan juga bangga!" ucap Rangga dalam nada penekanan.
Fudo tidak bisa berkata lagi selain menundukkan kepalanya.
"Ia tertekan sampai harus mengkonsumsi pil itu!"
Rangga menghela nafas kecewa.
**
#Kediaman Sania.
Sania terlihat uring-uringan di dalam rumahnya, ia bingung apa yang harus ia lakukan.
"Pergilah, lihat kodisi Vino, apa kau tega hanya berdiam diri rumah saja!" ucap Antonius.
"Sania takut Ayah!" ucap mewek dr muda itu memeluk sang Ayah.
"Sania takut Vino mati, Ayah! Dia itu anak Semata wayang Mami Melani...Hiks...hiks!" Tubuh wanita itu bergetar ketakutan, ia menebak kecelakaan itu ada hubungannya dengan penolakan lamaran Vino terhadap dirinya, Antonius berusaha menenangkan putrinya itu.
"Belum tentu kecelakaan itu karena kamu Nak! Sudah lah, berhenti menangis, kau sudah sangat lelah menangis, anakku!" Nasihat Antonius, sungguh sedih melihat perjalanan hidup dan cinta putrinya. Seakan-akan tiada usai.
*
Dalam langkah keberanian Sania Memberanikan diri datang ke rumah Sakit tempat Vino berada.
Detik terlalui hingga jam pun berlangsung, Melani yang sudah sadarkan diri, masih menangis sesenggukan di pelukan suaminya. Rangga terlihat sangat cemas, mondar-mandir, di depan pintu ruang khusus Vino di dalamnya sudah ada tim medis pilihan yang menjaga kondisi Vino yang masih koma, pernapasan Vino penuh dengan bantuan alat medis.
Ketiganya menunggu dalam penuh harapan.
* Setiba di Rumah Sakit, langkah Sania begitu ragu, namun terbersit di hatinya ingin tau kondisi Vino.
"Cobaan apalagi yang kau berikan kepadaku Tuhan, apakah masih kurang derasnya airmata perjuangan dan pengorbanan yang sudah aku tunjukkan!" batin kecil Sania memaksakan langkahnya terus berjalan menuju lokasi tempat Vino hingga sampai di tujuan.
Begitu Melani melihat kehadiran Sania datang, ia pun berdiri wajahnya memerah padam, ingin marah kepada wanita muda itu.
"Mau apa kau ke datang kesini?" tantang Melani sangat marah.
"Sa...sa...!"
"Jawab!" bentak Melani.
"Sudah Mami, ini rumah sakit!" Fudo mengingatkan.
Melani langsung menarik (menjambak) kuat rambut Sania.
"Kau pikir kau wanita hebat berani- beraninya menolak lamaran anakku?" bentak Melani memecah kesunyian.
"Mami...sudah...sudah mami!" Fudo berusaha melepas tangan istrinya.
"Melamar?" Rangga yang tidak mengetahui.
"Sudah ku duga ini semua ada kaitannya dengan Sania!" pikir Rangga.
"Aku benar-benar tidak tau apa yang terjadi dengannya belakangan ini, biasanya Vino selalu cerita!" ucap Rangga dalam hati.