MIRANDA

MIRANDA
Part 17-MRD



"Hatimu sangat lembut dan bersih. Miranda, aku ingin kau menjadi sekretaris yang bisa ku percaya."


"Tapi kak, Mira ini hanya perempuan desa yang tidak memiliki pendidikan tinggi!"


"Semua bisa di atur!" Jawab cepat Tasya menatap kebahagiaan sosok yang langsung ia anggap sebagai adiknya itu.


***


Seiring waktu berlalu. Tasya sebagai pengacara hebat yang memiliki banyak relasi juga Finansial yang sangat mapan, akhirnya mampu membebaskan Miranda dari jerat hukuman berat yang hampir membunuhnya. Begitu juga dengan Damar berhasil ditangkap dan dijebloskan ke penjara.


Miranda menceritakan kepada Keluarganya jika ia memiliki kakak angkat berhati malaikat yang selalu membantunya, sehingga membuat Narwati dan keluarganya lainnya di desa turut berbahagia.


Mulai dari Operasi keperawanan, perawatan tubuh, rambut, olahraga termasuk belajar berenang dan menyetir mobil Miranda jalani sehingga berhasil membentuk ia menjadi gadis kembali yang sangat cantik dan berkualitas. Tubuhnya juga sudah tampak berisi dengan asupan makanan yang bergizi.


"Miranda kamu cantik sekali, benar-benar sudah menjadi sosok Miranda adikku?" seru Tasya dalam tatapan haru.


"Terima kasih kak?" Keduanya berpelukan bahagia.


***


Tasya dan Miranda sangat kompak berdua, melakukan hal-hal seru dan lucu layaknya seorang kakak dan adik kandung, sama-sama berbagi kasih sayang. Mulai saling suapan makanan, ngemil bersama, nonton dan shoping bareng sampai mandi bersama, Tasya yang terlihat suka menyisir rambut Miranda.


Dua wanita yang kini bisa tersenyum bahagia setelah melalui badai cobaan yang berat.


Tasya mendaftarkan Miranda di salah satu kampus swasta berkualitas di kota Kuala Lumpur. Tidak di sangka Miranda ternyata wanita cerdas, hanya pengajaran singkat, ia berhasil mengikuti semua ujian masuk khusus untuk mahasiswa unggulan yang mengambil program sarjana dalam waktu 3 tahun saja. Miranda juga harus dituntut bisa belajar bahasa asing karena Tasya berencana akan menjadikan Miranda sekretaris yang akan di bawa ke manca Negara.


"Dulu adik ku sempat kuliah di kampus ini, tetapi ia belum berhasil menuntaskannya sampai akhir, padahal aku ingin sekali melihatnya berdiri dengan memakai toga kelulusan Sarjana!"


"Kak, Miranda akan mewujudkannya dan tidak akan Mira sia-siakan perjuangan kakak!"


"Terima kasih yah sayang!"


Tasya rela menunda kepulangannya ke Jakarta demi untuk menemani hari pertama adik angkatnya itu masuk ke Universitas dan mulai belajar.


Setelah semua beres termasuk mengurus pendidikan Psikologi Tasya, wanita itu bersiap kembali ke Jakarta.


Tasya belum pernah memperkenalkan ataupun menceritakan Rangga kepada Miranda, sebaliknya kepada Rangga juga. Ia begitu bahagia bertemu dengan Miranda dan sangat menikmatinya.


Rangga mengakui kepada Tasya jika dirinya seorang duda, tetapi tidak pernah menjelaskan bahwa Miranda sang adik angkat Tasya yang menjadi mantan istri calon suaminya itu.


Saat Miranda membantu persiapan kepulangan Tasya ke Jakarta tanpa sengaja ia melihat berkas data calon suami Tasya.


"Mas Rangga? Ja...jadi calon suami kakak ternyata Mas Rangga?" Miranda cukup terkejut.


"Mengapa bisa kebetulan seperti ini? Mereka pasangan yang sangat serasi! Keduanya harus bahagia," Batin Miranda berdiri lemas dengan pandangan lesu.


"Apa jangan-jangan kakak tau, jika aku ini adalah mantan istri Mas Rangga? Mengapa ia tidak pernah memberitahunya kepadaku.


"Adik ku sayaaang! Where are you?" Teriak Manja Tasya membuat ia terkejut.


Dengan sigap Miranda menutup kembali berkas dan foto Rangga yang terletak di atas meja kerja Tasya.


Tasya mendekap lembut Miranda dari belakang.


"Hem (senyum tipis Miranda yang menikmati pelukan kasih sayang dari kakak angkatnya itu)


"Setelah menikah, kasih sayang kakak pasti akan berkurang kepadaku, aku cemburu, aku akan kesepian," rengek perempuan muda itu.


"Hem, siapa bilang, justru semakin besar!" Tasya mencubit kecil hidung Miranda.


"Aku hanya bercanda kak, Hehe!


Oh Iyah kk, semua packing an sudah beres! Sekarang saatnya Bos ku yang cantik ini, harus makan!" Teriak imut Miranda.


"Hahaha, adikku tidak hanya cantik, baik, pintar, perhatian, ia juga sangat mahir memasak, betapa beruntungnya pria yang mendapatkannya!"


"Hehehehe! Aku suapi yah kak!" Miranda begitu ceria mengabaikan segalanya demi melihat Tasya bahagia.


"Boleh," Tasya menerima suapan kasih sayang Miranda dengan senang hati.


Tatapan Tasya yang lembut memandangi adik angkatnya itu.


"Terima kasih Miranda, kasih sayangmu bisa sama persis dengan adikku!"


"Iyah benar," jawab cepat Tasya


Keduanya tersenyum manis.


"Kak Tasya harus bahagia bersama Mas Rangga, dan ia memang pantas untuk Mas Rangga!" Batin Miranda.


***


"Di hari resepsi nanti? Kau bisa hadir kan? Sekaligus kakak akan perkenalkan dengan kakak ipar mu. Kakak ingin kau mengenalnya secara langsung. Ucapan Tasya sebelum menaiki pesawat.


Miranda hanya diam mengangguk dan langsung memeluk Tasya.


"Kakak harus bahagia!"


Tasya akhirnya terbang kembali ke Jakarta meninggalkan Miranda yang masih fokus menjalani pendidikannya.


***


"Hasil Lab terakhir, ternyata... berpotensi jika kamu juga memiliki riwayat penyakit sama seperti ibumu, Auto imun kronis yaitu lupus," Triana menunjukkan semua berkas hasil LAB kepada Tasya.


"Apah? (Tasya cukup terkejut) Aku sudah yakin itu?" Jawab Tasya lemas.


"Kamu jangan takut, kita harus optimis untuk bisa mencegahnya, saat ini teknologi pengobatan lupus sudah sangat berkembang?"


Tasya hanya diam saja, ia terlihat pesimis dengan sebuah pengobatan.


"kapan kau akan menikah dengan Rangga?" tanya Triana.


"Bulan depan, tolong rahasiakan ini dari siapa pun, aku mohon!" ucap Tasya.


"Bagaimana jika kamu memilih tidak menikah saja Tasya, karena kehamilan, melahirkan akan mempercepat drop nya kondisi kamu, juga resiko besar dalam kematian janin?"


"Aku ingin merasakan kebahagiaan, belaian, cinta dan kasih sayang dari seorang pria yang aku cintai, meskipun itu hanya sesaat meskipun itu harus melalui tekanan batin yang hebat! Aku ingin memiliki keturunan darinya? Bisakah itu terwujud?"


"Huuuft, baiklah kalau begitu, aku akan berusaha keras untuk terus membantu kamu, aku bisa memahami karena kau sangat mencintai Rangga."


***


Segala pengurusan pernikahan Rangga dan Tasya telah di persiapkan dengan sempurna.


Rangga datang dan memeluk Tasya dari belakang.


"Besok adalah hari dimana aku, akan menjadi pangeran mu sayang, kamu sudah siap kan?"


"Iyah sayang!"


Tasya begitu menikmati pelukan manja dari Rangga Dewa.


"Aku tidak perduli, meskipun hanya sesaat aku ingin sekali bercinta dengannya!


Tuhan, biarkan aku bahagia walaupun hanya sebentar saja, biarkan aku bisa melampiaskan rasa cinta dan nafsuku yang besar untuk Rangga!" Batin Tasya.


***


Hari pernikahan itu pun tiba, Rangga dan Tasya sepakat hanya melangsungkan akad pernikahan saja terlebih dulu, karena keduanya masih terhambat dengan jadwal pekerjaan yang sangat padat. Keduanya berencana akan mengadakan resepsi pernikahan yang megah di luar negeri.


Tatanan disain Akad yang sangat mewah terlaksana di sebuah hotel. Tasya sangat cantik dan anggun, meski usianya lebih tua dari Rangga tetapi mereka terlihat serasi.


Semua keluarga terlihat sudah berkumpul untuk menyaksikan akad pernikahan sakral itu.


Rusdy Hamzah adalah Ayah Tasya sekaligus wali pernikahan untuk sang putri.


***


"Saya terima Nikahnya Tasya Kamila Bin Rusdy Hamzah dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan 2 gram emas murni di bayar tunai"


lafadz akad pernikahan itu terucap jelas oleh Rangga Dewa, sejenak para saksi dan keluarga yang menyaksikan terlihat sangat bahagia dan mengucapkan rasa syukur.


***