
3 bulan kemudian.
Berkat dorongan Bude Karina, akhirnya aku memberanikan diri mengambil keputusan yang cukup terbilang terburu-buru.
Hari ini aku menikah dengan pria bernama Damar Prasetyo. Sosok pria yang sepenuhnya belum aku kenal, hanya ucapan promosi yang manis saja dari Bude ku. Berbeda dengan Rangga, meski ia juga pria yang tidak aku kenal, tapi Ibuku mengenal keluarganya dengan baik, merestui hubungan kami dan selalu mengatakan, Rangga itu terkenal brandalan tapi hatinya penyayang dan ibuku senang dengannya.
Jika boleh Jujur, sebenarnya aku belum siap menikah lagi, ada perasaan takut di dalam hatiku, aku tidak menyangka Mas Rangga langsung menjatuhkan talak tiga kepadaku, artinya tidak ada harapan lagi untuk kami kembali bersatu.
Delapan bulan bersama, banyak suka duka sudah kami lalui berdua. Tapi yah sudahlah, aku berharap, dia berhasil dan sukses meraih cita-citanya. Mas Rangga juga bisa mendapatkan wanita yang jauh lebih baik dari aku.
***
Rangga semakin fokus memacu dirinya dalam dunia disain bangunan dan interior ruangan. Bergelut pada waktu di kota Mega Metropolitan. Rangga yang pintar bergaul bisa mencari simpatik bimbingan dari teman-temannya yang sudah sukses. Jatuh bangun ia lalui, tidur hanya satu jam saja demi ingin melakukan pembalasan sakit hati dan penyesalan kepada Miranda.
Begitu Miranda menikah dengan Damar, untuk pertama kalinya disain interior Rangga Dewa dibeli oleh salah satu artis papan atas Hollywood, sebut saja namanya Adam Smith (inisial).
"Rangga...Rangga!" Panggil Vino Febian tampak histeris hingga menari-nari di depan Rangga yang sedang merasa tubuhnya panas dingin saat mendengar kabar dari teman-temannya di desa, jika Miranda sudah menikah dengan Damar. Hati pria itu masih tidak rela ketika tubuh sang mantan istri dinikmati oleh pria lain, cinta yang dalam kini berubah menjadi kebencian.
Vino Febian kerabat sekaligus teman Rangga satu teamnya. Selain belajar disain, Ia juga sedang kuliah mengambil jurusan sekretaris. Vino salah satu anak pengusaha kaya yang mendirikan komunitas Arsitektur di Jakarta dan membangun rumah inap bagi para anak rantau.
Mengenal Rangga, Vino langsung tertarik berteman dekat dengan pemuda asal desa itu. Vino banyak membantu Rangga dalam urusan finansial. Keduanya cocok berteman dan sering bersama saling curhat masalah pribadi. Meskipun Vino terlahir menjadi anak orang kaya, tetapi ia suka berteman dengan Rangga dan mengikuti pola hidup sederhananya. Vino memiliki sifat, periang, humoris, jahil. Usianya 2 tahun lebih muda dari Rangga.
***
"Rangga! kerja keras Loh beneran enggak sia-sia selama ini, akhirnya membuahkan hasil Bro! Wooooooooh!" Jerit pria itu.
"Kamu bicara apa!" ucap Rangga lesu dengan raut wajah kusut.
"Lihat!" Vino menunjukkan sebuah kertas.
Rangga pun memperhatikannya.
"Tak tanggung-tanggung, Adam Smith artis dari Rusia (inisial) memborong karya disain Loh dan menghargainya satu Milyar Rupiah!"
Rangga masih bengong
"Enggak lucu!" Respon Rangga tidak percaya.
"Hais! Bro, gua emang orangnya jahil banget, tapi lihat situasi juga, kalau lu enggak percaya, telpon deh! Mas Bara (Marketing online)" kata Vino.
Saat Rangga memastikan kebenaran dari ucapan Vino, Rangga baru benar-benar percaya, tapi justru raut wajahnya tidak bahagia.
"Ciah! Malah murung! Mana ekspresi bahagia Looooh! Bukannya ini yang lu tunggu-tunggu selama ini!" Kata Vino merasa tidak habis pikir melihat sahabatnya itu.
"Semua serasa sudah terlambat, padahal jika penjualan disain ini laku, semua uang ini akan aku serahkan kepada Miranda!"
"Yah ellah! Miranda lagi-Miranda lagi, Cemen Loh! Nangis mulu karena perempuan!"
("Hem! Jadi penasaran sama Miranda, kayak apa sih orangnya, membuat Rangga tidak bisa melupakannya!" gumam Vino)
"Rangga! kalau elu banyak duit, mau cewek bentuknya bulat, kurus, pendek, tinggi, petak, bergelombang, pasti mudah lu dapatkan. Modal tunjuk doang nih! Mereka bakalan datang menyerbu loh!"
Rangga hanya menunduk
"Jangan sedih Bro! Aku bakalan jodohkan kamu dengan wanita hebat terbaik, berpendidikan, keturunan bangsawan, cantik banget, cerdas, pokoknya, sempurna!" ucap Vino menghibur Rangga.
"Aman, ayo senyum, 1 M mau di buat apa? Apa mau langsung menikah?"
"Haha, perjalanan karir ku masih panjang, separuh uangku ini, akan aku serahkan kepada ibuku dulu, Orang tua pantas menikmati awal hasil jerih payah kita!"
"Weeeeees kereeeen 👍 saluuuuut! Ini baru pria! Anak berbakti, boleh bandal asal bisa membanggakan, yah enggak Bro!" puji Vino dengan kedua jempolnya.
"Haha, masa menjadi Brandalan itu sudah berlalu, saatnya berubah menjadi satria sukses!" jawab Rangga kembali bersemangat.
"Hahaha, yang pasti bukan satria baja hitam kan?" ledek Vino merangkul sahabatnya itu.
"Yup!" keduanya senyum tawa dan happy bersama. Rangga puas dengan hasil kerja kerasnya.
***
Keberhasilan Rangga yang baru saja beberapa bulan di Jakarta juga menggemparkan warga desa, banyak yang menuding Rangga menjadi penjual Narkoba. Namun Kasiman dan Narwati percaya kepada anak lelakinya itu. Rangga juga mengancam warga desa yang menuduh ia kaya mendadak karena hasil menjual barang haram, akan di penjara dalam pasal pencemaran nama baik dirinya agar membuat warga desa yang nyinyir tidak berani lagi.
Ketika baik buruknya hidup seseorang, akan selalu menjadi komentar di mata orang lain.
***
6 Bulan berlalu berlalu.
Kuala Lumpur, Malaysia.
"Apa Kau sudah gila akan menjualku?"
"Aaaarrgh, Dasar kau wanita tidak berguna!"
"Prak!" tampar Damar kepada Miranda wanita itu terhempas ke kasur. Ia hanya bisa menangis sesenggukan.
"Layani Pria itu, dia sangat tertarik dengan tubuhmu!" ucap Damar yang ternyata si pria bajingan. Ia pergi setelah menerima sejumlah uang.
"Hei Pria Gilaaaaaa!" jerit Miranda kepada Damar.
"Hayo sini sayang kau milik ku saat ini!"
Terjadi pergulatan hebat antara si pria hidung belang yang sudah tua dengan Miranda dalam membela kehormatannya sebagai wanita yang baik-baik.
"Bruk!" Miranda berhasil menusuk perut pria si hidung belang yang sudah tua dan lolos dengan meminta bantuan kepada pelayan hotel.
***
Terlihat sosok wanita berjalan terhuyung-huyung penuh luka disekujur tubuhnya.
Malam yang begitu gelap, terasa begitu mencekam, ditambah lagi udara yang sangat dingin merasuki tulang-tulangnya yang rapuh. Miranda bersandar menutup mulutnya bersembunyi di suatu tempat.
"Cepat kejar dia?" teriakan segerombolan bodyguard pria mengejar wanita bernama Miranda Putri.
***
Saat dimana airmata itu sudah habis, aku hanya bisa merenungi nasibku yang malang. Diam tanpa kata-kata, Aku mengira menikah dengan Damar adalah jalan keluar menuju surga yang begitu indah, justru sebaliknya, serasa ada di dalam neraka yang sangat pedih dan penyiksaan yang amat sakit.