
Miranda menatap fokus wajah Vino.
"Kamu siapa?"
"Aku sahabatnya Tasya juga Rangga!"
Sedikit Ragu akhirnya Miranda berkenan turun dan berpindah mobil.
Keduanya pergi mencari tempat yang nyaman untuk bicara.
***
Ucapan Rangga yang masih tergeletak lemas di atas kasur.
"Aku sangat benci Miranda, kau benar-benar sudah menghancurkan semangat hidupku!"
"Aku sungguh lelah dengan cinta!"
"Apakah Tasya juga akan pergi meninggalkan ku!"
"Mengapa hidup ku serasa hancur seperti ini, aku sangat haus kasih sayang, cinta dan perhatian, adakah wanita yang bisa mengerti aku. Hidupku sangat hampa. Harusnya aku bahagia dan sempurna dengan karir juga harta yang berlimpah!"
***
"Ayo minumlah! Jangan takut, aku tidak jahat!" ucap Vino memandang manis Miranda sambil menyodorkan minuman jus yang telah di bawa oleh pelayan Resto.
"Terima kasih?"
"Mungkin kita sudah saling mengenal nama? Namun belum pernah bertatap muka?"
"Iyah!"
"Bagaimana dengan kuliah mu?"
"Aku mengajukan pindah ke Jakarta setelah mendengar kabar tentang penyakit kak Tasya!"
"Oh Iyah?" Vino cukup terkejut sekaligus terharu dengan sikap Miranda.
Suasana hening sejenak.
"Aku dan Tasya berteman sejak lama, kedua orang tua kami menjalin bisnis bersama, aku juga yang mempertemukan Rangga dengan Tasya. Aku tidak pernah tau jika Tasya mengidap penyakit turunan dari ibunya, setelah keduanya bertemu, ternyata mereka saling cocok hingga akhirnya menikah!"
"Ouh!"
"Saat pertama kali aku bertanya kepada Tasya tentang sosok adik angkatnya dan ia langsung menunjukkan foto dirimu kepadaku, aku sudah menduga reaksi Rangga akan terjadi seperti ini. Ada dua hal yang membuat Rangga begitu shock, yang pertama saat mengetahui Tasya mengidap penyakit lupus dan yang kedua setelah mengetahui jelas bahwa kau ternyata adalah adik angkatnya. Tadinya aku berharap kau tetap ada di kuala lumpur jangan pernah kembali ke Jakarta!"
"Kak Tasya adalah orang yang banyak berjasa untuk ku, aku tidak mungkin sanggup membiarkannya tenggelam dalam kesedihan dan berjuang sendiri."
"Tasya sangat mencintai Rangga!"
"Sekali lagi aku tegaskan kedatangan ku hanya untuk Kak Tasya, bukan kembali untuk Rangga!" Jawab Miranda mulai kesal menantang Vino. Ia pun bangkit lalu pergi meninggalkan laki-laki itu.
"Mir...Miranda tunggu sebentar, Vino buru-buru membayar bill tagihan minuman mereka, lalu kembali mengejar Miranda."
Tiba-tiba hujan turun rintik-rintik, angin mulai berhembus halus menyapu wajah dan tubuh Miranda, ia merasa sangat kedinginan, suasana tampak semakin malam.
Dengan sigap Vino membuka jasnya dan menggantungkannya di bahu Miranda.
Sontak Miranda melihat ke arah Vino yang membuat mereka saling memandang.
"Memandangnya seperti ini, mengingatkan aku kepada seseorang?" Batin Vino.
"Mari aku antar!" Ajak Vino.
"Maaf jika aku salah bicara!" ucap Vino di dalam mobil, Miranda hanya diam membisu. Ia sangat tidak mengerti bagaimana caranya menjelaskan kepada mereka yang selalu salah paham dengan niatnya untuk datang ke Jakarta.
Diam-diam Vino mulai respon dengan Miranda. Memang Ia belum pernah bertemu langsung dengan wanita itu namun sifat dan tingkah lakunya sudah banyak ia dengar dari Tasya dan Ibu Rangga.
"Miranda jika ada perlu apa-apa, hubungi saja aku. Tadi, Aku sudah mengirim pesan ke
Ponsel."
"Terima kasih Mas Vino!"
Setelah melepas jas Vino dan mengembalikannya, Miranda langsung masuk menemui Tasya. Wanita itu tidak suka basa-basi di depan pria.
Vino masih berdiri melihat langkah Miranda dari belakang.
"Auranya cukup memikat pria, pantas Rangga sangat tertarik dengannya!" Batin Vino.
***
Diam-diam Miranda masuk ke kamar Tasya.
"Kakak, izinkan aku disini bersama kamu, kedatangan ku hanya ingin merawat kamu, tidak ada tujuan lain?" Rengek Miranda menjatuhkan kepalanya di atas kasur, tepat di samping Tasya berbaring.
"Aku sayang kepada kakak!"
"Tolong percaya kepada ku kak?"
Kata-kata Miranda ternyata didengar oleh Tasya, air matanya menetes kecil. Sebuah perasaan yang benar-benar campur aduk di hatinya.
Kepala Miranda terasa pusing, ia pun tertidur kecil.
"Aku tidak boleh seperti ini kepada Miranda, ia pasti sangat tersiksa!"
Batin Tasya mengusap lembut kepala Miranda. Tasya bisa merasakan ketulusan hati adiknya itu.
"Boleh kan kak?" Tatapan Miranda berkaca-kaca merasa haru yang dalam.
"Saat ini aku tidak menginginkan apa-apa selain kesehatan kakak!"
Tasya mengangguk kecil pertanda setuju.
"Terima kasih kakak!" Miranda langsung menangis memeluk Tasya.
Keduanya saling berpelukan haru.
***
Miranda mengabaikan kuliahnya demi selalu menemani Tasya, mulai dari menyuapi makan, memandikan, menyisir rambutnya yang sudah rontok. Badan Tasya juga terlihat sangat kurus. Sesekali Miranda menangis dengan kondisi Tasya.
"Terima kasih Miranda, kau sudah mau merawat ku! Ketika orang-orang mulai menjauhiku, kau malah berusaha datang untuk merawat ku!"
"Ini sudah tugas ku kak!"
"Buka leptop mu, kerjakan semua tugas-tugas kamu, bukan kah kau sudah berjanji kepadaku, akan menyelesaikan pendidikan mu sampai sarjana, lalu memakai toga untuk ku!"
"Iyah kak!"
Sembari menjaga dan merawat Tasya, Miranda kuliah dan menyelesaikan tugasnya.
***
Rangga juga sering terbaring lemas di kantor dan kamarnya akibat mengalami kelelahan. Hal itu di ketahui oleh Tasya.
Salah satu team Dokter yang menangani kelurga Tasya melaporkan kondisi Rangga.
"Tuan Rangga memilih suplemen yang mengandung obat kuat untuk pria, Nona. Saya sudah mencegahnya. Tetapi, ia merasa suplemen itu yang cocok untuk menunjang kinerja otak dan staminanya?"
"Lantas mengapa kondisi semakin drop?"
"Maaf Nona, hasrat **** itu harus di lampiaskan dengan sempurna, jika tidak kondisi Tuan Rangga akan semakin menyiksa dirinya."
Tasya tertegun mendengar pernyataan dari sang Dokter.
"Rangga masih setia untukku, padahal ia bisa melakukannya dengan siapa dan dimana pun!" batin Tasya merasa haru.
"Apa dia tau tentang hal ini!"
"Saya sudah menjelaskannya Nona!"
"Hanya itu solusinya?" tanya Tasya.
"Benar Nona!"
"Baiklah terima kasih!"
***
Tasya masih bertahan menunggu kehamilannya sampai memasuki 7 bulan dengan kontrol ketat oleh tim dokter yang siaga 24 jam.
Demi Tasya, Rangga sudah mulai tegar dengan hidupnya, ia sudah tidak menghiraukan keberadaan Miranda lagi, tidak mengejar cinta yang Justru menyakitkan hatinya, mulai mengubur semua tentang Miranda. Ia hanya fokus kepada perkembangan kesehatan Tasya dan kehamilan istrinya dengan cara mengirimkan tim Dokter hebat dari berbagai manca negara dengan membayar mahal setiap langkah mereka untuk Tasya dan calon anaknya.
"Aku tidak bisa mengunjungi kamu sayang, kondisi ku juga kurang fit dan sangat lelah!" kata Rangga dari video call.
"Tidak apa-apa Mas, aku akan kirimkan Miranda berapa hari ini, untuk merawat kamu, hanya sementara!" ucap Tasya dengan santai.
"Apah?😳😳" Mendengar perkataan Tasya, Jantung Rangga serasa ingin lepas.
"Miranda sedang mengerjakan banyak tugas untuk mempercepat kuliahnya, tolong bantu dia Mas?" pinta Tasya.
"Tasya, kamu tau kan Miranda itu siapa?
Lagian aku sudah sehat tidak perlu di rawat lagi!" Rangga berusaha membantah.
"Aku tau Mas! Dia memang mantan kamu! Tapi dia adikku, untuk saat ini, aku tidak percaya dengan siapapun, kecuali Miranda!"
"Trup!" Tasya langsung mematikan ponselnya.
Rangga langsung lemas tersungkur di lantai.
"Apakah Tasya tidak waras lagi, membiarkan suaminya tinggal dan dirawat oleh mantan istrinya?"
Tubuh Rangga menggelepar di atas lantai bak ikan duyung di lempar ke daratan.
"Jika Miranda tinggal bersamaku, Bagaimana aku bisa mengendalikan si 'Otong' Matilah Aku!"
(batin Rangga)
***
"Dengan keberadaan Miranda di samping kamu, Aku ingin lihat, apakah kau masih setia untukku atau tidak?
Benarkah kau membenci Miranda?
Tapi nyatanya kau memang butuh seorang istri, aku tidak boleh egois, aku harus ikhlas."
(Batin Tasya meneteskan air mata)
(batin Tasya)