
"Mira? Aku minta maaf!"
Kata Rangga dalam nada penyesalan dari balik pintu, ia mencoba ingin masuk kembali namun mengurungkannya dan hanya bisa menundukkan kepala.
Terlihat Miranda menangis tersedu-sedu sambil menutup mulut, ia bisa mendengar ucapan Rangga, Tubuhnya sampai melorot ke lantai, terduduk lesu di balik pintu.
"Aku tidak bisa? Sulit untuk mengulangnya lagi? Ini sungguh menakutkan!" ucapnya dalam linangan kepedihan cinta.
Dimana cinta Rangga mulai berkibar untuk Miranda, wanita itu justru menjauh, kehilangan arah dan tak mampu lagi berpijak di hati Rangga.
Dengan langkah yang lesu, Rangga masuk ke dalam kamarnya. Membuang kotak cincin mahal itu begitu saja di atas meja. Ia terduduk sambil merebahkan kepala menatap langit hitam di malam yang semakin larut.
"Apakah hubungan ini hanya sampai disini saja? Atau aku harus berjuang lagi demi cinta?
Harusnya aku bisa lebih mengalah, tidak tega melihat airmatanya"
Rangga tampak begitu galau sambil menghembuskan asap rokoknya dan tanpa di sadari, ia sudah menghabiskan setengah kotak rokok dalam waktu yang sangat cepat.
***
Pagi yang cerah, jam dinding bergerak di angka 07.30 Wib, Rangga memaksakan diri bangkit dari kasurnya. Ia bergegas mandi. Dalam jatuhan air shower, segala perbincangannya bersama Miranda tadi malam masih terekam jelas dalam ingatan Rangga.
Setelah mandi, Rangga keluar dari kamar namun ia tidak langsung turun ke bawah, Pria itu berdiri melihat suasana lantai bawah khususnya ruang makan. Rangga menyaksikan Miranda tengah sibuk menghidangkan sarapan untuk kedua orang tuanya. Si bayi Olivia yang imut juga sudah mandi dan cantik, ia duduk manis di kursi makan khusus balita menunggu sarapannya.
"Mir, Bapak tidak terbiasa sarapan dengan roti-roti seperti ini, sudah dari dulu sarapan itu harus makan nasi dan harus ada ikan asin dan sambal terasinya, hehehehe!" tawa Kasiman membuat sang istri geleng-geleng kepala.
"Iyah Pak!" jawab senyum Miranda.
"Woi...Ayo semua sarapan?" teriak Kasiman kepada semua pelayan, para pelayan pun hanya mengangguk dan tersenyum kepada Kasiman, pria tua yang datang dari desa. Meski Anaknya sudah menjadi kaya raya ia tetap saja bergaya sederhana dan apa adanya.
"Maafkan Bapak yah Mir, kamu jadi repot, bangun pagi-pagi sudah mempersiapkan semua ini," ucap Rianti.
"Tidak apa-apa Bu! Ada pelayan yang membantu Miranda."
"Bapak mu ini memang sulit sekali jika di bawa kemana-mana, sambel terasi itu saja yang menjadi andalannya, kadang ibu malu jika di ajak Rangga ke Restauran besar!"
"Enggak Apa-apa Bu, selagi Bapak mau makan!"
"Tuuuuh, Dengar tu, Miranda saja paham, kalau kamu malu, cari suami mu yang lain?" jawab ketus Kasiman membawa maknannya sambil duduk di sofa ruang tv. Kakek tua itu santai makan sambil menyaksikan berita, seperti kebiasaannya di rumahnya sendiri.
"Huuuft, Bapak itu memang begitu, enggak ada romantisnya, makan harus di depan tv enggak perduli istrinya makan sendiri di meja makan!" ucap Rianti, mulutnya terlihat peot-peot.
"Jadi ibu masih ingin diromantisi!" ledek Miranda.
"Hehe, namanya juga perempuan Mir!"
Rianti juga melihat i Miranda yang sedang sibuk menyaring makanan MPASi untuk Olivia.
"Miranda memang benar-benar telaten dalam mengurus orang tua, suami dan anak. Sebenarnya wanita seperti ini lah yang harus tetap bersama Rangga, Putraku itu juga sudah kaya, seharusnya tidak perlu lagi mencari istri kaya. Entahlah, semoga saja ada jalan keluar dari semua ini!" hati kecil Rianti.
Rangga masih tetap berdiri fokus menyaksikan kesibukan mereka sambil melipat kedua tangannya.
"Banyak wanita yang jauh lebih cantik, kaya dan berpendidikan dari pada Miranda, tapi...apakah mungkin mereka bisa berperan seperti Miranda dan apakah mereka bisa menyayangi Ibu dan putriku dengan tulus?" gumam Rangga, rasa cinta itu semakin besar melihat ketulusan sang mantan istri kepada keluarganya meski tanpa dirinya.
*
Kaki mungil Olivia mulai bergoyang-goyang tanda tidak sabar ingin melahap sarapannya. celemek imutnya juga sudah siap tergantung di lehernya.
"Mam...Mpa..mpo...bibi...Cici...!" ocehan gemes Olivia.
"Baaaaa, Olivia sudah tidak sabar yah mau makan! Hayo cepat Bun...!" kata Rianti.
"Sabar yah sayang!" jawab Mira mempercepat tangannya.
"Enggak terasa yah Mir Olivia sudah makan?"
"Iyah Bu!"
"Andai saja Kak Tasya bisa melihat putri cantiknya ini, ia pasti sangat bahagia!" batin Miranda.
"Sudah selesaaaaai!" teriak kecil Miranda.
"Sudah jam segini, kenapa si Rangga belum bangun juga yah, Mir?" Rianti melihat ke arah atas, reflek Rangga menunduk cepat bersembunyi.
"Biasa sudah bangun kok Bu! Mas Rangga itu pagi-pagi sudah berangkat ke kantor!" jawab Miranda.
Rianti dengan cepat mengambil wadah makanan Olivia.
"Sini Biar Ibu saja yang kasih makan Olivia, kamu bangunin Rangga yah! Mungkin ia ketiduran, tuh anak masih saja suka bangun siang!"
Mendengar ucapan Rianti, reflek Rangga berlari cepat masuk kembali ke kamarnya sampai dahinya terbentur pintu.
"Aaaarrgh!" keluhnya sambil mengusap-usap dahinya.
*
"Kenapa Ibu menyuruh aku, bukankah ia tau jika kami ini sudah bercerai!" batin Miranda.
"Tapi sebaiknya Ibu saja!"
"Haduh Mir! Kamu seperti tidak tau saja kondisi kaki nenek-nenek seperti Ibu, kalau naik-turun tangga suka nyeri."
"Ada lift Bu!" jawab cepat Miranda.
"Waduh, ibu tidak pandai!" alasan Rianti.
"Ouh sebaiknya Iroh saja!" ucap Mira menghindari masuk ke kamar Rangga. Ia pun memanggil sang kepala pelayan agar membangunkan majikannya, dengan cepat pula Rianti memberi aba-aba dari belakang tubuh Miranda agar Iroh menolaknya.
"Maaf Nona, Iroh lagi sibuk?" jawabnya berlari ke dapur.
"Biasanya dia tidak pernah membantah, apa mungkin karena aku sudah tidak lagi menjadi majikannya!" batin kecil Miranda.
Begitu Miranda menoleh ke belakang, Rianti dengan sigap berbalik dan mulai memberi makan Olivia dengan bahagia.
"Duuuu, cucuku yang gemes!" ucap Rianti dengan riang.
Merasa tidak tau lagi, harus menyuruh siapa, Miranda terpaksa naik ke atas membangunkan Rangga.
"Mengapa ia belum bangun juga, apa karena perbincangan kami tadi malam membuat ia tidak tidur!" batin Miranda berjalan menuju kamar mantan suaminya itu.
"Mas Rangga? Bangun!" teriak Miranda dari balik pintu luar.
"Loh, tidak terkunci!"
Saat mendengar langkah kaki Miranda, jantung Rangga pun mulai berdetak cepat, ia langsung berpura-pura tidur.
"Aku harus, berhati-hati siapa tau ia sedang tidak memakai pakaian!" gumam Wanita itu ia terus melangkah memasuki kamar Rangga yang luas dan mewah.
Melihat ke arah kasur
"Ia masih tidur!" ucap Miranda, langkahnya terus berjalan mendekati kasur, tangan lembutnya perlahan-lahan ingin mengguyur tubuh Rangga. Tiba-tiba dalam gerakan lihai tangan Rangga menarik cepat tangan Miranda.
"Aw!" teriak wanita itu terkejut tubuhnya terjatuh di atas tubuh Rangga, ia pun meronta-ronta namun Rangga mendekap Miranda dengan erat layaknya sedang memeluk guling Favorit.
"Rangga lepasin, kamu jangan bertingkah gila, kita sudah bercerai!" kata Mirandaš®
"Hanya sebentar saja! Please, aku butuh kehangatan ini!" bisik Rangga dalam senyumannya yang manja.
Setelah badai kehidupan yang menghiasi perjalanan cinta Rangga dan Miranda, Keduanya sudah terjebak saling jatuh cinta dalam iringan detak jantung yang berdebar-debar.
"Mengapa dekapan ini sangat hangat dan aku justru membiarkan ini terjadi, Ayo Miranda bangkitlah!" ucapan batinnya yang bergejolak.