
Apartemen Vino.
"Brup!" Vino mendorong sang pelaku masuk ke dalam kamar mandi dalam tangan terikat lalu mengguyurnya dengan shower yang sangat deras. Kepala wanita itu terasa sakit.
Vino melihat papan nama wanita itu di jas Dokternya.
"Sania Lauren!"
"Nama yang sangat jelek seperti tingkah laku manusianya," ucap Vino.
"Ampun! Ampun Tuan!" ucapnya memegangi kaki Vino mendongakkan wajahnya memohon belas kasihan kepada lelaki itu.
"Hem, wanita ini cantik dan wajahnya juga terlihat polos, tapi mengapa ia tega melakukan kejahatan ini!" batin Vino.
"Apa motif mu membunuh bayi yang tidak berdosa, apakah profesi mu sebagai Dokter hanya sebagai kedok menutupi kejahatan mu itu!"
"Tidak!"
"Tidak!"
(Menggelengkan kepala)
"Aku...aku!" (Dalam bibir bergetar)
Vino terjongkok dan mengangkat dagu wanita itu lalu menatapnya dengan tajam.
"Aku tidak suka cara ucapan mu yang terlalu bertele-tele!"
"Jawaaaaab!" Teriak keras Vino persis di depan wajah wanita itu dengan mulut yang terbuka lebar.
Wanita itu semakin ketakutan dalam tubuh yang bergetar.
"Karena aku membenci Tasya!"
Vino membuang dagu sania dengan kasar.
"Heh😏 Benci, apa kau manusia yang terlalu iri kepadanya."
"Aku tidak pernah iri kepada siapapun. Tasya sudah membunuh kakakku!"
"Membunuh? Jangan berkata yang tidak-tidak, aku mengenal Tasya, ia tidak mungkin seperti itu!"
"Benar, ia memang tidak membunuh secara fisik tapi secara batin."
"Ouh Iyah, Batin siapa?"
"Tasya Kamila adalah wanita yang sangat sombong, egois, juga licik. Sebelum ia menikah dengan Rangga. Tasya sudah lama hidup berdua dengan Kakak ku bernama Juno Rendra. Kak Juno sangat mencintai wanita itu, bahkan lebih dari dirinya. Rela melakukan apapun demi dia. Sebelum sakit, Tasya sudah pernah hamil anak dari kakak ku, tetapi ia cepat-cepat menggugurkan bayinya dengan alasan malu dan ingin mengejar karir.
Tasya tidak pernah mencintai kakak ku dan selalu menolak lamaran kak Juno, ia hanya memikirkan bisnis dan kehidupannya hingga suatu hari ia pergi meninggalkan kak Juno begitu saja dengan tujuan menghindar juga menghilang tanpa jejak. Kak Juno seperti orang gila, berusaha terus mencarinya dan betapa terkejutnya ia telah mendapati Tasya telah bertunangan dengan Rangga. Kakak ku sangat terpukul, hatinya hancur.
Aku akui, usaha kak Juno tidak sehebat dan secerdas Rangga. Tapi ia berjanji akan bekerja keras untuknya, Kak Juno juga rela pindah agama demi Tasya. Ia sudah sangat tergila-gila dengan wanita itu, Jiwa dan batinnya yang tidak terima membuat ia stress dan hilang kendali, lalu pergi mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi. Kendaraannya terguling dan Kakak ku tewas di tempat, ia begitu menderita dengan cintanya terhadap Tasya, sedikitpun kak Tasya tidak datang kepada kami untuk meminta maaf apalagi melihat makam terakhir kakak ku.
Satu bulan kemudian, Ibuku sakit parah dan sangat stres memikirkan nasib akhir hidup kakak ku, ia adalah tulang punggung kami. Karena terlalu memikirkan itu, ibu ku juga ikut meninggal dan sampai saat ini, ayah ku sedang sakit parah. Apakah aku harus diam saja, aku tidak terima dengan semua ini!" Jerit Sania di hadapan Vino.
Vino kembali mencengkram dagu Sania.
"Apapun ceritanya, tindakan mu tetaplah salah, tidak seharusnya kau melampiaskan dendam itu kepada bayi yang tidak berdosa!"
Rangga membuang dagu Sania.
"Karena aku ingin melihat dia menderita sama seperti aku!"
"Apakah saat ini ia sudah sakit dan kritis, tidak cukup menderita menurut mu?" Tanya balik Vino.
Sania menunduk menahan perih di hatinya.
"Hei, jawab!"
"Aku kurang puas, ia harus lebih menderita lagi?"
"Ok, jika kau kurang puas! Akan ku puaskan kau malam ini!"
Mata Sania melotot tajam.
"Buka baju mu!"
"Tidak...!"
"Kau adalah tawanan ku!"
"Aku berjanji akan melakukan apapun yang kau mau, tetapi tidak untuk begitu...aku mohon jangan, aku masih perawan!"
"Hahahahaha, tampang mu masih perawan!" Tawa Vino.
Sania semakin takut menghadapi Vino.
"Mulai hari ini, namamu akan ku ganti menjadi MIRANDA agar kau berubah menjadi wanita yang lebih baik dan sabar," bisik Vino.
"Ba... baiklah, tapi jangan sentuh tubuhku, aku mohon!" Rengek Sania.
Vino keluar dari kamar mandi.
"Sebelumnya aku pernah mendengar dari Miranda Agustina tentang pria bernama Juno Rendra mantan kekasih Tasya. Apa salah satu rasa bersalah ini juga yang membuat Tasya berubah menjadi dewa penolong dan pada akhirnya Tasya juga tidak mendapatkan balasan cinta yang sempurna dari Rangga,
karma itu tetap lah ada!" batin Vino sambil menghembuskan asap rokoknya di
***
Pukul 05 pagi hari.
Miranda terbangun.
"Uaaaaah! Mas Rangga? Pa...pagi sekali datangnya?" Miranda terkejut melihat sosok serba hitam dengan topi dan jubah hitam tiba-tiba masuk ke ruang Olivia yang luas.
"Katanya jaga in orang sakit, nyenyak banget tidurnya!" tegur Rangga sambil menenteng dan membuka rantang menu sarapan yang enak.
"Heem!" Harum lezat makanan menusuk hidup Miranda hingga membawa langkah wanita itu bangkit dari kasur lalu berjalan mendekati Rangga.
"Buat Mira Mas!"
"Bukan, buat perawat-perawat cantik disini dong!"
Bibir manyun Mira langsung terlihat.
"Hem, yah buat kamu lah, sekaligus merasakan suasana sarapan bersama dengan Olivia."
Miranda kembali tersenyum.
"Setelah itu kita mandi bareng di pagi hari!" bisik Rangga.
"Hah 😳!"
"Jangan-jangan!" ucap Mira.
"Jangan sampai gagal kan!" kata Rangga menggoda istrinya.
Wanita itu mencubit kecil tulang rusuk Rangga, reflek pria itu menggeliat dan pancake yang baru saja ia gigit terjatuh bersama air liurnya.
"Hihihi, kamu jorok banget Mas, ences mu sampai jatuh!" Ejek Mira.
"Dulu memang ences ku jorok dan tidak laku, sekarang jika di jual harganya bisa mengalahkan emas dan laris manis."
"Hahaha😝, aku tidak berminat!" kata Mira cekikikan kecil.
Setelah sarapan, Rangga berangkat kerja dari rumah sakit. Miranda membantu memakaikan pakaian.
Rangga memeluk Miranda dari belakang. Spontan wanita itu senyum-senyum dan tersipu malu. Rangga memutar tubuh istrinya lalu mengecup manis bibir Miranda.
"🤪 Masih bau!" Ledek Rangga.
"Bau-bau di cium juga!" Kata Mira bergerak pergi, Rangga kembali menarik Miranda dan memeluknya dengan pelukan hangat, nyaman dan penuh kasih sayang.
"Mau gimana lagi!" Jawab Rangga.
keduanya tersenyum bersama. Malu-malu dalam kasmaran.
Tiba-tiba terdengar langkah perawat memasuki ruang Olivia.
"Mas, ada yang datang!"
Dengan sigap Rangga melepaskan pelukannya, menyudahi sarapan mesra-mesranya di pagi hari.
"Selamat siang Tuan Rangga, Nona Miranda, saatnya jadwal bersih-bersih si dedek kecil yah," senyum para perawat.
"Ouh, Iyah silahkan!" ucap Miranda ramah.
Rangga dan Miranda melihat fokus kepada Baby Olivia yang sedang di bersihkan, tampak bayi imut itu sedang melakukan gerakan yang menggemaskan.
"Lucu yah Mas!"
"Hem!"
"Semoga ia tumbuh menjadi gadis yang cantik seperti ibu-ibunya!"
Miranda hanya tersenyum.
Setelah selesai, Rangga memutuskan pergi ke kantor.
"Aku pergi dulu sayang? Jaga baik-baik anak kita! Jangan lupa mandi!"
"Hem!" Miranda mengangguk manis.
Setelah Rangga pergi, Miranda bergegas mandi dengan hati yang berbunga-bunga, cinta itu mulai kembali merasukinya.
***
Di dalam mobil, Rangga bergumam dalam hati kesombongannya;
"Aku rasa tidak terlalu sulit menaklukkan hati Miranda, karena aku yakin dia sangat mencintai ku, Lagian wanita mana yang sanggup menolak ku saat ini. Trauma Miranda akan segera sembuh ketika sudah terkena rayuanku, jika wanita sekelas Tasya saja bisa bertekuk lutut, apalagi wanita seperti Miranda, terlalu mudah," Rangga tersenyum tipis.
Terlihat seorang perawat tergesa-gesa memanggil Miranda yang sedang mengerjakan tugas kuliah via laptop.
"Nona! Pasien Tasya Kamila sudah mulai sadar!"
"Apah!" Miranda menutup leptop nya lalu berlari mengikuti perawat ke ruang Tasya.
****
Jangan lupa di Vote yah guys! dan beri Giftnya. terima kasih.