
Vino bangkit dan bergerak ingin duduk di sebelah Miranda.
Dengan cepat tangan Rangga menghentakkan bahu Vino membuat langkah Vino mundur ke belakang, Rangga bergegas duduk di sebelah Miranda.
Vino hanya tersenyum geleng-geleng kecil melihat kebucinan terpendam sahabatnya itu. Benci-benci tapi cinta.
Spontan pula Miranda ingin bangkit.
Rangga menahan paha Miranda agar tidak bisa bergerak pergi.
"Apa maunya!" Batin kesal wanita itu, berusaha berontak menggerakkan kakinya. Menatap tajam ke arah Rangga.
Vino dengan serius menyoroti tingkah laku keduanya.
"Eehem!" tegur Vino.
Rangga dan Miranda spontan langsung duduk dengan baik.
"Untuk apa kau datang kesini! Bukannya masih banyak sekali pekerjaan yang akan kita selesaikan di kantor" Hentak Rangga pada Vino.
"Aku lelah sekali, juga ingin tau kabar Tasya!"
"Sudah aku katakan, dia masih dalam keadaan koma, percuma kau datang melihatnya!"
"Ouh yah Bro, malam ini si Dinda mengundang lu pesta di Apartemennya, bahkan ia sudah menyiapkan kamar spesial untuk lu, Gimana? Datang enggak?" Kata Vino menjebak raut reaksi Rangga di samping Miranda.
"Heh!" Rangga hanya tersenyum melirik cepat ke arah Miranda.
"Kenapa? Biasanya lu langsung mengatakan setuju!" Tantang Vino.
"Sssst... Ini rumah sakit, jangan ribut!" Jawab Rangga.
Merasa terabaikan Miranda membuka ponselnya lalu searching di dunia Internet mulai mencari bahan skripsi.
"Bro! Sekarang ukuran dada si Dinda sudah gede banget!" Kata Vino berkata genit berbisik menyodorkan wajahnya ke arah Rangga. Namun sangat jelas terdengar Miranda.
"Tiba-tiba aku ingat kampung, rasanya ingin pulang dan memeluk ibu, kembali kepada kehidupan ku dulu saat di desa, meski sulit tetapi tidak Rumit. Aku sangat menyesal menikah lagi dengan Rangga!" Dalam pikiran Mira.
Rangga melemparkan mancis rokoknya hampir tepat mengenai kepala Vino.
"Ues!"
"Bilang saja, jika kau yang suka, dasar kambing bandot!" hentak Rangga.
"Hahaha!" Vino tertawa terbahak-bahak. Ia merasa lucu melihat Rangga yang sangat gelagapan.
"Aku tidak suka yang palsu, jika isi dada seorang perempuan padat hanya berisi busa dan lendir, untuk apa?"
"Hahaha, yang penting yupi Bro!" kata Vino dengan bahagia.
"Ku serahkan saja kepadamu, aku sedang banyak pikiran!" jawab Rangga.
Miranda hanya terlihat murung melihat keduanya bercerita dalam tema favorit pria.
"Nona Miranda, Bisakah minta waktunya sebentar ke kamar bayi Olivia !" tiba-tiba seorang suster memanggil dirinya.
"Baik, sus!" Dengan cepat Miranda bangkit meninggalkan keduanya.
Rangga menyoroti langkah Miranda dari belakang dengan pandangan sosok pria bucin.
"Sepertinya istri kesayangan mu itu cukup kaku terhadap pria?"
"Memang harus seperti itu!" Jawab Rangga ketus.
"Sudah di buang masih di ambil kembali!" komentar Vino bersantai di sofa.
"Bukan urusan kamu!"
"Katanya gadis desa, bukanlah tipe yang menyenangkan, terlalu kuno dan tidak cerdas, bersumpah tidak akan pernah kembali lagi kepadanya, Huft!" ucap Vino mengejek Rangga.
Rangga terdiam menarik nafas panjangnya.
"Cek...cek..cek...judulnya, cinta mantan bersemi kembali atau mengejar cinta mantan!"
"Heh😏 Hanya tempat pelampiasan!" jawab gengsi Rangga.
"Oh Iyah, tapi aku menebak ia pun tidak mencintai mu lagi!"
"Itu kan di mulutnya saja, pasti beda di hatinya! Rangga si penakluk hati wanita," jawabnya dengan sombong.
"Haha, Kau begitu yakin!"
"Kami sudah tidur bersama!"
"What's😱?"
"Hem!"
"Kagak percaya gua!" Merasa terkejut Vino sampai merubah posisi duduknya.
"Terserah!"
"Busyet, enggak di anggap istri tapi di nikmati juga, atau itu memang kebiasaan lu!"
"Intinya dia sudah menjadi istriku, kami harus melakukannya! Sory🤔 Aku tidak suka tidur dengan wanita yang tidak berlabel!"
"Omong kosong."
"Terserah!"
"Kalau gitu, gua juga mau menikahi Miranda!"
"Hahaha! Katanya sekedar pelampiasan, aku juga ingin cicipi?"
"Emang masakan?"
"Huuft! Oke lah, tidak ada habisnya jika berdebat dengan dirimu!" kata Vino bersiap ingin pergi!
"Tapi kau harus tau, pernikahan ini akan menjadi bumerang bagi kalian, tidak bisa di anggap remeh, kau juga harus memperketat keamanan di rumah sakit, gua merasakan ada beberapa orang yang mencurigakan, termasuk suster dan Dokter yang bekerja disini. Mungkin targetnya Miranda dan Olivia. Ibu mertua tiri mu itu tidak akan mungkin tinggal diam dengan wasiat harta yang di berikan kepada Miranda!"
"Kalau dia berani aku yang menghabisinya!"
"Oke lah, gua cabut dulu," kata Vino dengan santai.
"Hem."
Saat langkah Vino mulai meninggalkan Rangga.
"Vin, bisakah kau membantuku di saat aku membutuhkan, tolong selidiki gerak-gerik ibu tiri Tasya!" Kata Rangga.
"Ok!"
***
Saat Miranda keluar dari ruang bayi, wanita itu melihat suasana ruang sofa sudah sepi.
"Kemana mereka!" gumamnya.
"Aku harus pulang dulu, tubuhku sangat lelah!" Pikirnya.
Miranda berjalan sedikit sempoyongan dan hampir jatuh, ia cukup lelah dan stres antara beban memikirkan Olivia dan Tasya serta urusan tugas kuliah yang sudah menumpuk.
Tiba-tiba tubuh lemah itu hampir terjatuh, Rangga yang muncul secara cepat dari belakang menangkap sigap tubuh Miranda yang hampir terhempas ke lantai. Ternyata ia menunggu pulang sang istri keluar dari ruang putrinya.
"Apa kau tidak makan?" tegur pria itu.
Dua bola mata sayup Miranda menatap dekat tatapan suaminya.
"Rangga!" Batin Mira, kepalanya terasa sangat pusing.
Dengan sigap Miranda berdiri namun staminanya terlalu lemah hingga tergelincir, Rangga menangkap tubuh Miranda dan langsung mengangkatnya dengan sekuat tenaga, membawanya berjalan memasuki mobil.
"Aku rasa kita perlu bekerja sama!" ucap Rangga.
Wanita itu hanya terlihat lesu menatap Rangga. Ia serasa ingin pingsan.
Sampai di mobil Rangga meletakkan Miranda dengan lembut lengkap dengan safety belt yang terpasang.
***
Rangga membawa Miranda kembali ke rumahnya. Wanita itu tertidur pulas selama perjalanan di dalam mobil, saat sampai Rangga mengangkat tubuh Miranda dan meletakkan di atas kasurnya.
"Bi, tolong urus dia, berikan vitamin dan pakaian serta peralatan kosmetik terbaik! Saya ingin ke kantor sebentar, pukul 19.00 saya akan kembali untuk makan malam."
"Baik Tuan!"
Rangga melaju dengan kencang menuju kantornya.
***
Hitungan jam pun berlalu.
"Miranda... Miranda!" Terdengar sayup-sayup suara yang menyerupai Tasya, suara yang cukup jelas terdengar di telinga Miranda, antara mimpi dan kenyataan.
"Kak Tasya!" seru Miranda bangkit dari tidurnya. Waktu bergerak di angka 18.00 wib, sore menjelang malam.
"Sampai detik ini kak Tasya belum sadar juga!"
"Aku ada dimana?"
Dalam sadarnya Miranda mulai mencoba mengenali suasana kamar.
"Ini kan kamar Rangga!"
"Tlek!" sebuah pintu terbuka.
"Nona! Pergi mandilah, ini pakaian mu! Setelah itu, makan sup hangat juga vitamin yang sudah saya sediakan di atas meja," pelayan melengkapi semua keperluan Miranda.
"Tidak perlu, aku mau pulang saja!" ucap Miranda.
"Nona!" Sang pelayan mengejar Miranda. Kepala pelayan itu meminta pelayan yang lain agar membawa paksa Miranda masuk ke kamar Rangga kembali.
"Hei, kalian mau apa? lepaskan aku!"
"Maaf Nona, kami tidak bisa melanggar perintah Tuan, kami tidak ingin di pecat seperti Pak Atar?"
"Apa? Pak Atar di pecat?"
Para pelayan itu mengangguk dengan cepat.
"kenapa?"
Mereka tidak berani memberi jawaban.
***
"Saya tidak ingin ada keturunan Tasya! Akhirnya wanita itu menerima azab kematiannya, dia wanita sombong yang suka sekali menghinaku, bisakah kalian bekerja untuk ku"
"Sedikit sulit karena pengawalan dari Tuan Rangga sangat ketat!"