MIRANDA

MIRANDA
Part 33-MRD



"Dia mematikannya?" kata Rangga dengan mata membesar.


"Sepertinya itu suara Vino!"


Rangga bergegas menelpon sahabatnya itu sekaligus partner bisnis terdekatnya untuk memastikan.


Ponsel vino bergetar hebat di saku celananya.


Melihat panggilan dari Rangga


"Hais!" keluh Vino yang sudah mengerti sosok Rangga, pasti sahabatnya itu akan langsung menelpon kepadanya.


"Hem?"


"Lagi dimana?"


"Di hati kamu!"


"Aku serius!"


"Bersama istri kesayangan teman?"


"KAU ADA DIMANA?" kata Rangga mulai merapatkan giginya.


"Aku ingin menjenguk Tasya?"


"Trup!"


Dengan cepat Rangga memutuskan percakapan mereka, ia bangkit mengganti pakaian dan langsung bergegas menuju rumah sakit.


"Aku yakin dia pasti sangat gusar, sama seperti kecoa terbalik!" batin Vino.


***


"Si Playboy tengil itu, tampak nya mulai mendekati Miranda," ucap Rangga melangkah cepat menuju garasinya.


Rangga yang sejak dahulu tidak bisa melihat ada sosok pria yang mendekati Miranda.


"Atar?" Panggil Rangga pada pria paru baya adalah supir pribadi Tasya, namun sekarang Pak Atar bekerja di rumah majikan pria.


Pak Atar mempercepat langkahnya.


"Saya Tuan!"


"Mulai hari ini kamu di pecat!"


"Salah saya apa Tuan?" tanya lelaki itu dengan bibir bergetar.


"Kamu masih bertanya?"


"Sa... saya benar-benar tidak mengerti Tuan?"


"Pagi ini, Miranda pergi! Kamu tidak tau atau tidak mau tau?"


Atar terdiam


"Bukankah setiap pagi tugas kamu adalah mencuci mobil?"


"Nona buru-buru sekali Tuan, ia pergi naik Taxi!"


"Sudah berapa kali saya katakan! kemanapun Miranda ingin melangkah, harusnya kamu melapor kepada saya secepatnya!"


"Ta...tapi...Tuan sedang tidur!"


"Jangan mencari alasan, lalu kau juga tega membiarkan dia naik Taxi? Jika terjadi apa-apa kepada istri ku, apa kau bisa bertanggung jawab?" Hentak Rangga dengan wajah memerah.


"Ma...maaf Tuan!"


"Pakai dong akal mu, jika aku darurat tidak bisa mengantarkannya, lantas kau biarkan ia terlantar di jalanan?"


Pak Atar hanya menunduk dalam wajah serba salah.


"Saya sengaja menarik semua mobil dari rumah Tasya termasuk kamu, agar saya bisa mendapatkan laporan kemanapun Miranda pergi?"


"Iyah Tuan!"


Rangga bergegas membuka pintu mobilnya.


"Tuan? Bisakah saya tidak di pecat, saya berjanji tidak akan membiarkan nona Miranda naik Taxi lagi!"


"Tergantung!"


Rangga langsung membanting pintu mobilnya lalu pergi begitu saja.


Terlihat Pak Atar berdiri kaku dan mulai mengomel sendiri melampiaskan kekesalannya;


"Tergantung apa ini? Apa tergantung pada buah mangga, buah dada? Tergantung bulan di langit hitam? Atau tergantung cinta mu padaku?


Arrkh! Si Bos payah, dia yang bucin dengan istri kedua, mengapa harus aku menjadi korbannya!"


"Istri tua sudah sekarat, lalu mengejar cinta istri muda, Anak zaman sekarang! Jatuh cintanya bertingkah aneh-aneh saja, harus mengorbankan nafkah orang kecil seperti aku!


lagian aku tidak pernah melihat Nona Tasya di perhatikan sangat istimewa seperti Nona Miranda."


"Huuuft! Benar-benar apes dah ah😩 hari ini nasibku sial banget!"😭


***


"Boleh saya duduk disini!" (Di hadapan Miranda) pinta Vino Febian.


"Iyah!" Jawab kaku wanita itu.


"Huh! Lelah sekali!" Keluh Vino yang baru saja pulang dari Tokyo.


Miranda hanya duduk kaku menatap kembali ke arah jendela, ia tidak kepo bertanya dari mana asal Vino datang. Wanita itu terlihat sangat galau.


"Bagaimana kondisi Tasya?" Tanya Vino memecah lamunan Miranda.


"Masih kritis!"


"Anaknya?"


"Kelahiran prematur harus menempatkan Olivia dalam inkubator selama 9 bulan!"


"Ouh!"


"Tidak usah, percuma saja di lihat, ia juga masih kritis?"


"Baiklah!"


"Tasya dan Rangga adalah dua sahabat yang aku percaya di dunia ini, sebab itu lah aku menjodohkan mereka dan tidak di sangka ternyata mereka saling menyukai dan akhirnya menikah!"


"Iyah!"


"Takdir saja yang tidak berpihak kepada dua sejoli itu! Tasya tetap saja mengikuti jejak ibunya!"


"Aku sangat berharap sekali kak Tasya bisa sembuh."


"Harapan yang sangat kecil," Jawab Vino.


Suasana sempat hening.


"Tasya mewasiatkan putrinya kepada mu?"


"Iyah?"


"Kau termasuk orang yang beruntung, hanya karena mirip dengan adiknya, yang juga bernama Miranda, ia langsung mengistimewakan dirimu."


"Iyah!"


"Tolong jangan kecewakan Tasya! Olivia pasti sangat berharga baginya!"


"Baiklah!"


"Lalu mengapa harus menikahi Rangga?"


"Kak vino juga tahu!"


"Hahaha, tentu saja aku tau, aku juga mengetahui pernikahan mu dengan Rangga hanya pernikahan siri?"


Miranda terdiam kaku mulai serius menatap Vino.


"Apa kau masih mencintai seorang mantan?"


"Tidak!"


"Menyukai hartanya?"


"Tidak?"


"Lantas, mengapa kau menerima kembali pernikahan itu, membuka lagi masa lalu!"


"Aku tidak tahu, semua ini kemauan keras kak Tasya!"


"Sebenarnya aku ingin marah kepada Rangga, kenapa ia tega menikah lagi, padahal Tasya sangat mencintainya, tapi karena atas keinginan Tasya, tidak ada yang bisa menentang pernikahan kalian!"


Miranda kembali menatap ke arah jendela dengan wajahnya sangat sendu.


"Hanya demi membalas Budi, kau rela melakukan ini?"


Miranda masih tampak diam saja.


"Yah, aku rasa kau cukup baik, tapi sebaiknya jangan mencintai Rangga, dia itu pria yang memiliki banyak pacar. Aku tidak percaya si kecoa gosong itu tidak tidur dengan berbagai wanita!"


"Iyah! Aku tidak masalah jika banyak wanita tidur dengannya dan mencintainya!"


"Oh Iyah? Hahaha, kau yakin tidak cemburu?"


"Tidak!" Jawab Miranda tanpa ekspresi.


"Padahal Rangga itu adalah pria muda yang sukses dengan hasil jerih payahnya sendiri. Sangat langka di cari, biasanya pemuda yang sukses itu karena memang sudah menjadi pewaris tahta.


Saat ini dia banyak memiliki aset juga di percaya oleh para pebisnis dalam dan luar negeri, hartanya yang kau lihat, itu baru sebagian kecil" Vino menguji perkataan Miranda.


"Aku bukan wanita yang cocok untuk mendampinginya! Dia milik kak Tasya?"


"Ouh, tantangan sekali!"


"Aku juga berencana jika nanti kak Tasya sehat ataupun pergi untuk selamanya, kami akan segera bercerai! Aku sadar banyak keluarga juga kerabat yang tidak merestui pernikahan kami."


Vino hanya tersenyum.


"Nikah-cerai-nikah-cerai lagi, ribet banget sih, tapi aku suka lihat gaya kamu! Cukup menantang bagi kaum pria?" Kata Vino.


Miranda kembali terdiam.


"Apa kau sedang mati rasa?"


"Jangan-jangan dia tau tentang pernikahan ku dengan Damar, aku juga pernah hampir di jual ke Malaysia! Mungkinkah kak Tasya mengatakannya! Ah sudahlah aku tidak perduli?"


Batin MIRANDA.


"Apa kak Vino dulunya jurusan Sekretaris?" Miranda mengalihkan.


"Hem, Iyah!"


"Bolehkah Mira belajar soal bagaimana mencari tema yang bagus dalam menyusun skripsi?"


"Hem, boleh-boleh saja, tapi sebenarnya aku juga banyak belajar dari Rangga!"


"Ouh!"


"Tenang saja, aku akan membantu kamu!"


"Terima kasih kak!"


***


Terlihat Rangga sudah datang menghampiri mereka.


Vino dan Miranda cukup terkejut.


"Hahahaha, Bro secepat itu kah kau datang!" Tegur Vino dengan tawa khasnya.


"Cek...cek...takut banget istri kesayangannya di ambil orang!" Batin Vino.


***