MIRANDA

MIRANDA
END- MRD



Pernikahan Rangga dan Miranda sudah sampai di H-1.


Malam harinya semua keluarga telah berkumpul dengan suasana ceria juga heboh karena sedang mempersiapkan apa yang akan mereka bawa dan pakai di area Convention Hall dalam acara pernikahan Rangga dan Miranda.


Dari lantai atas, tepat di depan kamar Rangga, Pria itu berdiri tegak menatap keceriaan, keluarganya di lantai bawah sambil tersenyum-senyum bahagia, selain menikah dengan perempuan yang ia cintai, Papa Olivia itu juga sangat bahagia dalam penantian kelahiran anak kedua, hasil hubungannya bersama Miranda.


Di kamar Olivia, terlihat Miranda tidak bosan-bosannya memandangi lentik jemarinya yang telah di hiasi penuh dengan ukiran-ukiran Inai kekinian dari sosok pengantin.


"Indah sekali!" Batin perempuan berwajah imut itu.


"Ciyeee...ada yang lagi bahagia banget sampai senyum-senyum sendiri," tegur Rangga yang tiba-tiba sudah berdiri bersandar di tembok sambil melipat kedua tangannya, diam-diam pria memperhatikan Miranda dengan kebucinannya.


"Mas!" Sontak Miranda bangkit dan menarik tangan Rangga lalu keduanya duduk bersama.


"Bagus yah!" (Miranda memperlihatkan jemari tangannya kepada Rangga)


"Hem!"


"Aku suka banget loh Mas, makasih banyak yah Mas!" ucap tulus Miranda.


"Begitu saja!"


Reflek Miranda mencium kilat pipi Rangga.


"Ciah, dikit banget!"


"Hahahaha!" Ekspresi tawa malu-malu Miranda.


"Oh Iyah Mas! Kenapa kak Intan enggak datang yah apa dia sedang berhalangan?"


"Aku udah pecat dia, kemungkinan besar pun, ia tidak akan hadir di pesta kita?"


"Loh, kenapa Mas?" Miranda begitu terkejut.


"Intan itu enggak pernah berubah, padahal aku sebagai adik selalu mendukung dia, perduli dengan dia, prinsip ku, Jika aku senang, kakak ku juga harus senang. Tapi jika aku susah, dia enggak perlu ikut susah dan aku kecewa banget dengan dia, dari dulu Intan itu enggak pernah mendukung hubungan kita, padahal dia tau kalau aku ini sangat mencintai kamu dan bahagia jika bersama mu.


Intan juga enggak pernah suka sama kamu, ia cemburu karena ibu lebih sayang dengan kamu. Dari dulu ia selalu fitnah kamu,


agar aku menceraikan mu dan bodohnya aku, bisa selalu mengikutinya. Jadi aku sengaja lakukan ini untuk beri dia ultimatum!" Kata Rangga menghela nafas, jauh di lubuk hatinya ia sangat sedih dan kecewa dengan sikap sang kakak.


"Mas, yang sabar yah!"


"Harusnya aku yang bilang begitu ke kamu!"


"Enggak apa-apa Mas, Mira itu sudah terbiasa di benci dan di fitnah orang. Mas, demi menjaga nama baik keluarga dan hati orang tua kita, maafkan sikap kak Intan. Ini kan momen kebahagiaan kita, jangan sampai ada keluarga yang tidak datang untuk memberi restu. Agar pernikahan ini tetap kuat, Bagaimanapun Kak Intan itu adalah kakak kandung Mas sendiri, kalian hanya berdua. Aku yakin dia juga banyak membantu Mas!"


Rangga menatap Miranda dengan ekspresi bingung.


"Dia sudah fitnah kamu, kasar sama kamu, tapi kamu masih bisa berkata seperti, hati kamu terbuat dari apa sih Mira!"


"Mungkin ini ujian kepercayaan untuk hubungan kita, Mas"


"Huuuft, sikap kamu ini yang membuat aku sulit berpaling dengan wanita lain!" Tatapan haru Rangga.


Mira tersenyum tipis.


"Terima kasih yah sayang, kamu tulus banget menyayangi keluarga ku!"


"Iyah Mas, Maafin kak Intan yah, telpon dia jangan sampai dia tidak datang!"


"Baiklah Bos!"


Keduanya tersenyum bersama, tatapan penuh cinta.


***


Akhirnya Hari bahagia itu pun tiba. Suasana megah bertabur bunga-bunga sakura dan Bunga lainnya bermekaran berwarna putih dan pink menghiasai gedung mewah Convention Hall, menggunakan dekorasi wedding terpopuler kekinian yang langsung di tangani oleh Wedding Organizer ternama di Jakarta, sejumlah lah artis dan pengusaha juga turut hadir.


Dengan gaun rancangan terkenal, Miranda tampak sangat cantik bak putri Raja.


Syahdu lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an menjadi pengantar penuh Hikmat acara pernikahan Rangga dan Miranda di gedung mewah pagi itu.


Rahmat kembali menjadi wali nikah adiknya untuk yang ketiga kalinya.


Begitu akad pernikahan itu terucap di depan para petugas pemerintahan yang mengatur masalah hukum pernikahan. Miranda sempat menjatuhkan airmata kebahagiaan begitu juga dengan Rangga, terlihat mata pria itu berkaca-kaca penuh haru dalam perjalanan cintanya bersama Miranda. Keduanya tidak pernah terpikir akan menikah kembali secara sah di mata hukum Negara.


Banyak saudara, kerabat, serta para tamu yang di undang memberikan restu untuk keduanya.


pesta megah yang di iringi musik-musik populer lainnya.


Rangga dan Miranda berfoto bersama keluarga serta tanpa rasa canggung dan malu, Miranda menggendong Olivia dengan penuh kasih sayang, balita kecil itu juga memakai gaun yang sangat cantik.


Meskipun ada beberapa cibiran tentang Miranda, namun hal itu justru menjadi pemacu semangatnya untuk terus berada di sisi Rangga dan tetap bersemangat menjadi wanita yang hebat.


Tidak di sangka Intan pun terlihat hadir di pesta itu.


"Maafkan kakak yah Miranda!" peluk Intan dengan tangisnya.


(Atas permintaan Miranda, akhirnya Rangga mengundang Intan dan Rangga akan mengajak Intan kembali bergabung di perusahaannya, dengan syarat sang kakak harus meminta maaf kepada Miranda dan berjanji tidak akan memfitnahnya lagi)


"Sama-sama kak, Maafkan Miranda belum bisa pantas untuk mendampingi Mas Rangga, tapi Mira janji kak, akan berjuang untuk itu!"


Intan hanya mengangguk dan kembali memeluk Miranda.


***


Rangga dan Miranda begitu bahagia dalam acara pernikahan mereka.


Vino Febian juga terlihat sangat tampan di pesta itu, tentu ia menjadi pujaan para wanita cantik, single dan kaya, Vino mempersiapkan pernikahan Rangga dan Miranda dengan sesempurna mungkin pertanda ia merestui dan ikut berbahagia. Namun ada hal yang membuat ia tidak begitu semangat dan kedua bola matanya terus mencari seseorang dan memandangi area pintu tamu undangan.


"Sudah di pertengahan acara, tapi kenapa Sania belum datang juga, bukankah Rangga dan Miranda sudah mengundang mereka secara langsung!"


"Sial, Malam pertama itu justru membuat aku semakin tidak bisa melupakannya! Apa dia sengaja balik menjebak ku!"


Vino terlihat gelisah keluar dari gedung lalu menghidupkan rokoknya di area smoking.


Vino juga sudah berkali-kali menelpon Sania namun kondisi ponsel wanita itu tidak bisa di hubungi.


"Apa alasannya ia tidak datang?"


Vino terus memikirkan wanita itu dan terbayang dengan kebersamaan mereka.


Vino pun menelpon salah satu ajudannya yang ia percaya.


"Apa kau yakin sudah membayar hutang-hutang Sania?"


"Sudah Bos, semua hutang Sania di rumah sakit dan tunggakannya di kampus sudah saya bayarkan!"


"Apa ada lagi?"


"Saya akan selidiki lagi, Bos!"


"Terima kasih!"


Vino kembali melamun dengan hisapan rokoknya.


"Apa aku memang ditakdirkan tidak bisa memiliki cinta yang indah, lagi-lagi kisahku dengan wanita yang aku mau kembali terputus. Apa ini yang di katakan cinta tidak harus memiliki, sakit sekali. Atau ini dosaku yang suka mempermainkan perasaan wanita! Huuuft, entahlah, aku memang punya segalanya, tapi aku tidak bisa mendapatkan cinta sejati ku," batin sedih Vino.


Tiba-tiba ajudan keluarga Vino hadir dihadapannya.


"Tuan, Ibu Melani sudah datang dan ingin bertemu!"


"Baiklah, saya akan kesana!"


"Baik, Tuan!"


***


Vino kembali masuk ke area lokasi gedung acara pernikahan Rangga dan Miranda.


Rangga yang bersiap-siap memotong kue pernikahan mereka, memberikan sedikit kata sambutan.


"Terima kasih kepada Tuhan yang maha kuasa, terima kasih kepada Orang tuaku tercinta, ibu mertua, saudara, kerabat serta para tamu undangan seluruhnya. Kehadiran kalian adalah restu yang saya dan istri harapkan dan banggakan. Semoga pernikahan kami ini menjadikan pernikahan yang sakinah mawadah warahmah sampai selama-lamanya.


Sesulit apapun jalan untuk meraih cinta sejati tentu bisa kita miliki dengan perjuangan dan ketulusan hati, semoga kalian yang ada di gedung ini atau di luar sana yang belum bertemu dengan cinta sejatinya, saya harap agar segera bertemu dan untuk sahabat serta adik angkat saya Vino Febian (Rangga menunjuk ke arah Vino) agar jalan cinta sejatinya segera dimudah kan."


"Amiiiiiiin" teriak para teman Vino. Pria itu terlihat senyum-senyum sendiri.


Semua berbahagia bersama.


T. A. M. A. T


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Halo pembaca setia Sarah Mai, terimakasih banyak-banyak buat kalian yang sudah membaca Novel MIRANDA.


Novel MIRANDA sudah selesai yah guys, kisah keduanya Happy Ending.


Novel Miranda hanya lah karangan semata yang tujuannya untuk menghibur kalian semua. jadi, jika ada kekeliruan, kesalahan, Mohon di maafkan๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™ maklum saya ini masih penulis abal-abal yah!!


***


"Buat kisah Vino dong Thor masih penasaran?"


"Untuk kisah Vino dan Sania sampai di Part ini sad ending yah, meski keduanya sudah melakukan malam pertama terlarang, di Part ini mereka belum menikah dan tidak bersama."


"Ah kecewa Thor?"


" Hehehehe...Jika peminatnya banyak, like dan komentarnya banyak untuk cinta Vino dan Sania mungkin...mungkin yah, tetapi saya tidak janji, mungkin bisa nanti saya lanjutkan di Novel ini juga."


***


Terima kasih juga buat kalian yang sudah Like, memberikan Vote dan Gift yang banyak, selalu sabar dan setia mengikuti karya Sarah Mai, saya hanya bisa ucapkan terima kasih banyak. Maafkan jika saya belum bisa memberikan merchandise ataupun gift buat kalian seperti penulis terkenal lainnya.


Terima kasih buat bantuan hebat dari admin group aku yang paling baik๐Ÿค—๐Ÿค—โ˜บ๏ธ ( Suci dan Juan )


Terima kasih... Terima kasih I Love You....


Sampai Jumpa.