MIRANDA

MIRANDA
Part 78-MRD



"Mir! Kita sudah berkali-kali melakukannya dan mencoba banyak 'gaya lain' tapi mengapa kamu tidak hamil juga!"


"Bukan urusan mu?"


"Jutek banget sih! Tapi tetap cantik, kok! Atau mungkin kita harus melakukannya lagi tanpa perlu ikatan pernikahan, baru kamu bisa hamil!" kata Rangga tanpa merasa bersalah dengan kepercayaan penuh ia membuka kaosnya ingin memamerkan dadanya yang kekar menggoda Miranda.


"Jangan Gilak kamu?" hentak Miranda dengan galak.


Rangga mulai melangkah mendekati Miranda membuat langkah perempuan itu mundur.


"Mau apa kamu?"


"Yah mau ehem...ehem dong sayang, sampai merem melek!"


"Sepertinya sudah lama sekali aku tidak menjambak rambut mu,"


kata Miranda dengan geram melompat lalu menarik rambut Rangga.


"Iiiiiiiiiiiii!" ekspresi gemes Miranda terus menarik-narik kuat rambut Rangga yang sudah tertata rapi, sehingga pria itu menunduk, Miranda lupa jika dia majikannya saat itu.


"Miranda... Ahahahahaha, lepasin!" kata Rangga begitu pasrah kepalanya di obrak-abrik dengan Miranda.


Ia bukannya kesakitan, justru malah tertawa-tawa kesenangan.


"Harusnya kepala bawah sayang! Bukan kepala atas," kata Rangga membuat Miranda semakin geram.


Miranda meninju perut Rangga ala-ala Mbah Bruce Lee.


"Aw!" teriak kecil pria itu tetap membungkuk pura-pura kesakitan sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Rasain!" kata Miranda dengan bangga padahal pukulan itu tidak seberapa bagi Rangga.


"Ampun NyaišŸ™!" canda Rangga.


"Syuuuut!" Reflek Papa Olivia itu menarik kuat tubuh Miranda hingga terhempas ke dadanya, keduanya merapat. Otong dan Oting hanya terhalang oleh lapisan kain saja.


Rangga mengambil sebuah kotak cincin dari saku celananya lalu membukanya di hadapan wajah Miranda, hanya dengan sebelah tangan.


Miranda sempat terbengong dengan kilauan indah bersinar dari cincin berlian berlapis emas murni yang di perkirakan harganya hampir mencapai Milyaran.


((uiiiss keren coy🤤))


Pria itu tidak ingin bertele-tele dengan hubungan mereka yang sempat kandas karena hanya kesalahpahaman, Rangga juga tidak ingin kalah cepat dari Vino.


Di depan Baby Olivia yang sedang tertidur pulas, Rangga melamar sendiri Miranda untuk yang pertama kalinya. Selama perjalanan lamaran dan pernikahan mereka hanyalah karena berbagai alasan yang memaksa keduanya harus menikah.


"Dulu kita harus menjual cincin pernikahan demi menyambung sebuah hidup dan saat itu aku bersumpah dalam hatiku akan menggantinya dengan jauh yang lebih mewah dan lebih indah!" ucap Rangga dalam sorotan mata yang menatap Miranda penuh cinta.


"Sudahlah Rangga, akhiri saja sandiwara palsu mu ini, aku juga tidak tau, apakah itu cincin mahal atau cincin kaleng-kaleng!" kata Miranda dengan wajah ndesonya.


Rangga membungkukkan tubuhnya mengambil kembali kotak cincin itu lalu bangkit mendorong kecil dahi Miranda dengan jari telunjuknya sambil berkata;


"Kau bilang ini kaleng-kaleng? Ini berlian berlapis emas murni harganya hampir Milyaran. dodol," ucap pria itu dengan gemes.


"kalau tidak percaya ayo kita cek nomor serinya!" Rangga menarik tangan Miranda.


"Ih lepasin!" Miranda menghentakkan tangannya hingga terlepas dari genggaman Rangga.


"Mau itu kaleng-kaleng ataupun berlian berlapis-lapis, aku tetap tidak ingin melangkah lagi besama kamu, namun jika masih di butuhkan, aku hanya akan ada untuk Olivia?"


ucap Miranda membuat Rangga terdiam.


"Rangga, aku ini punya hati, hati yang begitu lemah dan tidak berdaya, aku hanya inginkan cinta, kasih sayang dan kepercayaan, aku sudah lelah bersama mu. Sebaiknya carilah perempuan yang jauh lebih baik dari aku, meski di rendam satu malam pun, aku tetap tidak akan pantas lagi ada di sampingmu!" kata Miranda dalam linangan air mata kekecewaan.


Rangga masih terdiam, terpaku menatap fokus dua bola mata kesedihan Miranda yang besar.


"Aku sangat trauma melihat kau bersama pria lain, wajar jika aku cemburu karena cinta ini terlalu nyata dan sangat dalam. Kau tidak tau sesakit apa perjuangan ku saat kau tinggalkan aku, kau juga tidak pernah mengerti bagaimana hebatnya aku berjuang untuk bisa melupakan dirimu hingga berani melangkah menikahi wanita lain. Kini kau datang lagi tanpa dosa dan rasa bersalah sedikitpun, kesuksesan ini juga karena dendam ku kepadamu, aku ingin membuat kau menyesal pernah membuang ku, tapi tetap saja tidak bisa membencimu, tetap saja aku yang kalah, tetap saja kembali mencintaimu. Buta nya cinta ini membuat aku juga kembali berjuang meyakinkan diriku dengan berbagai alasan untuk menerima mu dan memulainya lagi dari awal.


Tapi mengapa hanya karena rasa cemburu itu kau tidak ingin menerima ku lagi, bukan kah kita sudah impas?" tanya Rangga.


"Cinta tanpa kepercayaan bagai mengarungi badai lautan dengan perahu kecil, terlalu mudah untuk terbalik!" jawab Miranda dalam mata yang tajam.


"Bagaimana aku bisa percaya kepadamu, jika kau terlalu membuka dirimu kepada pria lain! jika kau tidak pernah yakin dengan diriku yang selalu berjuang untuk bisa membahagiakan kamu, kau selalu menganggap aku ini tidak pernah serius. Aku sadar jika aku sudah menghancurkan masa depanmu, pernikahan kita memang tidak didasari cinta dan kemewahan hingga terlalu mudah goyah. Aku juga menyadari jika dulu aku hanyalah pria miskin, jangankan untuk membahagiakanmu dengan harta, menafkahi mu saja, aku tidak sanggup.


Mira, kau harus tau jika aku ini bukanlah pewaris Takhta, aku juga bukan jinnya Aladin, tentu aku harus melalui proses perjuangan yang cukup berat untuk sampai di titik ini.


Inilah aku, Rangga apa adanya yang selalu buat masalah, bukan pria romantis, atau suami yang selalu bisa menangkan wanitanya di rumah meski di luar sana ia adalah seorang bajingan yang tidur dengan berbagai wanita, berapa banyak pria yang cinta, sayang serta memberikan kepercayaan penuh kepada wanitanya, hingga mereka diam-diam dan kebablasan berselingkuh dengan pria lain. Aku ingin mengajarkan kepadamu sebuah komitmen hubungan!


Aku ini seorang pria, aku tau pandangan pria mana yang tertarik dan ingin memiliki mu!


Alasannya kenapa aku dulu mengekang mu, tidak percaya kepadamu jika berhadapan dengan pria lain yang lebih hebat dari aku, itu karena kau terlalu polos, aku yang sudah jatuh cinta kepada mu sangat takut kehilanganmu, aku mengerti saat itu kau belum mencintai ku sepenuh hati, masih mudah goyang, kau tidak stabil, kau juga benci kepada ku, karena aku tidak bisa memberikan kamu uang seperti suami-suami yang lain. Setiap malam aku berpikir bagaimana caranya agar bisa mendapatkan uang dengan cepat.


Sudah lama sekali perkataan ini ingin aku sampaikan kepadamu, tapi saat itu kau selalu menghindari ku, melihatku seperti hantu yang bergentayangan, kau pergi dengan pria lain tanpa memberikan aku kesempatan untuk menjelaskannya. Saat ini mengapa kau marah kepadaku hanya karena aku tidak memberikan kesempatan kepadamu untuk menjelaskan kekeliruan ini? Itulah rasa sakit yang dulu pernah ku rasakan bahkan lebih dari itu dan terus menghantuiku!


Berapa banyak saat ini wanita yang jauh lebih cantik, kaya dan berpendidikan ingin sekali menjadi istriku, tapi aku menolaknya. Hatiku masih tetap mempertahankan mu!" Kata Rangga dalam mata berkaca-kaca.


"Sebab itu lah jangan pilih aku lagi, bukankah dari awal kita sudah tidak saling mencintai, pernikahan itu juga sebuah alasan. Sudah berapa kali aku katakan, aku tidak pantas untuk mu, aku juga bukan wanita yang menemani kesuksesan mu! Aku pernah menyakiti mu, aku pernah meninggalkanmu demi pria lain, aku pernah membuat kau selalu menangis dan aku yakin sampai kapanpun kau tidak akan pernah mempercayai aku lagi. Jadi jangan pilih aku lagi, aku tidak nyaman, mulai sekarang belajar lah untuk mengubah perasaan itu menjadi perasaan yang biasa saja. Aku percaya, lambat laun, kau pasti bisa membuka hati untuk wanita lain," jawab Miranda masih dalam linangan air matanya.


Rangga terdiam dan tak mampu lagi berkata.


Miranda mendorong tubuh Rangga hingga lelaki itu keluar dari kamarnya.


***