MIRANDA

MIRANDA
Part 27- MRD



Sore menjelang malam


Rangga dan Miranda akhirnya sampai di tujuan. Sebuah Universitas Swasta yang Miranda percaya untuk melanjutkan pendidikannya setelah pindah dari Negeri Jiran Malaysia. Universitas itu masih satu Grup dengan Universitas Miranda saat di Malaysia.


"Masuklah ke kelas mu, Aku ingin menemui dan bicara kepada dosen pembimbing kamu sekaligus pemilik Universitas ini agar mereka memberikan waktu yang lebih fleksibel kepada kamu antara kuliah dan mengurus putriku! Bagaimana pun Olivia harus yang paling utama," ucap Rangga.


"Iyah!"


"Pulang jam berapa?" Tanya Rangga dalam pandangan tetap ke depan.


"Hari ini, ada pra ujian semester, hanya dua jam saja!"


Saat Mira mulai melepas sabut pengamannya.


"Ada yang ingin aku sampaikan?"


Rangga mulai menoleh ke arah Miranda.


"Semua persyaratan pernikahan yang Tuan ajukan aku terima dengan senang hati, tidak masalah, aku sadar pernikahan ini hanya demi sebuah permintaan. Selama kak Tasya sedang koma, sebaiknya kita tidak melakukan aktivitas suami istri di atas ranjang. Sungguh aku tidak bisa bersenang-senang di saat ia sedang kesakitan, semoga Tuan bisa memahaminya!" Kata Miranda dengan tegas.


Mendengar ucapan Miranda Rangga merasa tersinggung berat. Gengsinya kembali kambuh, pria itu memberikan ekspresi tersenyum sinis yang tidak mau kalah.


"Siapa juga yang ingin bersenang-senang dengan kamu, aku punya banyak pacar yang jauh lebih cantik dan menggoda!" Jawab sewot Rangga.


"Terima kasih Tuan!" Miranda langsung melepas safety belt nya dan keluar berjalan cepat menuju ruang kelasnya.


Setelah Miranda pergi, Rangga terpaku sejenak sampai menelan paksa air liurnya.


"Uugh!" Dengan kesal lelaki itu memukul stir mobil, lalu menghentakkan kepalanya ke sandaran mobil.


"Menikah tanpa bercinta??? Mungkin ini lebih kejam dari penjajahan!"


"Sudah punya dua istri tetap saja si otong terabaikan, mana si otong sudah lama tidak mandi celup, Arg...nasibmu tong-tong, padahal banyak wanita yang ingin merasakan rudal mu!"


Dengan wajah kusut, akhirnya Rangga turun dan menemui dosen pembimbing Miranda sekaligus pemilik kampus, agar istri mudanya itu bisa leluasa mengurus putrinya tanpa terbebani jam pelajaran yang monoton.


Kedatangan Rangga Langsung di sambut hangat oleh pihak universitas dan dosen pembimbing Miranda, sebelumnya mereka sudah membuat janji, terlihat mereka langsung melakukan percakapan hangat disana.


***


"Ouh, jadi Miranda itu adik istri Mas Rangga yah?"


"Hehehehe, Iyah Pak!" Jawab cengengesan kecil Rangga, sambil mengangkat suguhan teh yang diberikan. Ia belum mengakui jika Miranda juga istrinya.


Dosen pembimbing Miranda memperlihatkan nilai-nilai Miranda sebagai mahasiswi pindahan dari universitas swasta di Malaysia.


"Miranda adalah gadis yang cerdas, hanya saja ia suka telat mengumpulkan tugas dan kurang mahir menggunakan beberapa aplikasi kantoran. Ia masih terlihat gaptek diantara teman yang lain."


"Maaf, saya akan lebih memperhatikan itu!"


"Tidak perlu minta maaf Mas, hanya perlu latihan saja!"


"Baiklah! Tolong kirimkan ke email saya, aplikasi apa saja yang membuat ia terhambat dalam mengikuti pelajaran!"


"Baik, nanti kami akan segera kirimkan!"


Setelah percakapan berakhir, sang pemilik Universitas mengajak Rangga berkeliling kecil hingga menuju kelas Mira.


"Tlilit!" Ponsel Rangga berbunyi.


"Maf Bos, Apakah hari ini Bos akan masuk kantor?" Tanya Lukas sekretaris baru Rangga, usia 24 tahun lulusan Universitas Trisakti.


"Sepertinya tidak, cancel semua jadwal untuk dua hari ke depan!"


"Baik Bos?"


"Vino belum kembali?"


"Kemungkinan besok Bos?"


"Ok!"


Percakapan mereka berakhir.


Rangga mengirimkan pesan kepada Miranda.


"Aku tunggu di parkiran?"


Begitu ponsel Mira berbunyi, wanita itu langsung membacanya dan melihat jam.


"Lima belas menit lagi akan pulang. Apa dia tidak ke kantor?" Batin Mira.


"Huuuft!" Hentakan lembut kepala Rangga sambil menidurkan jok mobilnya.


"Gila, kalau enggak kawin ngapain nikah, mending aku cari Babysitter?" Keluh Rangga.


"Arrg, gimana caranya agar kenikmatan itu bisa ku rasakan malam ini bersamanya?" Pikiran Rangga terus traveling mengingat kembali lekuk tubuh tanpa busana serta gaya bercinta Miranda, sampai ia merasa horny sendiri.


Rangga bangkit lalu keluar dari mobil. Berpikir mencari cara yang manis tanpa mencurigakan, mulai dari duduk santai di depan mobilnya sambil meneguk minuman kaleng sampai dengan mondar-mandir gelisah layaknya seseorang yang kebelet pipis.


Tidak-tidak sebaiknya biasa saja.


Tasya juga sudah izin. Jadi tidak masalah, jika kami bercinta meskipun ia sedang koma," gumam Rangga yang terus berkata-kata.


Rangga langsung menelpon teman Dokternya dan merencanakan sesuatu.


***


Lima belas menit kemudian, Terlihat Mira sudah bergegas menuju parkiran.


"Rangga memang baik tapi nyebelin, 🤔 tiba-tiba mau jemput dan antar pulang?" Batin Mira merasa kurang nyaman.


Saat langkah kaki Miranda tepat di depan mobil Rangga, salah satu teman lelaki di kampus itu menyapanya.


Rangga langsung bangkit dari sandarannya dan menyoroti pemuda itu dengan wajah tidak suka.


"Mira mau pulang bareng?"


"Terima kasih, sudah ada yang jemput!" Jawab lembut Mira dengan senyum manisnya.


Dengan cepat Rangga menghidupkan klekson mobilnya.


"Ouh, Ok!" Pemuda itu pergi dengan sepeda motornya.


***


Saat Miranda masuk ke dalam mobil.


"Tuan, kita harus membeli perlengkapan untuk baby Olivia!"


"Masalah itu sudah aku serahkan kepada sekretaris ku!"


"Ouh!"


Mobil Rangga melaju meninggalkan lokasi kampus.


Terlihat kekakuan keduanya di dalam mobil. Mata Rangga mulai liar melirik lekuk tubuh istri sirinya itu saat sedang menoleh ke samping jendela mobil sambil memandangi hujan gerimis malam itu dan lampu-lampu kota yang menghibur suasana hati Miranda yang sebenarnya sangat galau.


"Mana hujan lagi, cocok banget suasananya!" Batin Rangga merasa hasrat bercintanya sudah di puncak.


Di tengah jalan.


"Aduh, kepala ku pusing sekali!" ucap Rangga memegang dahi.


Miranda reflek menoleh.


Kecepatan mobil Rangga mulai melambat.


"Ada apa?"


"Kepalaku pusing!"


"Bagaimana jika aku saja yang menyetir, Tuan!"


"Apa kau bisa?"


"Bisa!"


"Tapi aku rasa tidak perlu aku masih bisa!" Jawab Rangga dengan gaya dinginnya.


"Bagaimana jika kita berhenti dulu!"


"Tidak, aku ingin cepat sampai langsung pulang ke rumah ku saja!"


"I...Iyah!" (Nanti aku bisa naik Taxi pulang ke rumah Kakak, pikir Mira)


Rangga terus melajukan mobilnya hingga tepat memasuki garasi rumahnya yang sangat mewah.


Keduanya saling turun.


Rangga mulai menjalankan aktingnya lagi.


"Aduh!" ucap pria itu, tersandung kecil langsung terjongkok.


"Tuan tidak apa-apa?"


"Aku baru sadar ternyata lucu sekali, si Mira memanggilku dengan sebutan Tuan," batin Rangga hampir ingin tertawa, ia pun langsung menunduk.


"Tuan baik-baik saja?" Tanya Miranda lagi, ia semakin khawatir.


"Aku akan memanggil pelayan!" Miranda bergegas bangkit.


"Tidak perlu! Aku masih bisa berjalan!" Jawab Rangga pura-pura lesu dengan gayanya yang minta di papah.


"Ayo!" Mira dengan sigap memapah Rangga yang tersenyum tertahan merasa tingkahnya yang konyol berhasil dengan mudah mengelabui kepolosan sang istri kedua.