MIRANDA

MIRANDA
Part 61 MRD



Tugas Kiandra selain sebagai mata-mata, ia juga wajib memberikan informasi terbaru kepada Jane. Dia juga bersikap baik, sopan, ramah kepada para pelayan lainnya terutama Iroh, serta kepada para Bodyguard yang menjaga keamanan sang majikan.


"Pak Atir bisa antar Miranda kan?" tanya wanita itu dengan nada lembutnya meski kepada bawahannya sekalipun.


"Tentu bisa Nona, Bapak siap antar istri sultan kemana-mana!"


Reflek Miranda tersenyum merekah menghiasi wajah cantiknya.


"Haduh senyumnya Nona Miranda membuat hati siapa saja terasa adem terutama untuk Tuan Rangga!" puji sang supir.


"Bapak bisa saja!"


"Hehehe!"


Tidak berapa lama bodyguard Miranda bernama Nadia datang dalam raut wajah yang sedang menahan sakit di area perutnya.


"Kamu kenapa, wajahmu sangat pucat?"


"Haduh Nona. Siang ini saya sudah 5 kali ke kamar mandi, sepertinya...saya sedang...sakit...perut!" ucapnya terbata-bata menahan rasa mules yang tidak tertahankan. Lalu buru-buru lari ke kamar mandi."


"Huuuft yah ampun! Bagaimana ini! Jika si Nadia terus mules-mules di dalam mobil, ini justru malah memakan waktu yang banyak!" batin kesal Miranda terlihat ingin buru-buru sampai di Apartemen Vino, agar ia bisa pulang sebelum Rangga tiba di Jakarta.


***


Di dalam Toilet Nadia berkata sendiri;


"Haduh, sakit perut ini, apa karena tadi pagi sarapan nasi goreng yah? biasanya tidak pernah begini."


(Kiandra menaburi serbuk pencuci perut ke dalam minuman Nadia dan akan bisa normal kembali setelah 4 jam kemudian)


Merasa tidak sabar, Miranda langsung menelpon Nadia.


"Nadia, saya pergi saja yah, suruh Iroh panggilkan Dokter, saya tidak bisa menunggu kamu terlalu lama begini!"


"Ba...baik Nona, Maaf yah Nona, kirim kan saja lokasi tempatnya Non! Sa...saya akan menyusul!"


"Baiklah!"


"Haduh, jika si Bos sampai tau istrinya jalan tanpa pengawal, bisa selesai dah semuanya! Aku harap ini tidak lama!" harapan Nadia buru-buru membersihkan diri.


***


"Ayo Pak! Kita jalan saja!" Ajak Miranda memasuki mobil.


"Loh Non! Nadia tidak ikut, jika Tuan tau sa...saya bisa ikut kena marah juga!" ucap Atir🥺 dalam wajah meringis.


"Pak, Mira buru-buru, lagian tidak kemana-mana kok, hanya ke Apartemen Tuan Vino saja, saya pastikan hanya sebentar. Lagian kita tidak mungkin menunggu Nadia sembuh dari sakit perutnya kan!"


"Tapi Non!"


"Jika Tuan Rangga marah, Miranda akan jelaskan!"


"Ouh baiklah Nona!"


"Aku rasa ini tidak akan lama, hanya sekedar tanda tangan saja!" Batin Miranda.


***


"Yes, semua berjalan sukses. Si perempuan desa itu sama sekali tidak curiga. Tentunya aku bisa minta kepada si Nenek Jane, upah yang lebih besar!" kata Kiandra dengan senyum kelicikannya mengintip mobil Miranda dari balik tirai kamar Olivia yang mulai bergerak keluar dari gerbang tanpa seorang Bodyguard yang mengawalnya.


Miranda tidak pernah curiga ada rencana jahat yang sedang mengintai dirinya hari itu.


***


Apartemen Vino


Vino yang terlihat sibuk di Apartemennya sedang mengumpulkan segala macam bentuk berkas-berkas rahasia perusahaan dan aset milik Tasya. Sementara Sania bekerja aktif di rumah sakit.


Tasya sudah membayar mahal jasa Vino untuk mengurus tentang hak waris dirinya kepada Olivia, alasannya selain kepercayaan, keamanannya juga lebih terjamin. Sebagai mantan sekretaris Rangga, ia ahli dalam mengurus surat dan hutang piutang yang memiliki kerja sama bagus dengan jaksa hukum pemerintahan.


Hari itu tanpa kecurigaan. Beberapa orang utusan Fernando sudah mengepung wilayah Apartemen Vino.


Vino merasa santai, karena Jane bukanlah lawan yang bisa mengusiknya, Ia juga tidak pernah menduga jika Fernando bersedia membantu rencana jahat Jane. Fernando juga mengambil keuntungan dari rencana jahat Jane sebagai kompetitor mereka. Sementara Vino tidak pernah menggunakan jasa Bodyguard kakeknya yang ada di Jepang karena Indonesia masih lahan bisnis yang aman-aman saja baginya.


***


Kediaman Jane.


"Membuat Rangga dan Vino bertengkar adalah adegan yang aku tunggu-tunggu, ini pasti sangat seru! Ahahahaha...dengan begitu aku mudah menaklukkan Rangga, Miranda dan akan menjadikan mereka sebagai anjing peliharaan ku yang imut, Hahahaha...aku yakin, sekali Fernando juga akan senang dengan Momen ini, dan akan semakin mengagumi ku? Duh, untung saja ada si Fernando ku sayang jasa bodyguard gratis yang bisa dipakai! Hahahaha!" Jane yang begitu tampak bahagia.


***


Terlihat mobil Miranda sudah tiba di area lobi Apartemen mewah Vino.


sebelumnya Miranda pernah datang ke Apartemen Vino bersama Rangga.


"Non, jika sudah selesai, telpon saja yah!" Pesan Atir.


"Baik pak!" Miranda turun dengan santai melangkah memasuki lobi dan Atir melaju mencari parkiran eksklusif.


Mobil Miranda yang sudah di tunggu ke datangannya oleh anggota Fernando.


Atir supir paru baya berjiwa polos, periang dan ramah itu terlihat masih duduk santai dengan membuka sedikit kaca mobil, sambil menunggu majikannya ia bermain dengan ponselnya. Tidak lama kemudian sosok pemuda anggota geng Fernando bertubuh kurus, tinggi diperkirakan usianya masih 21 tahun datang menyapa ramah, bertanya kepada Atir dengan nada sopan sebagai sosok yang berpura-pura ingin melamar kerja di Apartemen mewah itu.


Si pelaku lalu mengajak asyik ngobrol Atir dengan santai, merek duduk di lokasi yang bersembunyi dari pantauan cctv. Setelah perbincangan mereka mulai seru, si pemuda itu menawarkan sebuah permen kepada sang supir. Permen yang bisa membuat siapa saja yang memakannya akan tertidur pulas berjam-jam. Setelah memastikan Atir melahap habis permen itu. Si pelaku pun berpamitan pergi dengan sopan tanpa menimbulkan kecurigaan bagi Atir maupun petugas keamanan Apartemen disana.


"Huaaaaaaah, mengantuk sekali aku, sepertinya si NoMir masih lama, tidur sebentar ah! Kurang tidur juga tadi malam habis telponan dengan si ayank beb (istri)" gumam Atir masuk ke dalam mobil kemudian menyalakan alat pendingin (AC) sehingga suasana mobil semakin nyaman. Tidak sampai dalam hitungan menit, Atir langsung tertidur pulas sampai mendengkur.


Miranda terlihat mulai berjalan mengitari ruang lift menuju lokasi Apartemen Vino yang berada di lantai tinggi.


Begitu sampai di depan pintu Apartemen Vino. Wanita itu langsung menekan Bel. Dengan cepat pula Vino membukakan pintu utama. Karena sebelumnya Miranda sudah memberi kabar jika ia sudah sampai.


"Kak Vino!" Sapa Miranda dengan senyuman.


"Ayo masuk, kamu hanya sendiri? Dimana Nadia?"


"Tiba-tiba dia sakit perut!"


"Sakit perut?"


"Iyah Kak!"


"Harusnya kamu tidak boleh pergi sendiri, situasi sedang tidak aman, saat pulang nanti aku akan memberikan pengawalan buat kamu!"


"Terima kasih yah kak!"


"Sebaiknya kamu kuliah via online saja dulu, sampai semua pengurusan hak pindah waris ini selesai dengan aman!"


"Baik kak?"


"Pukul berapa Rangga pulang?"


"Ia tidak bisa di hubungi, kemungkinan sore ini!" jawab Miranda.


"Yah sudah, Ayo, jaksa hukumnya sudah datang!"


Rangga membawa Miranda ke ruang kerja Apartemen Vino disana sudah duduk dua orang pria yang bertugas mengurus pemberian harta kepada Miranda sekaligus tanda tangan surat pernyataan bahwa Miranda harus memenuhi syarat yang ditetapkan oleh Tasya.


"Syukurlah mereka sudah datang, ini bisa lebih cepat!" harapan Miranda.


Ketiganya mulai mengerjakan apa yang sudah di wasiatkan oleh Tasya.