MIRANDA

MIRANDA
Part 58-MRD



Sebuah mobil hitam baru sangat mewah yang masih berkilat dengan harga berkisar 1 M lebih, terpajang manis elegan di hadapan Miranda. Tak tanggung-tanggung Rangga memberikan hadiah untuk orang yang terkasih.


Iroh langsung sigap mengambil Olivia dari gendongan Miranda.


"Surprise!" ucap Rangga dengan senyum bahagianya.


"Wah!" Reaksi shock Miranda, terbengong-bengong sampai jantungnya terasa berhenti berdetak.


"Mas, Ini beneran kejutannya?" Kata Miranda tidak percaya, ia terlihat tegang tetapi sangat bahagia.


"Yep, bukan kah kamu ingin sebuah mobil?"


"I...Iyah, tapi ini pasti harganya mahal sekali kan? Mira mau yang murah-murah saja, Mas! untuk di pakai hari-hari."


"Hadeh, si perempuan berwajah tembok ini, aktingnya Memang luar biasa banget, kenapa dia enggak jadi bintang sinetron aja?" batin Intan dalam wajah sinis ikut menyaksikan kejutan untuk Miranda.


"Memberikan hadiah untuk istri itu harus yang terbaik, sayang! Kamu pantas mendapatkannya. Mobil ini sudah di lengkapi dengan sistem keamanan yang sangat canggih khusus bagi wanita, meskipun ada supir, mungkin suatu saat, kamu ingin membawanya sendiri kan, jadi aku tidak perlu khawatir lagi?"


"Terima kasih banyak yah Mas, Mira bahagia sekali!" peluk Miranda tanpa malu-malu lagi.


"Iyah!"


"Dasar Rangga bodoh, apa sih yang dia lihat dari perempuan dungu ini, sampai sosok Rangga bisa bertekuk lutut tidak berdaya. Perasaan banyak banget wanita berkelas yang mengejar-ngejar Rangga. Wajahnya juga enggak cantik-cantik amat, hanya pintar akting doang.


Aku benar-benar enggak setuju jika Rangga menikahi perempuan kampungan satu ini. Giliran adikku sudah kaya, dia pintar banget tuh! Mencari celah untuk kembali, pingin aku tampar rasanya. Harusnya dia dibuat menderita dulu enggak segampang itu balik lagi kepada Rangga?" Batin Intan dalam hati yang panas namun ia tidak berani menghadapi Rangga.


"Intan, mana kuncinya?" pinta Rangga


Kakak perempuan Rangga itu, selain memegang cabang perusahaan adiknya, ia juga salah satu staf keuangan di perusahaan Rangga.


Spontan Intan melemparkan kuncinya ke arah Miranda.


Lemparan itu mengenai dahi Miranda lalu kunci terjatuh.


"Apa-apa in sih kamu?" tegur Rangga dengan wajah sangat marah.


"Yah, dia saja yang enggak sigap menangkapnya?" bantah Intan.


Mendengar jawaban itu Rangga ingin marah kepada kakaknya. Reflek Mira menahan lengan Rangga.


"Engak apa-apa Mas! Jangan marah-marah yah, Kak Intan sudah baik mau membawa mobilnya kesini!"


"Kalau dia tidak bisa di andalkan lagi, aku langsung pecat dia?"


"Sudahlah Mas!"


"Siapapun dia, harus bersikap sopan terhadap istriku!" Hentak Rangga memperingatkan sikap intan dengan tegas.


Intan diam saja dengan wajah masamnya.


"Aku pergi dulu, list keuangan sudah aku kirim ke email!" Jawab ketus Intan.


("Jadi sekarang Miranda sudah dia akui sebagai istri, hubungan mereka juga sudah terang-terangan di depan orang lain. Enak banget dia. Datang-datang langsung jadi Nyonya besar. Dasar Rangga, benar-benar sudah dibutakan dengan cinta si Miranda, bodoh banget cari pasangan. Tasya lagi! bisa-bisanya nyerahin hak asuh anaknya kepada perempuan ini, Jangan-jangan Dia bawa ramuan penakluk khusus dari kampung, sehingga target yang dia inginkan bisa tunduk dan patuh" tuduhan Intan yang sangat benci kepada Miranda)


Mobil Intan pergi, melaju begitu saja.


"Kak Intan benar-benar tidak suka dengan Mira yah Mas! Dan sepertinya dia tidak merestui hubungan kita" kata Miranda dalam wajah yang lesu.


Rangga hanya tersenyum manis.


"Dia mau merestui kita ataupun tidak, aku tidak perduli, yang penting! Kedua orang tua kita sama-sama sudah merestui, jadi kamu jangan merasa terbebani dengan sikapnya! Okey"


Miranda mengangguk pasrah.


"Ayo sayang, kita coba mobil barunya!"


"Iyah Mas!" Miranda tersenyum kembali.


***


Dalam wajah berseri-seri Rangga dan Miranda mulai melajukan mobilnya siap menuju rumah orang tua Vino.


"Kenapa? deg-degan yah?" kata Rangga memperhatikan raut wajah istrinya yang cukup tegang.


Miranda mengangguk cepat.


"Tenanglah, mereka baik banget kok! Apalagi Mami. Sudah cantik, baik dan tidak sombong, keibuan, siapa yang menumpang di rumahnya di anggap seperti anak. Sangking baiknya, Vino itu menjadi anak manja!"


"Syukurlah Mas, kamu punya orang tua angkat yang baik di Jakarta ini!"


"Iyah!"


"Kalau Nanti, mereka tanya aku ini siapa, Mas jawab apa?" tanya kepolosan Miranda.


"Hahaha, Yah jawab istri lah, sayang! Enggak mungkin kan aku jawab kamu itu Nenek aku!"


Miranda langsung tersenyum malu-malu meong dalam pipi merah jambu.


***


Sementara Melani dan keluarga sudah siap menunggu kedatangan Vino.


"Selain Kak Rangga, Mami mengundang siapa lagi?" Tanya Vino.


"Enggak ada, hanya Rangga doang!"


"Spesial amat!"


"Rangga itu kan sudah Mami anggap seperti anak sendiri, sudah terlanjur sayang kepada Rangga. Mami ingin memberikan yang spesial untuk keluarga kecilnya yang baru. Sekaligus menyambut istrinya yang kedua?"


"Makanya kamu buruan menikah, biar Mama buat yang lebih meriah daripada ini?" bisik Melani.


Vino hanya tersenyum.


"Mami sudah pernah bertemu langsung dengan Istri kedua Rangga?"


Melani menggeleng.


"Namanya Miranda juga yah?"


"Hem!"


Melani menatap wajah anaknya, ia takut Vino berpikir lagi tentang sang mantan kekasih yang memiliki nama yang sama.


"Vino, yang lalu biar berlalu, Mami yakin suatu hari nanti, kau akan bertemu dengan wanita pujaan hatimu!"


"Amin, makasih yah Mi!"


Vino melirik ke arah Sania yang sedang menerima telpon.


***


"San, kamu jadi ikutan praktek enggak?" tanya teman Sania sesama Dokter.


"Ehm!"


Sania mikir sambil mengulum bibirnya. ("uangku hanya tinggal bayar upah perawat ayah!" batinnya)


"Kalau kamu mau ikut, cepetan transfer! Jika tidak, Pacar atau calon tunangan dr Raka yang akan masuk?"


"Calon Tunangan?"


"Iyah, kamu belum tau yah? Kalau Ayudia bakal jadi istri Mas Raka!"


"Ouh!"


(dr Raka adalah senior Sania saat masa SMA, Pria itu merupakan cinta terpendam Sania dan Menjadi pujaan hatinya, ia sampai rela mengikuti jejak profesi Raka menjadi seorang Dokter demi bisa bertemu dan berbincang dengan pria itu. Namun sayang, Raka tidak pernah tertarik untuk menjadikan Sania sebagai kekasih melainkan hanya sekedar teman biasa )


"Gimana San?"


"Hem, aku pastikan enggak bisa ikut deh! karena hari ini, aku punya urusan pribadi!"


"Ouh, yah sudah!"


"Trup!"


Sania langsung lesu dan tampak tidak ceria merasakan patah hati yang dalam mendengar sang pujaan sudah memiliki pasangan.


"Kenapa lagi tuh anak, wajahnya tiba-tiba cemberut, apa rentenir sedang menangih hutang kuliahnya!" Batin Vino.


Sania mengusap air mata yang hampir membasahi pipinya tanpa menyadari air liner nya menjadi belepotan dan terlihat jelek.


Menyaksikan itu, Vino langsung tepok jidat dan tidak habis pikir melihat tingkah sembrono Sania terhadap make up yang sedang merias wajahnya. Sania tidak terbiasa dengan riasan wajah.


"Benar-benar amburadul sama sekali tidak berkelas!" gumam Vino geleng-geleng kepala.


Vino bangkit berjalan mendapatkan Sania, ia menarik tangan Sania membawanya ke depan cermin.


"Ah, a..ada apa Tuan?"


"Lihat wajahmu yang sudah mirip seperti hantu, perbaiki itu, jangan buat malu keluarga ku😏!" kata Vino pergi begitu saja. Ia terlihat perhatian dengan tampilan Sania.


Sania sendiri terkejut melihat wajahnya sendiri di cermin 😳 (" Yah Ampun!" gumamnya)


***


Di lain tempat Jane sedang menyusun sebuah rencana jahat.


"Hem, bagaimana cara memulainya yah!"


"Kiandra mengatakan, dalam Minggu ini Rangga akan berangkat ke luar Negeri! Cocok banget tinggal mempersatukan Miranda dan Vino di sebuah tempat!" batin kelicikan Jane.


🤔🤔🤔